Banyak Jalan di Roma: Nyasar Dehhh… :D

Orang bilang, banyak jalan menuju Roma. Tetapi kota Roma yang banyak jalan ini, justru pernah membuat saya dan seorang kawan ‘tercecer’ di sana, berawal dari sebuah perbedaan persepsi… Yah, namanya juga manusia… masing2x memiliki isi kepala serta cara berpikirnya yang kadang ‘ajaib’😀

Kisah ini mirip dengan kejadian dalam post Malu Bertanya… dengan setting, lokasi dan pelaku berbeda.

Tahun 2004, saat liburan Paskah, saya dan beberapa kawan pelajar lain di Den Haag berencana untuk mengadakan tur kecil ke kota Roma-Italia dengan tiket murah. Dalam grup ini, hanya sayalah yang berdarah Asia sementara Miranda, Silva, Petrina dan Kristina (bukan nama sebenarnya) berasal dari negara2x yang berbeda di Afrika.

Karena kondisi dana terbatas, kami pun mencoba mencari tempat menginap yang semurah-murahnya, syukur2x bisa mendapat secara gratis😀. Total waktu yang dimiliki adalah lima hari dan kami mendapat rejeki nomplok boleh tinggal tanpa bayaran di ‘Wisma X’ milik konggregasi biarawan berkat koneksi dari seorang teman asal India (thank you, Michael…)

Sayangnya, ketika tiba di Roma nomor telepon ‘Wisma X’ tadi tidak pernah bisa dihubungi dan alamat yang diberikan Michael juga tidak jelas. Karena lelah, diputuskanlah untuk bermalam di sebuah hostel kecil dekat stasiun ‘Termini’.

Hostel ini dikelola suami-istri berdarah campuran. Sesuai harga sewa yang 15 Euro per malam, tak ada servis khusus tersedia. Ruangan hostel yang ada di lantai dua bangunan apartemen penuh sesak dan sempit dengan barang2x yang ada. ‘Kamar’ yang tersedia pun hanya tiga dengan kondisi yang nyaris tak layak disebut kamar.

Di ruang sempit berukuran sekitar 4×5 meter (mungkin lebih kecil lagi) ada 4 pasang tempat tidur bertingkat. Seluruhnya ada delapan buah kasur dan lima sudah ditempati oleh kelompok remaja dari salah satu negara Eropa Timur, yang kelakuannya menurut saya dan kawan2x lain sangat tidak sopan.

Saya, Petrina dan Kristina mendapat jatah tempat tidur. Sementara Miranda harus tidur di lantai dengan matras tambahan. Silva yang berumur sekitar empat puluh tahunan merasa risih jika harus satu kamar dengan perempuan dan memilih untuk membayar ekstra satu kamar kecil lain yang berbeda untuknya.

Di malam pertama, para remaja rekan sekamar kami pulang larut malam, mengobrol dengan keras2x, merokok bahkan bermesraan di tempat tidur ketika kami masih ada di dalam kamar. Saat Miranda masih membaca Kitab Suci yang dibawanya dan berdoa, mereka dengan seenaknya saja mematikan lampu kamar tanpa permisi terlebih dahulu.

Keesokan harinya, kami sempat protes pada pengelola dan berencana membatalkan kamar yang sudah dibooking untuk satu malam lagi. Ternyata si pengelola ngotot dan memaksa kami tetap membayar harga kamar tanpa peduli apakah kami akan tidur di hostel itu atau tidak (yeeee…rese banget…konsumen yang komplain dan dirugikan kok malahan disuruh bayar). Nomor telepon ‘Wisma X’ masih belum bisa terhubungi. Karena tidak ada pilihan lain, terpaksa kami harus tidur satu malam tambahan di hostel yang tidak nyaman dan tidur berdesakan seperti ikan sarden di kaleng (naseeebbb…ya naseebbb…)

Syukurlah, pada akhirnya kami bisa menghubungi nomor ‘Wisma X’ dan mendapat alamat yang lebih jelas yakni:
“Via Tiburtina No 9XX (Sembilan Ratus Sekian), Roma”.

