Kristin Lavransdatter (1)

Akhir pekan lalu saya mendapat kesempatan untuk menyaksikan sebuah panggung teater terbuka yang mengangkat cerita bersetting abad pertengahan berjudul ‘Kristin Lavransdatter’, karya perempuan penulis pemenang hadiah Nobel di Bidang Sastra asal Norwegia, Sigrid Undset.

Pertunjukkan mengambil tempat di daerah perbukitan yang menjadi lokasi asli pembuatan film bertitel sama di Jørundgard, Sel Kommune, sekitar 5 jam perjalanan dari Oslo. Film tersebut langsung menjadi box office di seluruh Norwegia usai dirilis pertama kalinya pada pertengahan tahun 1995. Cerita versi film disutradarai oleh aktris papan atas Liv Ullman yang pernah memiliki kedekatan khusus dengan sutradara terkenal asal Swedia, Ingmar Bergman.

Di Indonesia, popularitas kisah ‘Kristin Lavransdatter’ (Kristin Si Anak Perempuan Lavran) mungkin sama dengan kisah roman klasik semacam ‘Sitti Nurbaya’ yang pernah diangkat ke layar kaca beberapa tahun lalu (dengan aktris Desy Ratnasari sebagai Sitti Nurbaya dan H.M. Damsyik sebagai tokoh antagonis Datuk Maringgih)

Foto: Buku Kristin Lavransdatter karya Sigrid Undset

‘Kristin Lavransdatter’ sendiri adalah nama yang dikenal untuk kisah triologi dari novel historis berjudul: ‘Kransen’ (The Wreath) yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1920; ‘Husfrue’ (Wife) diterbitkan pada tahun 1921, dan ‘Korset’ (The Cross) yang terbit pada tahun 1922. Dua karya pertama, ‘Kransen’ dan ‘Husfrue’ telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris di bawah judul ‘The Bridal Wreath’ dan ‘The Mistress of Husaby’.

Berdasarkan kisah yang ditulis ini, Sigrid Undset memenangkan Nobel Sastra pada tahun 1928 dengan alasan utama: “…untuk deskripsi yang kuat tentang kehidupan di belahan Utara pada era abad pertengahan…”. Sigrid yang memiliki ayah seorang arkeolog memang memiliki ketertarikan besar dengan sejarah dan melakukan riset mendalam serta mendetil sebelum mulai menulis. Karenanya tidak heran jika karya2x sastranya banyak disanjung atas keakuratan historis dan etnologis yang terkandung.

Pertunjukkan teater terbuka ini adalah bagian dari ‘Kulturfestivalen i Sel’ atau ‘Festival Kebudayaan di Sel’, berlangsung sejak tanggal 1-6 Juli 2008. Acara terdiri dari tur keliling pertanian yang menjadi lokasi film, debat dan diskusi tentang aspek simbolik dalam kisah Kristin Lavransdatter, pameran tentang suasana kehidupan di abad pertengahan, dll.

Foto: Suasana pedesaan di abad pertengahan

Karena keterbatasan waktu, saya dan T’s mom hanya menonton satu bagian pertunjukkan yang berlangsung kurang lebih selama dua jam. Bagian2x lain berlanjut pada jam yang sama selama beberapa hari ke depannya. Panggung pertunjukkan yang berkapasitas sekitar 850-900 penonton penuh sesak. Nampak tokoh2x yang dikenal publik seperti jurnalis, penulis, pemain film, artis di antara penonton.

Foto: Kristin kecil

Agar lebih sistematis, kisah ini akan dipaparkan secara garis besar dan terbagi dalam beberapa segmen seperti yang ada di dalam buku, yakni: ‘The Wreath’, ‘The Wife’ dan ‘The Cross’

‘The Wreath’ (Rangkaian Bunga)

Bagian pertama triologi ini berkisah tentang masa kecil Kristin Lavransdatter sejak berusia 7 tahun di tanah pertanian Jørundgård yang terletak di lembah Gudbrandsdal, Norwegia pada abad ke-14. Ia adalah anak perempuan dari pasangan Lavrans –seorang petani yang sangat dihormati dan kharismatik –dengan Ragnfrid, sang istri yang depresif karena terpaksa mengikuti kemauan keluarganya untuk menikah dengan ayah Kristin meski sebenarnya ia mencintai pria lain.

Foto: Kristin dan Sang Peramal

Kristin lahir dan besar di sebuah keluarga yang penuh cinta namun keras. Hal ini membentuk dirinya menjadi seorang yang memiliki karakter sensitif, berkemauan kuat namun seringkali juga harus berseberangan dengan keluarga untuk perkara kecil maupun besar. Di usia yang masih sangat muda, Kristin sudah harus mengalami banyak tragedi seperti kematian tiga orang saudara laki2x, kecelakaan yang dialami adik perempuan kesayangannya hingga cacat, termasuk gangguan dari pria2x lain di desa yang mencoba menodai Kristin saat beranjak dewasa. Perjalanan ke luar dari desa menuju Oslo di kemudian harilah yang mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.

Foto: Kristin remaja yang ceria dan aktif

Kristin bertunangan dengan anak tetangganya, seorang pemilik tanah pertanian yang terpandang, Simon Darre. Pria muda ini memiliki karakter sangat terpuji dan disukai oleh keluarga serta banyak orang lain di sekitarnya. Namun, semua berubah saat suatu hari Kristin –yang telah meninggalkan desa dan tinggal bersama para biarawati– ditolong oleh seorang pria saat ia diganggu oleh penjahat.

Foto: Bersama Simon Darre, pemuda tetangga yang sangat mencintai Kristin

Foto: Elf, sang pembaca nasib masa depan Kristin

Foto: Pemuda desa yang menganggu Kristin

Foto: Saat berpamitan sebelum menuju Oslo

Pria berpakaian ksatria yang menolongnya itu adalah Erlend Nikulaussøn, berasal dari daerah pertanian Husaby di Trøndelag. Saat itu, Erlend yang memiliki karakter ‘the bad boy’ sedang berada di bawah hukuman gereja berupa larangan untuk tinggal di tanah pertaniannya sendiri karena affair yang dilakukannya bersama Eline, istri ksatria lain. Hubungan gelap Erlend dengan Eline tersebut membuahkan dua orang anak bernama Orm dan Margret yang tidak memiliki hak2x yang diakui secara hukum karena lahir dari hasil perselingkuhan.

Foto: Kristin diganggu para penjahat di kota Oslo

Foto: Perjumpaan pertama dengan Erlend

Berawal dari pertemuan tadi, Kristin dan Erlend saling jatuh cinta. Eline mencoba meracuni Kristin ketika mengetahui affair ini. Namun, peristiwa tragis terjadi saat Erlend tanpa sengaja membunuh Eline. Affair dan pembunuhan ini adalah dua dosa besar di mata gereja yang terus menghantui Kristin sepanjang hidupnya.

Setelah tiga setengah tahun lamanya, Lavran sang ayah akhirnya bersedia memberikan restu kepada Erlend dan Kristin untuk menikah, keduanya pun bertunangan. Namun sebelum pernikahan, Kristin telah mengandung anak dari Erlend. Ia tidak memberitahukan siapapun tentang hal ini termasuk kepada calon suaminya. Saat pernikahan, Kristin mengenakan rangkaian bunga dari emas, sebuah simbol yang hanya diberikan bagi mempelai perempuan yang masih perawan…

berlanjut ke:

Kristin Lavransdatter-2

One thought on “Kristin Lavransdatter (1)

  1. Pingback: Kristin Lavransdatter (2) « My Life, My Search, My Journey

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s