Masalah Pendamping Korban yang Kerap Terabaikan

Tulisan kali ini terinspirasi dari artikel pribadi yang pernah dimuat di harian Kompas edisi cetak tanggal 11 Maret 2002 lalu. Hingga sekarang, persoalan yang sama masih relevan. Untuk keperluan blog, tulisan asli telah mengalami suntingan tanpa mengurangi pesan yang ingin disampaikan
………………..

PENDAMPINGAN bagi korban yang mengalami berbagai bentuk kekerasan baik fisik, kekerasan psikis, kekerasan ekonomi maupun kekerasan seksual (termasuk state violence) merupakan sebuah tugas yang tidak mudah. Dalam sebuah pelatihan tentang “Pembelaan Hukum Berperspektif Gender” yang diselenggarakan sebuah LSM perempuan di Jakarta, terungkap berbagai masalah yang dihadapi rekan-rekan pendamping korban, baik yang bekerja sebagai penasihat hukum, pendamping di shelter (rumah aman) dan crisis center, termasuk staf divisi pendampingan korban di berbagai organisasi sosial nirlaba.

Terungkapnya masalah-masalah tersebut merupakan hal yang cukup mengejutkan. Tak banyak yang menyadari di balik ketegaran dan keteguhan para pendamping korban, mereka juga manusia biasa yang mempunyai masalah. Lebih sulit lagi, masalah tersebut harus bisa dieliminir, paling tidak disamarkan agar tidak diketahui korban yang sedang didampingi karena akan mempengaruhi tingkat kepercayaan terhadap pendamping. Padahal, masalah-masalah yang dibiarkan menumpuk seperti ini justru berbahaya, karena akan terakumulasi sebagai “bom waktu” yang siap meledak.

Pengalaman pendamping korban

Konflik keluarga yang dialami umumnya terkait dengan minimnya waktu buat keluarga pendamping korban akibat kesibukan pekerjaan yang tak mengenal batasan waktu. Seorang rekan menceritakan, ia mendapat telepon dari klien pukul 02.30 dini hari untuk segera datang ke shelter karena ada masalah, padahal lokasi rumahnya jauh dan tidak memungkinkan. Rekan lain mengalami saat berkumpul keluarga ketika liburan Natal-yang sangat jarang bisa dilakukan-mendadak harus pergi untuk mendampingi korban.

Sikap korban yang didampingi juga berpengaruh-sedikit atau banyak-terhadap pendamping korban. Tak jarang, pendamping harus menerima mulai dari umpatan kekecewaan, kesedihan, cacian, sampai kejadian yang membuat banyak orang “makan hati”. Seorang rekan pendamping pernah harus berangkat pagi hari sekali untuk memenuhi janji mendampingi klien, namun saat tiba tepat waktu sang klien justru baru datang dua jam kemudian dan dengan tanpa rasa bersalah mengatakan alasan terlambat: susah bangun pagi.

Teror, tekanan dan intimidasi yang diterima pendamping korban bukanlah hal aneh. Baik lewat telepon, surat kaleng, sampai teror oleh bodyguard atau preman bayaran lainnya, bahkan intimidasi memanfaatkan oknum militer pun pernah dialami seorang rekan. Belum lagi masalah yang ditemui saat berhadapan dengan aparat kepolisian yang sering kali justru menyudutkan korban yang didampingi. Meski sudah ada ruang pelayanan khusus (RPK), namun belum merata tersebar di daerah-daerah.

Masih kentalnya bias nilai patriarki dalam sistem hukum di Indonesia sangat berpengaruh terhadap penanganan kasus terhadap anak dan perempuan korban. Khusus kasus pemerkosaan, pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, substansi hukum yang bermasalah sering terkait dengan sulitnya pembuktian, apalagi untuk kasus pemerkosaan yang sudah berlangsung lama, serta sulitnya memperoleh saksi yang memberatkan pelaku dalam kekerasan dalam rumah tangga, misalnya, yang sering takut karena diancam pelaku. Dalam struktur hukum, selain sikap aparat kepolisian yang sering sangat bias jender dan menyudutkan korban, sikap petugas pengadilan baik hakim maupun jaksa juga tak kalah menyudutkan korban dan pendamping korban.

Profesi sebagai pendamping (yang kebanyakan perempuan) saat mendampingi korban (yang juga kebanyakan perempuan dan anak) sering dianggap remeh dan dipandang sebelah mata, apalagi dibandingkan dengan profesi di perusahaan swasta, lawfirm, apalagi perusahaan multinasional. Tak jarang berbagai stigma negatif diberikan masyarakat awam, birokrat, aparat kepolisian maupun pengadilan, agamawan, termasuk akademisi terhadap para pendamping korban yang bekerja di LSM-LSM sebagai orang-orang yang sok idealis dan tukang cari masalah. Pahit memang.

Solusi dan harapan

Berbagai usulan dilontarkan, mulai dari penguatan internal sesama pendamping melalui pertemuan rutin untuk berbagi kasus, tukar informasi, diskusi pengalaman pendampingan dan masalah lain, konseling untuk konselor (pendamping korban), pelatihan/trainingpendampingan termasuk penguatan jaringan.

Semua usulan solusi itu masih perlu direalisasikan bersama. Selama ini masalah yang dihadapi para pendamping korban masih sering dianggap kurang penting dari masalah korban yang didampingi, padahal tak kalah rumit persoalan yang dihadapi pendamping korban. Tulisan ini saya buat untuk membuka (kembali) wacana pendampingan terhadap korban yang sering terpinggirkan, sekaligus urun rembuk untuk masukan, saran, usulan, solusi atas permasalahan yang dihadapi para pendamping korban.

Lewat tulisan ini juga saya sampaikan penghargaan setinggi-tingginya atas perjuangan, dedikasi, pengorbanan rekan-rekan pendamping korban baik di shelter, crisis center, kamp pengungsian, wilayah konflik bersenjata, relawan di lokasi bencana dan kerusuhan, serta rekan-rekan lain yang tersebar dan tak dapat disebutkan satu per satu, semoga tetap teguh dalam berjuang melewati the road less travelled.

Tambahan: Pada tanggal 14 September 2004,pemerintah telah mengesahkan Undang-undang tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Berdasarkan pengalaman pribadi selama bekerja di Aceh, institusi kepolisian setidaknya telah berupaya cukup maksimal untuk mendukung penghapusan KDRT. Memang tidak mudah mensosialisasikan peraturan hingga ke level terendah dengan segala keterbatasan sarana dan prasarana yang ada, terlebih lagi merubah pola pikir patriarkhis yang sudah diwariskan dari generasi ke generasi.

Disclaimaer: Foto2x diambil dalam pameran lukisan di Institut Kesenian Jakarta pada bulan Juni tahun 2006.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s