Kristin Lavransdatter (2)

Sambungan dari: Kristin Lavransdatter-1

Buku pertama, ‘The Bridal Wreath’ atau ‘The Wreath’ sebelumnya mengisahkan masa kecil Kristin, perkembangan menjadi seorang remaja dan perempuan dewasa, pertunangan, dosa, kehilangan kehormatan serta pernikahannya. Keputusan yang diambil Kristin di buku pertama akan mempengaruhi sisa perjalanan hidup selanjutnya. Keinginannya yang kuat untuk menjadikan Erlend sebagai suami membawa bayang2x kegelapan bahkan di masa2x paling membahagiakan dalam kehidupan Kristin kelak.


The Wife
Kisah bagian kedua diawali dengan kedatangan Kristin di Husaby. Ia menderita rasa bersalah yang mendalam atas dosa yang telah dilakukan serta kekuatiran atas bayi yang ada di dalam kandungan. Hubungan dengan Erlend tidak lagi berapi2x seperti sebelumnya; ia menyadari bahwa Erlend adalah seorang suami yang selalu mengikuti kemauan hati (impulsif), kasar dan tidak peduli terhadap kelangsungan ekonomi keluarga.

Foto: Kristin Lavransdatter di hari pernikahan

Kristin pun melahirkan bayi laki2x yang sehat, di luar kekuatirannya selama ini. Setelah membuat sebuah pengakuan dosa terhadap pastor paroki, ia melakukan ziarah ke gereja St. Olav’s di Trondheim sebagai penebusan atas rasa bersalah serta ucapan syukur atas kelahiran bayinya. Tak lupa juga menyumbangkan rangkain bunga emas yang dikenakan (dengan tidak selayaknya) di hari pernikahan kepada pihak gereja.

Foto: Eline yang terbunuh saat mencoba meracuni Kristin

Beberapa tahun selanjutnya, Kristin dan Erlend memiliki tambahan enam orang anak laki2x. Karena ketidakacuhan dan ketidakbecusan Erlend, Kristin menjadi kepala keluarga, ia harus memikirkan kelangsungan lahan pertanian yang dimiliki Erlend,membesarkan anak2x kandungnya yang diperoleh dari Erlend serta tambahan anak2x Erlend hasil perselingkuhan sebelumnya, sekaligus mencoba bertahan menjadi seorang pemeluk agama yang taat. Dalam periode ini, orang tua Kristin meninggal dunia dan saudara perempuannya menikah dengan Simon Darre, walaupun Simon sesungguhnya diam2x masih mencintai Kristin.

Foto: Karakter Elf, yang menggambarkan pergulatan batin, rasa sakit, kepedihan dan keputusasaan Kristin Lavransdatter


Erlend yang impulsif dan ceroboh melakukan hal bodoh dengan ikut terlibat dalam permainan politik dan membuatnya harus masuk penjara. Atas bantuan Simon–sang mantan tunangan Kristin–Erlend bebas dari hukuman mati, namun seluruh harta miliknya diambil alih oleh penguasa kerajaan. Mereka harus menelan pil pahit dengan melepaskan ‘Husaby’. Satu2xnya harta yang masih dimiliki keluarga ini adalah tanah pertanian di Jørungård, tempat Kristin menghabiskan masa kecilnya dahulu.

Foto: Kristin dan Erlend

The Cross
Pada buku ke-3, Kristin memasuki umur empat puluh tahunan, yang dianggap sebagai usia tua untuk ukuran abad ke-13 dan ke-14 saat itu. Sementara anak2x-nya juga bertambah dewasa dan Erlend pun beranjak menua.

Kristin, Erlend, dan anak2x mereka kembali ke Jørundgård namun gagal untuk mendapatkan penerimaan dari masyarakat setempat. Kesulitan hidup yang dihadapi menguji ikatan kekeluargaan dan menonjolkan rasa kewajiban Kristin atas keluarga serta keyakinan yang dianutnya. Setelah sebuah pertengkaran hebat, Erlend meninggalkan Kristin dan anak2xnya. Mereka sempat berkumpul kembali untuk sesaat, sebelum akhirnya Erlend terbunuh dalam perjalanan pulang menuju tanah pertanian, ia tewas di dalam pelukan Kristin.

Foto: Adegan pesta terhenti saat hantu Eline (di belakang) muncul dan membayangi pikiran Kristin


Kristin harus belajar menerima arti sebuah penyangkalan diri dan membiarkan pergi mereka yang begitu ia cintai. Sebagai seorang ibu, Kristin sangat menginginkan yang terbaik bagi anak2xnya dan mencoba selalu melindungi mereka dari setiap kesulitan atau masalah yang muncul dari luar –terutama dari dalam diri sendiri atas keputusan buruk yang diambil juga dosa yang dilakukan.

Foto: Pesta rakyat di hari pernikahan Kristin dan Erlend

Namun, Kristin akhirnya menyadari bahwa anak2x memiliki impian mereka sendiri dan tak bisa dicegah untuk melakukan keputusan2x bodoh yang memang harus terjadi. Ia hanya bisa berdoa bagi mereka dan melepaskan anak2x tersebut ke dalam perlindungan Tuhan. Kristin juga sadar bahwa doa2xnya selama ini selalu dikabulkan, bahwa ia selalu berada dalam naungan Sang Pencipta bahkan di saat melakukan kebodohan dan dosa karena mengikuti kemauan hati semata.

