Monthly Archives: July 2008

Kristin Lavransdatter (2)

Sambungan dari: Kristin Lavransdatter-1

Buku pertama, ‘The Bridal Wreath’ atau ‘The Wreath’ sebelumnya mengisahkan masa kecil Kristin, perkembangan menjadi seorang remaja dan perempuan dewasa, pertunangan, dosa, kehilangan kehormatan serta pernikahannya. Keputusan yang diambil Kristin di buku pertama akan mempengaruhi sisa perjalanan hidup selanjutnya. Keinginannya yang kuat untuk menjadikan Erlend sebagai suami membawa bayang2x kegelapan bahkan di masa2x paling membahagiakan dalam kehidupan Kristin kelak.


The Wife
Kisah bagian kedua diawali dengan kedatangan Kristin di Husaby. Ia menderita rasa bersalah yang mendalam atas dosa yang telah dilakukan serta kekuatiran atas bayi yang ada di dalam kandungan. Hubungan dengan Erlend tidak lagi berapi2x seperti sebelumnya; ia menyadari bahwa Erlend adalah seorang suami yang selalu mengikuti kemauan hati (impulsif), kasar dan tidak peduli terhadap kelangsungan ekonomi keluarga.

Foto: Kristin Lavransdatter di hari pernikahan

Kristin pun melahirkan bayi laki2x yang sehat, di luar kekuatirannya selama ini. Setelah membuat sebuah pengakuan dosa terhadap pastor paroki, ia melakukan ziarah ke gereja St. Olav’s di Trondheim sebagai penebusan atas rasa bersalah serta ucapan syukur atas kelahiran bayinya. Tak lupa juga menyumbangkan rangkain bunga emas yang dikenakan (dengan tidak selayaknya) di hari pernikahan kepada pihak gereja.

Foto: Eline yang terbunuh saat mencoba meracuni Kristin

Beberapa tahun selanjutnya, Kristin dan Erlend memiliki tambahan enam orang anak laki2x. Karena ketidakacuhan dan ketidakbecusan Erlend, Kristin menjadi kepala keluarga, ia harus memikirkan kelangsungan lahan pertanian yang dimiliki Erlend,membesarkan anak2x kandungnya yang diperoleh dari Erlend serta tambahan anak2x Erlend hasil perselingkuhan sebelumnya, sekaligus mencoba bertahan menjadi seorang pemeluk agama yang taat. Dalam periode ini, orang tua Kristin meninggal dunia dan saudara perempuannya menikah dengan Simon Darre, walaupun Simon sesungguhnya diam2x masih mencintai Kristin.

Foto: Karakter Elf, yang menggambarkan pergulatan batin, rasa sakit, kepedihan dan keputusasaan Kristin Lavransdatter


Erlend yang impulsif dan ceroboh melakukan hal bodoh dengan ikut terlibat dalam permainan politik dan membuatnya harus masuk penjara. Atas bantuan Simon–sang mantan tunangan Kristin–Erlend bebas dari hukuman mati, namun seluruh harta miliknya diambil alih oleh penguasa kerajaan. Mereka harus menelan pil pahit dengan melepaskan ‘Husaby’. Satu2xnya harta yang masih dimiliki keluarga ini adalah tanah pertanian di Jørungård, tempat Kristin menghabiskan masa kecilnya dahulu.

Foto: Kristin dan Erlend

The Cross
Pada buku ke-3, Kristin memasuki umur empat puluh tahunan, yang dianggap sebagai usia tua untuk ukuran abad ke-13 dan ke-14 saat itu. Sementara anak2x-nya juga bertambah dewasa dan Erlend pun beranjak menua.

Kristin, Erlend, dan anak2x mereka kembali ke Jørundgård namun gagal untuk mendapatkan penerimaan dari masyarakat setempat. Kesulitan hidup yang dihadapi menguji ikatan kekeluargaan dan menonjolkan rasa kewajiban Kristin atas keluarga serta keyakinan yang dianutnya. Setelah sebuah pertengkaran hebat, Erlend meninggalkan Kristin dan anak2xnya. Mereka sempat berkumpul kembali untuk sesaat, sebelum akhirnya Erlend terbunuh dalam perjalanan pulang menuju tanah pertanian, ia tewas di dalam pelukan Kristin.

Foto: Adegan pesta terhenti saat hantu Eline (di belakang) muncul dan membayangi pikiran Kristin


Kristin harus belajar menerima arti sebuah penyangkalan diri dan membiarkan pergi mereka yang begitu ia cintai. Sebagai seorang ibu, Kristin sangat menginginkan yang terbaik bagi anak2xnya dan mencoba selalu melindungi mereka dari setiap kesulitan atau masalah yang muncul dari luar –terutama dari dalam diri sendiri atas keputusan buruk yang diambil juga dosa yang dilakukan.

Foto: Pesta rakyat di hari pernikahan Kristin dan Erlend

Namun, Kristin akhirnya menyadari bahwa anak2x memiliki impian mereka sendiri dan tak bisa dicegah untuk melakukan keputusan2x bodoh yang memang harus terjadi. Ia hanya bisa berdoa bagi mereka dan melepaskan anak2x tersebut ke dalam perlindungan Tuhan. Kristin juga sadar bahwa doa2xnya selama ini selalu dikabulkan, bahwa ia selalu berada dalam naungan Sang Pencipta bahkan di saat melakukan kebodohan dan dosa karena mengikuti kemauan hati semata.

Setelah menyerahkan tanah pertanian ke tangan putra ketiga dan isterinya, Kristin kembali ke Trondheim dimana ia diterima menjadi anggota biara. Saat wabah penyakit pes melanda Norwegia pada tahun 1349, Kristin mendedikasikan hidupnya untuk menolong para korban sebelum akhirnya menderita sakit dan meninggal dunia karena penyakit yang sama.

