Mengungsi Lagi Part I (Sepenggal Cerita dari Sri Lanka-6)

Lanjutan dari
Oase di Kalutara (Sepenggal Cerita dari Sri Lanka-5)

Oslo, 9 Juni 2008

Saat sedang duduk di depan komputer siang hari ini, suara gonggongan anjing terdengar di kejauhan. Entah mengapa sejak kejadian ‘Selasa Kelabu’ di Batticaloa lebih dari setahun yang lalu, setiap mendengar gonggongan anjing ingatan saya kembali melayang ke insiden yang pernah saya alami, yang melibatkan suara ini sebagai atribut pelengkap peristiwa…

Batticaloa, 27 Maret 2007,

Sekitar jam 12.05 tengah malam, usai membaca saya mematikan lampu kamar dan bersiap menuju alam mimpi. Tak lupa sebelumnya saya mengecek pintu dan jendela. Saat berbaring di tempat tidur,ada rasa tidak enak yang menjalar, entah mengapa. Malam itu, hanya saya seorang diri yang menempati kamar hotel (3 lantai, 20 kamar) sejak hampir 4-5 hari terakhir. Penjaga hotel adalah seorang bapak tua yang berumur sekitar 60 tahun-an, seorang diri. Seperti yang saya pernah lihat sebelumnya, bapak penjaga akan langsung tertidur setelah pintu gerbang (yang hanya dibatasi palang dan seng) ditutup jam 11 malam. I do not like it!… Seandainya saja ‘sesuatu’ terjadi…What should I do for getting any reliable help nearby?…

Sekitar 20 menit kemudian, tiba2x di kejauhan terdengar suara anjing mengonggong tak henti-hentinya yang memecah kesunyian malam. Bagi saya, ini bukanlah sesuatu yang aneh. Suara gonggongan anjing di kejauhan bisa jadi karena ada patroli tentara lewat. Nothing special. Sempat juga teringat kata2x orang tua dulu bahwa hewan seperti anjing bisa sensitif ‘mencium’ yang tak terlihat (hiiiiiyyyy…). Berhubung lokasi hotel berdekatan dengan pantai dan laguna, banyak mayat yang tersangkut atau ditemukan di sekitar lokasi saat tsunami 2004 datang. Anyway, biasanya saya hanya menepis pikiran2x seperti ini dan selanjutnya tertidur karena kelelahan. Namun, kali ini feeling saya merasakan hal yang berbeda.

Foto: ‘Pintu gerbang’ hotel.

Suara gonggongan berlangsung sekitar 10 menit lamanya dan terdengar kian keras dan dekat, hingga akhirnya…tepat di luar jendela kamar saya bagian belakang. Saya mendengar suara gemeretak daun2x kering yang terinjak langkah kaki…dan selanjutnya, suara dentingan atau suara jendela yang dikotak-katik dengan obeng. Nafas saya tercekat, semua ‘alert system’ dalam tubuh saya langsung waspada. Something is happening out there, now… and this is for real!!!…

Insting pertama saya adalah meraih VHF radio (handheld radio/mirip handy talkie) yang menjadi kawan ‘sehidup-semati’ di tempat seperti ini. Tidak ada internet, tidak ada line telepon selular yang bisa saya gunakan. Hanya ada satu telepon land-line di ruang manager, bagian depan hotel yang kuncinya entah ada dimana. Pemerintah memutus dan membatasi line telepon di daerah Utara dan Timur Sri Lanka sejak awal Februari untuk membatasi jalur komunikasi pemberontak saat operasi ‘pembersihan’ berlangsung. Satu2xnya jalan komunikasi bagi saya adalah land-line kantor atau wartel yang terbatas jumlahnya. Untuk internet, saya harus ‘menumpang’ di kantor lain.

Saya mencoba melongok keluar jendela depan yang gelap gulita. Sementara suara2x berisik di jendela belakang masih terdengar. Sengaja gorden jendela belakang tidak saya dekati. I am not ready yet to see the truth, someone or something is out there now. This is my intuition alerting…

Foto: Pemandangan luar jendela depan.


