Monthly Archives: August 2008

Dinner for 9

Tadi malam, setelah beberapa kali tertunda acara dinner (makan malam) keluarga pun terlaksana. Menyiapkan dinner buat 9 orang ternyata cukup membuat nervous (maksudnya supaya mendapat kesan positif…) dan membutuhkan persiapan matang. Selama ini untuk urusan masak-memasak saya tidak memiliki sebuah track-record yang bagus.

Di kalangan keluarga di Jakarta selain dikenal agak tomboy, memakai rok setahun sekali dan alergi dengan sepatu berhak tinggi, saya juga lebih memilih untuk kabur daripada harus menyalakan kompor gas. Malu juga saat keponakan yang berumur 5 tahun justru membantu saya (ehm…) menyalakan kompor. Meski fakta tersebut sungguh merendahkan harkat dan martabat :D, namun saya lebih memilih bertugas di daerah konflik daripada harus berurusan dengan kompor gas.

Khusus untuk dunia masak-memasak, ibaratnya merebus air pun pasti berakhir tragis di tangan ini: gosong di atas panci dengan sukses… (hehe…)

Foto: Nasi Uduk Betawi dan Tumis Jamur Kantarel

Satu hal yang tidak saya mengerti adalah pandangan sesama rekan pelajar lainnya saat kost di asrama mahasiswa di Den Haag beberapa tahun lalu bahwa saya tidak memasak. Waktu itu, dapur yang ada harus di-sharing dengan 7 pelajar lain, maka tetangga kamar pun bisa mengintip apa yang kita masak saat berada di dapur.

Mousa, rekan dari Ghana misalnya hobi memasak planteen (bener nggak yah penulisannya, sejenis pisang yang jadi makanan utama di beberapa negara Afrika); Richard dari Kamerun hobi memasak daging cincang dengan saus tomat plus bumbu2x kari yang bercita rasa tajam; pelajar dari Jepang (lupa namanya) hobi memasak mie plus jamur spesial ala Jepang; Indah dan Cut, rekan pelajar asal Indonesia hobi memasak rendang, opor dan sejenisnya; Milka dari Bolivia hobi memasak…hmmmm…memasak apa yah? *mencoba mengingat2x*…wah tidak ingat karena ia memang jarang memasak 😀

Foto: Ayam Bakar Bumbu Santan

Saya?…tentunya rajin memasak, misalnya: opor ayam, nasi goreng, rendang dengan bumbu instan ala Indofood yang dibawa dari Jakarta, plus tambahan ide2x baru seperti memasukkan wortel ke dalam rendang; buncis, jagung dan daun singkong ke opor ayam; bayam dan kangkung ke nasi goreng…(heiiiiyyyy….come on…what’s wrong with that?... :D)

Foto: Ikan Salmon Bumbu…nggg….bumbu apa yah? (wah sudah lupa, mohon maaf)

Tak lama kemudian, rumor (bisik2x tetangga) pun beredar bahwa saya tidak bisa memasak dan memiliki teknik memasak yang aneh bin ajaib: jurus tumplek- mbulek-blek-blek… (ini sih nama dari saya…:D). Mulai dari mbakyu Jane dari Kenya, tante Duduzille dan kawan2x Indonesia lain kadang menggoda. Padahal saya hanya enggan mengikuti resep dan aturan baku yang ada dalam resep masakan. Weleh…weleh…dimana penghargaan dan tempat untuk ruang kreativitas dan improvisasi kalau begini, yak?…

Yah sudahlah…yang lalu biarkan berlalu…

Foto: Soto Mie Matraman made in Oslo

Titik balik alias ‘turning point’ yang membuat diri ini sadar akan pentingnya mengikuti resep masakan terjadi tahun 2006 lalu. Saat itu, entah mengapa saya ingin sekali menikmati Apple Pie. Alhasil, karena ingin menyenangkan pasangan (ehm), T pun bersusah payah memasak sendiri di dapur dengan resep Apple Pie yang konon dihapal di luar kepalanya dan merupakan resep keluarga. Selanjutnya T sibuk meracik adonan, mengaduk2x, memasukkan ke dalam cetakan dan ke dalam oven. Dengan harap2x penasaran, saya menunggu.

Dan…saat T menunjukkan hasil masakannya, saya justru terkejut. Selama ini ‘konsep’ Apple Pie dalam benak saya adalah sebuah pastry cantik berisi potongan apel dengan hiasan adonan yang dipotong2x dan dibentuk seperti keranjang itu lohhh… Konsep ini pun berubah melihat Apple Pie buatan T yang buat saya tidak berbentuk, berantakan dan kacau-balau (sorry dear…) Akhirnya, selera makan pun langsung hilang diakhiri dengan sebuah perenungan mendalam untuk menganalisa kejadian itu. Eureka! Kesimpulan dan hikmah yang bisa dipetik adalah: mengikuti resep itu perlu!!!…(lebih baik terlambat sadar daripada tidak sadar2x…:D)

