Mother How Are You Today?…

Oslo, 10 Juni 2008

Sejak kemarin rasanya kangen sekali pada almarhumah Ibu tercinta. Tak terasa air mata membasahi pipi setiap kali teringat pada beliau.

Saya teringat kebiasaan Ibu semasa hidup yang selalu bangun pagi2x subuh, menyiram tanaman, mencuci baju (masih dengan tangan), menyiapkan sarapan dan makan siang kami (ayah, saya dan dua saudara laki2x), selanjutnya Ibu akan pergi ke kantor. Pulang kantor, Ibu akan menanyakan kejadian atau hal menarik yang kami alami di sekolah, menanyakan dan membantu mengerjakan pekerjaan rumah, mengingatkan untuk mandi sore, menyiapkan makan malam, menonton TV bersama (ternyata ini adalah metode beliau untuk mengawasi apa yang kami lihat di TV), membaca dongeng sebelum tidur, mengingatkan dan membantu kami memasukkan buku2x pelajaran untuk esok hari agar tidak ada yang lupa…

Waktu itu tidak ada yang istimewa rasanya. Saya pikir, ini adalah hal yang wajar. Semua ibu-ibu yang lain di seluruh dunia pasti melakukan hal yang sama. Ibu hanya melakukan apa yang memang seharusnya seorang Ibu lakukan. Seandainya saja saya tahu bahwa saya sangat beruntung memiliki beliau…

Saya selalu menyukai ‘ritual’ Ibu di pagi hari saat sebelum berangkat ke kantor. Bercermin dan berias di depan kaca, memilih baju bebas yang akan dikenakan saat ‘hari baju bebas’ tiba (sebagai PNS di salah satu Departemen pemerintah ada baju dinas wajib dan baju Korpri), memakai minyak wangi yang harum semerbak, memakai hair-spray rambut, membalurkan pelembab ke kaki dan tangan… Kadang saya hanya berdiri tak jauh dari tempat beliau, sambil diam2x mengamati dan mengagumi.

Usai bersolek, Ibu akan meminta pendapat saya tentang penampilannya. Saya pun senang mendapat ‘kehormatan’ untuk mengutarakan pendapat pribadi. Saya tidak suka kalau hak sepatu Ibu terlalu tinggi (takut jatuh saat berjalan), atau baju yang kurang pas untuk beliau, atau tatanan rambut yang terlalu pendek atau terlalu keriting :)

Foto: Saya (silakan ditebak yang mana :D)di gereja St. Yosef Matraman, Jakarta Timur saat permandian. Ibu di belakang berpakaian putih, ayah sibuk mengingatkan saya untuk melihat kamera :)

Diam2x, tanpa saya sadari selera Ibu dalam berbusana mulai dari pilihan baju, warna, model juga mempengaruhi saya hingga saat ini. Saya suka gaya beliau yang simpel, elegan, anggun, namun tetap mengikuti perkembangan serta kadang2x sporty. Tak jarang, Ibu membeli bahan sendiri dan membawanya ke penjahit di dekat rumah untuk dijahit mengikuti contoh gambar yang ada di majalah (dulu beliau berlangganan majalah ‘Sarinah’, kadang2x membeli majalah ‘Kartini’ atau ‘Intisari’)

Tanpa saya sadari pula, Ibu ingin menanamkan minat membaca kepada anak2xnya sejak dini. Sejak kelas 3 SD (Sekolah Dasar), kami sudah disuguhi bacaan biografi tokoh2x politik seperti Bung Karno, Bung Hatta, Dr. Soetomo, KH. Ahmad Dahlan, Ki Hajar Dewantara dan lain2x yang biasanya berbentuk buku, atau jilid kecil berisi kumpulan biografi singkat yang dijual di pinggir jalan atau di bus (maklumlah karena keluarga kami tidak berlebihan secara ekonomi, membeli buku di toko buku adalah sebuah ‘kemewahan’). Saat itu, saya menganggap bacaan tadi sangatlah membosankan dan tidak menarik sama sekali. Namun, lama-kelamaan, sedikit demi sedikit saya pun mulai membuka2x hingga akhirnya membaca semua bacaan tadi.

