Gay Pride Parade (4): The Real World Part I

Lanjutan dari: Gay Pride Parade (3): The History

Di bagian terakhir tulisan tentang ‘Gay Pride Parade’ ini akan diulas tentang LGBT dalam kehidupan nyata: ‘the real world’. Meskipun tidak termasuk LGBT, saya pernah memiliki beberapa kawan yang merupakan LGBT. Dari cerita pergulatan yang mereka alami, terbayang betapa sulitnya menjadi ‘berbeda’ dari hal yang dianggap ‘umum’ dalam masyarakat.

Di Indonesia, pemberitaan media massa, acara TV, film, sinetron (bahkan yang ditonton anak2x) banyak menggambarkan kelompok LGBT dengan stereotip negatif, apalagi kalau sudah membawa (justifikasi) agama…

Foto: Kelompok gay yang hobi naik gunung dalam ‘Gay Pride Parade 2008’ Oslo

Violence Against LGBT
Banyak orang di dunia ini menjadi korban kekerasan, ketidakadilan, siksaan, bahkan kematian karena pilihan orang yang mereka cintai, penampilan lahiriah, atau karena menjadi diri sendiri. Meski secara ideal, orientasi seksual dan identitas gender adalah aspek integral dari diri masing2x individu dan tidak seharusnya menjadi sumber diskriminasi serta kekerasan. Namun dalam kenyataan, hidup menjadi lebih sulit bagi individu jika tidak mengikuti kaidah seksualitas yang diterima secara sosial.

Sebelum kebangkitan agama Kristen, homoseksualitas dianggap sebagai sebuah ekspresi seksualitas yang normal oleh semua kebudayaan kuno. Ada bukti yang ditemukan bahwa hubungan sesama jenis telah terjadi sejak permulaan sejarah yang tercatat oleh manusia di Mesir, Cina, Yunani, Roma dan Jepang. Pasangan kekasih yang terkenal dari Mesir misalnya Khnumhotep dan Niankhkhnum juga pasangan Harmodius dan Aristogiton dari Yunani. Catatan paling awal tentang ‘pernikahan’ sesama jenis terjadi dalam masa pemerintahan Romawi dengan sejumlah pasangan menikah pada masa tersebut.

Foto: Åpenkirke gruppe (kelompok gereja terbuka)

Foto: Asosiasi pelajar Kristen dengan banner bertuliskan: ‘Gereja harus mengatakan ‘Ya’ untuk undang2x pernikahan sesama jenis’

Selanjutnya, kebangkitan agama Kristen mengubah sikap publik terhadap pernikahan sesama jenis, memicu eksekusi terhadap kaum gay dan bangkitnya sentimen ‘homophobia’. Pada tahun 342 M, kaisar Konstantius dan Konstans yang Nasrani menyatakan bahwa pernikahan sesama jenis adalah suatu hal yang illegal. Pada tahun 390, kaisar lain seperti Valentinian II, Theodoisus dan Arcadius meneklarasikan bahwa hubungan sesama jenis adalah illegal, mereka yang dinyatakan bersalah karena hal ini harus menghadapi hukuman dibakar hidup2x di muka umum. Sementara, Kaisar Justinian (527-565) menjadikan homoseksualitas sebagai kambing hitam bagi masalah2x seperti: kelaparan, gempa-bumi dan wabah penyakit pes.

Pada abad ke-18 dan ke-19 di Eropa, perilaku seksual sesama jenis, berpakaian yang tidak sesuai dengan jenis kelamin adalah sesuatu yang tidak bisa diterima secara sosial di kalangan luas. Hal ini juga menjadi sebuah tindak kriminal serius di bawah ‘sodomy and sumptuary laws’.

Thomas Cannon menulis sesuatu yang mungkin menjadi bentuk pembelaan publik pertama terhadap homoseksualitas yang diterbitkan dalam bahasa Inggris yakni: ‘Ancient and Modern Pederasty Investigated and Exemplify’d’ pada tahun 1749. Sementara seorang reformis sosial bernama Jeremy Bentham menulis sebuah argumen yang dikenal pertama kali tentang reformasi hukum terhadap homoseksualitas di Inggris sekitar tahun 1785. Pada masa itu, hukuman terhadap ‘buggery’ atau anal seks adalah mati di tiang gantungan, namun karena beberapa alasan essay tersebut baru diterbitkan pada tahun 1978.