Foto: Suasana kota Oslo di abad pertengahan

Lost in Translation
Terjemahan asli dalam bahasa Inggris pertama kali dilakukan oleh Charles Archer pada tahun 1920. Pilihan kata yang dipakai serta gaya bahasa Inggris Archer dianggap formil, kuno dan tidak sesuai dengan konteks yang ingin disampaikan Undset, seperti penggunaan kata2x “thee”, “I trow”, “methinks” dsb. Hal ini membuat roh atau jiwa dari karya asli yang ditulis dalam bahasa Norwegia hilang dan tidak terepresentasikan dalam edisi terjemahan.

Salah satu ‘cacat’ lain adalah sensor yang dilakukan Archer terhadap adegan yang melibatkan unsur seks karena dianggap terlalu eksplisit. Barulah pada tahun 2005, oleh penerbit Penguin Classics–80 tahun setelah edisi terjemahan bahasa Inggris karya Archer– edisi baru terjemahan ulang yang dilakukan Tina Nunnally diluncurkan yang dianggap jauh lebih baik dan representatif. Tina sendiri mendapat sejumlah penghargaan khusus dari hasil terjemahan yang pernah dilakukannya.

Foto: Kristin di antara ayah dan ibunya

Pujian dan Kritik
Dalam triologi (1920-1922) di atas, Sigrid Undset memaparkan keterkaitan aspek sejarah kehidupan sosial, politik dan agama dengan kehidupan sehari2x keluarga dalam sebuah rangkaian kisah tentang Norwegia di abad ke-14 yang berwarna, kaya dan mendetil

Triologi ini lebih dari sekedar sebuah perjalanan kembali ke masa lalu. Kehidupan sang penulis sendiri, kedekatannya dengan dongeng dan kisah bangsa Norwegia di masa lampau, karya literatur abad pertengahan yang berlimpah di sekelilingnya, ditambah pengalamannya sebagai seorang anak perempuan, istri dan ibu juga keimanan yang besar terlihat sangat berpengaruh dalam karya2x yang dihasilkan. Kecerdasannya memadukan masa lampau dan masa kini serta sifat manusia yang beragam dan teknik penulisan yang baik menempatkan hasil tulisan Sigrid lebih dari sekedar ‘novel historis’ atau ‘kisah cinta ‘ ala roman picisan.

Foto: Para pemain di akhir pertunjukkan

Di sisi lain, kritik datang dari kalangan feminis yang menganggap karya Undset terlalu terfokus pada kehidupan perempuan sebagai mahluk biologis. Juga pandangan dalam cerita bahwa menjadi seorang ibu adalah kewajiban paling utama yang bisa diemban perempuan.

Adegan yang melibatkan unsur seks dalam kisah Kristin Lavransdatter juga dianggap terlalu eksplisit pada masa itu. Kontroversi lain terkait dengan pemilihan agama Katolik yang dianut tokoh utama cerita di tengah negeri yang mayoritasnya adalah pemeluk agama Protestan. Kritik juga diberikan terhadap cara pandang penulis atas isu2x yang secara moral masih ambigu.

Namun, kemampuan Sigrid dalam menampilkan karakter Kristin yang sering melakukan keputusan bodoh dan mengikuti kata hati adalah daya tarik tersendiri. Pelajaran berharga lain dari kisah saga di atas adalah: hidup penuh dengan pilihan dan setiap pilihan akan membawa konsekuensi di kemudian hari.

Ketidaksempurnaan karakter para tokoh dalam kisah yang ada justru membawa nuansa manusiawi dalam cerita. Hal ini membuat pembaca bisa mengasosiasikan diri dengan karakter beragam manusia yang ditemui dalam kehidupan sehari2x, bahkan pada masa kini. Selain itu, memang tak ada manusia yang sempurna…


Bagi saya, pengalaman bersentuhan dengan kisah Shakespeare ala Norwegia ini merupakan pengalaman yang sangat berharga. Sebuah jejak langkah atas karya sastra yang berbeda dan memperkaya jiwa…

Sumber:
http://en.wikipedia.org/wiki/Kristin_Lavransdatter
http://www.imdb.com/title/tt0113576/
http://dannyreviews.com/h/Kristin_Lavransdatter.html
http://www.amazon.com/”>http://www.amazon.com
http://www.kristindagene.no
http://www.norway.org/culture/literature/nunnally.htm

Advertisements

Kristin Lavransdatter (1)

Akhir pekan lalu saya mendapat kesempatan untuk menyaksikan sebuah panggung teater terbuka yang mengangkat cerita bersetting abad pertengahan berjudul ‘Kristin Lavransdatter’, karya perempuan penulis pemenang hadiah Nobel di Bidang Sastra asal Norwegia, Sigrid Undset.

Pertunjukkan mengambil tempat di daerah perbukitan yang menjadi lokasi asli pembuatan film bertitel sama di Jørundgard, Sel Kommune, sekitar 5 jam perjalanan dari Oslo. Film tersebut langsung menjadi box office di seluruh Norwegia usai dirilis pertama kalinya pada pertengahan tahun 1995. Cerita versi film disutradarai oleh aktris papan atas Liv Ullman yang pernah memiliki kedekatan khusus dengan sutradara terkenal asal Swedia, Ingmar Bergman.

Di Indonesia, popularitas kisah ‘Kristin Lavransdatter’ (Kristin Si Anak Perempuan Lavran) mungkin sama dengan kisah roman klasik semacam ‘Sitti Nurbaya’ yang pernah diangkat ke layar kaca beberapa tahun lalu (dengan aktris Desy Ratnasari sebagai Sitti Nurbaya dan H.M. Damsyik sebagai tokoh antagonis Datuk Maringgih)

Foto: Buku Kristin Lavransdatter karya Sigrid Undset

‘Kristin Lavransdatter’ sendiri adalah nama yang dikenal untuk kisah triologi dari novel historis berjudul: ‘Kransen’ (The Wreath) yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1920; ‘Husfrue’ (Wife) diterbitkan pada tahun 1921, dan ‘Korset’ (The Cross) yang terbit pada tahun 1922. Dua karya pertama, ‘Kransen’ dan ‘Husfrue’ telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris di bawah judul ‘The Bridal Wreath’ dan ‘The Mistress of Husaby’.