Sejak saat itu, mulailah acara masak-memasak menjadi kegemaran saya. Nikmat rasanya mencicipi masakan sendiri, apalagi jika mendapat pujian setelahnya (hehe…narsisss…) Tentu saja adegan seperti salah takaran, salah campur, salah mengikuti urutan resep, salah memilih bahan pengganti, gosong, terlalu banyak air, kurang air, ikan terlalu lembek, terlalu banyak garam, kurang garam, adonan melekat di wajan saat digoreng, nasi goreng menjadi bubur goreng, daging bagian luar matang namun mentah di dalam (kok bisa yah?…), kecipratan minyak saat menggoreng ikan, terlalu pedas, kurang bumbu, adonan pempek yang sekeras batu, perkedel jagung yang mirip telur dadar dan sebagainya pernah dialami 😀

Foto: Gado2x Betawi dan Oseng2x Kentang

Sekarang, menurut T kemampuan memasak saya sudah melewati masa2x ‘parah dan menyedihkan’ (hehe :D), memasuki masa2x ‘bisa dibanggakan’ (cihuyyyy…thanks dear). Untuk acara dinner tadi malam saya memasak Ayam Bakar Bumbu Santan, Nasi Uduk Betawi, Tumis Jamur Kantarel (yang dipetik dalam acara sebelumnya, lihat post Mushroom Hunting) plus Salat Buah yang diletakkan dalam keranjang semangka asli buatan sendiri (suerrrr, kalau belum percaya juga… coba tanya ke guru prakarya di sekolah dulu hayooo…, dulu biarpun terlihat tidak meyakinkan saya sering mendapat nilai 9 lohhh dari nilai maksimum 10… *narsis mode on lagi*)

Foto: Keranjang semangka berisi Fruit Salad

Di akhir acara dinner T’s mom and dad, T’s brothers and couples juga tante Karen memuji masakan yang disajikan, terutama pernak pernik dekorasi dan keranjang semangka yang dibuat dengan susah payah (lumayannnnn…nggak sia2x deh perjuangan belanja semangka 7 kilo dan membedah buah semangka yang kali pertama ini dilakukan)

Posting kali ini adalah dokumentasi sekaligus menjadi saksi bagi keluarga dan kawan2x yang masih memiliki keraguan akan ilmu memasak saya. Gubrakkkk!!!… 😀

 

Oleh-oleh dari Teheran

Mendengar bahwa T mendapat tugas ke Iran sebelum libur musim panas lalu. Ada rasa was2x, apalagi saat itu berita tentang ancaman sanksi dan sorotan atas aktivitas senjata nuklir Iran sedang diberitakan di banyak media. Ternyata, keadaan di sana tidak se-‘menyeramkan’ yang dibayangkan, berikut adalah foto2x hasil jepretan T yang saya ‘culik’ dari file folder di laptop T (catatan: sudah minta ijin lebih dahulu loh :D)

Untuk memastikan keamanan, saya meminta T untuk mengontak via telepon setiap hari agar mobilitasnya bisa terpantau. Ternyata, provider HP Tele 2 (perusahaan telekomunikasi di Norwegia yang dimiliki oleh pengusaha asal Swedia) yang digunakan T tidak bisa berfungsi. Alhasil komunikasi dilakukan via internet yang disediakan pihak hotel. Kadang2x T mengirim pesan di ‘shout box’ blog ini (mempunyai blog memang banyak manfaatnya :D)

Foto: Kota Teheran di siang hari

Foto: Aneka sayur-mayur tradisional

T bertugas untuk salah satu proyek pemantauan polusi. Saat akhir pekan, ditemani representatif lokal, ia berkesempatan mendaki sebuah gunung pasir (berketinggian lebih dari 4000 M) yang tak jauh dari kota Teheran. Tidak banyak orang yang mendaki saat itu dan T adalah satu2xnya orang asing yang terlihat.

Foto: Pemandangan dari atas gunung

Dari foto2x dan cerita T, Teheran dilukiskan sebagai sebuah kota yang indah, unik dan eksotik, meski polusi udara menghalangi pemandangan kota dari atas. Sayang waktu kunjungan yang ada tidak terlalu lama.

Foto: Indahnya kota Teheran di malam hari

Hmmmm, saya hanya bisa berharap agar kelak bisa berkunjung ke tempat ini sekaligus berharap agar tidak ada perang dan pertempuran yang akan menghancurkan peradaban yang ada. Make love, not war 🙂

Mushroom Hunting

Istilah ‘mushroom hunting’, ‘mushrooming’, atau ‘mushroom picking’ adalah aktivitas memetik jamur di alam terbuka yang umumnya untuk dikonsumsi. Kegiatan ini cukup populer di kawasan Eropa, khususnya di negara2x Nordic (termasuk Norwegia), Balkan dan Slavik, juga di daerah Barat Laut benua Amerika. Beberapa jenis jamur yang menjadi ‘primadona’ antara lain: Chanterelles, Morels dan Puffbals.

Akhir pekan minggu lalu saya mendapat kesempatan mengikuti kegiatan yang seumur2x belum pernah dilakukan ini: berburu jamur. Acara ‘sopptur’ (mushroom trip) dilakukan di sela2x perayaan ultah ke-60 tante Rachel yang tinggal di sebuah kota kecil di Swedia yang hanya 500 meter dari perbatasan dengan Norwegia. Perjalanan dari Oslo hanya ditempuh dalam waktu 1,5 jam dengan kendaraan pribadi.

