Gay Pride Parade (1)

Warning!

Tulisan dan gambar berikut hanya untuk dewasa. Dilarang berprasangka, menghakimi atau merasa diri (paling) benar. Setiap orang bertanggung jawab atas orientasi seksualnya masing2x.

Keterangan: Rangkaian tulisan berikut ini akan dibagi dalam beberapa bagian.

Seperti yang pernah diulas dalam post Summer is coming!, pada setiap musim panas ada banyak peristiwa kultural, sosial dan festival yang diselenggarakan. Event tahunan ‘Gay Pride Parade’ misalnya, berlangsung di Oslo pada hari Sabtu, akhir pekan lalu. Dari informasi yang ada di website, disebutkan bahwa acara akan dimulai jam 3 sore hari dari depan Rådhusplassen (City Hall), dilanjutkan dengan acara ‘Oslo Mardi Grass’ pada jam 6 sore hari.


Setelah menemukan tempat parkir umum (yang sangat sulit ditemukan di daerah pusat kota di akhir pekan), saya dan T bergegas menuju tempat parade dimulai. Tak lama kemudian, saat sedang berjalan nampak banyak stand pameran berjejer di sekitar pelabuhan. Dari warna-warni bendera dan poster kami mengetahui bahwa ajang pameran ini masih terkait dengan acara ‘Gay Pride Parade 2008’. Informasi dari penjaga pintu masuk lokasi menyatakan bahwa parade akan melewati beberapa jalan utama seperti Karl Johans Gata, Nationaltheatret dan berakhir di depan Akershus Festning, tepat di sisi pelabuhan Oslo Havn tak jauh dari pameran.

Di luar rencana awal, kami pun penasaran ingin melihat2x pameran yang berlangsung sebelum melihat parade yang menurut perkiraan akan memakan waktu beberapa jam. Meski terbuka untuk umum,lokasi pameran yang tidak terlalu luas ini dibatasi oleh pagar besi temporer yang cukup tinggi. Pengunjung yang masuk pun harus melewati pemeriksaan penjaga untuk mencegah (khususnya) minuman keras masuk ke dalam lokasi yang jelas2x tertulis ‘Kawasan Bebas Alkohol’.

Foto: Poster pameran ‘Alcohol-free Area’

Tak jauh berbeda dengan pameran2x lainnya, di dalam stand2x yang memenuhi arena, nampak merchandise seperti kaos, buku, film, poster, brosur dan sejenisnya. Namun, pameran ini nampak berbeda saat kita melihat ‘content’ atau isi pameran yang bagi banyak orang dianggap isu sensitif yakni tentang LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender).

Foto: Salah satu stand pameran berisi buku, film dan informasi tentang LGBT

Dalam stand pertama yang kami lewati, nampak kumpulan film DVD tentang LGBT seperti ‘Ma Vie En Rose’, ‘Desperate Living’, ‘Querelle’, ‘Pink Flamigos’, ‘ Un Chant d’Amour’, ‘Tipping the Velvet’ dan lainnya. Kebetulan sekitar 2 bulan yang lalu kami baru saja menonton film ‘Ma Vie En Rose’ (My Life in Pink), sebuah film berbahasa Perancis yang telah memenangkan tak kurang dari 11 penghargaan internasional dan 5 nominasi, termasuk memenangkan Golden Globe Award pada tahun 1998 untuk kategori ‘Best Foreign Language’. Film ini berkisah tentang perjalanan hidup seorang bocah laki2x bernama Ludovic yang yakin bahwa dirinya adalah seorang perempuan, dikemas dalam bahasa sehari2x yang polos, sedehana namun menyampaikan pesan kuat di dalamnya.

Foto: Aneka film dvd tentang LGBT

Saya pribadi terkesan dengan salah satu adegan di film tadi saat Ludovic mengalami penolakan dari tetangga, rekan sekelas, guru, bahkan keluarga sendiri. Ia juga berusaha keras memahami apa yang ‘salah’ dari mata anak seusianya. Untunglah ada tokoh nenek yang berjiwa bebas dan berpikiran terbuka memahami pergulatan sang cucu. Pada akhirnya, Ludovic berkesimpulan, bahwa saat Tuhan membuat ‘work plan’ untuk bayi2x yang lahir ke dunia, di buku besar Tuhan tertulis: “…Ludovic Fabre: Perempuan, kromosom: XX…” Namun, pada saat pelaksanaannya di lapangan–di bumi–, terjadi kekeliruan saat huruf2x kromosom XY,X,X,Y,XX berjatuhan dari langit masuk ke cerobong asap rumah orang tua Ludovic, masuk ke dalam perut sang ibu…