Berdasarkan kisah yang ditulis ini, Sigrid Undset memenangkan Nobel Sastra pada tahun 1928 dengan alasan utama: “…untuk deskripsi yang kuat tentang kehidupan di belahan Utara pada era abad pertengahan…”. Sigrid yang memiliki ayah seorang arkeolog memang memiliki ketertarikan besar dengan sejarah dan melakukan riset mendalam serta mendetil sebelum mulai menulis. Karenanya tidak heran jika karya2x sastranya banyak disanjung atas keakuratan historis dan etnologis yang terkandung.

Pertunjukkan teater terbuka ini adalah bagian dari ‘Kulturfestivalen i Sel’ atau ‘Festival Kebudayaan di Sel’, berlangsung sejak tanggal 1-6 Juli 2008. Acara terdiri dari tur keliling pertanian yang menjadi lokasi film, debat dan diskusi tentang aspek simbolik dalam kisah Kristin Lavransdatter, pameran tentang suasana kehidupan di abad pertengahan, dll.

Foto: Suasana pedesaan di abad pertengahan

Karena keterbatasan waktu, saya dan T’s mom hanya menonton satu bagian pertunjukkan yang berlangsung kurang lebih selama dua jam. Bagian2x lain berlanjut pada jam yang sama selama beberapa hari ke depannya. Panggung pertunjukkan yang berkapasitas sekitar 850-900 penonton penuh sesak. Nampak tokoh2x yang dikenal publik seperti jurnalis, penulis, pemain film, artis di antara penonton.

Foto: Kristin kecil

Agar lebih sistematis, kisah ini akan dipaparkan secara garis besar dan terbagi dalam beberapa segmen seperti yang ada di dalam buku, yakni: ‘The Wreath’, ‘The Wife’ dan ‘The Cross’

‘The Wreath’ (Rangkaian Bunga)

Bagian pertama triologi ini berkisah tentang masa kecil Kristin Lavransdatter sejak berusia 7 tahun di tanah pertanian Jørundgård yang terletak di lembah Gudbrandsdal, Norwegia pada abad ke-14. Ia adalah anak perempuan dari pasangan Lavrans –seorang petani yang sangat dihormati dan kharismatik –dengan Ragnfrid, sang istri yang depresif karena terpaksa mengikuti kemauan keluarganya untuk menikah dengan ayah Kristin meski sebenarnya ia mencintai pria lain.

Foto: Kristin dan Sang Peramal

Kristin lahir dan besar di sebuah keluarga yang penuh cinta namun keras. Hal ini membentuk dirinya menjadi seorang yang memiliki karakter sensitif, berkemauan kuat namun seringkali juga harus berseberangan dengan keluarga untuk perkara kecil maupun besar. Di usia yang masih sangat muda, Kristin sudah harus mengalami banyak tragedi seperti kematian tiga orang saudara laki2x, kecelakaan yang dialami adik perempuan kesayangannya hingga cacat, termasuk gangguan dari pria2x lain di desa yang mencoba menodai Kristin saat beranjak dewasa. Perjalanan ke luar dari desa menuju Oslo di kemudian harilah yang mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.

Foto: Kristin remaja yang ceria dan aktif

Kristin bertunangan dengan anak tetangganya, seorang pemilik tanah pertanian yang terpandang, Simon Darre. Pria muda ini memiliki karakter sangat terpuji dan disukai oleh keluarga serta banyak orang lain di sekitarnya. Namun, semua berubah saat suatu hari Kristin –yang telah meninggalkan desa dan tinggal bersama para biarawati– ditolong oleh seorang pria saat ia diganggu oleh penjahat.

Foto: Bersama Simon Darre, pemuda tetangga yang sangat mencintai Kristin

Foto: Elf, sang pembaca nasib masa depan Kristin

Foto: Pemuda desa yang menganggu Kristin

Foto: Saat berpamitan sebelum menuju Oslo

Pria berpakaian ksatria yang menolongnya itu adalah Erlend Nikulaussøn, berasal dari daerah pertanian Husaby di Trøndelag. Saat itu, Erlend yang memiliki karakter ‘the bad boy’ sedang berada di bawah hukuman gereja berupa larangan untuk tinggal di tanah pertaniannya sendiri karena affair yang dilakukannya bersama Eline, istri ksatria lain. Hubungan gelap Erlend dengan Eline tersebut membuahkan dua orang anak bernama Orm dan Margret yang tidak memiliki hak2x yang diakui secara hukum karena lahir dari hasil perselingkuhan.

Foto: Kristin diganggu para penjahat di kota Oslo

Foto: Perjumpaan pertama dengan Erlend

Berawal dari pertemuan tadi, Kristin dan Erlend saling jatuh cinta. Eline mencoba meracuni Kristin ketika mengetahui affair ini. Namun, peristiwa tragis terjadi saat Erlend tanpa sengaja membunuh Eline. Affair dan pembunuhan ini adalah dua dosa besar di mata gereja yang terus menghantui Kristin sepanjang hidupnya.

Setelah tiga setengah tahun lamanya, Lavran sang ayah akhirnya bersedia memberikan restu kepada Erlend dan Kristin untuk menikah, keduanya pun bertunangan. Namun sebelum pernikahan, Kristin telah mengandung anak dari Erlend. Ia tidak memberitahukan siapapun tentang hal ini termasuk kepada calon suaminya. Saat pernikahan, Kristin mengenakan rangkaian bunga dari emas, sebuah simbol yang hanya diberikan bagi mempelai perempuan yang masih perawan…

berlanjut ke:

Kristin Lavransdatter-2

Kesempatan Kedua

Banda Aceh, Juni 2005

Pagi itu semua nampak seperti biasa dan tak ada yang istimewa. Dalam perjalanan menuju kantor Dinas Sosial Banda Aceh, terlihat lalu-lalang kendaraan di jalan raya yang berdebu. Puing2x tsunami masih berserakan dan teronggok di pinggir jalan, bangunan yang luluh-lantak masih belum banyak berubah sejak kali pertama saya menginjakkan kaki di tanah rencong ini beberapa bulan sebelumnya.

