Malu Bertanya…

Kali ini saya ingin sharing tentang sebuah pengalaman yang sebenarnya memalukan (hehe…); namun akan selalu dikenang sebagai pengingat agar tidak malu bertanya di jalan serta akan pentingnya membaca peta…dengan baik dan benar.

Siang itu, usai mengikuti kursus intensif bahasa Norwegia di daerah Centrum (pusat kota) saya berniat untuk pulang berjalan kaki melewati rute yang berbeda dari yang biasa dilalui. Karena merasa sudah cukup sering bolak-balik dan berkeliling kota Oslo, dengan penuh percaya diri saya pun berkelana berbekal sebuah buku wajib bagi traveller: Lonely Planet🙂

Menyusuri pusat pertokoan, melihat2x manekin, desain window chase yang cantik, dan produk beraneka warna yang semua nampak indah membuat mata ’menari2x’ sambil sesekali takjub mengetahui harga yang tertulis di tag price (Oslo adalah salah satu kota termahal di dunia).

Hiruk-pikuk orang, lalu-lalang kendaraan pribadi, trem dan bus yang lewat seakan tidak menganggu pikiran yang kadang asyik tenggelam dan sibuk sendiri. Saya pun terus berjalan kaki (masih dengan tingkat pe-de yang tinggi), sambil sesekali mengamati nama jalan, nama toko atau tanda2x jalan agar tidak ada yang terlewatkan. Kesimpulan: gedung2x dan jalan2x di kota ini semua nampak hampir seragam dan mirip satu sama lain. Saya tidak menyadari bahwa jalan yang dilalui adalah jalan yang sebenarnya asing, namun terlihat familiar. Di sinilah semua bermula…

Tanpa sengaja mata pun tertumbuk pada sebuah nama: Grunerløka. Saya teringat bahwa tempat ini sebenarnya sudah melenceng jauh dari tempat tujuan. Namun, berhubung lokasi ini termasuk dalam salah satu ‘have to visit places’ di kota Oslo, maka tidak ada salahnya bisa tur keliling gratis sambil mencoba mencari jalan pulang.

Di jalan yang saya lalui, banyak sekali aktivitas terjadi. Nampak restoran serta kafe2x kecil yang berjejer di jalan. Berhubung masih musim panas maka lebih banyak pengunjung memilih untuk duduk di luar. Di salah satu pintu, ada seorang bapak paruh-baya yang mengenakan baju putih seperti juru masak yang sedang mengamati jalan. Di sisi lain terlihat beberapa orang sedang duduk2x menikmati hidangan di sebuah restauran; ada pula beberapa imigran sedang bercengkerama di sebuah taman kecil, ibu tua yang sedang membersihkan karpet, anak kecil bermain di taman, turis yang sedang melihat2x dan kesibukan lainnya. Semua nampak normal.

Setelah lebih dari dua jam berjalan, perut pun mulai keroncongan karena jam makan siang sudah lewat. Di sebuah taman kecil saya duduk sebentar untuk mengecek jumlah uang yang ada di dompet jika harus membeli makanan. Sialnya: tidak ada dompet! Sambil harap2x cemas, penggeledahan seluruh isi tas sampai saku celana pun dilakukan. Sayang semua sia2x, tak ada uang sepeserpun…Saya teringat karena terburu2x mengganti tas pagi ini, dompet pun tertinggal di tas yang lama😦

Tidak jauh dari tempat duduk, nampak seorang gadis muda berwajah Asia sedang bersama bayi. Akhirnya, dengan mencoba memberanikan diri, saya bertanya dalam bahasa Inggris jalan ke arah Oslo Centrum (asal mula saya berjalan) dari tempat itu. Si gadis muda mencoba menolong dan menunjuk ke suatu arah. Saat ditanyakan tentang arah Eikeberg (tempat tujuan saya) ia menggelengkan kepala sambil minta maaf karena kurang mengetahui pasti, yang jelas lokasi itu menurutnya lumayan jauh. Ia menyarankan untuk menaiki trem atau bus agar lebih mudah. Karena si bayi mulai rewel, ia pun harus pergi. Tak lupa saya berterima kasih atas informasi yang ia berikan.

Kembali perjalanan berlanjut ke arah yang ditunjuk gadis tadi. Perasaan pun mulai tidak enak saat menyadari bahwa jalan yang dilalui ini seperti berputar2x. Betul saja, entah bagaimana saya kembali tiba di tempat yang sama: taman kecil tempat bertemu dengan si gadis Asia!!!… Untunglah ia tidak lagi berada di sana, malu juga kalau ketahuan masih tersesat meski sudah bertanya.