Saat itu hari Kamis atau Selasa adalah saat yang kami tunggu2x, karena majalah ‘Bobo’ kesayangan kami tiba. Berhubung Ibu berlangganan dengan penjual majalah di dekat kantor beliau, kami pun harus bersabar menunggu hingga Ibu pulang ke rumah. Waktu belum bisa membaca (baru masuk SD), Ibulah yang membacakan cerita di majalah ‘Bobo’ sebelum tidur. Masing2x saya dan kakak (adik biasanya sudah tertidur sejak awal) mendapat ‘jatah’ untuk memilih cerita berbeda yang akan dibacakan. Cerita yang belum dibaca akan dilanjutkan keesokan malamnya.

Senang sekali rasanya, bisa membayangkan bertemu ‘Bona dan Rong-rong’, ‘Juwita dan Si Sirik’, ‘Oki dan Nirmala’, ‘Paman Husin, Kiki dan Asta’,’Pak Janggut’, ‘Deni Manusia Ikan’, ‘Heidi’ dan tokoh2x dalam cerita lainnya. Dari majalah Bobo pulalah saya mengetahui kisah2x seperti Sir Arthur Conan Doyle, Sherlock Holmes, Dewa Angin Utara, Lisbeth dan Madita, Tudung Merah serta Pippi Si Kaus Kaki Panjang. Tak lupa ada dongeng tradisional seperti Lutung Kasarung, Asal Mula Telaga Warna, Asal Mula Kota Tarutung, Asal Mula Kota Banyu Wangi, Bandung Bondowoso dan sebagainya. Saya masih hafal hingga kini, beberapa judul cerita pendek yang sangat berkesan mendalam seperti :’Mawar Merah Buat Sahabat’ (tentang kisah dua sahabat yang menyentuh); ‘Nilai Sampul Kertas Kalender Bekas’(yang mengajarkan untuk selalu bersikap rendah hati serta menghargai kawan yang kurang beruntung)

Ibu yang dulu adalah atlet andalan di sekolahnya dan juara kabupaten (pernah ikut penyisihan PON/Pekan Olahraga Nasional). Beliau suka sekali olahraga dan beraktivitas sosial. Beberapa kegiatan waktu itu misalnya: aerobik (dengan rekan kantor atau tetangga RT), bola voli, yoga. Termasuk kursus memasak (sehabis jam kantor), dan…baru saya ketahui beberapa tahun kemudian, beliau pun suka mengikuti seminar2x tentang ‘parenting’ dengan topik seperti ‘bagaimana menanamkan motivasi belajar ke anak’, ‘bagaimana menanamkan nilai2x yang baik sebagai orang tua’ dan semacamnya. Pantas saja, setelah saya pikir2x, metode beliau membesarkan kami dahulu tergolong up-to date dengan teknik2x yang banyak saya jumpai di buku2x psikologi modern.

Foto: Di atas sepeda motor bersama kakak dan sepupu.

Kadang kala saya merasa ‘tersiksa’ saat harus belajar didampingi beliau yang selalu ada di samping saya atau memantau bolak-balik kegiatan kami. Yah, jelas saja ‘pengawasan melekat’ diperlukan, sebagai anak kecil waktu itu saya lebih memilih main petak umpet dan memanjat pohon jambu di depan rumah daripada belajar atau tidur siang. Ada beberapa kegiatan rutin yang anak2x lakukan setiap hari seperti minum susu setiap pagi (wajib), tidur siang usai sekolah (sekitar 1,5 jam, juga wajib), membuat PR (tidak bisa ditawar), dan dongeng sebelum tidur (my favourite!). Tak lupa, setiap minggu pagi kami pergi bersama sekeluarga ke gereja.