Karena beresiko akan menempuh perjalanan yang panjang dan kemungkinan tersesat, akhirnya diputuskan bahwa saya dan Miranda –sebagai yang termuda dalam rombongan– akan menjadi ‘tim perintis’ untuk mencari tempat tujuan mendahului yang lain (hehe…kayak mau panjat tebing :D). Sementara yang lain bisa beristirahat sesuai kehendak masing2x.

Sebagai gambaran, Miranda adalah teman akrab satu jurusan di kampus, berasal dari Ghana, memiliki karakter tegas, keras, lantang jika berbicara, sengit saat berdebat; tetapi juga baik hati dan memiliki kepedulian tinggi terhadap sesama. Dibandingkan saya, ia juga sangat religius. Kalau berdebat dengannya, saya lebih banyak tersenyum dan menjawab seperlunya saja, percuma kalau diteruskan.

Belum apa2x, perdebatan sudah terjadi. Kami memiliki perbedaan persepsi dalam membaca alamat yang tertulis: “Via Tiburtina No 9XX (Sembilan Ratus Sekian), Roma”.

Miranda menafsirkan kata ‘Via’ yang dalam bahasa Inggris juga berarti ‘melalui’. Sedangkan saya menafsirkan kata ‘Via’ dalam bahasa Italia yang artinya ‘Jalan’. Jadi, Miranda ‘membaca’ petunjuk: ‘Melalui (stasiun bus) Tiburtina, kemudian cari bangunan bernomor 9XX’…. Sementara, saya ‘membaca’ petunjuk tadi: ‘Jalan Tiburtina, No 9XX’…

Seperti diduga, pada akhirnya saya mengikuti kemauan Miranda. “Yah nggak apa2x deh… Kalaupun tersesat pasti juga nggak akan terlalu jauh, masih di sekitar situ juga…”, pikir saya. Ternyata, perhitungan ini meleset.

Mengikuti cara Miranda membaca petunjuk, kami berhenti di stasiun bus ‘Tiburtina’. Keluar dari stasiun mulailah saya dan Miranda mencari nomor 9XX (sembilan ratus sekian). Sulit juga mengurutkan nomor rumah yang sering loncat tak beraturan. Setelah hampir satu jam mencari dan memasuki kawasan pemukiman, mencoba bertanya dalam bahasa Inggris, melihat peta (yang tak mendetil dan kemampuan membaca peta pas2xan), semua menggelengkan kepala saat menjawab dalam bahasa Italia yang tak dimengerti. Barulah di salah satu jalan kecil, seorang ibu muda bisa berbahasa Inggris menjelaskan bahwa alamat yang kami cari tidak ada di lokasi itu.

Berdasarkan penjelasan si ibu muda tadi, maka hasil ‘bacaan’ sayalah yang benar. ‘Wisma X’ terletak di Jalan Tiburtina No 9XX…jauh sekali dari stasiun bus Tiburtina. Keluar ke jalan besar, nampak Jalan Tiburtina No 1, dan kami harus mencari nomor sembilan ratus sekian…

Kami hanya berjalan…dan berjalan melewati nomor2x 50,… 100,…200,… 300,…350 …400, 470…570…Setelah hampir dua jam, saya mulai bertanya2x dalam hati: “Mana nomor sembilan ratus, yak? Kok nggak kelihatan seeehhhhh…Capek niiiyyyy…”.

Tidak tega juga kalau harus menyalahkan Miranda. Mencak2x dan mengomel dalam kondisi semacam ini justru akan membuat keadaan akan lebih buruk lagi. Padahal rasanya ingin juga mendapat ‘pengakuan’ dari Miranda kalau dia salah dan saya benar. I told you sooooooooo!!!!!!!!!……….

Hari semakin gelap. Entah kapan bisa menemukan nomor sembilan ratus sekian di jalan yang luar biasa besar dan panjang ini…

Perasaan mulai tidak enak ketika melewati kawasan yang mulai sepi dan dipenuhi semak2x, jauh dari kawasan pemukiman. Meski lalu-lalang kendaraan cukup banyak, lama-kelamaan hampir tidak ada pejalan kaki lain yang kami temui. Melewati kolong sebuah jembatan, perasaan tidak enak semakin kuat melihat situasi yang mencekam, sepi dan gelap.

