Sepenggal cerita dari Sri Lanka (1)

Cerita ini sempat saya kirim ke kolom Koki tahun 2006 lalu. Dengan beberapa suntingan, saya coba muat di blog ini.

Awalnya, dari seluruh rekan, kolega, kerabat yang saya pamiti (bulan Oktober, 2006) 98% reaksi pertama mereka adalah terkejut saat tahu bahwa saya akan bekerja di Sri Lanka yang sedang dilanda konflik bersenjata. Lebih terkejut lagi saat mereka tahu bahwa saya justru akan bekerja di daerah tempat ‘pusat’ konflik terjadi, yang notabene harus dihindari…”lha ini kok malah disambangi?…. piye toh, ndukk….ndukkk?!” (I know that my late grandma would have thought so if she still alive).

Kali pertama tiba di Bandara Internasional Sirimavo Bandaranaike sekitar jam 2 pagi, ‘hawa’ conflict zone sudah terasa. Tentara bersenjata laras panjang dan siaga tersebar di hampir segala penjuru bandara sampai memasuki kota Colombo (sekitar 2 jam dari bandara). Petugas bandara sempat terheran-heran melihat saya (yang mungkin masih terlihat seperti anak baru lulus kuliah dan kurang meyakinkan). “Are you really 30years old?…” “Are you married?….Whattt? you are travelling alone?”…” What is your designation?….Whattt? United Nations?…You are a Human Rights Officer?…”

Setelah cukup lama tertahan, akhirnya saya bisa meyakinkan dan menunjukkan semua dokumen yang menunjukkan bahwa saya adalah pendatang resmi. Seminggu kemudian, masih dalam masa orientasi, saya diajak untuk mengunjungi field office di Trincomalee district, daerah North-East Sri Lanka, yang termasuk the ‘hot spot’ bersama 3 rekan dari kantor pusat. Kami meninggalkan Colombo pagi hari. Rekan lain yang akan ikut dalam rombongan sempat kesal karena driver yang akan mengantar kami terlambat tiba. Tak seorang pun dari kami berpikir bahwa keterlambatan inilah yang akan menyelamatkan kami semua beberapa jam kemudian… Di tengah perjalanan, sehabis late lunch, kami baru saja mulai masuk daerah merah, Habarana Road…

Foto: check point, pemandangan yang sering dijumpai di sini. Foto diambil dengan zoom dan sembunyi2x

Tiba-tiba kami melihat banyak orang bergerombol dan berdiri di jalan dengan tegang seperti menunggu sesuatu dan bertanya-tanya, semakin kendaraan kami melaju ke arah Trincomalee, semakin banyak orang berdiri di jalan…bergerombol… dan truk serta pick up silih berganti melaju melawan arus kendaraan kami dengan kecepatan tinggi. Orang di atas truck dan pick up terlihat panik dan berteriak-teriak sambil melambaikan kain berwarna merah…darah…

Mobil yang kami naiki pun menepi. Dari penduduk kami mendapat informasi bahwa baru saja, sekitar 20 menit yang lalu, ledakan bom bunuh diri terjadi di jalan menuju Trincomalee yang akan kami lalui… Berdasarkan kalkulasi yang dibuat dengan seakurat mungkin oleh rekan tim dan driver kami yang terbiasa dengan rute ini….Suran, rekan dari Colombo bilang “We could have been caught on the blast,….if only the driver were not late in the morning…..

Saya pun merinding mengetahui hal ini. Ledakan di Habarana Road tersebut memakan korban lebih dari 100 orang tewas dan 200 orang luka-luka…. Tak terbayangkan, jika saja supir kami datang tepat waktu… Well, saya anggap ini sebagai ‘penyambutan’….seakan menyatakan ‘ welcome to the real conflict zone!”. Karena ledakan bom tersebut, kami pun harus menghentikan perjalanan berdasarkan instruksi Security Officer dari kantor pusat dan terpaksa mengambil jalur alternatif . Perjalanan dilanjutkan keesokan paginya.Suasana tegang menyelimuti sepanjang jalan yang kami lalui. Serdadu bersenjata tampak di mana-mana, antrean check points pun silih berganti sampai memasuki kota.

