Sepenggal Cerita dari Sri Lanka (3)

Lanjutan dari Sepenggal Cerita dari Sri Lanka-2

Batticaloa, 11 Januari 2007


Tadi malam, 2 jam setelah saya kirim email ke Koki berisi pertanyaan tentang ‘Beda Suara Senapan dengan Petasan’, ternyata betul2x kejadian…, big firing (kontak senjata) terjadi jam 11 malam. Awalnya, terdengar suara rentetan ledakan yang mirip petasan (sungguh, saya belum bisa membedakan karena sama sekali awam dengan senjata) Saya masih tenang, tapi…kok suaranya bertambah dekat dengan intensitas semakin yang semakin tinggi, ditambah dengan suara ledakan bersahut-sahutan. Wuaduhhh, saya yang di kamar sedang sibuk latihan percakapan dan membaca buku panduan berbahasa Norwegia pun langsung mencoba mencari tahu.

Tiba-tiba terdengar suara tetangga kamar (saya tinggal di sebuah hotel kecil sekitar 1 km dari kota) berteriak ‘firing’..’firing’… (baru deh ngeh kalo ini suara kontak senjata, yup, the real one). Saat melongok keluar kamar, yang ada hanyalah suasana gelap gulita…Sedangkan suara ledakan masih terdengar bersahut-sahutan selama hampir 15 menit lamanya. Langsung saya tiarap di lantai dan mengontak local security officer di kantor yang stand-by 24 jam, dia sih bilang kalau saya harus tetap di kamar dan nggak boleh keluar sama sekali (iya lah, kalau ada pertempuran begitu kok malah disambangi (didatangi)…).

Foto: ‘Pemandangan’ dari dalam jendela kamar di Green Garden, pernikahan pasangan Tamil



Foto: Kamar di Green Garden, nampak luar

Beberapa pria di luar terdengar berjaga-jaga sambil berbicara dalam bahasa Tamil (ini memang wilayah komunitas Tamil). Suara ledakan semakin dekat dan keras terdengar bersahut-sahutan…hingga akhirnya mereda dan hanya tinggal beberapa ledakan-ledakan kecil hingga 2-3 jam kemudian.

Jujur saja, saya merasa kuatir kalau sewaktu-waktu ada intruder (penyusup) masuk ke lokasi hotel, yang artinya ‘membawa’ masuk masalah yang semakin rumit. Coba bayangkan jika ada seorang saja (entah pihak pemberontak atau tentara pemerintah atau milisi bersenjata) kabur ke tempat kami, lalu kelompok musuhnya mencari dengan senjata membabi buta, weleh…weleh… amit-amit…jangan sampai kejadian…

Yang lebih ngeri lagi kalau senjata tadi berkaliber besar dan bisa menembus dinding kamar hotel yang dibuat dari batu bata seadanya ini. Nobody knows what will happen. Akhirnya, karena harus keep stay low, jadi deh malam tadi saya habiskan di bawah kolong tempat tidur. Setelah menyiapkan matras, handphone, dan VHF radio (ini memang wajib dibawa oleh semua staff dan harus stand by 24 jam untuk alasan keamanan, khususnya untuk staf internasional agar bisa dikontak jika sewaktu-waktu keadaan menjadi gawat). Tak lupa juga saya panjatkan doa, mohon perlindungan-Nya.

Foto: Toppi Gala (bentuknya memang mirip topi) adalah bukit kecil yang dikenal sebagai markas gerilyawan Macan Tamil. Foto diambil dari jalan utama Batticaloa-Colombo.Konon, medan yang ada menuju daerah ini sangat sulit ditembus.

