Gegar Budaya

Meskipun saya ’numpang lahir’ dan besar di Jakarta (yang sering dianggap bukan di Jawa itu🙂 ), namun keluarga dari kedua orang tua tetap menganut budaya Jawa dalam pergaulan sehari2x. Peraturan tidak tertulis seperti tidak boleh tertawa keras2x, tidak boleh duduk sambil ongkang2x kaki, tidak boleh keluar malam hari sendiri, harus pulang maksimal jam 9 malam, harus berjalan dengan sedikit membungkuk saat lewat di depan orang yang dituakan, tidak boleh ini, tidak boleh itu, harus ini, harus itu rasanya banyak sekali.

Saat lepas dari orang tua pertama kalinya untuk melanjutkan studi di negeri kincir angin dengan beasiswa tahun 2003, rasanya seperti menjadi orang yang bebas merdeka. Banyak momen2x gegar budaya yang saya alami di Den Haag (tempat saya belajar) seperti melihat orang beradegan mesra di trem, di jalan dan tempat umum lainnya, pertama kali bertemu dengan mereka yang tidak beragama atau mempercayai Tuhan dan hal2 lain. Rasanya saya seperti ‘wong ndeso’ yang baru datang ke kota besar.

Foto: Lund, here I come…

Pertama kalinya saya menginjakkan kaki di wilayah skandinavia adalah tahun 2006 lalu saat mengunjungi T di Lund, Swedia. Momen keterkejutan itu lagi2x terjadi saat melihat para ’bikini girls’ berleha2x saat mandi matahari tepat di luar kamar jendela asrama mahasiswa (lihat post sebelumnya di Summer is coming!)

Saat tiba di Oslo tak lama kemudian, ada beberapa hal yang cukup menganggu terkait dengan masalah perbedaan budaya. Berhubung setiap orang di negara ini bebas dan terbuka mengutarakan pendapatnya sejak kecil, ada kesan bahwa penduduk asli Norwegia sangat ’direct’, ’straightforward’ alias sangat terus-terang, terbuka dan kadang buat orang Jawa seperti saya sangat tanpa tedeng aling-aling alias tidak sopan dalam mengutarakan pendapat. Buat mereka, cara berkomunikasi saya dipandang terbalik: penuh basa-basi, tidak jelas, terlalu sopan (yang kadangkala dianggap tidak perlu), dan terlalu ’complicated’ untuk menangkap maksud sesungguhnya.

Masalah terbesar waktu itu adalah hal yang terkait dengan….makanan! Karena biasa menyantap makanan tradisional seperti tempe-tahu penyet, botok, buntil, bandeng goreng plus lalap sambal tomat, sayur asem, rawon, pecel, urap dan sejenisnya –yang buat saya memiliki kelezatan tiada duanya di dunia– sulit rasanya bagi perut ini untuk menerima makanan dan bahan2x lain yang aneh bin ajaib seperti kreme fløte, quail, berries, pistachio, blue mussel, scallop, goat cheese, lamekjøtt, herring, deer meat, capers, pepermint, brie, pita, horseradish, solbær sirup, gloegg (minuman hangat tradisional dengan jahe dan tambahan rempah2x) dan lain2x.

Foto: Mackarell goreng dengan taburan ‘gresløk’ dan kreme fløte

Acara makan bersama pun sempat membuat saya berdebar2x apakah perut ini bisa menerima makanan yang disajikan, sambil berharap agar makanan yang dihidangkan tidak terlalu aneh2x. Saya ingat saat di salah satu dinner, ibunda T menyajikan makan pembuka (appetizer) yang terlihat cantik yakni flatbrod (roti gepeng khas Norwegia), plus udang segar (yang sudah direbus sebelum dijual di pasaran), taburan caviar (telur ikan) dan….alpukat!…

Bagi banyak orang (khususnya partisipan dinner yang lain saat itu) makanan ini sangatlah lezat dan tergolong istimewa, sedangkan buat saya memakan udang tanpa digoreng atau dicampur bumbu lain, plus telur ikan (apa pula ini, yah? :D), apalagi alpukat dicampur udang dan telur ikan?…rasanya aneh sekali. Saya sempat menyayangkan alpukat yang tersaji itu sambil membayangkan alangkah nikmatnya segelas es alpukat plus taburan susu coklat manis di atasnya (mmmm, yummy!)

Saat kemudian ditanyakan:

T’s mom : ”Do you like the food?”
Me : (karena ingin menghormati dan merasa tidak enak menolak)…“Yes, I like it”
T’s mom : “ Do you want more?”
Me : (merasa tidak enak untuk menolak)…“Yes, please” (sambil tersenyum serba salah dan kebingungan)

Foto: Sandwich udang segar (yang sebenarnya sudah direbus), plus roti, telur ikan dan krim susu asam

Adegan di atas berlangsung bukan sekali-dua kali, tetapi beberapa kali dalam beberapa acara makan bersama. Karena tidak tahan lagi, saya pun menyampaikan keluh kesah ini ke T. Seperti biasa, saat saya berbuat sesuatu yang dianggap konyol, T pun langsung tertawa lepas, kemudian menambahkan (dalam terjemahan bebas) :” Lagian, udah tau ini di Norwegia, bukan di Indonesia. Di sini, kalau orang bilang ’iya’ berarti ’iya’ kalau orang bilang ’nggak’ berarti ’nggak’. Kalau kamu nggak suka makanan yang ditawarkan, bilang aja ’No thanks’ nggak usah kebanyakan basa-basi begitu loh…”.