Foto: Supir kami harus memasang identitas di depan kendaraan, wajib saat memasuki Phase III area. Pagi hari setelah bom bunuh diri di Habarana.

O ya, saat melewati daerah militer, saya sempat melihat beberapa mine zones, alias daerah rawan ranjau, yang biasanya ditandai secara khusus. Anehnya, di Trincomalee, semua aktivitas nampak berjalan normal, orang berjualan di pasar, bersepeda, makan di kedai, seperti tidak ada hal besar yang terjadi sebelumnya, padahal, setelah bom bunuh diri di hari sebelumya, 3 orang tertembak mati di malam hari, tepat di jalan yang kami lalui saat memasuki kota…

Foto: Patroli polisi di Trincomalee, sehari setelah ledakan bom

Foto: Kecelakaan di jalan cukup sering terjadi

The next day, agenda: awareness raising, location: Kinniya, Trincomalee District. Usai makan siang, bersama tim, saya mengunjungi sebuah desa menyangkut laporan atas dugaan korupsi oleh Kades setempat terhadap bantuan tsunami… Di tengah percakapan, di siang hari bolong, sambil berdiri di sebuah pelataran sekolah, tiba-tiba… BUMMMMM…..BUMMMMMM…..terdengar suara dentuman hebat. Meski tetap berusaha berkonsentrasi, tak urung dalam hati saya menghitung jumlah dentuman, sekali….dua kali…tiga…empat…dua belas… Saya berusaha tenang dan tidak panik (baca: pura-pura tidak takut dan panik. Padahal jantung rasanya berdebar lebih cepat saat itu…he…he… saya mau menunjukkan bahwa biarpun perempuan saya tidak mudah takut dan panik…).

Percakapan pun terhenti,…”Ah, guess the shelling is happening now… Seems to be from that area…”ujar Suran, “Yup, it is around 5 km from here, I guess“, timpal yang lain. Dan, rapat pun dilanjutkan, seolah tak ada apa-apa…

Di senja hari, dalam perjalanan pulang, tiba-tiba suara dentuman terdengar lagi. Kali ini disertai suara beruntun seperti senapan…TRETTT… TETT….TETTT…TETTTT… di kejauhan. Lagi-lagi, semua melanjutkan aktivitas seperti biasa…dan lagi-lagi… saya berusaha tenang dan berusaha menunjukkan bahwa saya tidak mudah panik….

Pagi hari keesokan harinya: ‘hartal day’ atau ‘mourning day’. Alias: mogok massal, aksi boikot damai, hari berkabung… yang biasanya terjadi beberapa saat setelah aksi kekerasan yang memakan banyak korban terjadi. Di hari seperti ini, semua toko dan kantor harus atas ‘kesadaran moral’ menghentikan semua aktivitasnya.

Foto: Sarapan pagi di Trincomalee, wade dan kawan2x,mirip risolles, martabak goreng dan bihun goreng. Lezat.


Biasanya hartal ‘dideklarasikan’ oleh salah satu pihak atau kelompok yang berpengaruh sehari atau beberapa hari sebelumnya, dari mulut ke mulut, bahkan lewat radio dan bisa berlangsung serentak di beberapa distrik. Hanya orang yang dalam kondisi darurat ‘berani’ melanggar hartal, misalnya ke rumah sakit.

Menurut penduduk lokal, tidak sedikit orang tertembak di jalan saat hartal dan nekat berkeliaran. Hartal biasanya ditandai dengan pita putih yang berkibar di penjuru kota dan rumah-rumah penduduk, bisa berlangsung sejam, dua jam, sehari, dua hari bahkan seminggu.

