A Librarian’s Prayer

Keterangan: harap membaca teks di atas dengan bijaksana dan tidak terburu2x mengambil kesimpulan yang menyudutkan kelompok tertentu. Please, be wise and use your common sense!…

Kadangkala, saat mencari inspirasi untuk bahan tulisan di blog, saya iseng membuka kembali koleksi foto2x lama di hard drive komputer. Banyak kenangan dan kisah di balik setiap foto yang ada. Tulisan kali ini muncul saat membuka folder foto yang diambil ketika saya mendapat beasiswa untuk Summer School tahun 2007 lalu.

Dalam salah satu kunjungan ke Nobel Peace Center di Oslo, kami berkesempatan memasuki setiap ruang di lokasi dimana Nobel Peace Prize committee berkantor (lebih lengkap tentang ini akan saya bahas dalam tulisan lain). Saat memasuki ruang perpustakaan yang tak terlalu besar, mata saya tertumbuk pada sebuah tulisan sederhana di dinding. Tak ada yang istimewa, sampai saya membaca keseluruhan kalimat ‘maut’ yang tertulis di teks ‘A Librarian’s Prayer’ yang terjemahan bebasnya kurang lebih sebagai berikut:

Buku ini milik…
Jika ada orang yang mengambilnya (tanpa ijin)…
semoga ia menemui ajal,
matang di penggorengan,
mengalami sakit keras dan menderita demam,
digantung dan terbalik
Amin

Hmmmm… sungguh mengerikan dan sadis sekali! Waduh, kok bawa2x penggorengan segala, yah… Bayangkan jika semua pustakawan di dunia menaruh teks ‘maut’ tadi di ruang perpustakaan. Mungkin diperlukan sebuah kajian kuantitatif untuk mengetahui jumlah statistik ‘korban’ yang sudah berjatuhan. Mungkin juga angka kehilangan buku di perpustakaan menurun secara drastis. Who knows?

Sebenarnya, saya sempat bingung, apakah ini sebuah doa, kutukan, sumpah serapah atau guyonan? Yang jelas, saya tidak mau mengambil kesimpulan apapun tanpa informasi yang memadai. Saya pikir, kita harus melihat konteks dan latar belakang saat teks tersebut dibuat agar tidak muncul penafsiran yang keliru apalagi terburu-buru.

Foto: Katalog manual di perpustakaan Nobel Peace Center, Oslo (2007)

Berangkat dari teks di perpustakaan tadi, ingatan saya pun melayang ke beberapa kenangan unik yang pernah dialami yang terkait dengan perpustakaan…

Karena terbiasa dengan dongeng sebelum tidur yang dibacakan ibunda tercinta, sejak kecil saya suka membaca. Ada rasa haus untuk mengetahui hal2x baru di luar sana lewat bacaan (silakan baca post Mother How Are You Today?…)

Beruntung di SD (Sekolah Dasar) saya pada waktu itu ada sebuah perpustakaan, yang berupa sebuah ruang kecil berukuran sekitar 2×3 meter di ujung bangunan sekolah di antara toilet dan gudang. Bagi para murid, hampir tidak ada yang berani mendatangi ruang ini di luar jam sekolah karena letaknya yang terpencil dan sedikit menyeramkan. Perpustakaan pun hanya dikelola oleh satu orang guru piket dan dibuka 3 kali dalam seminggu dalam jam2x tertentu. Saya sering tak sabar menunggu jam sekolah bubar di hari Sabtu atau Jum’at, karena pulang lebih awal maka kami bisa lebih leluasa memilih buku yang akan dipinjam. Bagi saya, melahap kisah2x Winnetou karangan Karl May, kumpulan cerita rakyat Indonesia, dongeng rakyat internasional dan semacamnya adalah sebuah kenikmatan tersendiri.

Foto: Winnetou dan Old Shatterhand, salah satu kisah favorit masa kecil🙂

Ada satu peristiwa berkesan yang tidak akan pernah saya lupakan yang dialami bersama kakak laki2x saya saat saya duduk di kelas 4 SD (waktu itu berumur 10 thn) dan kakak duduk di kelas 5 SD (umur 11 thn). Mengetahui ada perpustakaan umum di Bumi Perkemahan Pramuka Cibubur, Jakarta Timur suatu hari, saya membujuk kakak untuk mengantarkan saya pergi ke perpustakaan ini. Waktu itu kami pergi diam2x dengan membawa bekal uang recehan beberapa ratus perak untuk ongkos naik angkot (mini colt yang bisa memuat 10 orang). Lokasi bumi perkemahan Cibubur sendiri sebenarnya lumayan jauh dari rumah orang tua, namun saya ditemani kakak tetap nekat pergi (thanks, my dearest Brother :D)