Dulu Ibu sempat mengikuti kursus Bahasa Inggris usai jam kantor. Ujung2xnya, kami pun ‘dicekoki’ kalimat2x atau kata2x yang baru saja beliau pelajari hari itu. Misalnya peribahasa: ‘Where There is a Will, There is a Way’, ‘Early to bed and early to wake-up will make you healthy, wealthy and wise’…

Ada peristiwa unik saat Ibu mencoba resep2x baru di rumah usai kursus memasak, saya ingat beliau pernah memasak sup dengan buah nanas, kali lain hamburger dan sandwich. Kalau masakan baru tadi enak, kami akan melahap habis, dan Ibu pun senang. Kalau masakan terasa aneh di lidah, saat Ibu berkata: “Ayo dihabiskan makanannya…”, saya pun lebih memilih untuk kaburrrrrrr……. :)

Tak terasa, upaya beliau menanamkan semangat membaca, semangat belajar (saya dan saudara laki2x selalu mendapat peringkat yang baik di kelas), hormat kepada orang tua dan guru (Ibu juga sempat menjadi guru), semangat pantang menyerah dan jiwa sosial (selalu siap menolong saudara atau tetangga yang kesusahan) telah membentuk jati diri saya. Termasuk sifat beliau yang sporty namun tetap feminin. Ada juga yang berbeda, sifat beliau yang supel berlawanan dengan saya yang introvert.

Saat beliau meninggal pada tanggal 15 September tahun 1993 karena kanker payudara (yang terlambat dideteksi), saya sedang sibuk menyiapkan EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional) dan persiapan UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri) di semester I kelas 3 SMA. Sebagian dari diri saya seperti ‘tercerabut’ keluar. Semangat belajar saya langsung turun drastis. Untunglah, di saat2x sulit ini, saya memiliki ‘sahabat setia’ yang memberi inspirasi, motivasi dan semangat yakni: buku. Dari buku2x psikologi yang saya baca di perpustakaan, banyak sekali hal yang saya dapatkan. Nasehat ibu untuk selalu bersikap positif dan tidak pernah menyerah dan ‘warisan’ kata mutiara ‘Di mana ada kemauan, di situ ada jalan’, akan selalu saya ingat sepanjang hayat dikandung badan.

Lagu May Wood, ‘Mother How Are You Today?’

Terima kasih Ibu, jasamu tidak akan pernah saya lupakan. Beristirahatlah dalam damai.

Lagu ‘Mother How Are You Today’ selalu mengingatkan saya pada almarhumah Ibu yang semasa hidupnya senang sekali memutar lagu2x Chrisye, Abba, Vina Panduwinata, the Beatles, Erni Djohan, Nana Mouskouri, May wood, Bob Tutupoli dan kumpulan lagu daerah dengan keras2x di pagi hari untuk membangunkan kami (biasanya sih saya yang langsung (terpaksa) bangun sambil protes dan mematikan atau mengecilkan tape, diiringi senyum simpul Ibu yang merasa ‘sukses’ dengan triknya :D)

I miss you mom

About these ads

7 thoughts on “Mother How Are You Today?…

    1. Felicity Post author

      Yup…mumpung masih punya orang tua…. Jangan ragu mengungkapan cinta, sayang dan terimakasih kita buat mereka sebelum terlambat…

      Makasih buat kata2x indahnya… Salam manis selalu :)

      Reply
  1. arofat87.co.cc

    jadi terharu…kisah yang menggugah kita untuk slalu berbakti kepada ortu selagi dia masih ada…
    salam kenal…

    Reply
    1. Felicity Post author

      Terimakasih… kasih ibu memang sepanjang jalan…tak pernah habis dan tak akan lekang dimakan waktu…. :)

      Reply
  2. madaff

    jadi nelongsoooo…baca ini.Kirim doa terus ya mba buat beliau…Saya juga punya mab, satu lagu dari Opick feat Amanda yang bikin saya klepek2 dan lgs tlepon mama….
    “SATU RINDU”
    Hujan,’kau ingatkan aku….
    Tentang satu rindu…
    Dimasa yang lalu…
    Saat mimpi masih indah bersamamu…
    Terbayang satu wajah
    Penuh cinta
    penuh kasih…
    Terbayang satu wajah..
    penuh dengan…
    kehangatan…
    Oh,ibu…..
    Allah,…
    ‘Jinkanlah aku….
    Bahagiakan dia….
    Meski dia tlah jauh…
    Biarkanlah aku..
    Berarti untuk dirinya…
    Oh,Ibu…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s