Lesson learned: harus selalu siap sedia logistik! Hari-hari selanjutnya, hingga sampai di duty station tetap saya di Eastern district, berita tentang penembakan, penculikan, pembunuhan, seakan silih berganti . Bahkan suara ‘bedebammm…bedebummm’ masih kerap terdengar. khususnya malam hari. Biasanya di kemudian hari kami akan mendapat berita bahwa ada serangan di daerah A atau kontak di daerah B…

Awalnya, saya sempat heran dan bertanya kepada rekan-rekan lokal, kenapa kok mereka nampak ‘kalem’ saja saat mendengar suara-suara yang ‘tidak biasa’ itu. Dengan tenang mereka bilang: “Well, kita tenang karena tahu biasanya target serangan itu kalau tidak pangkalan militer, polisi atau sebaliknya, kelompok perlawanan…., kuncinya cuman satu: ….just stay away from them and stay away from uncleared area!”….Saya pun berusaha untuk mengingat ‘pesan khusus’ ini baik-baik…

Dalam kurun waktu satu bulan saya menginjakkan kaki di Sri Lanka, saya sudah beberapa kali ‘merasakan’ dekat dengan kematian dan ‘hawa konflik’ yang panas, mulai dari ledakan bom bunuh diri di Habarana Road, suara artileri dan kontak senjata di Kinniya, dan ‘bedebam-bedebum’ suara artileri dari tempat tinggal saya, land mines, check points, child soldier, serdadu bersenjata, hartal day,… seakan terus mengingatkan bahwa this is a real conflict zone. I have to struggle with a very modest living consition, limited social life, language barrier with local people, unstable security, uncertainties…

Foto: Awareness raising di pulau Kinniya, Trincomalee


Kerap rasa kangen pada keluarga di Indonesia dan si dia nun jauh di sana sana tak terbendung… SMS dan telepon pun menjadi ‘sahabat’ di saat seperti ini… Jujur, sekarang saat ditanya kawan, “Apa kamu tidak merasa takut?” Saya selalu menjawab: ” Ya, sebagai manusia biasa, tentu saya merasa takut. Tapi ini pilihan saya, saya menyukai tantangan bekerja di conflict zone. Masalah hidup-mati, saya pasrahkan dengan Yang di Atas. Doa saya cuma satu (dan ini seperti menjadi ‘kata mutiara’ yang selalu diingingatkan oleh sesama pekerja kemanusiaan di daerah konflik lainnya): not to be in the wrong place, at the wrong time...”

Bersambung ke Sepenggal Cerita dari Sri Lanka-2

11 thoughts on “Sepenggal cerita dari Sri Lanka (1)

  1. Pingback: Tentang Bumbu Dapur | My Life, My Search, My Journey

  2. echa

    halo kak, saya blogwalking🙂 saya selama ini silent reader disini, hehe… saya suka baca2 cerita kk diSrilanka. Pasti seneng ya kak, bs bkerja sprti itu, mlakukan ssuatu yg nyata buat mmbntu negara2 konflik.. wktu kcil sya prnah pny cita2 krja dibdan2 pbb, trus smpet jg kmren pgn krja diNgo2 gt, pokonya yg brhubungan u/ mmbntu org bnyak n not profit oriented gt, tapi saya alumni jurusan desain si, jdi ag susah bs krja dtmpt2 gt, heuheu..thx 4 sharing y ka. I’m blessed, trnyata sjelek2nya Indonesia, msh bnyak bgt hal yg bs disukuri dsini. GBu
    *maap yak pnjang2 nulisnya, hehe…:D

    Reply
    1. Felicity Post author

      Makasih sudah baca2x di sini ya Echa… Yup, seneng karena panggilan hati.

      Kalalu punya cita2x, jangan dipendam dan dikubur…harus diperjuangkan sebelum terlambat dan menyesal… setidaknya dicoba.

      Kalau alumnus desain coba di Unesco kali ya… atau coba cari pengalaman di international NGO indonesia atau NGO lokal dulu, coba bagian publikasi nyambung deh kayaknya… Kalo dah cukup pengalaman di Indonesia, bisa coba apply UNV…

      Nggak papa, jawaban saya juga panjang kok…😀

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s