Setelah mengingat kembali semua emergency procedure dalam security training yang pernah saya dapat, langkah pertama saya adalah menghubungi radio-room yang selalu stand-by selama 24 jam. “Di sini…(kode panggilan saya di radio) melaporkan insiden. Seseorang -atau sesuatu- mencoba memasuki kamar…”, saya menanti response secepatnya, namun yang ada hanya sunyi…

Saya pun mengulangi panggilan,…tak lama kemudian barulah terdengar seseorang merespon: “Tolong ulangi laporan anda…”, saya pun memberi ‘laporan singkat’ tentang apa yang sedang terjadi sambil setengah berbisik. Saya kuatir, suara berisik percakapan radio akan membuat the intruder panik dan agresif. Bagaimana kalau tiba2x kaca jendela dipecahkan?…

Sambil menunggu, saya mencoba menebak2x siapa kira2x pelaku potensial intruder ini, dugaan pertama terkait dengan kasus korupsi pejabat setingkat Camat setempat yang sekitar seminggu sebelumnya kami laporkan ke komisi pemberantasan korupsi di ibu kota. Pak Camat memberikan rumah bantuan tsunami ke mereka yang tidak berhak mendapatkannya. Rumah bantuan justru ditempati keluarga milisi yang sama sekali bukan penduduk setempat ataupun menjadi korban tsunami. Setelah investigasi lapangan, kami menemukan bahwa Pak Camat sebelumnya bergabung dengan kelompok bersenjata dan dikenal dekat dengan milisi serta bertemperamen kasar. Ia pun tak segan2x membentak atau mengancam dengan senjata penduduk yang protes atas kebijakannya.

Sebelum melaporkan kasus ini, saya berkonsultasi dengan pihak keamanan organisasi tempat saya bekerja. Mereka menyarankan untuk ‘back-off’, dan melupakan kasus ini, serta pulang dengan ‘damai’ di akhir masa tugas saya yang tinggal 1 bulan lagi. Menceburkan diri dengan intrik lokal adalah hal yang beresiko. Tetapi, panggilan moral saya berkata lain. Saya tidak bisa duduk diam dan berpura2x seakan semua baik2x saja. Apalagi, ini adalah wilayah dan bidang tanggung jawab saya: monitoring bantuan. Jika didiamkan, tidak akan ada efek jera serta pelajaran bagi pelaku korupsi lainnya, juga akan menyuburkan praktek impunitas. Hukum harus ditegakkan (hmmmm, apakah ini karena saya kuliah di Fakultas Hukum yah). Mungkin juga saya yang terlalu idealis, entahlah. Mungkinkah hukum ditegakkan setegak-tegaknya saat konflik berlangsung?…Yang jelas, kejadian ini saya curigai sebagai ‘balasan’ atas tindakan nekat saya. Apakah hanya sekedar intimidasi? atau lebih parah lagi.

Foto: Pemandangan luar jendela bagian belakang.


Foto: Bagian luar belakang/samping kamar. Tempat datangnya ‘yang tak diundang’.

Selanjutnya, saya harus menunggu karena petugas di ruang radio harus mengontak officer yang bertanggung-jawab untuk keamanan staff di wilayah ini. Ada dua orang, pertama adalah Caroline (seorang perempuan muda dari Belanda), dan Raja, staff lokal yang juga wakil dari Caroline. Ada lagi Stephan -yang posisinya lebih tinggi-dari Russia yang bertanggung jawab untuk wilayah utara, timur dan tengah, yang berbasis di Batticaloa. Sayangnya, saat itu ia sedang berada di Trincomalee, seandainya Stephan ada, pasti ia menjadi orang pertama yang saya kontak. Selain rumah sewaan Stephan yang dekat lokasi hotel saya, kamipun lumayan dekat di luar kantor (secara profesional)