Namun, pagi itu bukanlah pagi seperti biasanya, akan ada sebuah peristiwa besar terjadi, setidaknya bagi kehidupan dua orang anak manusia: seorang ayah akan bertemu dengan anak perempuannya yang terbawa ombak tsunami dan diyakini meninggal dunia setelah menghilang hampir enam bulan lamanya pada tanggal 26 Desember 2004.

Tiba di tempat tujuan, suasana sudah nampak ramai. Kerumunan staff, pekerja kemanusiaan, masyarakat umum dan wartawan media lokal, nasional maupun internasional terlihat memenuhi tempat yang disiapkan. Nampak seorang bapak tua berumur sekitar 50 tahunan, bersama seorang perempuan paruh baya dan seorang anak laki2x kecil yang ditemani beberapa relawan. Belakangan saya tahu, bahwa bapak tersebut adalah orang yang akan bertemu dengan sang anak yang hilang, sedangkan ibu muda dan anaknya tadi adalah kerabat dekat yang datang untuk memberi dukungan moral.

Saat yang dinanti2x pun tiba. Seorang anak perempuan berumur sekitar 12 tahun muncul ditemani beberapa relawan. Pada awalnya, nampak sang bapak dan si anak tadi saling memandang, seakan mencoba memastikan apa yang nampak di depan mata.

Awalnya si bapak nampak agak sedikit canggung, entah apa yang ada di dalam benaknya saat itu. Tak lama kemudian, tangis pun pecah. Mereka saling saling berpelukan dengan eratnya untuk melepas kerinduan. Air mata jatuh tak tertahankan di pipi para hadirin menyaksikan momen yang begitu menyentuh tersebut…

Mereka mulai saling berbicara menanyakan kabar dan keadaan masing2x setelah sekian lama berpisah sambil diiringi tetesan air mata dan isak tangis mengingat peristiwa yang lampau.

Setelah beberapa saat, sang bapak dan si anak duduk di kursi yang disediakan dan menceritakan kronologis kejadian saat nasib memisahkan keluarga mereka. Dari uraian yang disampaikan, pada saat kejadian si anak sedang mengunjungi kerabatnya yang baru saja melahirkan di Banda Aceh. Saat ombak tsunami menerjang, si anak berusaha sekuat tenaga menyelamatkan bayi yang terpisah dari sang ibu yang juga terbawa ombak. Namun nasib menentukan lain, si bayi terlepas dan si anak terseret arus hingga beberapa kilometer sebelum akhirnya terselamatkan. Tangisan pun kembali pecah…

Sementara itu, di kota asal Meulaboh, Aceh Barat. Anggota keluarga yang lain juga berjuang melawan maut. Nampak gurat kesedihan di wajah sang bapak saat mengingat istri dan anak2x lainnya yang hilang terbawa ombak tsunami.

Berbulan-bulan lamanya usai tsunami, tak ada kontak dan tak ada kabar berita. Satu sama lain juga saling menganggap telah kehilangan untuk selamanya. Hingga suatu hari, para relawan yang bekerja dengan penuh dedikasi mendapatkan informasi tentang keberadaan keluarga si anak di Meulaboh. Koordinasi terus berlanjut untuk memastikan kebenaran berita yang diperoleh.

Setelah memastikan kebenaran info yang diperoleh, reunifikasi pun diadakan. Inilah hari bersejarah tersebut: sebuah pertemuan kembali si anak yang dianggap hilang dan sang bapak yang dianggap telah meninggal dunia.

Sulit untuk melukiskan beragam emosi yang berkecamuk di dada masing2x orang yang secara langsung menyaksikan momen ini. Terlihat secercah kedamaian di wajah sang anak dan kelegaan di bagi sang bapak setelah sekian lama dirundung duka dan kesedihan…

Melihat adegan emosional di depan mata membuat diri ini berandai2x. Jika saja adik dan ibunda tercinta yang telah meninggal dunia tiba2x ada di hadapan saya setelah sekian lama berpisah, entah bagaimana reaksi yang akan muncul. Yah, saya hanya bisa membayangkan saja, biarlah mereka beristirahat dengan tenang di alam sana.

Berbahagialah sang bapak dan si anak yang mendapat kesempatan kedua untuk berkumpul kembali, karena tidak semua orang bisa mendapatkannya.

C’est la vie…

“Fiction gives us a second chance that life denies us.”
–Paul Theroux–

Disclaimer: Foto2x di atas adalah koleksi pribadi

Have You Ever Been In Love…

Setelah membuat beberapa tulisan tentang ‘Gay Pride’, di akhir pekan ini, saya ingin mencoba rileks dengan lagu dari Celine Dion (yup, I am a hopeless-pathethic- romantic :D)

Lagu ini pernah menjadi teman setia di saat sedang jatuh cinta (yang berjuta rasanya *kedip-kedip*). Saat itu –di masa2x awal–, dalam sehari mungkin saya bisa memutar ulang lagu yang sama di CD hingga berulang kali…

Video Klip ‘Have You Ever Been In Love’ by Celine Dion from Youtube:

Have you ever been in love

Have you ever been in love
You could touch the moonlight
When your hearts shooting stars
Youre holding heaven in your arms
Have you ever been so in love

Have you ever walked on air
Ever felt like you were dreamin
When you never thought it could
But it really feels that good
Have you ever been so in love

Have you ever been in love
You could touch the moonlight
When your hearts shooting star
Youre holding heaven in your arms
Have you ever been in love, have you…

The time I spent
Waiting for something that was heaven-sent
When you find it dont let go,
I know