Foto: Panen

Persiapan yang harus dilakukan: sepatu boot kedap air, celana trekking, pisau khusus (yang seperti pisau kecil biasa di satu sisi dan kuas untuk membersihkan kotoran yang melekat di sisi lain), keranjang untuk menampung hasil panen. Khusus buat saya –sesuai kebutuhan– yang pasti: camera, topi (untuk melindungi kepala, dari hal2x yang tidak diinginkan), jaket kedap air (penting kalau tiba2x hujan dan perlindungan jika ada ular) dan mobile phone (kalau tiba2x tersesat dan hilang di hutan lalu pegemana, hayoooo?….:D)

Foto: Chanterelles yang tersembunyi di balik rumput dan lumut

Acara ‘sopptur’ diikuti oleh saya, T, tante Rachel dan suaminya, T’s mom and T’s senior. Sebagai pemula, maka T’s mom memberikan ‘kuliah pengantar’ yang berjudul kurang lebih ‘mushroom hunting for beginners’ :). Isinya: mengenali sasaran, ‘mengeksekusi’ sasaran, mengamati perbedaan jamur beracun dan tidak beracun dan pengolahan jamur usai panen.

Foto: Jamur ‘jari’ yang bisa dimakan

Kegiatan berburu jamur dilakukan secara tahunan, khususnya di musim semi dan musim gugur. Masing2x pemburu jamur memiliki informasi tersendiri tentang dimana menemukan sasaran. Semakin sering berburu dan memahami ‘area mapping’ semakin besarlah kemungkinan mendapatkan hasil buruan. Jamur biasanya akan tumbuh di tempat yang sama dari tahun ke tahun, karenanya tak jarang sesama ‘pemburu jamur’ menyembunyikan lokasi yang mereka ketahui dari sesama ‘mushroom hunters’ lainnya.

Foto: Contoh jamur beracun

Saya hanya menangkap satu hal penting dari penjelasan T’s mom dan selalu diingat bahwa target utama perburuan adalah jamur kantarel (chanterelles). Jamur ini termasuk salah satu jamur mahal di pasaran yang dijual dengan harga sekitar 150 NOK per kilogramnya (sekitar Rp.250.000-Rp.300.000.- per kg). Penjelasan tentang jamur2x lain yang bisa dimakan tidak saya ingat dengan baik karena dalam prakteknya hanya jamur kantarel-lah yang paling mudah dikenali (alasan sesungguhnya seh karena: (1) malas mengingat ;(2) nggak mudeng alias nggak nyambung ;(3) bingung… :D)

Foto: The hunted

Hutan tempat berburu jamur ini terletak sekitar 10 menit dari rumah tante Rachel. Usai memarkir mobil, kami segera menyebar masuk ke dalam hutan dengan keranjang dan peralatan masing2x. Karena sudah sering datang ke lokasi, tante Rachel menjadi guide kami menuju tempat dimana kantarell biasa ditemukan.

Jalan masuk ke hutan selebihnya harus ditempuh dengan berjalan kaki melewati pohon2x besar yang rapat menghalangi cahaya matahari. Lantai hutan yang lembab dan berlumut basah seperti rawa2x. Sesaat saya teringat dengan illustrasi di buku2x cerita anak tentang ‘Putri Salju dan 7 kurcaci’ yang hidup di hutan dengan jamur2x bertaburan. Kurang lebih mungkin seperti inilah hutan itu. Lantai rumput bercampur dengan lumut nampak seperti karpet hijau raksasa. Di sela2x ‘karpet’ tadi muncullah tumbuhan unik beraneka bentuk dan warna: the mushrooms.

Foto: The hunters 🙂

Ternyata tidak mudah menemukan kantarel. Sepuluh menit pertama, saya begitu gembira menemukan sebuah jamur besar berwarna kecoklatan dan berteriak gembira dengan semangat empat-lima: “Look! I found something!”… T’s mom segera datang ke arah saya dan berkata dalam bahasa Norwegia: “No, that’s not what we’re looking for. That’s poisonous…” Oooopssss… ternyata oh ternyata…

Setelah itu saya menemukan jamur2x lain beraneka bentuk dan warna lainnya seperti putih, coklat, krem, merah, kuning, lonjong, pipih, bulat, oval, besar, kecil, solitaire, bergerombol…Tapi mana kantarel yang dicari?…. Yang ada justru jamur2x aneh bin ajaib yang termasuk jenis jamur beracun serta bisa menimbulkan berbagai efek tak diharapkan mulai dari diare, sakit perut, muntah, halusinasi, gangguan ginjal hingga kematian!….Hiiiiyyyy….

Foto: Ladang perburuan (yang jelas ini bukan tempat yang baik untuk masuk seorang diri dan tersesat, hanya baik untuk mencari ‘wangsit’ hehe :D)

Setelah sekian lama, akhirnya kantarel yang dicari pun muncul. Dari satu lokasi ke lokasi lain terlihat pola tempat yang disukai jenis jamur ini yakni lembab dan agak basah, di bawah batu, di bawah lapisan rumput, lumut atau tanah hutan yang agak dingin dan tak kena sinar matahari. Warna jamur kantarel yang kuning-jingga, serta bentuk tepiannya yang kriwil2x (keriting) serta agak pipih menjadikannya berbeda dari jamur lain. Namun ada jamur serupa yang harus diwaspadai yakni ‘fake chanterelles’.

