Mengungsi Lagi Part II (Sepenggal Cerita dari Sri Lanka-6)

Sambungan kisah sebelumnya… Mengungsi Lagi Part I (Sepenggal Cerita dari Sri Lanka-6 part I)

Keterangan: Nama2x yang tersebut di bawah ini adalah nama samaran.

………

Selanjutnya, kami melangkah ke arah gerbang hotel, tempat mobil Raja diparkir. Saya merasa sedikit heran karena ia tidak menggunakan mobil kantor. Raja menjelaskan bahwa ia terpaksa memakai mobil pribadinya yang sudah tua karena hanya inilah satu2xnya alat transportasi yang langsung bisa digunakan. Tak lupa ia meminta maaf karena tiba di tempat saya agak lama. Sebelumnnya ia harus mengontak beberapa orang untuk minta ijin dari pimpinan tentara serta milisi untuk melewati kota. Jika nekat pergi tanpa ijin di tengah malam buta begini, dengan kendaraan sipil, dalam situasi yang kian memanas beberapa minggu terakhir, nyawa bisa menjadi taruhan dari kecerobohan. Waktu menunjukkan hampir jam dua malam.

Benar saja, usai menyeberangi jembatan Kallady yang memisahkan pusat kota dengan tempat tinggal saya. Mobil kami pun di stop. Tentara bersenjata laras panjang yang siap terkokang mendekati dan bertanya pada Raja dalam bahasa Tamil. Setelah beberapa menit tanya jawab, kami pun diijinkan meneruskan perjalanan. Raja menjelaskan kemudian bahwa tentara menanyakan tujuan, alasan, organisasi asal dan ijin untuk lewat. Tentara tadi sempat melongok ke dalam mobil dan melihat ke arah saya yang mencoba memaksa diri untuk tersenyum dan sebisa mungkin nampak innocent (it works many times!:))Untung saja, meski sering dikatakan mirip orang Sri Lanka, warna kulit saya lebih mirip ke etnis Sinhala (the ruling majority), jika mereka menganggap saya mirip orang Tamil, then I would have problem.

Foto: The Kallady Bridge yang harus saya lewati jika hendak pergi ke dan dari pusat kota.

Melewati pusat kota lewat tengah malam, di daerah yang sedang ‘panas’ adalah pengalaman yang sulit diungkapkan dengan kata2x. Sempat saya berpikir bahwa ini hanyalah sepenggal adegan dalam film perang yang sedang berputar, not real. But, here I am, flesh and blood. This is real…

Tiba di tempat Caroline, penjaga menyambut kami dan Caroline pun mempersilahkan saya masuk. Ia minta maaf karena hanya bisa menyediakan matras di lantai bawah, tepat di depan pintu masuk rumah berlantai dua itu. Ia sendiri tidur di lantai atas. Saya sudah tidak peduli akan tidur dimana, I just want to feel safe. Ketika saya tulis ‘lantai bawah’ ini adalah kata dalam arti sebenar2xnya, ya saya harus tidur di lantai dengan alas matras tipis. Caroline sebelumnya minta maaf karena ini adalah hal maksimal yang bisa disiapkan dalam waktu cepat. Tidak banyak perabotan dalam ruang tamu yang besar itu. Hanya seperangkat kursi rotan di salah satu ujung dan kosong melompong di sisi lain.

Karena lelah, saya pun mencoba untuk tidur. Saat ini, bisa tidur dengan tenang adalah sebuah kemewahan yang saya dambakan. Ingin rasanya bisa melupakan sejenak kejadian yang baru saja saya alami. Lima menit kemudian… Buuuummmmm!!!!!!…. Suara ledakan hebat disusul dengan getaran kaca, jendela serta pintu. Suara ledakan terus terdengar. Tidak ada suara orang panik, semua nampak ‘normal’. Barulah saya sadar bahwa rumah ini terletak tepat berhadapan dengan markas Tentara Nasional Sri Lanka!!!!!….

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa segala sesuatu yang terkait dengan tentara atau polisi adalah sasaran utama segala aksi serangan mulai dari bom bunuh diri, kontak senjata sampai shelling. Waktu tinggal pertama kali di Green Garden yang terletak sekitar 3 km jauhnya dari tempat ini, suara shelling (lontaran meriam tentara ke kawasan pemberontak di luar kota) terdengar dengan jelas dan membuat kaca jendela serta pintu kamar saya bergetar. Kali ini, saya justru tepat berada di depan sumber asal shelling tadi dan hanya dipisahkan sebuah jalan beraspal kecil. Well…well…why me?…

Sebelumnya, karena terlalu sering mendengar suara ledakan shelling, kuping saya pun terlatih untuk membedakan mana suara saat meriam dilontarkan dan mana suara saat impact (ledakan di sasaran tembak) terjadi (jarak jangkauan meriam yang digunakan adalah 5-7 km dari pusat lontaran). Biasanya satu ledakan akan disusul satu dua rentetan ledakan kecil. Jeda waktu beberapa menit tadi adalah saat meriam melewati udara. Kali ini, saya tidak bisa membedakan karena sumber suara yang terlalu dekat hingga menggetarkan lantai tempat saya berbaring. Belakangan saya tahu bahwa Caroline sudah diminta pindah karena lokasi yang rawan, sayang ia belum menemukan rumah baru yang dicari.