Have you ever said a prayer
And found that it was answered
All my hope has been restored
And I aint looking anymore
Have you ever been so in love, have you…

Some place that you aint leavin
Somewhere youre gonna stay
When you finally found the meanin
Have you ever felt this way

The time I spent
Waiting for something that was heaven-sent
When you find it, dont let go,
I know…

Coz have you ever been so in love, so in love
You could touch the moonlight
You can even reach the stars
Doesnt matter near or far
Have you ever been so in love

Have you ever been in love
Have you ever been in love
So in… love…

Thanks dear T,
for your love,
…your patience, caring and the endless support.
I will always be thankful for the day when I found you… 🙂

Oslo, July 2008

Gay Pride Parade (4): The Real World Part II

Lanjutan dari: Gay Pride Parade (4): The Real World Part I

LGBT di Bidang Militer
Di bidang militer, respon terhadap kaum gay, lesbian dan biseksual beragam. Beberapa angkatan bersenjata di negara2x barat sekarang telah menghapuskan kebijakan di masa lalu yang memarjinalkan kelompok ini. Dari 25 negara yang berpartisipasi secara militer dalam NATO (Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara), lebih dari 20 negara mengijinkan secara terbuka kaum lesbian, gay dan biseksual untuk bergabung. Dari anggota tetap Dewan Keamanan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa), Perancis dan Inggris bersikap terbuka, sisanya seperti China melarang tegas, Russia tidak mengijinkan kecuali dalam masa perang sedangkan USA memiliki kebijakan ‘Don’t Ask, Don’t Tell’ yang secara teknis mengijinkan sepanjang dilakukan dengan diam2x dan selibat (di luar pernikahan). Israel menjadi satu2xnya negara di daerah Timur Tengah yang secara terbuka mengijinkan gay serta lesbian menjadi anggota militer.

Foto: Mereka yang tergabung dalam militer dan sektor pertahanan

Foto: ‘Endelig’ atau ‘Akhirnya’ untuk hukum pernikahan sesama jenis di Norwegia yang baru disahkan bulan Juni lalu dan berlaku mulai tanggal 1 Januari tahun 2009 mendatang

Lagi, kekerasan yang melembaga
Beberapa tindak kekerasan terhadap kaum LGBT memunculkan beberapa istilah seperti: homophobia, heteroseksime, lesbophobia, biphobia, transphobia dll. Pelaku kekerasan bukan hanya individu yang menganut ‘paham’ di atas, melainkan juga dilakukan secara kolektif oleh kelompok, partai politik, struktur sosial,lembaga sosial dan institusi negara yang bias. Termasuk juga institusi keagamaan, memainkan peran yang signifikan terhadap kekerasan yang terjadi atas kaum LGBT yang dipandang ‘sakit’, tanda kelemahan diri dan immoral.

Bagaimana dengan LGBT di Indonesia?
Pioneer Dede Utomo mendirikan organisasi gay di Indonesia pertama kalinya pada tahun 1982 di Surabaya bernama ‘Lambda Indonesia’ setelah ia kembali ke tanah air usai menyelesaikan studi S3 di Cornell University, USA. Selanjutnya ‘GAYa Nusantara’ berdiri pada tahun 1987. Ia merupakan salah satu tokoh yang berani tampil di depan publik untuk mendiskusikan hak2x kelompok gay dan lesbian serta bahaya HIV/AIDS.

Dalam salah satu interview dengan media LGBT, ‘Fridæ’ Dede menyatakan bahwa gerakan LGBT mulai aktif di akhir tahun 1960-an saat mereka yang disebut ‘waria’ mulai berani tampil dan mulai mengorganisir diri. Pada tahun 1980-an dengan imbas dari gerakan kaum LGBT internasional, kelompok yang sama di Indonesia merapatkan barisan dengan lebih rapi dan terkoordinir. Berbeda dengan kelompok gay pria yang lebih terbuka, kelompok lesbian bersifat lebih tertutup dan baru mulai berani tampil secara terbuka setelah tahun 1998 saat kelompok2x feminis semakin berkembang.

Foto: Barisan para perawat di rumah sakit

Nampaknya, jalan ke arah kesetaraan hak2x sipil kelompok LGBT ini akan masih sangat panjang dan berliku2x. Secara pribadi, saya hanya bisa menyampaikan simpati terhadap mereka yang termasuk LGBT, sebagai kelompok yang termarjinalkan. Lewat rangkaian tulisan ini, saya berharap dapat membuka mata mereka yang masih bersikap apriori dan berpandangan negatif terhadap LGBT.

Semoga kita masing2x mau melakukan intropeksi diri dan tidak berambisi untuk menjadi menjadi ‘hakim-hakim moral’, apalagi merasa diri atau kelompoknya sebagai pemegang ‘klaim kebenaran’ (the claim of truth)atas manusia lain yang sama2x mahluk ciptaan Tuhan.

Seperti halnya kata2x ‘beauty lies on the eyes of beholder’ (kecantikan terletak di mata yang melihatnya), maka kebenaran terletak di dalam diri dan pikiran orang yang mengalaminya masing2x. Tak ada gunanya memaksakan ‘kebenaran’ subjektif kepada orang atau kelompok lain yang berbeda.

Hmmmm, am I too idealistic ?…or am I a dreamer?….Maybe, but I know that I am not the only one…

Klip musik dan lirik ‘Imagine’ dari John Lennon (one of my favourite songs) dari Youtube

Imagine

Imagine there’s no Heaven
It’s easy if you try
No hell below us
Above us only sky
Imagine all the people
Living for today

Imagine there’s no countries
It isn’t hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people
Living life in peace

You may say that I’m a dreamer
But I’m not the only one
I hope someday you’ll join us
And the world will be as one

Imagine no possessions
I wonder if you can
No need for greed or hunger
A brotherhood of man
Imagine all the people
Sharing all the world

You may say that I’m a dreamer
But I’m not the only one
I hope someday you’ll join us
And the world will live as one

Disclaimer:
Foto2x dalam tulisan ‘Gay Pride Parade 1-4 adalah koleksi pribadi yang diambil dalam acara ‘Gay Pride parade’ di Oslo-Norwegia pada tanggal 28 Juni 2008.