Setelah menyerahkan tanah pertanian ke tangan putra ketiga dan isterinya, Kristin kembali ke Trondheim dimana ia diterima menjadi anggota biara. Saat wabah penyakit pes melanda Norwegia pada tahun 1349, Kristin mendedikasikan hidupnya untuk menolong para korban sebelum akhirnya menderita sakit dan meninggal dunia karena penyakit yang sama.

Foto: Suasana kota Oslo di abad pertengahan

Lost in Translation
Terjemahan asli dalam bahasa Inggris pertama kali dilakukan oleh Charles Archer pada tahun 1920. Pilihan kata yang dipakai serta gaya bahasa Inggris Archer dianggap formil, kuno dan tidak sesuai dengan konteks yang ingin disampaikan Undset, seperti penggunaan kata2x “thee”, “I trow”, “methinks” dsb. Hal ini membuat roh atau jiwa dari karya asli yang ditulis dalam bahasa Norwegia hilang dan tidak terepresentasikan dalam edisi terjemahan.

Salah satu ‘cacat’ lain adalah sensor yang dilakukan Archer terhadap adegan yang melibatkan unsur seks karena dianggap terlalu eksplisit. Barulah pada tahun 2005, oleh penerbit Penguin Classics–80 tahun setelah edisi terjemahan bahasa Inggris karya Archer– edisi baru terjemahan ulang yang dilakukan Tina Nunnally diluncurkan yang dianggap jauh lebih baik dan representatif. Tina sendiri mendapat sejumlah penghargaan khusus dari hasil terjemahan yang pernah dilakukannya.

Foto: Kristin di antara ayah dan ibunya

Pujian dan Kritik
Dalam triologi (1920-1922) di atas, Sigrid Undset memaparkan keterkaitan aspek sejarah kehidupan sosial, politik dan agama dengan kehidupan sehari2x keluarga dalam sebuah rangkaian kisah tentang Norwegia di abad ke-14 yang berwarna, kaya dan mendetil

Triologi ini lebih dari sekedar sebuah perjalanan kembali ke masa lalu. Kehidupan sang penulis sendiri, kedekatannya dengan dongeng dan kisah bangsa Norwegia di masa lampau, karya literatur abad pertengahan yang berlimpah di sekelilingnya, ditambah pengalamannya sebagai seorang anak perempuan, istri dan ibu juga keimanan yang besar terlihat sangat berpengaruh dalam karya2x yang dihasilkan. Kecerdasannya memadukan masa lampau dan masa kini serta sifat manusia yang beragam dan teknik penulisan yang baik menempatkan hasil tulisan Sigrid lebih dari sekedar ‘novel historis’ atau ‘kisah cinta ‘ ala roman picisan.

Foto: Para pemain di akhir pertunjukkan

Di sisi lain, kritik datang dari kalangan feminis yang menganggap karya Undset terlalu terfokus pada kehidupan perempuan sebagai mahluk biologis. Juga pandangan dalam cerita bahwa menjadi seorang ibu adalah kewajiban paling utama yang bisa diemban perempuan.

Adegan yang melibatkan unsur seks dalam kisah Kristin Lavransdatter juga dianggap terlalu eksplisit pada masa itu. Kontroversi lain terkait dengan pemilihan agama Katolik yang dianut tokoh utama cerita di tengah negeri yang mayoritasnya adalah pemeluk agama Protestan. Kritik juga diberikan terhadap cara pandang penulis atas isu2x yang secara moral masih ambigu.

Namun, kemampuan Sigrid dalam menampilkan karakter Kristin yang sering melakukan keputusan bodoh dan mengikuti kata hati adalah daya tarik tersendiri. Pelajaran berharga lain dari kisah saga di atas adalah: hidup penuh dengan pilihan dan setiap pilihan akan membawa konsekuensi di kemudian hari.

Ketidaksempurnaan karakter para tokoh dalam kisah yang ada justru membawa nuansa manusiawi dalam cerita. Hal ini membuat pembaca bisa mengasosiasikan diri dengan karakter beragam manusia yang ditemui dalam kehidupan sehari2x, bahkan pada masa kini. Selain itu, memang tak ada manusia yang sempurna…


Bagi saya, pengalaman bersentuhan dengan kisah Shakespeare ala Norwegia ini merupakan pengalaman yang sangat berharga. Sebuah jejak langkah atas karya sastra yang berbeda dan memperkaya jiwa…

Sumber:
http://en.wikipedia.org/wiki/Kristin_Lavransdatter
http://www.imdb.com/title/tt0113576/
http://dannyreviews.com/h/Kristin_Lavransdatter.html
http://www.amazon.com/”>http://www.amazon.com
http://www.kristindagene.no
http://www.norway.org/culture/literature/nunnally.htm

3 thoughts on “Kristin Lavransdatter (2)

  1. gila ajah

    Saya membaca buku kedua dari trilogi itu saat saya remaja, tahun tujuh puluhan. Buku itu milik ibu saya, dan kata beliau merupakan buku wajib untuk dibaca di sekolah menengah jaman Belanda.

    Reply
  2. Pingback: Kristin Lavransdatter (1) « My Life, My Search, My Journey

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s