‘Prinsip kehati-hatian’ yang harus selalu diingat saat berburu jamur adalah: ketika ragu apakah sebuah jamur itu beracun atau tidak maka jangan dipetik. Jadi, petiklah jamur yang yakin akan keamanannya untuk dikonsumsi. Berita tentang korban2x yang jatuh akibat salah petik beberapa kali muncul di media. Di Norwegia salah satu kasus yang cukup heboh menimpa satu keluarga yang mengakibatkan korban meninggal dan lainnya harus kehilangan ginjal akiban keracunan yang dialami.

Foto: Hasil perburuan

Hari itu selama 1 jam berburu, ‘tim pemburu kantarel’ berhasil mengumpulkan sekitar 7kilogram jamur dan sejumlah morel. Mmmmm, lumayannnn…

Tiba di Oslo, kantarel tadi kami masukkan di dalam panci untuk mengeluarkan air yang ada di dalamnya sebelum dimasukkan ke dalam freezer di lemari pendingin untuk diolah sewaktu2x. Pengetahuan tentang jenis2x jamur yang boleh atau tidak boleh dimakan, teknik perburuan dan pengolahannya adalah sesuatu yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya (umumnya dari garis ibu kepada anak perempuannya) di banyak daerah.

Khusus untuk T, karena tiga bersaudara semuanya adalah anak laki2x maka T mewariskan ilmu itu dari sang ibunda. Nampaknya saya harus belajar banyak. Untuk perburuan kali pertama ini, saya justeru lebih sibuk memotret daripada memelototi kantarel. Sorry, I’ll do my best… next time, with or without my camera 🙂

My Sailing Experience Day 6: Grimstad-Kristiansand (Tamat)

Lanjutan dari: My Sailing Experience Day 5: Tromøya-Grimstad

The Last Day

Di pagi hari yang tenang ini, matahari bersinar dengan terik, sementara langit dan laut terlihat begitu biru. Jam 7.30 pagi T sudah berteriak2x membangunkan “Let’s swim!…Let’s swim!!!…” Karena masih mengantuk saya menolak ajakan ini dan ‘merelakan’ Jan bersama T membuat sedikit ‘kegaduhan’ di luar kapal saat berenang.

Foto: Langit dan laut yang biru dan tenang

Sekitar satu jam kemudian kami pun menikmati sarapan pagi, menu kali ini adalah bacon, telur mata sapi dan sosis plus roti. Meski sudah lumayan beradaptasi dengan makanan yang aneh2x (lihat post: Gegar Budaya), namun khusus untuk roti perut saya masih mengalami kesulitan. Mungkin ‘default setting’ perut ini perlu dimodifikasi dahulu agar bisa menerima makanan seperti roti.

Foto: Sarapan pagi dengan telur mata sapi

Usai sarapan, lagi2x Jan dan T melanjutkan acara berenang. Saya sendiri merasa ngeri untuk terjun ke air karena nampak ubur2x hilir mudik. Tak kurang ada dua,… tiga,… lima,… delapan,… sepuluh ubur2x tak jauh dari kapal! Alhasil, saya bertugas menjadi pengawas ubur2x yang harus mengawasi dan memberi peringatan jika ada binatang yang mendekati Jan dan T. Yang perlu diwaspadai khususnya ubur2x berwarna kecoklatan atau jingga karena tentakelnya yang mencapai 1 meter lebih bisa menimbulkan rasa terbakar di kulit jika tersentuh.

Foto: Ubur2x yang perlu diwaspadai

Di antara sesi renang dan terjun bebas (dengan gaya sebebas-bebasnya), saya memotret Jan yang sedang memotret T yang sedang melompat ke air. Untuk lebih jelasnya, silahkan lihat illustrasi gambar di bawah ini 😀

Pelayaran hari terakhir ini dimulai jam 11 siang. Saat beranjak meninggalkan lokasi, terlihat sebuah kapal motor yang berisi sepasang manula, sama seperti kemarin kembali datang ke pulau tak jauh dari ‘Pernille’. Terlihat pula sekitar 15 buah kapal lain di sekitar, hari yang sibuk.

Foto: Jenis2x layar dalam buku panduan

Kapal memakai kemudi ‘auto-pilot’ dengan kecepatan hanya 3,88 knot. Kami berencana menuju Lillesund, namun rencana berubah menjadi Kristiansand (seperti rencana awal). Dengan kecepatan ini, perjalanan akan memakan waktu selama 3 jam berlayar. Di tengah jalan kami sempat sedikit berkompetisi dengan satu kapal layar yang juga menuju arah yang sama. Jan sempat mengintai aktivitas di kapal kompetitor dengan teropong (serius sekaleee…)

Foto: Kapal layar berbendera Denmark yang memukau

Perhatian kami terpecah ketika ada kapal layar lain berbendera Denmark datang dari arah berbeda. Nampak layar yang berkibar dan kapal yang meliuk tertiup angin, indah sekali… Serentak saya dan Jan sibuk mengambil foto2x kapal yang baru saja lewat tadi.