Walaupun dalam ‘buku besar’ Tuhan sudah tertulis jenis kelamin ‘Perempuan’, ternyata yang jatuh ke cerobong asap orang tua Ludovic adalah huruf2x ‘X’ dan ‘Y’, akibatnya: secara fisik Ludovic adalah anak laki2x, namun secara psikis ia adalah anak perempuan yang suka bermain boneka, masak2xan dan berdandan. Dari pemahaman sederhana ini, Ludovic bersikeras menemukan kembali kromosom ‘X’ lain miliknya yang hilang di tong sampah, kolong bangku, di pojok2x rumah, di gudang…sebuah adegan yang menyentuh. Meski film ini juga dikritik karena terlalu menyederhanakan kompleksitas isu LGBT, setidaknya kita bisa mendapat gambaran pergulatan yang dialami seorang seperti Ludovic Fabre yang juga dialami banyak orang lainnya di dunia nyata.

Foto: Poster dalam pameran berbunyi: “Mengapa beberapa orang menilai homoseksualitas lebih negatif daripada terorisme?”

Kembali ke pameran, karena masih belum banyak pengunjung saya pun berkesempatan mengambil foto2x dengan leluasa tanpa gangguan arus hilir-mudik arus manusia. Jujur saja, sempat ada rasa tak enak dan risih saat berkeliling pameran dan mengambil foto. Sesekali saya melihat beberapa pria melirik ke arah T yang berjalan beberapa meter di depan saya yang sedang sibuk mencari ‘angle’ pemotretan. Meski didominasi oleh pengunjung berkulit putih, nampak beberapa wajah Timur Tengah, Asia dan Afrika, termasuk manula, anak2x bahkan hewan peliharaan seperti anjing yang berhiaskan bendera pelangi. Pengunjung yang datang bervariasi, ada yang datang bersama pasangan sesama jenis dan termasuk kelompok LGBT, ada yang datang seorang diri, dengan pasangan berbeda jenis kelamin, juga beberapa turis yang penasaran dan kebetulan lewat di sekitar area saat itu.

Foto: Media informasi dan aneka item yang terkait dengan LGBT dan HIV/AIDS dalam pameran

Informasi yang ada dalam pameran tidak hanya terkait dengan isu tentang LGBT, tetapi juga tentang bahaya HIV/AIDS, obat2xan terlarang (marijuana, amfetamin, ekstasi, LSD,dsb), seks yang aman bagi pasangan sesama jenis, kesehatan dan semacamnya.

Foto: Suasana stand pameran dan pengunjung

Para penjaga stand pun terdiri atas beragam usia, dari remaja hingga manula. Di salah satu stand dekat pusat informasi nampak merchandise gratis untuk pengunjung. Salah satu diantaranya dikemas dalam kantung plastik kecil berwarna-warni yang menurut tebakan saya adalah kondom gratis (hal yang biasa dibagikan di acara serupa), ternyata ini adalah permen warna-warni.

Foto: Pusat informasi yang memberikan informasi gratis bagi pengunjung

Foto: Permen gratis buat pengunjung pameran

Di salah satu stand nampak gambar ‘the Pink Triangle’ (segitiga merah muda) yang pernah dipakai untuk menandai seorang gay di kamp konsentrasi Nazi. Kelompok ini oleh Hitler dianggap sebagai ‘kuman sosial’ yang harus dibasmi dan dimusnahkan dari muka bumi. Untuk lesbian, dipakai ‘the black triangle’ (segi tiga hitam), meski untuk kelompok lesbian tidak ada catatan resmi Nazi yang menguatkan hal ini. Kalaupun ada lesbian yang tewas di kamp konsentrasi Nazi, hal ini lebih dikarenakan statusnya sebagai bagian dari ras Yahudi (lihat http://en.wikipedia.org/wiki/Pink_triangle)

Foto: ‘The Pink Triangle’. Aslinya, badge yang dipakai oleh Nazi adalah segitiga merah muda sederhana.

berlanjut di: Gay Pride Parade (2): The Symbols

3 thoughts on “Gay Pride Parade (1)

  1. kiki

    “Tulisan dan gambar berikut hanya untuk dewasa. Dilarang berprasangka, menghakimi atau merasa diri (paling) benar. Setiap orang bertanggung jawab atas orientasi seksualnya masing2x.”

    bener banget mbak.. lebih baik mengurusi urusan masing2 ya.. kita harus menghargai mereka. mereka juga manusia.. hehe

    Reply
  2. Merry go Round

    Oooohhh…ternyata gay parade itu banyak diisi dengan stand informasi dan dvd/ buku yang pastinya menambah pengetahuan masyarakat ttg LGBT. edukatif juga ya ternyata.

    Seruuu😀

    Reply
  3. Pingback: Gay Pride Parade (2): The Symbols « My Life, My Search, My Journey

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s