Potong Rambut

Bagi pelajar yang tinggal di luar negeri –khususnya di Eropa Barat dan Utara– dengan mengandalkan uang beasiswa atau kiriman orang tua mungkin pernah merasakan dilema saat ingin potong rambut (kecuali bila kiriman tadi tidak bermasalah dalam jumlah)

Harga standar di salon2x untuk potong rambut bagi perempuan (saya tidak tahu pasti untuk laki2x) rata2x sebesar 20 Euro pada tahun 2003 di Den Haag. Dengan kurs rupiah waktu itu sekitar Rp. 11.000-Rp 12.000 per 1 Euro, bisa dihitung berapa jumlah yang harus dibayar demi rambut di kepala ini.
Dengan banyak pertimbangan, waktu itu saya hanya mencoba bertahan untuk tidak memotong rambut selama hampir satu tahun lamanya.

Memang, dari kasak-kusuk sesama pelajar lain ada info salon yang murah di kawasan imigran. Tetapi embel2x harus siap terima nasib jika hasil potongan tidak sesuai harapan sudah cukup menyurutkan niat yang ada. Rambut saya sendiri tidak pernah panjang melebihi bahu. Karena strukturnya yang halus dan tipis, maka rambut panjang tidak pernah disarankan. Justru dulu, kata nenek almarhumah, saya harus sering2x potong rambut supaya lebih lebat.

Selama di Jakarta, acara ke salon untuk potong rambut pasti dilakukan setiap tiga bulan sekali. Setelah gonta-ganti, akhirnya ada satu salon favorit dengan harga masih terjangkau namun pelayanan dan hasil memuaskan di daerah Depok. Dengan uang Rp 90.000.- pelanggan sudah bisa keramas, potong rambut, hair spa, plus vitamin, plus blow-dry, plus massage… Buat saya ini adalah sebuah kemewahan…

Suatu hari, karena tidak tahan lagi melihat potongan rambut yang semakin tak berbentuk, saya bertekad untuk pergi ke salon dan mengorbankan uang yang ada di saku. Kebetulan, Milka (kawan dari Bolivia) juga ingin melakukan hal yang sama dan sudah memiliki referensi ‘hair-dresser’ yang –menurut dia– terpercaya. Sempat ada rasa kuatir sebelum mengiyakan ajakan Milka tadi, maklum beda selera dan beda gaya. Dibandingkan kawan latina yang gaul dan atraktif ini, saya tergolong kuper dan tidak mengerti mode.

Ternyata betul dugaan saya…
Usai membuat janji dengan pihak salon, Milka membawa kami ke sebuah salon untuk anak muda yang funky, trendy, gaul, modern dan futuristik… Waduhhh…bagaimana melukiskannya yah?… Kurang lebih, ini adalah salon yang tidak akan pernah saya masuki jika hanya seorang diri saja. Pikiran pertama yang muncul saat memasuki pintu salon tersebut adalah: berapa yah nanti harga yang harus dibayar?…Cukup nggak uang saya?…Duh, semoga nggak mahal2x banget deh…

Awalnya, karena meyakini profesionalitas penata rambut yang ‘wong londo’ asli, saat ditanya model yang diinginkan, saya hanya bilang kurang lebih: “Terserah mas aja deh, yang jelas harus dibuat terlihat ber-volume karena rambut saya tipis…” Saya tidak berani sering2x melihat ke cermin, takut melihat hasil akhir potongan rambut juga tidak berani untuk protes. Sungguh sebuah kepasrahan yang bodoh (baru sadar setelah kejadian ini…)

Jika mau jujur, dibandingkan dengan salon langganan saya yang ada di sebuah ruang kecil di daerah mall Depok, saya lebih menyukai pelayanan dari salon langganan tadi. Di salon funky nan gaul ini, saat rambut saya ‘dikerjai’, boro2x ada massage, semua dikerjakan dengan terburu2x (mungkin sedang kejar setoran yah...).

Sambil tangan sibuk bergerak kesana-kesini di atas kepala, si mas ‘londo’ ini menawarkan berbagai produk yang katanya bagus untuk rambut saya yang tipis agar terlihat lebih berisi bla..bla..bla…

Karena masih ‘ingusan’ saya pun hanya termanggut-manggut sepanjang ‘commercial break’ secara langsung tadi. Ditambah karena sulit menolak apalagi berkata ‘tidak’, saya pun membeli produk yang ditawarkan tanpa berani menanyakan harga. Yup, tidak berani menanyakan harga karena gengsi jika ketahuan berkantong pas-pasan (ck..ck…sungguh terlalu dan konyol sekali jika diingat lagi…). Milka juga melakukan hal yang sama.

Setelah selesai, kami pun menanyakan harga di kassa, dan….jumlah yang harus saya bayar adalah… 250 Euro, dua ratus lima puluh Euro hanya untuk rambut di kepala!!! Saat mendengar harga tadi (Milka harus membayar sekitar 190 Euro), kami berdua terlihat tenang dan mengeluarkan kartu ATM, menggesek, menekan nomor pin, beres dan segera keluar salon sambil mencoba tersenyum.

