Gay Pride Parade (3) : The History


Warning!

Tulisan dan gambar berikut hanya untuk dewasa. Dilarang berprasangka, menghakimi atau merasa diri (paling) benar. Setiap orang bertanggung jawab atas orientasi seksualnya masing2x.

Lanjutan dari: Gay Pride Parade (2): The Symbols

Sejarah tentang LGBT bisa dibagi dalam beberapa rentang waktu yakni masa Yunani Kuno, Romawi kuno, pergerakan pada abad 19 di Jerman, holocaust pada PD II dan pergerakan gay di abad modern (post-Stonewall). Karena keterbatasan kapasitas untuk menulis dan ruang yang ada, maka saya hanya akan mengulas sejarah pada Post-Stonewall Riots.

Stonewall Riots
Pada tanggal 28 Juni, 1969 sekelompok orang yang tergabung dalam LGBT melakukan aksi protes menyusul penggrebekan yang dilakukan polisi di sebuah bar untuk kaum gay bernama ‘Stonewall Inn’ di New York City, USA. Oleh banyak orang diakui bahwa seorang aktivis hak2x untuk transgender bernama Sylvia Rivera yang menjadi salah satu pendiri dari ‘Gay Liberation Front ‘ dan ‘the Gay Activists Alliance’, adalah orang pertama yang berani melawan tindakan aparat polisi. Hal ini memicu sebuah pemberontakan, aksi protes dan kerusuhan terus berlanjut selama beberapa malam usai penggerebekan. Kerusuhan Stonewall tersebut secara umum dianggap sebagai permulaan dari gerakan hak2x kaum gay di era modern.


Gay Liberation Front dan Gay Activists Alliance pada permulaan masa ‘Post-Stonewall’, melakukan koordinasi untuk perayaan tahun pertama ‘Perlawanan Stonewall’ dan selanjutnya ‘the Christopher Street Gay Liberation Day March’ pada tanggal 28 Juni, 1970. Perayaan tahun pertama juga dilakukan di San Fransisco dan Los Angeles pada tahun yang sama. Brenda Howard mencetuskan ide tentang rangkaian acara yang berlangsung selama satu minggu penuh yang kini dikenal sebagai ‘Pride Day’. Selanjutnya, acara serupa diselenggarakan oleh kelompok LGBT secara tahunan di seluruh dunia.


Pada era tahun 1980-an hingga saat ini, telah terjadi beberapa perubahan kultural mendasar dalam perayaan tahunan ‘the Stonewall Riots’ yakni bentuk yang lebih terkoordinir serta masuknya kelompok yang tidak lagi terlalu radikal seperti sebelumnya. Penggunaan jargon yang cenderung provokatif seperti ‘Liberation’ (pembebasan) dan ‘Freedom’ (kebebasan) digantikan atas tekanan bagian dari komunitas gay yang lebih konservatif menjadi sebuah filosofi bernama: ‘Gay Pride’. Penggunaan simbol2x seperti huruf lambda dan segitiga pink masih dilanjutkan sebagai kontinuitas dari gerakan awal yang radikal sebelumnya.


Setiap tahun di berbagai belahan dunia, acara ‘Gay Pride Parade’ dilakukan di sekitar bulan Juni, untuk memperingati ‘the Stonewall Riots’ yang menandai momen penting gerakan hak2x kaum gay modern. Bentuk dari masing2x perayaan ini berbeda2x, ada yang masih memegang teguh pada bentuknya yang bernuansa politis dan aktivis, ada yang pula yang mengambil bentuk seperti sebuah pesta ala ‘mardi grass’ ditambah dengan nuansa edukasi (tentang hak2x LGBT, HIV/AIDS, seks yang aman, bahaya obat terlarang dsb). Parade melibatkan berbagai wajah LGBT yang berbeda, terdiri atas tarian, musik yang diputar keras2x, barisan kendaraan berhiaskan pernak-pernik warna-warni, peserta dengan pakaian unik, termasuk para simpatisan kelompok LGBT organisasi sosial, yayasan, politikus, asosiasi pekerja, bahkan organisasi keagamaan seperti gereja yang ‘LGBT-friendly dll.