Foto: T memanjat tiang kapal

Jam dua siang, saya menyiapkan makan siang dibantu Jan. Menu kali ini adalah Oseng2x Sayur ala Phillipina yang tak jauh beda dengan tumis sayur di Indonesia, lagi2x dengan roti, hiks 😦

Dan di siang hari itu kami mengalami hal yang paling dikuatirkan saat berlayar: mati angin. Nyaris tak ada angin bertiup. Kecepatan kapal hanya 1,5 knot. Karena mengejar waktu untuk tiba di Kristiansand sebelum malam tiba, T memutuskan untuk memasang layar yang berbeda. Konfigurasi tali-temali ternyata mesti diubah dan T harus naik ke atas tiang kapal untuk memperbaiki simpul2x yang ada. Meski ‘hanya’ 5 meter saja, melihat T beraksi sempat membuat saya ngeri, takut jika tiang tiba2x patah (trus pegemana bisa balik ke Oslo nantinya?…jalan kaki? secara kita ada di tengah laut getooo?…:D)

Foto: Kapal penumpang ‘Color Line’ dengan rute Oslo-Kristiansand pp

Akhirnya, layar baru (tipe ‘spinnaker’) berhasil dipasang dan kecepatan kapal mulai bertambah. Jam 17.00 kami mulai memasuki perairan Kristiansand yang sangat sibuk. Terlihat kapal2x besar, sedang dan kecil hilir mudik. Salah satunya adalah ‘Color Magic’, yang berada di bawah perusahaan induk sama dengan kapal yang kami tumpangi saat nyaris jadi bonek di Kiel, Jerman (lihat post Nyaris Terlantar di Negeri Orang)

Foto: Peta navigasi yang berisi rambu2x, kedalaman air, lokasi yang harus diwaspadai, arah masuk kapal ke pelabuhan dsb.

Seperti biasa usai dilewati atau melewati kapal berbadan besar, maka hempasan gelombang besar akan datang mengikuti. Benar saja, beberapa menit kemudian gelombang pun datang dan membuat kami terangkat mengikuti gerakan air.

Foto: Deretan kapal yang bersandar di pelabuhan Kristiansand

Di kejauhan nampak kota Kristiansand yang adalah kota terbesar kelima di Norwegia dengan populasi sekitar 63,400 jiwa. Kota ini dikenal dengan upaya sukses mereka membersihkan laut yang terpolusi dengan sistem pembuangan sampah yang lebih baik untuk limbah industri serta sistem penyaringan pollutant sebelum berakhir di laut.

Sayang tak banyak waktu yang bisa dihabiskan lagi untuk menikmati kota dengan pelabuhan paling dekat ke Denmark ini. Usai melepas sauh, kami bertemu dengan Hans (T’s little brother) yang akan melanjutkan pelayaran ke tempat lain. Selanjutnya saya, T dan Jan kembali ke Oslo dengan mobil yang dipakai Hans dari Oslo.

Hari mulai gelap dan pelabuhan mulai nampak sepi. Kami pun beranjak meninggalkan kota yang sekaligus mengakhiri pelayaran dengan banyak warna serta momen2x yang indah ini. Pengalaman berharga yang membuat saya kian mengagumi dan mensyukuri kebesaran Illahi…

Kristiansand, 28 July 2008

My Sailing Experience Day 5: Tromøya-Grimstad

Lanjutan dari: My Sailing Experience Day 4: Risør-Tromøya

Usai sarapan, sekitar pukul 9.30 pagi ‘Pernille’ mulai meninggalkan ceruk tempat bermalam, melewati sebuah kapal layar ukuran medium berbendera Belanda yang ‘parkir’ tak jauh dari tempat kami. Hembusan angin terasa kencang dan layar pun mulai dipasang. Belum banyak kapal yang nampak di laut lepas.

Foto: Mengangkat jangkar yang perlu ekstra hati2x. Terkadang rumput laut, alga dan ubur2x beracun pun ikut tersangkut.

Dua jam lamanya kami memecah ombak, angin masih bertiup kencang dan mendorong kapal ke arah yang dituju. Langit nampak begitu biru. Di kejauhan terlihat 3 kapal layar lain yang menggunakan full sail. Saat seperti ini kami gunakan untuk menikmati pemandangan dan sesekali mengobrol tentang berbagai hal. Jan bercerita tentang kakek-neneknya yang masih hidup bersama dan mengalami ‘dementia’ (semacam penyakit lupa, jamak ditemui di kalangan manula). Terkadang satu sama lain –sang kakek dan nenek– tidak saling kenal dan saling tuduh sebagai intruder (penyusup) yang masuk ke rumah. Miris juga mendengar kisah ini.

Foto Kapal layar yang melaju bersama hembusan angin

Tengah hari, kami mulai memasuki perairan Grimstad. Layar pun mulai digulung dan motor mulai dihidupkan lagi. Nampak lalu-lalang kapal2x motor kecil di pintu pelabuhan. Sementara di pulau2x sekitar pelabuhan terlihat manusia2x yang sedang menikmati mandi matahari.

Foto: Mandi matahari

Foto: Pintu masuk pelabuhan yang sibuk

Kota yang berpopulasi sekitar 9500 orang ini di luar dugaan tidak sekecil yang kami perkirakan. Nampak jejeran apartemen bertingkat 4-5 yang menjadi resor kala musim panas ataupun menjadi tempat menghabiskan masa pensiun bagi para manula.

Foto: Welcome to Grimstad

Usai melepas jangkar dan merapat di pelabuhan, kami mencharge kembali barang2x elektronik dan baterai kapal. Menurut rencana, waktu yang dihabiskan tidak akan lebih dari 3 jam. Tak jauh dari pintu masuk, Jan membuang sampah dan bertemu dengan seorang anak kecil yang bertelanjang dada. Celana yang dikenakan si anak agak sedikit melorot dengan botol2x di tangan kanan-kirinya. Si anak rupanya kebingungan untuk menemukan tempat membuang botol2x tadi. Jan pun menunjukkan lokasi khusus yang disediakan untuk sampah pecah belah.