Sempat terlintas bayangan2x buruk tentang hal yang mungkin terjadi di lokasi semacam ini. Tak ada rekan, kenalan atau saudara yang kami bisa dikontak atau dimintai pertolongan. Bahkan nomor telepon ‘Wisma X’ pun sulit dihubungi. So, basically…we were…all by ourselves…

Karena kekuatiran sudah mencapai puncaknya, saya memutuskan bahwa kita harus kembali demi alasan keamanan. Melanjutkan mencari di tempat yang asing, dengan bahasa yang tidak dimengerti pada hampir tengah malam adalah sebuah tindakan nekat beresiko. Miranda pun setuju untuk kembali dan menerima argumentasi saya.

Waktu menunjukkan jam sebelas malam lebih. Kami berputar menyusuri kembali rute yang tadi dilalui. Tak lama kemudian nampak cahaya lampu dan suara orang bercakap2x terdengar di sebuah terminal bus kecil yang agak terisolir. Beberapa orang (para supir) mencoba mengatakan bahwa ada stasiun kereta tak jauh dari sana tetapi saat itu sudah tak ada lagi kereta beroperasi. “No train…no train now…Better use my taxi…”

Hmmmm…Meski pada awalnya sempat mempercayai informasi yang diberikan, mendengar embel2x ‘tawaran’ untuk menggunakan taksi membuat saya meragukan ‘ketulusan’ si informan. Bayangan supir taksi di Jakarta dengan segala polahnya yang ‘ajaib’ membuat saya was2x bahwa kejadian serupa pun bukan mustahil bisa terjadi di kota Roma ini.

Betul saja, tiba di tempat pemberhentian, masih ada kereta yang akan lewat (seperti judul film saja, ‘Arini: Masih Ada Kereta yang Akan Lewat…:D) melalui stasiun utama ‘Termini’. Yeeessssssss……

Saat kereta datang, saya sempat was2x, waduhhhh ini kereta beneran apa kereta jadi2xan?… (hehe, kebanyakan dicekoki sinetron horor Indonesia di TV…). Tak banyak orang yang ada di dalam gerbong. Namun, saya merasa lebih aman dibandingkan beberapa menit sebelumnya, ‘tercecer’ di jalanan yang gelap dan sepi. Secara total kami menghabiskan waktu hampir empat jam lamanya malam itu nyaris tanpa hasil. Paling tidak, ada gambaran tentang arah yang harus dituju menuju ‘Wisma X’.

Keesokan harinya –mengikuti cara saya membaca petunjuk, ehm😀 — dengan mudah kami bisa menemukan tempat yang dicari, yang ternyata… terletak persis di seberang salah satu pemberhentian kereta. Wah, jika tahu begini, daripada jalan kaki tadi malam lebih baik kami terus naik kereta hingga pemberhentian di sekitar Jalan Tiburtina nomor sembilan ratus sekian ini.

Tempat2x lainnya yang kami kunjungi di Roma saat itu adalah ‘standar’ yang dikunjungi para wisatawan seperti: ‘Collosseum’, ‘The Catacombe di San Callisto’, ‘Trevi Fountain’ dan St Peter’s Basilica’ di Vatican dll. Namun, dari semua itu, pengalaman mencekam saat mengembara di kota Roma –pada hampir tengah malam– bersama Mirandalah bagian yang akan selalu saya kenang dari seluruh perjalanan singkat ini.

Tak lupa saya menghela nafas lega dan bersyukur kepada Tuhan; karena atas perlindungan-Nyalah maka kami masih bisa kembali pulang dengan selamat dan tak kurang satu apapun… Phewwwww….

Kalau orang bilang banyak jalan menuju Roma, memang betuullll… Tetapi banyak jalan di Roma juga bisa bikin keblinger alias pusing tujuh keliling…

Disclaimer: Mohon maaf, berhubung foto2x tentang kota Roma ada di Jakarta. Kali ini saya tampilkan foto2x yang diambil dari perjalanan ke Lourdes dan Cauteretz di Perancis tahun lalu sebagai illustrasi.

7 thoughts on “Banyak Jalan di Roma: Nyasar Dehhh… :D

  1. Pingback: Tersesat di Hutan | My Life, My Search, My Journey

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s