Saya mencoba tetap tenang dan berpikir jernih sambil (masih) merasa enggan bertanya lagi pada orang lain. “Pasti bisa menemukan jalan pulang. Harus jalan lurus ke sini, belok kanan, ambil kiri, lewat jembatan, jalan lurus. Tidak terlalu sulit mengikuti petunjuk peta…,” pikir saya dalam hati.

Saya pun kembali melewati jalan yang tadi sebenarnya sudah dilalui. Nampak bapak tua berbaju putih masih di depan pintu restoran, ibu yang tadi sedang membersihkan karpet masih di sana, segerombolan orang yang duduk di ujung jalan juga ada di sana, namun beberapa pendatang yang duduk di taman kecil pinggir jalan sudah tidak nampak. Saya menyeberang jembatan, berjalan, dan terus berjalan… hingga akhirnya… kembali saya tiba di taman kecil tempat saya bertemu dengan gadis Asia tadi!…Nooooo!!!!…

Saat itu, kesabaran saya sudah hampir habis. Kesal rasanya terus berputar2x di tempat yang sama. Peluh mulai bercucuran, perut keroncongan, tidak ada uang di dompet (memang lupa bawa dompet), untung masih ada telepon genggam di tas. Saya pun menelpon T (‘custodian’ pribadi hehe :D), sambil langsung memberikan laporan tentang kondisi dan situasi darurat saat itu. Ketika T tahu saya tersesat hingga Grunerløka, yang ada ia malah tertawa lepas di seberang telepon. Ia pun memberikan ‘moral support’ bahwa saya pasti bisa menemukan jalan pulang sambil mengingatkan bahwa ini adalah kesempatan bagus untuk mengenal daerah ‘bohemian’ ini lebih dekat dst…dst… T yang masih di kantornya, juga minta maaf tidak bisa menjemput saat itu untuk ‘menyelamatkan’ karena masih harus bekerja beberapa jam lagi. Phewww.

Kembali saya berjalan, kembali juga berputar2x, terhitung hingga 3 kali saya kembali ke taman kecil tadi dan 4 kali melewati bapak berbaju putih serta ibu yang membersihkan karpet serta orang yang sedang makan di restoran ujung jalan. Saya mulai merasa kalau mereka pun memandang keheranan saat lewat di depan mereka.

Dalam hati perasaan mulai campur aduk, antara kesal, lapar, marah pada diri sendiri, merasa bodoh dan semacamnya. Teringat pepatah bahwa seekor keledai tidak akan jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Kali ini, saya berputar2x di tempat yang sama hingga 3 kali lebih, berarti….saya lebih bodoh dari keledaikah?…Hiks…hiks…sungguh ironis dan pahit kenyataan ini😦

Entah mengapa selama di jalan saya enggan bertanya pada orang lain (selain gadis Asia tadi). Mungkin karena faktor pribadi yang introvert dan enggan memulai pembicaraan dengan orang asing atau kurang pe-de karena bahasa Norsk saya yang belum lancar waktu itu. Akhirnya, setelah terus mencoba berjalan dan berjalan, sambil sesekali berhenti melihat peta, saya pun tiba di tempat tujuan. Perjalanan yang biasanya memakan waktu hanya 20 menit, kali ini memakan waktu hampir 5 jam!!!…

Sejak kejadian di atas, saya lebih berhati2x saat melewati jalan yang baru dilalui dan mulai belajar serius membaca peta. Meski mengikuti petunjuk peta, entah mengapa saya seringkali menuju arah yang justru berlawanan dari yang harus dilalui… There must be something between me and the map🙂

Lesson learned: jangan malu bertanya kalau tersesat di jalan. Kalau sudah tersesat namun masih malu bertanya? Ini namanya sungguh terlalu dan memalukan, dan sayalah salah satu contohnya, hehe :D…

Oslo, 19 Juni 2008

Disclaimer: Foto2x di atas menggambarkan suasana kota Oslo di musim panas (koleksi pribadi)

11 thoughts on “Malu Bertanya…

  1. Pingback: Tersesat di Hutan | My Life, My Search, My Journey

  2. Pingback: “Saya Bukan Siapa-siapa…” « My Life, My Search, My Journey

  3. pipitta

    wkwkwkwkw… 20 menit jadi 5 jam?? dengan perut keroncongan?? hwaaa… pasti menderita sekali, lain perkara kalau perut kenyang.. mungkin malah bisa jadi kesempatan jalan-jalan😀

    kayaknya saya sama nih ama feli.. musuhan dengan peta!

    Reply
  4. Pingback: Tersesat…Lagi. « My Life, My Search, My Journey

  5. rayyaa

    wah… jalan kaki 5 jam + tersesat ditempat baru ditengah orang2 yang susah diajak komunikasi… klo aqu pastinya dah panik bgt… ;o
    salut buat mba felicity,,
    salam kenal, nice blog n nice story…🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s