Saya hanya bisa merengut, sambil mencoba mengingat2x ’nasehat’ tadi, yang dalam kenyataannya sulit untuk dipraktekkan. Setelah beberapa tahun, baru saya bisa berbuat ’tega’ menolak tawaran makanan atau minuman atau hal2x aneh yang saya rasa tidak ’sreg’ dengan selera.

Foto: Blue Mussel (sejenis kerang berwarna biru kehitaman)

Sejak beberapa ‘insiden kecil’ seperti di atas, T dan anggota keluarganya yang lain selalu melakukan ’tes ulang’ setiap menawarkan atau menanyakan sesuatu dengan tambahan kalimat:“Do you mean: ’Yes-yes’ or ’Yes-no?…” 😀

Pada awal menginjakkan kaki di Negara ini, jujur saja, saya merasa tidak akan bisa ‘survive’. Selain suhu dingin yang terkadang ekstrim saat winter, bahasa yang njelimet (meski banyak penduduk Norwegia bisa berbahasa Inggris, namun dalam percakapan sehari2x mereka memakai bahasa Norsk yang jauh berbeda dari bahasa Inggris), suasana sepi (total populasi seluruh Norwegia adalah sekitar 4,5 juta orang, dan di Oslo sekitar 500.000 orang; dibandingkan dengan kota Jakarta yang memiliki 12 juta lebih manusia, Oslo mungkin seperti sebuah ‘desa’ kecil), perbedaan budaya dan…lagi2x makanan.

Dahulu (saat masih buta informasi), sulit sekali rasanya menemukan bumbu dapur khas Indonesia di Oslo. Pertama kali menemukan ‘chinese store’ justru saat kami berlayar ke sebuah kota kecil bernama Tonsberg pada musim panas tahun lalu. Ketika pintu otomatis toko terbuka, mata saya langsung tertumbuk pada ruang pendingin di pojok yang berisi aneka bumbu dapur. Seperti adegan ‘slow motion’ film, saat pintu di ‘gua harta karun’ terbuka, nampaklah daun kangkung, daun pisang, daun singkong, lengkuas, rebung bambu, singkong, jantung pisang, daun kemanggi, kunyit dan lainnya berkilauan bagaikan berlian dan emas permata😀.

T hanya bisa berdiri terbengong2x, melihat saya sibuk berlari kecil ke sana kemari seperti anak kecil sambil sesekali menyeletuk: “oh daun kangkung”…”look, banana leaves!”….”ah daun singkong!”… Yang jelas saat itu bagaikan sebuah ‘moment of truth’, yang membuat saya yakin dan mengatakan pada diri sendiri bahwa saya akan bisa ‘survive’ di tanah Viking ini.

Sekembalinya di Oslo, saya pun mengadakan ‘sweeping’ ke daerah pertokoan Pakistan, Timur-Tengah, Asia Selatan dan lainnya. Tak kurang sekitar lima belasan toko dimasuki untuk mengecek apa yang tersedia di sana. Hasil ’sweeping’ tadi tidaklah mengecewakan, paling tidak sekarang saya tahu dimana bisa mencari kunyit, ikan teri, nangka, daun pandan, tauge, terasi dan sejenisnya🙂

Foto: Aneka sayur dan bumbu dapur di rumah kaca T’s mom. Daun mint yang berbau khas.

Foto: Rabarbra, batang tanaman bisa dimakan menjadi sayuran yang rasanya sedikit asam dan bisa dibuat jus atau campuran pie.

Foto: Tanaman ‘gresløk’ yang berbunga keunguan

Foto: Panen ketimun di dalam pot

Foto: Cabe rawit ala Norway. Kami sempat bercanda jika dibandingkan cabe rawit ala Indonesia, cabe rawit di sini mungkin terasa manis🙂

Masalah lain yang terkait dengan makanan adalah kesukaan saya makan makanan yang pedas. Salah satu makanan terlezat (selain botok dan buntil) buat saya adalah sambal hijau plus lalap daun singkong rebus ala restoran Padang. Sayang, perut orang Norwegia memiliki ‘default setting’ yang berbeda dengan masyarakat kita pada umumnya🙂.

Saat memasak masakan Indonesia, awalnya apabila resep memerlukan 10 buah cabe merah, maka saya akan menggunakan ‘hanya’ 5 buah, alias 50% saja. Ternyata ini masih dianggap terlalu pedas, meski kemudian saya kurangi menjadi tiga, dua, satu pun masih dianggap pedas. Pada akhirnya saya terpaksa hanya menggunakan setengah atau tidak sama sekali, hmmmm…betapa sebuah ‘pengorbanan’ yang besar buat perut ini:(

Setelah sekian lama, saya merasakan ada beberapa nilai lebih menjadi pendatang (dilihat dari segi positif, tentunya). Indonesia, meski tidak se-terkenal Thailand, dianggap sebagai negeri ‘nun jauh di sana’ yang eksotik. Saya paling suka bercerita panjang lebar tentang alam, budaya, masakan, kebiasaan unik yang saya ketahui, dan di akhir pembicaraan pasti akan mendorong mereka untuk datang ke Indonesia. Yah, hitung2x menjadi duta kecil untuk negara yang saya cintai ini, dengan segala carut-marutnya🙂

7 thoughts on “Gegar Budaya

  1. Pingback: Makan Siang yang Merepotkan « My Life, My Search, My Journey

  2. Pingback: “Saya Bukan Siapa-siapa…” « My Life, My Search, My Journey

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s