Sayang, karena kurang informasi kami tiba beberapa menit setelah jam buka perpustakaan berakhir. Usai melihat2x dan melongok sebentar ke dalam ruangan (dari luar jendela), dengan lunglai, saya dan kakak pun harus kembali pulang. Namun malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih (hehe :D), saku celana olah raga yang saya kenakan ternyata bolong! Dan…akibatnya bisa ditebak, uang recehan untuk ongkos pulang kami pun raib😦

Dengan panik, kakak mencoba merogoh saku celananya sambil berharap untuk menemukan sesuatu. Untunglah masih ada uang dua ratus rupiah. Hmmm, dengan uang sejumlah ini paling tidak kami hanya bisa naik angkot hingga 1/3 perjalanan, sisanya?…tak ada pilihan lain, kami harus berjalan kaki…

Foto: Majalah ‘Bobo’, sang sahabat setia

Karena takut dimarahi pak supir angkot, kami pun tahu diri dimana harus berhenti dengan ongkos sebanyak dua ratus perak tersebut. “Betul nih, Mas tahu jalan pulang ke rumah?…”, tanya saya. “Tahu, gampang kok, tinggal ngikutin jalan ke perkampungan ini, terussss aja… sampe ujung kompleks perumahan, nanti ada pabrik ini, di sebelahnya ada lagi pabrik ini, lewat kompleks, ada lapangan bola, sampe ketemu pasar Inpres, terus nanti ada jalan besar, lewat gang ini, nyambung ke sini, jalan terusss sampe deh…”. Berhubung masih kecil dan lugu, saya masih menganut asas “presumption of smartness and reliability” (seseorang saya anggap pandai dan dapat dipercaya hingga ia berbuat suatu kebodohan atau kesalahan), yang kemudian saya sadari bahwa prinsip ini pun sejalan dengan asas ‘presumption of innocence’ yang saya pelajari di Fakultas Hukum😀

Yang jelas, karena sering berkelana menjelajahi lingkungan tempat tinggal kami bersama kakak dan kawan laki2xnya, saya menaruh kepercayaan penuh pada kakak. Tambahan lagi, kakak memang memiliki kemampuan metematika, teknik, logika dan membaca peta yang bisa diandalkan sejak kecil. Kalau saya, hingga sekarang masih bermasalah dengan membaca peta😀 (lihat post Malu Bertanya…)

Dan, kami pun melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Entah bagaimana, tak lama kemudian hujan mulai turun, sambil sesekali diiringi suara guntur. Saya dan kakak terus berjalan…dan berjalan karena takut terlambat sampai di rumah. Akhirnya, setelah berjalan cukup lama, di sore hari kami pun tiba di rumah dengan selamat sambil basah kuyup. Kami sempat merasa heran karena di daerah sekitar rumah orang tua sama sekali tidak ada hujan, semua nampak kering.

Karena takut dimarahi (khususnya oleh ibu), kami pun menyusup masuk lewat pintu belakang rumah dengan diam2x, mandi secepat kilat dan mengganti baju, serta berupaya bersikap biasa2x saja. Untunglah saat itu hari Minggu sore, orang tua mungkin menganggap kami sedang asyik bermain bersama kawan2x lain, selain itu tidak ada yang melihat kami yang saat itu mungkin nampak seperti tikus yang baru tercebur got (hehe…). Setelah sekian lama baru kami berani bercerita tentang kisah ini, yang (tentu saja) dianggap cerita anak kecil dan bualan belaka (yah, inilah nasib menjadi anak kecil :D)

Foto: Buku sang ‘Jendela Dunia’ dan ‘Gerbang Ilmu Pengetahuan’🙂

Setiap kali mengingat memori masa kecil tentang kegembiraan, petualangan, pengetahuan dan pelajaran dari bacaan yang kami dapat, juga ‘perjuangan’ untuk bisa membaca buku di perpustakaan, saya pun ingin menanamkan hal serupa (gemar membaca) pada dua keponakan kecil saya Dika (6 tahun) dan Rian (5tahun). Jalan2x ke toko buku adalah menu wajib saat saya berkesempatan menikmati waktu bersama mereka. Dulu, sempat ada rasa iri sebagai anak2x melihat kawan lain yang bisa mempunyai buku2x bagus, sedangkan kami hanya bisa bermodalkan pinjam perpustakaan atau orang lain. Namun, saya bersyukur, dengan segala keterbatasan yang ada kami bisa menyelesaikan studi dengan baik.

Foto: Dua keponakan kecil saya Dika dan Rian, bersembunyi di balik buku🙂

Kembali pada judul ‘A Librarian’s Prayer’ di atas, dengan berefleksi dari pengalaman pribadi semasa kecil, doa seorang pustakawan, menurut saya mungkin (sebaiknya) berbunyi:

Buku ini milik bersama.
Siapapun boleh meminjam dan membacanya,
namun jangan lupa untuk mengembalikan kembali.
Semoga dengan buku yang ada
akan menuntun kita ke jalan pengetahuan,
menambah wawasan,
menjadi pegangan,
menjadikan manusia yang cerdas dan beriman,
Amin


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s