Suatu Pagi di Hari Minggu (Sepenggal Cerita dari Sri Lanka-7)

Batticaloa, Maret 2007

Akhirnya saya menemukan tempat tinggal baru setelah terpaksa harus mengungsi lagi untuk kesekian kalinya (baca kisah sebelumnya dalam post
Mengungsi Lagi Part I (Sepenggal Cerita dari Sri Lanka-6)
dan juga Mengungsi Lagi Part II (Sepenggal Cerita dari Sri Lanka-6))

Kali ini saya tinggal di sebuah rumah yang khusus disewa bersama Natalia, seorang perempuan muda dari Spanyol yang bekerja di sebuah LSM internasional. Berhubung sisa masa tugas saya di Batticaloa yang hanya tinggal 3 minggu lagi, Natalia sebagai yang ’empunya’ rumah mengijinkan saya tinggal secara gratis (thanks girl!.. :D). Dulu kami sempat bertetangga saat di Green Garden selama 2 minggu waktu ia pertama kali tiba di daerah ini.

Foto: Indahnya laguna di Batticaloa



Rumah dua lantai dengan 3 kamar, 2 kamar mandi dalam, AC, balkon dengan pemandangan langsung ke laguna plus TV kabel sungguh sangat jauh dari bayangan saya. Setelah insiden terakhir di Bridge View Hotel, saya tidak mau berharap yang muluk2x untuk sebuah tempat tinggal. Yang terpenting adalah merasa aman dan mendapat teman untuk tinggal bersama. Seorang diri di rumah sebesar itu adalah hal yang sebisa mungkin saya hindari, khususnya pada malam hari. Terkadang ada beberapa ‘party’ atau acara kumpul2x sesama staff LSM atau lembaga internasional (umumnya hampir semua tamu adalah expat). Kalau sudah begini, saya yang sebetulnya tidak terlalu suka keluar malam pun terpaksa harus ikut ke acara yang berlangsung antara jam 8 sampai sekitar jam 1 atau jam 2 pagi. Belakangan saya tahu bahwa tidak sedikit staf internasional yang melanggar ketentuan ‘jam malam’ saat kumpul2x. Hal ini dilakukan mungkin karena ‘rasa aman’ memakai kendaraan resmi kantor (bukan kendaraan civilian biasa), atau memang butuh suasana rileks dari stress pekerjaan sehari2x, atau karena alasan lainnya.

Foto: Pemandangan dari balkon lantai 2

Kadangkala, ‘party’ berlangsung saat shelling sedang terjadi. Berhubung suara shelling adalah hal yang dianggap ‘biasa saja’, aktivitas ‘party’ pun tidak terganggu. Saya merasa aneh dengan suasana yang kontras ini. Suara musik diputar cukup keras, hiruk-pikuk kerumunan orang serta lalu-lalang mereka yang berasal dari berbagai negara. Di luar nampak beberapa penduduk lokal mencoba mengintip ke dalam pagar tempat acara berlangsung. Ada rasa risih dan jengah melihat mereka ‘di sana’ dan saya ‘di sini’ dalam ‘dunia’ berbeda yang dibatasi tembok pagar (atau karena saya yang terlalu sensitif ya…) Sesekali suara ‘bedebam-bedebum’ dari shelling terdengar lamat2x saat jeda pergantian lagu. Memang suasana yang aneh.

Foto: Bersama kawan2x dari berbagai organisasi di Batticaloa

Di hari minggu pagi yang cerah, Natalia mengajak saya menuju ke pantai, sekitar 5 kilometer jauhnya dari tempat kami sambil berjalan kaki. Memang, dibandingkan dengan tempat tinggal saya sebelumnya di daerah Kallady, kawasan ini tergolong daerah ‘elit’. Banyak rumah2x sewaan staf internasional di sepanjang tepian laguna. Suara shelling pun ‘nyaris tak terdengar’, meski kadang sesekali terdengar suara ledakan di kejauhan. Pagi itu, sambil berjalan kami berbicara dan berdiskusi tentang banyak hal. Sesekali kami berpapasan dengan staf internasional yang sedang bersepeda, berjalan kaki atau mengendarai mobil. Sebenarnya, kami pun tidak diijinkan berjalan kaki oleh Security Officer karena alasan keamanan. Kontak senjata, bom bunuh diri atau ranjau darat bisa dijumpai sewaktu2x. Dengan sedikit nekat, kami memutuskan pergi.

Suasana tidak terlalu ramai, hanya sesekali nampak penduduk lokal bersepeda, menaiki ‘tuk2x’, berjalan kaki atau menaiki motor. Kebanyakan mereka akan menyapa kami lebih dahulu: “Good morning, madame…”, hmmmm, how polite…

Foto: Menunggu perahu datang

Setelah melewati perkampungan, jalanan mulai berkerikil bercampur tanah dan pasir…Sekonyong2x, kami melihat banyak orang bergerombol, duduk, berdiri, bercakap2x…tersebar hingga ke pantai. Saat kami amati lebih kauh, ternyata mereka adalah pengungsi yang baru tiba dari daerah Vakarai, tempat operasi ‘pembersihan’ sedang gencar2xnya dilakukan oleh tentara pemerintah. Tak jauh dari tempat kami berdiri, nampak seorang perempuan yang sedang mencari kutu di kepala seorang ibu, beberapa anak kecil (sepertinya anak sang ibu tadi), duduk bersama di selembar alas ala kadarnya, di bawah pohon.