Foto: ‘Caught in the act’ alias ‘ketangkep basah’… (weleh…weleh…anak kecil mainannya kok beginian yak, sekaligus 4 botol pula ck…ck..ck… ) Sayang belum sempat dicek apakah itu botol Vodka, Chivas Regal atau Dom Perignon… 😀

Kami menikmati makan siang di ‘Cafe Ibsen’ yang terletak persis di depan ‘Ibsen Museum’. Henrik Ibsen (1828-1906)adalah seorang sastrawan paling dikenal kebanggaan Norwegia. Ketenarannya mungkin sama dengan Willian Shakespeare di sini. Untuk lebih lengkap, tulisan tentang Henrik Ibsen akan ditampilkan dalam postingan berbeda.

Foto: Menu makan siang: Tuna Salad dengan porsi raksasa

Menu yang ditampilkan memiliki nama2x unik dengan embel2x karakter cerita drama dan puisi karya Ibsen. Dalam konteks Indonesia, nama menu tersebut mungkin seperti ‘Salad Sitti Nurbaya’;’Sup Datuk Maringgih’; ‘Ikan saus krim Hang Tuah’; ‘Juice Lutung Kasarung’; ‘Nasi Goreng Bandung Bondowoso’; ‘Bakso Si Malin Kundang’ dan sebagainya.

Foto: Ibsen Museum nampak luar

Di dalam museum, nampak karya2x Henrik Ibsen edisi perdana yang tersimpan rapi di balik lemari kaca, ada pula maket kota Grimstad beberapa abad silam, foto2x, barang peninggalan dan perjalanan kisah hidup Ibsen, barang2x dari kapal yang terdampar di sekitar Grimstad ratusan tahun lalu. Di suatu ruangan nampak suasana asli apotek tempat Ibsen yang baru berumur 16 tahun magang selama 3 tahun. Tata cahaya yang remang2x, burung hantu yang diawetkan yang menatap tajam, bau obat serta bahan kimia yang tercium menimbulkan kesan ‘spooky’.

Foto: Di tempat inilah, Henrik Ibsen pernah menjadi Asisten Apoteker antara tahun 1847-1850. Tata ruang dan barang2x yang ditampilkan nampak seperti suasana aslinya.

Museum ini dibuka pada tahun 1916 dan menjadi museum tertua di Norwegia yang didedikasikan untuk Henrik Ibsen dua museum lain di Skien dan Årbiens menggambarkan periode kehidupan yang berbeda. Lokasi di Grimstad menjadi penting karena di sinilah Ibsen mulai menulis serta mempublikasikan karya2xnya yang pertama dan mulai dikenal secara luas. Usai menikmati museum, kami langsung kembali menuju pelabuhan dan siap2x melanjutkan perjalanan kembali.

Foto: ‘Pernille’ bersandar di pelabuhan dan kanal untuk charging listrik dengan kabel yang berseliweran.

Jam 5 sore kami bersandar di dekat sebuah pulau kecil di luar kota Grimstad. Lagi2x banyak terlihat mereka yang sedang menikmati matahari di pulau2x batu yang tersebar. Suara mesin motor boat yang berseliweran masih terdengar sesekali di kejauhan yang menggema terbawa angin. T memasang hammock dan membaca koran sebelum berenang. Sementara Jan sedang siap2x untuk meloncat ke air saat menyadari ada beberapa ubur2x beracun berkeliaran di sekitar kapal. Alhasil saya pun bertugas untuk mengamati ‘peredaran’ mahluk tadi dan memberi tahu posisi terakhir yang aman untuk berenang di air.

Foto: Situasi yang sangat tidak ‘sopan’ :). Jan sibuk membantu di dapur, sedangkan T asyik membaca koran…

Jam 20.00 makan malam disiapkan. Jan dengan tekun mengikuti ‘petunjuk’ yang saya berikan berdasarkan pegangan dalam buku primbon (eh,mmmm…buku resep masakan :D) yang menjadi panduan. Dengan sigap Jan memasukkan corriander, cumin, daun sereh, kunyit, daun kari ke dalam nasi yang sudang dicampur dengan santan kelapa. Untuk Ikan Bumbu Bali, saya harus menggunakan ulekan yang sudah disiapkan. Jan yang penasaran ingin mencoba justru membuat saya tertawa dengan jurus menguleknya yang destruktif, tak terfokus dan aneh bin ajaib, hehe 😀 (sorry Jan…, thanks for helping me, anyway)

Foto: Telur Balado, Nasi Kari plus Ikan Salmon Bumbu Bali

Satu setengah jam kemudian malan malam pun siap disajikan. Entah karena lapar atau memang rasanya yang betul2x lezat, kami semua melahap habis makanan yang ada di depan mata dan di dalam panci 🙂

Usai makan malam, Jan dan T mencuci piring dan membersihkan dapur. Saya?…sibuk menikmati keindahan suasana senja hari sambil mensyukuri ‘berkah’ kala dua pria sekaligus berada di dapur dan sibuk mengerjakan pekerjaan domestik yang ‘konon’ jadi tanggung jawab perempuan. Yeahhh!… 😀

