Kesempatan Kedua

Banda Aceh, Juni 2005

Pagi itu semua nampak seperti biasa dan tak ada yang istimewa. Dalam perjalanan menuju kantor Dinas Sosial Banda Aceh, terlihat lalu-lalang kendaraan di jalan raya yang berdebu. Puing2x tsunami masih berserakan dan teronggok di pinggir jalan, bangunan yang luluh-lantak masih belum banyak berubah sejak kali pertama saya menginjakkan kaki di tanah rencong ini beberapa bulan sebelumnya.

Namun, pagi itu bukanlah pagi seperti biasanya, akan ada sebuah peristiwa besar terjadi, setidaknya bagi kehidupan dua orang anak manusia: seorang ayah akan bertemu dengan anak perempuannya yang terbawa ombak tsunami dan diyakini meninggal dunia setelah menghilang hampir enam bulan lamanya pada tanggal 26 Desember 2004.

Tiba di tempat tujuan, suasana sudah nampak ramai. Kerumunan staff, pekerja kemanusiaan, masyarakat umum dan wartawan media lokal, nasional maupun internasional terlihat memenuhi tempat yang disiapkan. Nampak seorang bapak tua berumur sekitar 50 tahunan, bersama seorang perempuan paruh baya dan seorang anak laki2x kecil yang ditemani beberapa relawan. Belakangan saya tahu, bahwa bapak tersebut adalah orang yang akan bertemu dengan sang anak yang hilang, sedangkan ibu muda dan anaknya tadi adalah kerabat dekat yang datang untuk memberi dukungan moral.

Saat yang dinanti2x pun tiba. Seorang anak perempuan berumur sekitar 12 tahun muncul ditemani beberapa relawan. Pada awalnya, nampak sang bapak dan si anak tadi saling memandang, seakan mencoba memastikan apa yang nampak di depan mata.

Awalnya si bapak nampak agak sedikit canggung, entah apa yang ada di dalam benaknya saat itu. Tak lama kemudian, tangis pun pecah. Mereka saling saling berpelukan dengan eratnya untuk melepas kerinduan. Air mata jatuh tak tertahankan di pipi para hadirin menyaksikan momen yang begitu menyentuh tersebut…

Mereka mulai saling berbicara menanyakan kabar dan keadaan masing2x setelah sekian lama berpisah sambil diiringi tetesan air mata dan isak tangis mengingat peristiwa yang lampau.

Setelah beberapa saat, sang bapak dan si anak duduk di kursi yang disediakan dan menceritakan kronologis kejadian saat nasib memisahkan keluarga mereka. Dari uraian yang disampaikan, pada saat kejadian si anak sedang mengunjungi kerabatnya yang baru saja melahirkan di Banda Aceh. Saat ombak tsunami menerjang, si anak berusaha sekuat tenaga menyelamatkan bayi yang terpisah dari sang ibu yang juga terbawa ombak. Namun nasib menentukan lain, si bayi terlepas dan si anak terseret arus hingga beberapa kilometer sebelum akhirnya terselamatkan. Tangisan pun kembali pecah…

Sementara itu, di kota asal Meulaboh, Aceh Barat. Anggota keluarga yang lain juga berjuang melawan maut. Nampak gurat kesedihan di wajah sang bapak saat mengingat istri dan anak2x lainnya yang hilang terbawa ombak tsunami.

Berbulan-bulan lamanya usai tsunami, tak ada kontak dan tak ada kabar berita. Satu sama lain juga saling menganggap telah kehilangan untuk selamanya. Hingga suatu hari, para relawan yang bekerja dengan penuh dedikasi mendapatkan informasi tentang keberadaan keluarga si anak di Meulaboh. Koordinasi terus berlanjut untuk memastikan kebenaran berita yang diperoleh.

Setelah memastikan kebenaran info yang diperoleh, reunifikasi pun diadakan. Inilah hari bersejarah tersebut: sebuah pertemuan kembali si anak yang dianggap hilang dan sang bapak yang dianggap telah meninggal dunia.

Sulit untuk melukiskan beragam emosi yang berkecamuk di dada masing2x orang yang secara langsung menyaksikan momen ini. Terlihat secercah kedamaian di wajah sang anak dan kelegaan di bagi sang bapak setelah sekian lama dirundung duka dan kesedihan…

Melihat adegan emosional di depan mata membuat diri ini berandai2x. Jika saja adik dan ibunda tercinta yang telah meninggal dunia tiba2x ada di hadapan saya setelah sekian lama berpisah, entah bagaimana reaksi yang akan muncul. Yah, saya hanya bisa membayangkan saja, biarlah mereka beristirahat dengan tenang di alam sana.

Berbahagialah sang bapak dan si anak yang mendapat kesempatan kedua untuk berkumpul kembali, karena tidak semua orang bisa mendapatkannya.

C’est la vie…

“Fiction gives us a second chance that life denies us.”
–Paul Theroux–

Disclaimer: Foto2x di atas adalah koleksi pribadi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s