Foto: Berkumpul di bawah pohon

Natalia, yang memang bertugas sebagai ‘Camp Management Manager’, pun penasaran karena lokasi pengungsian di pantai ini tidak terdata. Beberapa hari terakhir, ia dan anggota timnya sibuk menangani ‘influx’ atau aliran masuk pengungsi ke Batticaloa yang mencapai hingga ratusan ribu jumlahnya. Titik2x pengungsi selalu diupdate dan diinformasikan ke organisasi lain dan pemerintah setempat. Saya tahu persis bahwa ia dan anggota tim ‘Camp Management’ yang lain harus bekerja ekstra keras (termasuk hari libur) setiap ‘influx’ baru terjadi.

Foto: Diskusi dengan relawan di ‘pusat administrasi’ kamp

Setelah mencoba bertanya dengan bahasa campuran antara bahasa Inggris dan bahasa tubuh🙂, kamipun menemukan pusat administrasi kamp yang dikelola oleh para remaja (yang juga pengungsi) yang berinisiatif untuk mencatat nama2x pengungsi, menyiapkan buku tamu bagi yang datang, mencatat jumlah bantuan yang datang dan hal2x lain yang terkait.

Natalia mencoba bertanya beberapa hal mendetil seperti jumlah pengungsi, kapan tiba di Batticaloa, apakah pernah ada bantuan yang datang dsb…dsb… Namun, karena kesulitan komunikasi, akhirnya kami hanya bisa mengecek di daftar pengunjung yang tertulis di buku tamu yang ada. Dari situlah kami mengetahui bahwa beberapa organisasi lokal dan UNHCR sudah pernah datang ke lokasi.

Tak lama kemudian, bantuan dari sebuah LSM keagamaan lokal tiba. Para pengungsi pun berbondong2x mengantri dengan menunjukkan kupon yang mereka dapat sebelumnya.

Foto: Antri jatah bantuan

Usai mencari tahu, kami pun melanjutkan perjalanan sambil berkeliling kamp. Nampak toilet umum yang baru saja dibangun dari seng seadanya. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana rupa toilet ini beberapa minggu kemudian di tengah kamp dengan ribuan pengungsi.

Foto: Toilet umum untuk pengungsi

Di pantai, pemandangan miris harus kami lihat lagi. Nampak banyak ibu2x, remaja dan laki2x dewasa, bahkan anak kecil yang sedang mengais2x sesuatu di pasir. Karena ingin tahu, kami mencoba bertanya, lagi2x dalam bahasa campuran. Mereka pun menunjukkan ketam (kepiting kecil) atau kerang kecil yang mereka peroleh di kantung plastik. untuk dimakan.

Foto: Mencari makanan

Karena mulai menjadi pusat perhatian, kami pun memutuskan untuk pergi. Di perjalanan melewati kamp pengungsi, nampak deretan tenda2x yang dibangun. Dahulu, saya sempat beberapa kali merasakan betapa tersiksanya berada di tenda serupa ditengah hari bolong, apalagi di tempat tandus semacam ini. Tak heran banyak dari pengungsi yang lebih memilih berteduh di bawah puing bangunan atau pohon2x kecil di sekitar lokasi.

Foto: Tenda tempat para pengungsi tinggal

Yang paling mneyedihkan bagi kami adalah saat melihat anak2x kecil tak berdosa harus menjadi korban perang saudara ini. Beberapa cara ditempuh mereka untuk bisa mengungsi yang kesemuanya penuh resiko. Mereka kadang menaiki perahu yang tak jarang terbalik di tengah laut serta memakan korban jiwa yang tak sedikit. Kali lain mereka terpaksa berjalan kaki di hutan hingga beberapa hari dengan bekal makanan terbatas. Minggu sebelumnya, tim Natalia menangani para pengungsi yang baru saja tiba setelah berhari2x melewati jalan darat penuh resiko, melewati hutan, kehujanan, kepanasan dan kelaparan. Deva dari Trincomalee, yang juga anggota tim penanganan pengungsi (dulu tetangga saya di Green Garden) menyatakan bahwa ia sempat meneteskan air mata saat pertama kali melihat kondisi para pengungsi, apalagi saat baru tiba dengan pakaian terkoyak tanpa alas kaki, kelelahan, ketakutan, kelaparan dan penuh kesedihan.

Foto: Pengungsi cilik

Foto: Melepas kejenuhan

Itulah pengalaman saya bersama Natalia di suatu pagi di hari minggu, di daerah konflik Batticaloa. Saya sempat membayangkan ‘setting’ yang berbeda, di suatu pagi di hari minggu, di pantai Gili Air-Lombok. Sebuah pemandangan dan pengalaman yang sungguh jauh berbeda.

Perbedaan ini membuat saya semakin menyadari betapa mahal dan berharganya sebuah perdamaian…

In war, we always deform ourselves, our essence.
(Chris Hedges)

2 thoughts on “Suatu Pagi di Hari Minggu (Sepenggal Cerita dari Sri Lanka-7)

  1. Pingback: Mengungsi Lagi Part II (Sepenggal Cerita dari Sri Lanka-6) « My Life, My Search, My Journey

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s