Pagi jam 7.30, saya harus bangun dan masuk kantor seperti biasa. Saya hanya minta di-drop kembali ke hotel karena driver lain akan menjemput seperti biasa jam 08.30 pagi. Saat itu juga saya memutuskan untuk mencari tempat tinggal baru. Tidak mungkin bagi saya melewati satu malam lagi di tempat ini seorang diri. That’s too much.

Sambil mengepak barang2x, tak lupa saya mengambil kamera dan mencoba mengabadikan jejak2x yang nampak di sekitar lokasi kamar. Insting detektif pun mulai beraksi (mungkin karena terlalu banyak membaca kisah Sherlock Holmes dan Agatha Christie, juga Lima Sekawan dan Trio Detektif :D)

Saya melihat jejak2x mencurigakan tepat di luar jendela. So, I was right. Anjing mengonggong tepat di bawah jendela kamar saya bagian belakang. Yang membuat saya heran, mengapa ada pasir ditabur di luar jendela?…Bagaimana si pelaku bisa mencapai jendela kamar di lantai 2?…

Belakangan saya tahu bahwa saya pun bisa melakukan simulasi hal yang sama. Naik sedikit ke tangga utama, lompat ke dek di samping kamar yang cukup rendah, plus merambat di plafon yang masih memberi ruang untuk berpegangan dan menjejakkan kaki. Or, simply use the stairs… Karena tidak terlihat adanya tangga di sekitar lokasi. Dugaan terakhir saya abaikan. Namun…sekitar 3 hari kemudian saat kembali ke tempat yang sama, mata saya tertumbuk pada sebuah tangga yang tak jauh dari kamar saya. Tersembunyi di balik pohon, tak pernah terlihat sebelumnya. Setelah mengamati, saya merasa ragu, apa mungkin tangga ini yang dipakai?…

Foto: Tangga ‘misterius’ yang tiba2x muncul.

Foto: Plafon di dinding luar kamar bagian belakang. Setelah saya cek, tidaklah sulit untuk dijangkau dan dilalui dari dek disampingnya yang tak terlalu tinggi.

Sesuai prosedur, saya membuat laporan insiden. Tidak ada lagi yang menanyakan tentang peristiwa ini dari pihak berwenang. Kadang muncul rasa tidak enak, saya merasa seperti dianggap mengada2x dan membesarkan kejadian. Sebelum menghubungi radio room untuk minta bantuan, saya tahu resiko yang ada jika ternyata yang saya dengar hanya gonggongan biasa serta suara keributan biasa. Semua staff bisa mendengarkan percakapan saya lewat radio masing2x. Jika saya keliru, bisa jadi saya dianggap tidak berpengalaman dan tidak ‘tough enough’ bahkan (mungkin) bisa jadi bahan olok2x. Tetapi jika saya benar dan tidak minta bantuan?…. Hmmm, mungkin saya tidak akan menulis di blog ini sekarang. Taruhan yang ada terlalu besar, nyawa atau rasa malu?…Saya pilih lebih baik menanggung malu daripada mati konyol karena pertolongan yang terlambat datang.

Setelah berlalu agak lama barulah Raja ‘bersaksi’ kepada saya bahwa saat ia datang menjemput di malam kejadian (sekitar jam 1.30 malam) ia sempat melihat seorang pria berjalan dari arah hotel/kamar saya, menuju rumah (pangkalan supir truk) yang terlihat di seberang jendela kamar bagian depan. Memang, dari rumah itu, situasi hotel bisa terlihat jelas. Dari dalam kamar pun saya bisa melihat di kejauhan truk2x yang datang dan pergi. Beberapa hari sebelum kejadian, sering terlihat ada orang yang mengintip dan mengawasi dari balik tirai jendela yang tersingkap ke arah kamar saya. Pantas saja insiden terjadi di malam saat saya seorang diri di hotel sebesar itu. Raja sengaja tidak memberitahu yang ia lihat lebih awal karena menunggu hingga saya tenang. Sementara versi pihak hotel menduga itu adalah pencuri. Sekitar beberapa bulan sebelumnya, pernah ada pencuri masuk yang mengambil perabot di dalam kamar hotel. Siapapun dia, yang jelas kejadian tersebut tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup.

Sekitar satu minggu kemudian, giliran staff lokal di bawah saya yang mendapat terror. Sebuah tas mencurigakan (yang diduga bom) diletakkan begitu saja di depan gerbang rumahnya yang berada di pinggir jalan. Setelah menghubungi polisi maka terungkap bahwa ‘bom’ tadi hanyalah tumpukan baju2x bekas yang (diduga) sengaja atau tidak sengaja ditinggal pemiliknya. Apakah ini terkait dengan kejadian yang menimpa saya? Only God knows…

Di hari2x selanjutnya, saya tidak berani berada seorang diri di kamar entah siang atau malam hari, rasa kuatir serta berdebar2x selalu muncul setiap kali mendengar suara gonggongan anjing. Bahkan mendengar suara besi beradu (seperti peralatan bengkel) bisa membuat saya teringat kembali ke peristiwa di tengah malam tadi.Saya juga sempat ‘mengutuk’ datangnya malam hari…(hiperbolik sekali kesannya,yah… Namun kurang lebih inilah yang saya rasakan)

Sekarang, saya harus mencari tempat tinggal baru…

Bersambung ke Suatu Pagi di Hari Minggu (Sepenggal Cerita dari Sri Lanka-7)

6 thoughts on “Mengungsi Lagi Part II (Sepenggal Cerita dari Sri Lanka-6)

  1. Pingback: Mengungsi Lagi Part I (Sepenggal Cerita dari Sri Lanka-6) « My Life, My Search, My Journey

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s