Sumber:
http://www.hrw.org/doc/?t=lgbt (LGBT Rights)
http://en.wikipedia.org/wiki/Gay_rights
http://hrw.org/english/docs/2007/07/11/global16374.htm (LGBT Rights and the Law)
http://hrw.org/english/docs/2007/07/11/global16375.htm (LGBT Web Resources)
http://hrw.org/english/docs/2007/07/11/global16375.htm#2 (Global LGBT Sites)
http://hrw.org/english/docs/2003/09/04/usdom6352.htm (Human Rights Watch on Marriage and Equality)
http://en.wikipedia.org/wiki/Category:LGBT_civil_rights (LGBT Civil Rights)
http://www.iglhrc.org/site/iglhrc/ (International Gay and Lesbian Human Rights Commission)
http://www.iglhrc.org/site/iglhrc/section.php?id=5&detail=873 (IDAHO (International Day Against Homophobia)- Indonesia)
http://en.wikipedia.org/wiki/Homosexuality_laws_of_the_world (Homosexuality Laws of the World)
http://en.wikipedia.org/wiki/Image:World_homosexuality_laws.svg#filelinks
http://en.wikipedia.org/wiki/Same-sex_marriage (Same-sex marriages)
http://en.wikipedia.org/wiki/Sexual_orientation_and_military_service
http://en.wikipedia.org/wiki/Violence_against_LGBT_people
http://en.wikipedia.org/wiki/Sumptuary_law
http://en.wikipedia.org/wiki/Dyke_(slang)
http://en.wikipedia.org/wiki/Buggery
http://en.wikipedia.org/wiki/Gay_pride
http://en.wikipedia.org/wiki/LGBT_pride_parade
http://www.hrw.org/press/2003/01/us012303.htm
http://www.fridae.com/newsfeatures/article.php?articleid=2193&viewarticle=1&searchtype=all

TABIK

Gay Pride Parade (4): The Real World Part I

Lanjutan dari: Gay Pride Parade (3): The History

Di bagian terakhir tulisan tentang ‘Gay Pride Parade’ ini akan diulas tentang LGBT dalam kehidupan nyata: ‘the real world’. Meskipun tidak termasuk LGBT, saya pernah memiliki beberapa kawan yang merupakan LGBT. Dari cerita pergulatan yang mereka alami, terbayang betapa sulitnya menjadi ‘berbeda’ dari hal yang dianggap ‘umum’ dalam masyarakat.

Di Indonesia, pemberitaan media massa, acara TV, film, sinetron (bahkan yang ditonton anak2x) banyak menggambarkan kelompok LGBT dengan stereotip negatif, apalagi kalau sudah membawa (justifikasi) agama…

Foto: Kelompok gay yang hobi naik gunung dalam ‘Gay Pride Parade 2008’ Oslo

Violence Against LGBT
Banyak orang di dunia ini menjadi korban kekerasan, ketidakadilan, siksaan, bahkan kematian karena pilihan orang yang mereka cintai, penampilan lahiriah, atau karena menjadi diri sendiri. Meski secara ideal, orientasi seksual dan identitas gender adalah aspek integral dari diri masing2x individu dan tidak seharusnya menjadi sumber diskriminasi serta kekerasan. Namun dalam kenyataan, hidup menjadi lebih sulit bagi individu jika tidak mengikuti kaidah seksualitas yang diterima secara sosial.

Sebelum kebangkitan agama Kristen, homoseksualitas dianggap sebagai sebuah ekspresi seksualitas yang normal oleh semua kebudayaan kuno. Ada bukti yang ditemukan bahwa hubungan sesama jenis telah terjadi sejak permulaan sejarah yang tercatat oleh manusia di Mesir, Cina, Yunani, Roma dan Jepang. Pasangan kekasih yang terkenal dari Mesir misalnya Khnumhotep dan Niankhkhnum juga pasangan Harmodius dan Aristogiton dari Yunani. Catatan paling awal tentang ‘pernikahan’ sesama jenis terjadi dalam masa pemerintahan Romawi dengan sejumlah pasangan menikah pada masa tersebut.

Foto: Åpenkirke gruppe (kelompok gereja terbuka)

Foto: Asosiasi pelajar Kristen dengan banner bertuliskan: ‘Gereja harus mengatakan ‘Ya’ untuk undang2x pernikahan sesama jenis’

Selanjutnya, kebangkitan agama Kristen mengubah sikap publik terhadap pernikahan sesama jenis, memicu eksekusi terhadap kaum gay dan bangkitnya sentimen ‘homophobia’. Pada tahun 342 M, kaisar Konstantius dan Konstans yang Nasrani menyatakan bahwa pernikahan sesama jenis adalah suatu hal yang illegal. Pada tahun 390, kaisar lain seperti Valentinian II, Theodoisus dan Arcadius meneklarasikan bahwa hubungan sesama jenis adalah illegal, mereka yang dinyatakan bersalah karena hal ini harus menghadapi hukuman dibakar hidup2x di muka umum. Sementara, Kaisar Justinian (527-565) menjadikan homoseksualitas sebagai kambing hitam bagi masalah2x seperti: kelaparan, gempa-bumi dan wabah penyakit pes.

Pada abad ke-18 dan ke-19 di Eropa, perilaku seksual sesama jenis, berpakaian yang tidak sesuai dengan jenis kelamin adalah sesuatu yang tidak bisa diterima secara sosial di kalangan luas. Hal ini juga menjadi sebuah tindak kriminal serius di bawah ‘sodomy and sumptuary laws’.