Foto: Kostum unik peserta ‘Gay Pride Parade’ tahun 2008 di Oslo.

Ada juga bagian dari perayaan yang didedikasikan khusus bagi para korban AIDS dan mereka yang menjadi korban kekerasan kelompok yang anti-LGBT. Beberapa perayaan tahunan yang dianggap memiliki daya tarik untuk wisatawan juga didanai pemerintah setempat dan perusahaan swasta sebagai sponsor (misalnya di Amsterdam). Di banyak negara, acara ini telah menjadi sebuah festival tersendiri bernama ‘Pride Festivals’ yang bernuansa seperti sebuah karnaval, berlangsung di taman atau jalan2x yang ditutup untuk acara parade.

Foto: Penampilan peserta parade yang berasal dari Thailand

Di Oslo, tahun ini acara serupa dinamai dengan: ‘Skeive Dager Oslo’ (‘skeive’ adalah istilah untuk kaum LGBT dalam bahasa setempat) berlangsung dari tanggal 20-29 Juni 2008, terdiri atas berbagai bentuk seperti pemutaran film dalam ‘Oslo Gay&Lesbian Film Festival’, kompetisi bola voli, konser musik, BBQ di taman bersama keluarga (khususnya anak2x), pembukaan taman khusus bernama ‘Pride Park’, konferensi, debat dan diskusi tentang LGBT, stand pameran (lihat post Gay Pride Parade (1)) penampilan band LGBT, kontes memasak, parade, misa bersama oleh ‘Åpen Kirkegruppe’, dan Mardi Grass.

Foto: Partisipan parade lain🙂

Parade yang saya lihat berlangsung dengan sangat tertib, tidak ada celetukan, ejekan atau kata2x hinaan meluncur dari mulut ribuan penonton yang berjejer di pinggir jalan. Bagi banyak orang yang (merasa) dirinya ‘normal’ (baca: kelompok heteroseksual) mereka yang termasuk kalangan LGBT mungkin masih dianggap ‘aneh’ dan sulit diterima. Di Oslo misalnya, beberapa minggu lalu, terjadi aksi penyerangan terhadap pasangan gay yang sedang menikmati makanan di sebuah restoran di daerah imigran di Grønland. Meski ada juga beberapa peserta parade yang mempertunjukkan hal sensitif terkait dengan agama tertentu serta nyaris terjadi sebuah insiden kecil yang melibatkan peserta dari kelompok ini, namun aparat polisi yang menjaga ketat di sepanjang lokasi bisa mencegah aksi tadi.

Pada pertengahan tahun 2004 lalu, bersama dengan beberapa rekan pelajar lain yang penasaran saya sempat melihat acara serupa yakni ‘Gay Pride Parade’ di kota Amsterdam-Belanda. Meski kalah heboh jika dibandingkan dengan festival di Amsterdam, kesempatan melihat acara ini di Oslo membuat saya tak urung membandingkan hal yang sama di Indonesia. Mungkin, bangsa kita masih perlu belajar banyak untuk bisa menghargai perbedaan serta memahami makna kebebasan berekspresi…

berlanjut ke Gay Pride Parade (4): The Real World Part I

http://en.wikipedia.org/wiki/Gay
http://en.wikipedia.org/wiki/Lesbian
http://en.wikipedia.org/wiki/Transgender
http://abcnews.go.com/Video/playerIndex?id=5230623
http://en.wikipedia.org/wiki/Gay_Pride
http://en.wikipedia.org/wiki/LGBT_pride_parade

5 thoughts on “Gay Pride Parade (3) : The History

  1. Pingback: Gay Pride Parade (4): The Real World Part I « My Life, My Search, My Journey

  2. Pingback: Gay Pride Parade (2): The Symbols « My Life, My Search, My Journey

  3. Ramon

    kapan ya indonesia bisa menghargai orientasi seksual seseorang dan tidak melahirkan undang-undang anti pornografi yang sangat bias dan nggak menguntungkan kelompok tertentu

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s