Foto: Nuansa warna senja yang indah dan menyejukkan hati

Langit senja hari nampak bagaikan sebuah kanvas putih raksasa dengan guratan warna2x violet, biru muda, merah jambu, ungu dan broken white silih berganti. Indah sekali. Burung camar pun nampak sesekali mengepakkan sayapnya terbang kian kemari. Sementara beberapa motor boat mulai meninggalkan pulau2x kecil yang disinggahi kala malam semakin beranjak…

Grimstad, 27 July 2008

Bersambung ke:
My Sailing Experience Day 6: Grimstad-Kristiansand

My Sailing Experience Day 4: Risør-Tromøya

Lanjutan dari: My Sailing Experience, Day 3: Kragerø-Risør

The Real Sailing Day

Setelah sekian lama dinanti, akhirnya angin yang ditunggu2x pun datang. Kami bangun jam 6.10 pagi, sarapan sekitar 20 menit dan siap2x melaju dengan layar terkembang. Ada rasa was2x bahwa kami akan mengalami ‘mati angin’ seperti hari sebelumnya, namun prakiraan cuaca yang menyatakan bahwa angin akan bertiup sepanjang rute yang akan dilalui membuat optimis.

Foto: Layar terkembang

Di pagi yang indah ini matahari bersinar dengan cerahnya (langit mulai terang jam 4 pagi), full sail disertai tiupan angin membuat kapal kami melaju dengan kecepatan 6,5knot (kecepatan yang biasa dipakai saat kapal berjalan dengan mesin adalah 5 knot) di antara ketinggian ombak yang mencapai sekitar 1,5 meter. Ombak di wilayah tempat kami berlayar memang lebih tinggi karena berada di lautan terbuka (Skagerrak) yang menyatu dengan North Sea (Laut Utara).

Belum banyak kapal2x lain yang melaut di jam seperti ini. Kapal pertama yang dijumpai adalah sebuah kapal nelayan tua yang penuh dengan muatan dan berbagai pernak-pernik menangkap ikan seperti jala dan pelampung untuk penanda jaring yang ‘ditanam’ di laut.

Foto: Kapal nelayan yang kami jumpai

Tak lama kemudian nampak di kejauhan sekitar enam buah kapal motor kecil. Tidak terlihat kapal layar lain meski situasi saat itu sangat ideal untuk berlayar. Sekitar jam 9.30 pagi, angin bertiup sangat kencang diikuti hempasan air yang datang dari arah depan. Ada sensasi tersendiri si saat seperti ini. Adrenalin pun melaju cepat saat kapal dihempas angin dan gelombang laut.

Foto: Alat bantu navigasi sekaligus penunjuk kemiringan kapal, dalam keadaan sangat ekstrim kemiringan bisa mencapai 30 derajat.

Meski menyenangkan sekaligus menegangkan, T sebagai ‘kepala kapal’ akhirnya memutuskan untuk menggulung sebagian layar untuk mengurangi kecepatan. Kapal bisa oleng seketika jika arah angin tiba2x berubah saat melaju terlalu kencang. Selain itu, kecepatan yang terlalu tinggi membuat kapal sulit dikontrol jika ada kapal motor yang tiba2x lewat atau perairan dangkal yang tidak terdeteksi.

Jam 14.30, di perairan yang lebih tenang di luar Tvedestrand yang dikenal sebagai ‘Kota Buku’ kami pun beristirahat, menikmati makan siang plus berkeliling di pulau sekitar yang tak terlalu luas.

Foto: Menu makan siang: sup sayuran dengan dessert buah mandarin plus peach segar. Yummy!

Usai makan siang, T dan Jan berenang sebentar di air yang suhunya lumayan ‘hangat’, yakni sekitar 17 derajat Celcius. Di kejauhan nampak orang yang hilir mudik, bersantai di atas kapal atau bermain di tepi pantai. Jika diamati, pulau2x di sekitar kami didominasi oleh bebatuan. Panas matahari yang terik adalah berkah tersendiri di musim panas yang betul2x dinikmati di sini dengan berbagai cara, termasuk di atas ‘pulau batu’ tadi.

Foto: Menikmati berkah musim panas: cahaya matahari

Saat ‘Pernille’ meninggalkan lokasi, kami berpapasan dengan kapal2x lain yang datang dan pergi ke arah berlainan. Kali ini nyaris tidak ada angin meski kami memakai double sail. Kapal pun melaju dengan sedikit lambat dibandingkan dengan perjalanan pagi hari sebelumnya. Jan pun mengisi waktu dengan mengambil foto2x pemandangan yang ada di sekitar.

Foto: Aksi Jan saat jadi tukang potret 🙂

Jam 16.30 kami pun memasuki Tromøya, sebuah tempat yang indah dan tenang dikelilingi (lagi2x) pulau batu. Di tepian, sesekali nampak rumah dengan desain futuristik yang didominasi jendela2x kaca besar dan bentuk kotak. Sementara rumah tradisional Norwegia umumnya terbuat dari kayu dengan warna kuning tua, merah marun atau putih yang terbuat dari kayu timber.

Foto: Salah satu contoh desain rumah yang non-konvensional

T dan Jan menyempatkan diri untuk berkeliling pulau dan bermain bola voli pantai. Sekitar jam 19.00 kami menikmati makan malam dengan menu grilled meat, sambal tomat (tanpa cabai….hiks :(… cabeee deeehhh…), brokoli dan wortel rebus.