Thomas Cannon menulis sesuatu yang mungkin menjadi bentuk pembelaan publik pertama terhadap homoseksualitas yang diterbitkan dalam bahasa Inggris yakni: ‘Ancient and Modern Pederasty Investigated and Exemplify’d’ pada tahun 1749. Sementara seorang reformis sosial bernama Jeremy Bentham menulis sebuah argumen yang dikenal pertama kali tentang reformasi hukum terhadap homoseksualitas di Inggris sekitar tahun 1785. Pada masa itu, hukuman terhadap ‘buggery’ atau anal seks adalah mati di tiang gantungan, namun karena beberapa alasan essay tersebut baru diterbitkan pada tahun 1978.

Foto: LGBT yang tergabung di sektor pemerintahan


Saat ini, sejumlah organisasi yang peduli pada hak2x kaum LGBT seperti Human Rights Watch mendokumentasikan tindak kekerasan yang terjadi berdasarkan orientasi seksual dan identitas gender seseorang di seluruh dunia yang terdiri atas: penyiksaan, pembunuhan dan eksekusi, penahanan yang tidak memiliki dasar hukum, perlakuan yang tidak adil, penyensoran, kekerasan di bidang medis, diskriminasi di sektor kesehatan, perumahan dan pekerjaan, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan terhadap anak, penyangkalan atas hak2x dalam keluarga serta tidak adanya pengakuan.

Foto: Peserta dari sektor kesehatan

Para pembela hak2x kaum gay dan lesbian berargumentasi bahwa orientasi seksual seseorang tidak merefleksikan jender atau jenis kelamin sosial orang tersebut, sebagai ilustrasi: ‘Seseorang bisa menjadi pria dan memiliki ketertarikan pada pria… tanpa ada dampak terhadap identitas jendernya sebagai seorang pria’, hal yang sama juga berlaku terhadap perempuan. Pada masa lampau, kaum gay dan lesbian tak jauh berbeda dan dianggap sebagai kaum heteroseksual dalam segala bidang, kecuali dalam praktek seksual yang ada di ranah privat.

Penampilan beberapa kaum lesbian dan gay di jalanan sebagai ‘street queens’, dan di bar2x sebagai ‘bar dykes’ yang flamboyan dianggap sebagai sebuah stereotip negatif. Para pengkritik dari dalam kelompok LGBT juga menganggap bahwa ‘Pride Parade’ adalah sesuatu yang hanya mengumbar seksualitas, mempertontonkan hal2x berbau seksual, ‘fetish’ serta kelakuan aneh kelompok LGBT yang kontra-produktif terhadap kepentingan mereka. Lebih jauh kritik ini menyebutkan bahwa penampilan seperti itu dalam parade hanya akan menjadikan kelompok LGBT sebagai bahan olok2x atau ejekan belaka.

Foto: Para lesbian pencinta olahraga lari

Pada tahun 1990-an, organisasi LGBT mulai bermunculan di ‘non-western countries’, seperti ‘Progay’ di Phillipina yang berdiri pada tahun 1993 dan mengorganisir ‘Gay Pride march’ pertama di Asia pada tanggal 26 Juni tahun 1994. Di banyak negara, organisasi LGBT masih dianggap illegal, aktivis transgender dan homoseksual juga diancam dengan hukuman yang sangat berat oleh pemerintah setempat. Di negara seperti: Nigeria, Somalia dan Afganistan ancaman hukuman yang ada adalah hukuman mati. Sementara di Barbados, Sierra Leone, Bangladesh, India, Myanmar, Uganda dan Pakistán adalah ancaman hukuman seumur hidup.

Foto: Kelompok lesbian pencinta aktivitas luar ruangan (outdoor activities)

Pengakuan Hak2x Sipil
Pengakuan terhadap hak2x sipil LGBT juga masih terbatas di sejumlah negara. Pernikahan pasangan sesama jenis baru diakui di Belgia, Canada, Afrika Selatan, Spanyol, Belanda dan di Norwegia baru akan berlaku pada 1 Januari 2009 mendatang.
Sementara pengakuan atas pasangan sesama jenis yang hidup bersama ada di negara: Andorra, Belgia, Czech Republic, Denmark, Finlandia, Perancis, Jerman, Hungaria (baru berlaku pada tanggal 1 Januari 2009),Islandia Luxembourg, Belanda, Selandia Baru, Slovenia, Swedia, Swiss, Inggris dan Uruguay

Foto: Kelompok kaum muda

berlanjut ke Gay Pride Parade (4): The Real World Part II

Gay Pride Parade (3) : The History


Warning!

Tulisan dan gambar berikut hanya untuk dewasa. Dilarang berprasangka, menghakimi atau merasa diri (paling) benar. Setiap orang bertanggung jawab atas orientasi seksualnya masing2x.

Lanjutan dari: Gay Pride Parade (2): The Symbols

Sejarah tentang LGBT bisa dibagi dalam beberapa rentang waktu yakni masa Yunani Kuno, Romawi kuno, pergerakan pada abad 19 di Jerman, holocaust pada PD II dan pergerakan gay di abad modern (post-Stonewall). Karena keterbatasan kapasitas untuk menulis dan ruang yang ada, maka saya hanya akan mengulas sejarah pada Post-Stonewall Riots.

Stonewall Riots
Pada tanggal 28 Juni, 1969 sekelompok orang yang tergabung dalam LGBT melakukan aksi protes menyusul penggrebekan yang dilakukan polisi di sebuah bar untuk kaum gay bernama ‘Stonewall Inn’ di New York City, USA. Oleh banyak orang diakui bahwa seorang aktivis hak2x untuk transgender bernama Sylvia Rivera yang menjadi salah satu pendiri dari ‘Gay Liberation Front ‘ dan ‘the Gay Activists Alliance’, adalah orang pertama yang berani melawan tindakan aparat polisi. Hal ini memicu sebuah pemberontakan, aksi protes dan kerusuhan terus berlanjut selama beberapa malam usai penggerebekan. Kerusuhan Stonewall tersebut secara umum dianggap sebagai permulaan dari gerakan hak2x kaum gay di era modern.


