Oase di Kalutara (Sepenggal Cerita dari Sri Lanka (5))

Lanjutan dari Sepenggal Cerita dari Sri Lanka-4

Tulisan ini dibuat satu tahun setelah saya meninggalkan Sri Lanka sebagai dokumentasi satu bab dalam hidup saya di tempat ini. Mohon maaf jika kronologis waktu yang ada tidak runut karena topik yang ditampilkan tergantung pada cetusan ide yang muncul atau kenangan yang datang kembali.

Batticaloa, November 2006,

Akhirnya setelah beberapa saat tertunda, workshop yang akan berlangsung selama 3 hari untuk personil project kami di seluruh Sri Lanka pun diadakan di akhir bulan ini.Lokasi yang dipilih adalah Kalutara, sebuah wilayah resort, sekitar 45 km di luar Colombo.Bagi kami yang bertugas di North-Eastern Province (Ampara, Batticaloa, Trincomalee), waktu workshop yang 3 hari berarti 5 hari keluar kantor. Perjalanan darat dari wilayah ini ke Colombo paling cepat ditempuh selama 9 jam. Ada pula aturan ketat bahwa kami baru diijinkan meninggalkan kota paling awal jam 8 pagi dan memasuki kota paling lambat jam 4 sore. Untuk berangkat lebih awal atau memasuki kota lebih lambat, apalagi setelah matahari terbenam adalah a big ‘NO’ karena alasan situasi keamanan. Di kemudian hari saya sempat melanggar aturan ini karena memasuki kota lewat jam yang ditentukan karena satu dan lain hal, dan ini adalah ‘dosa’ besar.

Sebelum meninggalkan duty station, kami wajib mendapat Security Clearance dari officer yang bertanggung jawab. Jika ketahuan meninggalkan kota -khususnya bagi mereka yang bertugas di Phase III area atau daerah konflik yang aktif- tanpa selembar kertas ini…sanksi dan teguran menjadi resiko, apalagi jika ada insiden di jalan.

Beberapa saat keluar kota Batti, nampak sisa2x banjir masih menggenangi jalan selama kurang lebih 2 kilometer. Saya selalu menyukai perjalanan ke luar kota Batti, karena indahnya pemandangan alam yang masih natural dan beragam hal unik lain yang dijumpai. Beberapa lokasi di Batti seperti Kalkuddah, Passikuddah dulunya adalah objek wisata yang cukup di kenal di negara ini. Sayang, konflik yang bertambah gawat dan tsunami memporak-porandakan tempat ini. Sepanjang jalan keluar kota kita bisa temui rangkaian burung yang terbang di udara atau bertengger di pohon dan rawa2x, monyet2x liar bahkan gajah liar.

Foto: Pemandangan yang dijumpai di perjalanan

Senang sekali bisa melihat gajah liar di habitat aslinya. Konon, ada mitos yang dipercayai penduduk lokal, jika kita bisa melihat keluarga gajah liar secara lengkap (ayah, ibu, anak) maka kita akan mendapat untung…Hmmm, karena penasaran saya mencoba melihat lebih jeli kelompok gajah yang nampak di luar jendela. Ada si Ibu gajah dan anaknya lalu…aha! ‘ayah’ gajah terlihat beberapa meter dari mereka. Saya pun tersenyum dan penasaran, apa yah ‘keuntungan’ yang menanti saya nanti… Let’s see…

Foto: Gajah liar yang dijumpai dalam perjalanan darat Batticaloa-Colombo

Hmmm…ternyata,’keuntungan’ tadi berwujud ‘kemewahan’ yang didapat di lokasi workshop (haha, ini bisa2xnya saya saja menghubungkan kejadian dan mitos…)

Foto: Pavilliun kamar hotel tempat kami tinggal selama workshop

Saya sempat menahan nafas saat mengetahui bahwa tempat ini adalah hotel bintang lima dengan tarif kamar sekitar 120 US Dollar per malam untuk double room. Wah, uang sebanyak ini, kalau dihitung dalam rupee bisa jauh lebih besar dari gaji sebulan rata2x pegawai pemerintah (termasuk kepala kantor organisasi pemerintah tempat saya bergabung di Batti).Sayapun merasa tak enak membayangkan ‘ketidakadilan’ ini. Setelah mencoba untuk bertanya ke panitia, mereka menjelaskan bahwa alasan memilih tempat ini sekaligus untuk refreshing, khususnya bagi mereka yang tinggal di Phase III area, termasuk saya dan Eliya, staff lokal di Batti.

Di sini, saya sharing kamar dengan Jennifer, pemudi asal Inggris yang bertugas di Ampara. Aneh rasanya berada di tempat ini. Sebuah keadaan yang 180 derajat berbeda jauh dengan yang saya alami sehari2x di Batti. Kemewahan,ketenangan, kenyamanan, keindahan alam, makanan berlimpah dan fasilitas lain yang ada berbanding terbalik dengan gangguan suara shelling dan multi-barrel attack yang hampir non-stop,social isolation, menu makanan yang terbatas serta aura kesedihan dan kemiskinan di Batti yang menjadi ‘makanan’ sehari-hari. Tempat ini seperti sebuah ‘oase’ di padang pasir yang kering, unthinkable dan saya pikir tidak akan dijumpai di sini.Ternyata saya keliru.

Foto: Indahnya pantai Kalutara…

Secara umum, pemerintah Sri Lanka mengandalkan pemasukan dari sektor turisme. Alam yang indah dan eksotik serta peninggalan bersejarahnya menjadi andalan. Mengunjungi negeri ini tergolong aman, sepanjang menghindari wilayah konflik aktif di daerah Utara, Timur dan Tengah (Trincomalee, Batticaloa, Ampara, Jaffna).

Sepanjang workshop berlangsung, saya terus mengingatkan diri agar tidak terlena dengan ‘kemewahan’ dan kenyamanan yang ada. Karena beberapa hari kemudian saya harus kembali ke realita kehidupan di Batti yang penuh tantangan.

Bersambung ke Sepenggal Cerita dari Sri Lanka-6-part I

3 thoughts on “Oase di Kalutara (Sepenggal Cerita dari Sri Lanka (5))

  1. Pingback: Tempat Tinggal Baru (Sepenggal Cerita dari Sri Lanka (4)) « My Life, My Search, My Journey

  2. Pingback: Mengungsi Lagi Part I (Sepenggal Cerita dari Sri Lanka-6) « My Life, My Search, My Journey

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s