Di luar salon, beberapa meter kemudian… dengan kompak kami berdua berteriak histeris. Aaaaaaaarggghhhhh!”#ยค?=/%##%&”!()&%)=%!!!!!!… …”Two hundreds and fifty Euro! That is so ridiculous. It will never be happening to me again. Never!”

Untung waktu itu hari masih pagi dan kami berada di jalan yang cukup sepi sehingga terhindar dari tatapan aneh orang melihat kami berteriak dan loncat2x histeris. Rasanya saya seperti baru saja ‘dirampok’ secara halus. O ya, hasil akhir potongan rambut saya sangat mengecewakan. Pertama kali melihatnya, saya langsung membayangkan perpaduan gaya rambut ala remaja Jepang di kawasan Harajuku, manga (komik bergambar) dan gaya jambul tempoe doeloe. Sangat tidak mencerminkan kepribadian saya yang kalem, tenang, lembut ehm…๐Ÿ˜€. Soooo…’not me’ at all!

Kejadian yang sama pun terulang lagi saat saya berada di Oslo. Sebagai salah satu kota termahal di dunia, harga rata2x untuk potong rambut di salon pun berkisar 400 NOK (1 NOK (Norwegian Kronor) sekitar Rp 1800.-). Akibatnya, keingingan untuk potong rambut di salon lagi2x harus dipendam hingga lebih dari enam bulan.

Saat berulang-tahun, barulah keinginan itu tercapai ketika T memberikan hadiah yang salah satunya adalah biaya potong rambut (sesuai permintaan pribadi, hehe :D). Kebetulan T’s mom juga akan pergi potong rambut ke salon langganannya. Belajar dari pengalaman, saya pun mengecek terlebih dahulu apakah ini termasuk salon mahal atau tidak, bagus atau tidak, terpercaya atau tidak dll. Jawaban yang saya dapat cukup meyakinkan, tidak mahal namun hasil memuaskan.

Ternyata…ukuran ‘mahal’ atau ‘tidak mahal’ antara saya berbeda jauh dengan T’s mom. Salon yang katanya ‘biasa’ ini terletak di sebuah rumah di atas bukit kecil, dengan si pemilik dan pengelola tunggal seorang penata rambut yang cukup dikenal. Ia juga seorang artis yang berbakat dan memamerkan hasil karyanya di Hennie-Onstad Center, sebuah pusat pameran bagi para seniman yang prestisius di Oslo.

Saat rambut sedang ‘dikerjai’, ia menawarkan beberapa produk untuk rambut agar begini dan begitu… (kok sama yah dengan yang di Den Haag, di Indonesia nggak begitu2x banget deh). Berdasarkan pengalaman, saya hanya bilang ‘No, thank you”, sambil tersenyum semanis-manisnya.

Setelah selesai, selanjutnya giliran T’s mom. Sebelumnya saya sempat bilang ke T’s mom bahwa semua pengeluaran akan saya tanggung (ini sebagai balasan karena T’s mom selalu membayar bill jika kami makan bersama atau pergi ke bioskop) Jumlah yang harus saya bayar saat itu ‘hanya’ 1045 NOK untuk kami berdua atau sekitar 133 Euro (tanpa massage, tanpa blow, hanya potong saja dan rambut sudah dikeramas sendiri dari rumah). Jumlah yang tidak sedikit buat saya meski tanpa embel2x produk tambahan yang ditawarkan. Kali ini, potongan akhir rambut tidak separah saat di Den Haag dan tidak aneh2x (pheww…). T’s mom membeli produk untuk rambut yang ia bayar sendiri, yang harganya lebih mahal dari ongkos potong.

Belajar dari pengalaman di atas, saya sekarang berani menolak tawaran produk di salon dan mengecek harga sebelum rambut ‘dikerjai’. Lebih baik bertanya terlebih dahulu sebelum tercekat melihat bill yang harus dibayar.

YA…YA… RAMBUT OH RAMBUT…๐Ÿ™‚

……………………..

Disclaimer: Foto2x diambil di Museun Seni Kiel-Jerman; pameran foto di Oslo, Juni 2008 dan koleksi pribadi.

17 thoughts on “Potong Rambut

  1. pipitta

    Saya jadi inget sekitar tahun 94-an dan sedang berkunjung ke tempat sepupu di Virginia, USA. Entah karena apa, sudah lupa, saya potong rambut di salon langganan sepupu saya ini. Yang motong orang Indonesia sih, makanya bisa pakai tarif “teman”.

    Waktu itu rambut saya sebahu, dan dipotong model batok. Bayangin buah kelapa dibelah jadi dua, trus potongannya ditaruh di kepala kayak topi, dan rambut dipotong sesuai ukuran batas batoknya.

    Aneh banget.

    Dan harga yang harus dibayar 40 dollar. Hanya untuk potongan kayak gitu??? Hwaduhhh, saya langsung nyesel banget. Dengan harga segitu saya bisa beli oleh2 kaos selusin!

    Reply
    1. Felicity Post author

      Whaaaaa…. 40 US dollar untuk model batok kelapa…. duh…. nggak ikhlas banget bayarnya deh pasti…. Kalo saya bisa kepikiran n nyesel dalam jangka waktu cukup lama… ๐Ÿ˜€

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s