Gay Liberation Front dan Gay Activists Alliance pada permulaan masa ‘Post-Stonewall’, melakukan koordinasi untuk perayaan tahun pertama ‘Perlawanan Stonewall’ dan selanjutnya ‘the Christopher Street Gay Liberation Day March’ pada tanggal 28 Juni, 1970. Perayaan tahun pertama juga dilakukan di San Fransisco dan Los Angeles pada tahun yang sama. Brenda Howard mencetuskan ide tentang rangkaian acara yang berlangsung selama satu minggu penuh yang kini dikenal sebagai ‘Pride Day’. Selanjutnya, acara serupa diselenggarakan oleh kelompok LGBT secara tahunan di seluruh dunia.


Pada era tahun 1980-an hingga saat ini, telah terjadi beberapa perubahan kultural mendasar dalam perayaan tahunan ‘the Stonewall Riots’ yakni bentuk yang lebih terkoordinir serta masuknya kelompok yang tidak lagi terlalu radikal seperti sebelumnya. Penggunaan jargon yang cenderung provokatif seperti ‘Liberation’ (pembebasan) dan ‘Freedom’ (kebebasan) digantikan atas tekanan bagian dari komunitas gay yang lebih konservatif menjadi sebuah filosofi bernama: ‘Gay Pride’. Penggunaan simbol2x seperti huruf lambda dan segitiga pink masih dilanjutkan sebagai kontinuitas dari gerakan awal yang radikal sebelumnya.


Setiap tahun di berbagai belahan dunia, acara ‘Gay Pride Parade’ dilakukan di sekitar bulan Juni, untuk memperingati ‘the Stonewall Riots’ yang menandai momen penting gerakan hak2x kaum gay modern. Bentuk dari masing2x perayaan ini berbeda2x, ada yang masih memegang teguh pada bentuknya yang bernuansa politis dan aktivis, ada yang pula yang mengambil bentuk seperti sebuah pesta ala ‘mardi grass’ ditambah dengan nuansa edukasi (tentang hak2x LGBT, HIV/AIDS, seks yang aman, bahaya obat terlarang dsb). Parade melibatkan berbagai wajah LGBT yang berbeda, terdiri atas tarian, musik yang diputar keras2x, barisan kendaraan berhiaskan pernak-pernik warna-warni, peserta dengan pakaian unik, termasuk para simpatisan kelompok LGBT organisasi sosial, yayasan, politikus, asosiasi pekerja, bahkan organisasi keagamaan seperti gereja yang ‘LGBT-friendly dll.

Foto: Kostum unik peserta ‘Gay Pride Parade’ tahun 2008 di Oslo.

Ada juga bagian dari perayaan yang didedikasikan khusus bagi para korban AIDS dan mereka yang menjadi korban kekerasan kelompok yang anti-LGBT. Beberapa perayaan tahunan yang dianggap memiliki daya tarik untuk wisatawan juga didanai pemerintah setempat dan perusahaan swasta sebagai sponsor (misalnya di Amsterdam). Di banyak negara, acara ini telah menjadi sebuah festival tersendiri bernama ‘Pride Festivals’ yang bernuansa seperti sebuah karnaval, berlangsung di taman atau jalan2x yang ditutup untuk acara parade.

Foto: Penampilan peserta parade yang berasal dari Thailand

Di Oslo, tahun ini acara serupa dinamai dengan: ‘Skeive Dager Oslo’ (‘skeive’ adalah istilah untuk kaum LGBT dalam bahasa setempat) berlangsung dari tanggal 20-29 Juni 2008, terdiri atas berbagai bentuk seperti pemutaran film dalam ‘Oslo Gay&Lesbian Film Festival’, kompetisi bola voli, konser musik, BBQ di taman bersama keluarga (khususnya anak2x), pembukaan taman khusus bernama ‘Pride Park’, konferensi, debat dan diskusi tentang LGBT, stand pameran (lihat post Gay Pride Parade (1)) penampilan band LGBT, kontes memasak, parade, misa bersama oleh ‘Åpen Kirkegruppe’, dan Mardi Grass.

Foto: Partisipan parade lain 🙂

Parade yang saya lihat berlangsung dengan sangat tertib, tidak ada celetukan, ejekan atau kata2x hinaan meluncur dari mulut ribuan penonton yang berjejer di pinggir jalan. Bagi banyak orang yang (merasa) dirinya ‘normal’ (baca: kelompok heteroseksual) mereka yang termasuk kalangan LGBT mungkin masih dianggap ‘aneh’ dan sulit diterima. Di Oslo misalnya, beberapa minggu lalu, terjadi aksi penyerangan terhadap pasangan gay yang sedang menikmati makanan di sebuah restoran di daerah imigran di Grønland. Meski ada juga beberapa peserta parade yang mempertunjukkan hal sensitif terkait dengan agama tertentu serta nyaris terjadi sebuah insiden kecil yang melibatkan peserta dari kelompok ini, namun aparat polisi yang menjaga ketat di sepanjang lokasi bisa mencegah aksi tadi.

Pada pertengahan tahun 2004 lalu, bersama dengan beberapa rekan pelajar lain yang penasaran saya sempat melihat acara serupa yakni ‘Gay Pride Parade’ di kota Amsterdam-Belanda. Meski kalah heboh jika dibandingkan dengan festival di Amsterdam, kesempatan melihat acara ini di Oslo membuat saya tak urung membandingkan hal yang sama di Indonesia. Mungkin, bangsa kita masih perlu belajar banyak untuk bisa menghargai perbedaan serta memahami makna kebebasan berekspresi…

berlanjut ke Gay Pride Parade (4): The Real World Part I

http://en.wikipedia.org/wiki/Gay
http://en.wikipedia.org/wiki/Lesbian
http://en.wikipedia.org/wiki/Transgender
http://abcnews.go.com/Video/playerIndex?id=5230623
http://en.wikipedia.org/wiki/Gay_Pride
http://en.wikipedia.org/wiki/LGBT_pride_parade