Respon pertama justru datang dari Sarah,kepala salah satu kantor di sini. Ia meminta saya untuk berteriak sekeras2xnya dan membuat kegaduhan agar banyak orang yang terbangun dan datang menolong… Well,…dalam situasi seperti ini, saran tersebut sangat tidak mungkin untuk diterapkan. Saya seorang diri di hotel besar 3 lantai. Ada bapak penjaga gerbang, yang berjarak hampir 100 meter dari kamar, melewati rimbunan pepohonan. Seandainya bapak penjaga datang, what could he do?… Apabila intruder yang datang lebih dari satu orang, terlatih bela diri, bisa jadi justru si bapak penjaga akan menjadi korban. Saya pun menjawab bahwa ide ini mustahil karena memang tidak ada yang bisa dimintai tolong. Rumah penduduk terdekat nun jauh di sana, melewati padang rumput, kawat berduri dan sekat seng di antara tanah kosong.

Tak lama kemudian, Caroline menghubungi saya dan meminta untuk bersabar, Raja akan datang ke tempat saya untuk menjemput. Saya pun menunggu, lima menit, sepuluh menit, lima belas menit, dua puluh menit…adalah menit2x menunggu yang mencekam. Karena bantuan yang tak kunjung tiba, saya kembali mengontak radio room, jawaban tetap sama: akan ada yang datang menjemput, harap bersabar dan menunggu.

Foto: Jejak2x kaki yang mencurigakan di luar jendela kamar. Yang jelas nampak jejak kaki anjing, selebihnya jejak manusiakah (?)

Sempat terlintas dalam benak saya untuk keluar kamar dan lari sekencang2xnya, dahulu saya sering juara jika ada balap lari di sekolah sejak SD hingga SMA (paling tidak dalam pelajaran olah raga) Tetapi…ini mungkin hal yang bodoh untuk dilakukan, bagaimana jika saya tiba2x ditodong celurit atau ditembak dari belakang…Saya pun berkeringat dingin, dan tanpa terasa tangan pun gemetar. Di saat seperti ini, hanya doa yang bisa dipanjatkan…Tuhan tolong lindungi saya…Saya masih belum siap untuk mati, masih banyak amal yang harus saya lakukan, not now, please…

Setelah menunggu sekitar 40 menit, suara kerikil yang terinjak mobil terdengar. Ada yang datang… Dalam hati, saya melonjak girang dan sedikit lega. Itu pasti Raja atau siapapun yang akan menjemput saya. Selanjutnya terdengar suara orang bercakap2x dan langkah kaki menuju kamar saya. Saya mengintip keluar jendela, Raja datang dengan bapak penjaga gerbang. Saya membuka pintu dan mempersilahkannya masuk, ia memeriksa jendela belakang tempat suara gaduh sebelumnya datang. Tak ada siapa2x.

Karena sedikit panik, saya tidak memperhatikan dengan jelas kapan tepatnya suara2x itu menghilang. Kemungkinan saat percakapan lewat radio yang saya lakukan kian intensif. Bunyi beeping saat percakapan barangkali terdengar dari luar. Saya hanya ingat bahwa ketika suara perkakas berhenti, terdengar suara ‘bedebum’ dan langkah kaki di luar jendela.

Saya diminta untuk menyiapkan tas berisi pakaian seperlunya dan harus mengungsi ke rumah tempat Caroline tinggal. The terror is not over yet… (bersambung) ke Mengungsi Lagi Part II (Sepenggal Cerita dari Sri Lanka-6)

Keterangan: nama2x di atas adalah nama samaran

4 thoughts on “Mengungsi Lagi Part I (Sepenggal Cerita dari Sri Lanka-6)

  1. Pingback: Di Sini Ada Hantu?… (Bagian 1) | My Life, My Search, My Journey

  2. Pingback: Mengungsi Lagi Part II (Sepenggal Cerita dari Sri Lanka-6) « My Life, My Search, My Journey

  3. Pingback: Oase di Kalutara (Sepenggal Cerita dari Sri Lanka (5)) « My Life, My Search, My Journey

  4. Pingback: Suatu Pagi di Hari Minggu (Sepenggal Cerita dari Sri Lanka-7) « My Life, My Search, My Journey

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s