Saat mencoba tidur, saya teringat percakapan dengan seorang rekan dari Italy di Trincomalee (distrik tetangga Batticaloa yang juga daerah konflik). Dia sempat mengomentari sebuah international NGO dari Geneva yang menyulap sebuah swimming pool menjadi bunker buat perlindungan staff-nya. Menurutnya sih ini too much and ridiculous… Padahal kalau dipikir-pikir, saya akan memilih untuk tidur di bunker yang (menurut saya loh) lebih terjamin keamanannya itu daripada tidur di kolong tempat tidur saya saat ini. Malam pun berlalu dengan sangat mencekam, hening, gelap, dingin, hujan lebat…penuh ketidakpastian akan apa yang saat ini terjadi di luar sana…

Karena terlalu lelah (dan masih jet lag) akhirnya saya pun tertidur dengan (tidak) nyenyak. Ternyata, setelah di cek di lokasi kejadian tadi pagi oleh tetangga saya, staf lokal dari sebuah international NGO, baru ketahuan kalau insiden tadi malam melibatkan senjata yang berkaliber lebih besar dari senjata AK 47.Senjata standar pemberontak menurut Stephan-asal Russia(nama samaran) yang merupakan Security Officer. Tetangga saya mengatakan bahwa ia melihat sendiri darah berceceran di dinding bangunan yang hancur serta selongsong peluru bertaburan, juga selongsong roket (atau mortar? duh saya nggak ngerti namanya…maaf ya kalau keliru).

Serangan semalam dtujukan ke kantor Para Militer (civilian bersenjata di bawah dukungan pemerintah) yang kantornya berjarak sekitar 300 meter dari tempat tinggal kami, 6 orang tewas dari kelompok para-militer, bangunan kantor hancur. Saat berangkat ke kantor tadi pagi banyak orang berkerumun di tempat kejadian… Sedangkan saya masih tetap harus ‘ngantor’ seperti biasa… duty calls… sampai jam 12 tengah hari ini, sudah ada 34 tsunami-related complainants yang harus ditindak lanjuti.

Foto: Katcheri, pusat pemerintahan kota Batticaloa (ibu kota Eastern Province of Sri lanka). Lokasi ini bersebelahan dengan markas tentara pemerintah. Suara menggelegar, tanah dan kaca jendela yang bergetar akibat dentuman meriam menjadi ‘makanan’ sehari2x bagi mereka yang bekerja di sini.

Baru saja 2 hari sebelumnya saya kembali dari Christmas and New Year’s Holiday di Norway yang tenang dan damai, kali ini sudah ‘disambut’ dengan 3 hari hartal (aksi boikot massal yang diserukan kelompok berpengaruh yang ‘meminta’ (sebenernya agak memaksa juga, entah fisik maupun psikis) toko, pasar, kantor tutup sebagai aksi protes terhadap kebijakan pemerintah atau berkabung akibat jatuhnya korban dari salah satu pihak dalam pertempuran. Ditambah pula kejadian tadi malam….Inilah sekelumit pengalaman saya memang membuat ‘sport jantung’…

Foto: Peringatan terbunuhnya 17 pekerja kemanusiaan di Muttur, Trincomalee tahun 2006

Tambahan: Keesokan harinya saya mendapat ‘instruksi’ dari UN Security Officer Batticaloa untuk pindah lokasi. Tempat yang saya tinggali saat kejadian (Green garden) termasuk kategori rawan.

Foto: Bendera/pita putih dimana2x, tanda berkabung.Biasa dijumpai khususnya saat ‘hartal day’.

Bersambung ke Sepenggal Cerita dari Sri Lanka-4

3 thoughts on “Sepenggal Cerita dari Sri Lanka (3)

  1. Pingback: Tempat Tinggal Baru (Sepenggal Cerita dari Sri Lanka (4)) « My Life, My Search, My Journey

  2. Pingback: Tempat Tinggal Baru (Sepenggal Cerita dari Sri Lanka (4)) « My Life, My Search, My Journey

  3. Otto_13

    Hegh…, setelah ikutan tegang, karena sambil membayangkan kejadian-kejadian itu, agak tenang dech, ada perintah pindah….

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s