Foto: LGBT yang tergabung di sektor pemerintahan


Saat ini, sejumlah organisasi yang peduli pada hak2x kaum LGBT seperti Human Rights Watch mendokumentasikan tindak kekerasan yang terjadi berdasarkan orientasi seksual dan identitas gender seseorang di seluruh dunia yang terdiri atas: penyiksaan, pembunuhan dan eksekusi, penahanan yang tidak memiliki dasar hukum, perlakuan yang tidak adil, penyensoran, kekerasan di bidang medis, diskriminasi di sektor kesehatan, perumahan dan pekerjaan, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan terhadap anak, penyangkalan atas hak2x dalam keluarga serta tidak adanya pengakuan.

Foto: Peserta dari sektor kesehatan

Para pembela hak2x kaum gay dan lesbian berargumentasi bahwa orientasi seksual seseorang tidak merefleksikan jender atau jenis kelamin sosial orang tersebut, sebagai ilustrasi: ‘Seseorang bisa menjadi pria dan memiliki ketertarikan pada pria… tanpa ada dampak terhadap identitas jendernya sebagai seorang pria’, hal yang sama juga berlaku terhadap perempuan. Pada masa lampau, kaum gay dan lesbian tak jauh berbeda dan dianggap sebagai kaum heteroseksual dalam segala bidang, kecuali dalam praktek seksual yang ada di ranah privat.

Penampilan beberapa kaum lesbian dan gay di jalanan sebagai ‘street queens’, dan di bar2x sebagai ‘bar dykes’ yang flamboyan dianggap sebagai sebuah stereotip negatif. Para pengkritik dari dalam kelompok LGBT juga menganggap bahwa ‘Pride Parade’ adalah sesuatu yang hanya mengumbar seksualitas, mempertontonkan hal2x berbau seksual, ‘fetish’ serta kelakuan aneh kelompok LGBT yang kontra-produktif terhadap kepentingan mereka. Lebih jauh kritik ini menyebutkan bahwa penampilan seperti itu dalam parade hanya akan menjadikan kelompok LGBT sebagai bahan olok2x atau ejekan belaka.

Foto: Para lesbian pencinta olahraga lari

Pada tahun 1990-an, organisasi LGBT mulai bermunculan di ‘non-western countries’, seperti ‘Progay’ di Phillipina yang berdiri pada tahun 1993 dan mengorganisir ‘Gay Pride march’ pertama di Asia pada tanggal 26 Juni tahun 1994. Di banyak negara, organisasi LGBT masih dianggap illegal, aktivis transgender dan homoseksual juga diancam dengan hukuman yang sangat berat oleh pemerintah setempat. Di negara seperti: Nigeria, Somalia dan Afganistan ancaman hukuman yang ada adalah hukuman mati. Sementara di Barbados, Sierra Leone, Bangladesh, India, Myanmar, Uganda dan Pakistán adalah ancaman hukuman seumur hidup.

Foto: Kelompok lesbian pencinta aktivitas luar ruangan (outdoor activities)

Pengakuan Hak2x Sipil
Pengakuan terhadap hak2x sipil LGBT juga masih terbatas di sejumlah negara. Pernikahan pasangan sesama jenis baru diakui di Belgia, Canada, Afrika Selatan, Spanyol, Belanda dan di Norwegia baru akan berlaku pada 1 Januari 2009 mendatang.
Sementara pengakuan atas pasangan sesama jenis yang hidup bersama ada di negara: Andorra, Belgia, Czech Republic, Denmark, Finlandia, Perancis, Jerman, Hungaria (baru berlaku pada tanggal 1 Januari 2009),Islandia Luxembourg, Belanda, Selandia Baru, Slovenia, Swedia, Swiss, Inggris dan Uruguay

Foto: Kelompok kaum muda

berlanjut ke Gay Pride Parade (4): The Real World Part II

3 thoughts on “Gay Pride Parade (4): The Real World Part I

  1. Pingback: Gay Pride Parade (3) : The History « My Life, My Search, My Journey

  2. Pingback: Gay Pride Parade (4): The Real World Part II « My Life, My Search, My Journey

  3. visui

    its really cool.. kapan ya indonesia bisa begini. stereotipe cowok dan cewek mengatakan, kalo cowok itu manusia yang punya kelamin dan semua 'perangkat' cowok, dan begitu juga sebaliknya dengan cewek. hal inilah yang memicu ambiguitas dalam diri seorang LGBT. padahal yang namanya orang kan mereka itu adalah individu2 independent yang tau dan mengenali diri mereka sendiri lebih dari orang lain. memangnya apa ada org yang minta dilahirkan dengan kondisi seperti itu? aku percaya kalo setiap LGBT pasti mempunyai dilema dan masalah sendiri sebelum mereka memutuskan untuk menjadi diri sendiri. i salute them to stands in front of those stupid generalization of genderism!!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s