Usai makan malam, T membuat special dessert berupa ‘Grilled Banana’. Karena penasaran, saya pun mengamati dengan seksama cara pembuatannya yang agak sedikit ‘barbar’ :D. Pertama, pisang utuh yang sudah matang disobek tengahnya dengan tangan, selanjutnya coklat batangan –yang sudah dipotong2x– dimasukkan dengan paksa ke dalam tubuh si pisang yang malang itu. Pisang selanjutnya dipanggang di atas api selama beberapa menit dan siap disajikan. Rasanya?… lumayannn… Mmmmm, lumayan aneh buat saya, hehe 😀

Foto: Grilled banana ala T

Selanjutnya Jan dan T mencuci piring, sementara saya sibuk mengamati senja hari yang tenang dan damai serta mengambil beberapa foto. Sayang, tempat kami berada ini adalah sebuah perairan tertutup. Semburat cahaya matahari terbenam pun tersembunyi di balik pulau.

Sisa waktu malam itu kami habiskan dengan berdiskusi dengan berbagai topik mulai dari isu pembangunan, teknik, politik, buku, fotografi sampai cerita horror. Jan menceritakan sebuah kisah yang ia pernah baca di salah satu artikel. Kisah nyata yang terjadi di sebuah lighthouse (mercu suar) yang banyak tersebar di perairan terpencil, jarang didatangi orang dan terisolasi dari dunia luar.

Foto: The lighthouse

Once upon a time…pada suatu malam… di awal musim dingin, ada suara ketukan di pintu mercu siar beberapa kali. Sang petugas mercu suar pun membuka pintu diiringi rasa heran karena tak melihat ada kapal datang apalagi ia sedang tidak menunggu tamu. Saat dibuka, tak ada orang lain yang dijumpai selain jejak2x langkah kaki.

Karena rasa penasaran, keesokan harinya ia pun membuntuti jejak tadi dan menemukan sebuah kapal nelayan yang nampaknya telah beberapa hari atau minggu terdampar di salah satu sisi pulau. Semua penumpang tewas di tengah dinginnya laut utara. Kalau semua penumpang telah tewas sejak lama, lalu siapakah yang mengetuk pintu tadi malam? Tidak ada perkampungan atau rumah penduduk di pulau itu. Hiiiiyyyyy……

Foto: Senja di ceruk kecil yang tenang dan damai

Saya sendiri menceritakan kisah yang ada di salah satu buku karya Gabriel Garcia Marquez, tentang para pelaut naas yang kapalnya karam. Tokoh utama cerita adalah satu2xnya penumpang yang selamat. Sang tokoh bersumpah bahwa seorang kawannya yang sudah tewas selalu datang di waktu2x tertentu dan menemaninya saat terapung di tengah laut. Sang kawan yang tewas dalam seragam dinas putih2x pun datang dengan pakaian yang sama yang dikenakan saat ia tewas; mereka berdialog, bercanda, bercakap dan saling menggoda.

Entah mengapa, ‘kunjungan’ tadi berhenti pada suatu hari. Belakangan, si tokoh yang akhirnya selamat mengetahui bahwa waktu ‘kunjungan’ terakhir itu bertepatan dengan Misa Requiem (misa kematian untuk melepas jenazah bagi orang Katolik) bagi seluruh awak kapal naas –termasuk si tokoh– yang dianggap telah tewas…

Tak terasa sehari penuh sudah kami ‘bermain’ di laut dan menikmati keindahan ciptaan Tuhan. Di sini, di sebuah tepian perairan kecil yang tenang dan damai kami pun menutup hari…

Tromøya, 26 July 2008

Berlanjut ke: My Sailing Experience Day 5: Tromøya-Grimstad

17 Agustus 2005

Perayaan 17 Agustus tahun 2005 lalu mungkin tidak jauh berbeda di tempat2x lain di Indonesia. Namun, hari dan tanggal yang sama menjadi sedikit ‘lain’ ketika berlangsung di bumi Nanggroe Aceh Darussalam. Tepat dua hari sebelumnya, kesepakatan damai dengan pemerintah RI ditandatangani di Helsinki yang mengakhiri puluhan tahun konflik berkepanjangan.

Suasana tegang sudah terasa sejak seminggu sebelumnya. Pihak keamanan (dari bocoran yang saya dapat) juga sudah siaga maksimal untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang tidak diharapkan.

Foto: Tarik tambang.

Saat itu, saya mendapat undangan dari para ibu polwan yang bersama kami bertugas mengamankan para pengungsi anak korban tsunami. Acara diselenggarakan di salah satu kamp pengungsi yang dimotori sebuah LSM internasional bekerjasama dengan para relawan.

Foto: Para ‘pengamat’

Acara dimulai dengan lomba makan kerupuk yang diikuti anak2x, disusul lomba lain seperti tarik tambang, panjat pinang, balap karung dan ditutup dengan acara dangdutan.

Foto: Lomba makan kerupuk dan para suporter

Di luar perkiraan saya, penonton yang datang membludak dan penuh antusias mengikuti jalannya pertandingan. Wajah2x penasaran, ingin tahu, bercampur dengan tawa ceria anak2x dan penonton menyaksikan aksi dan atraksi yang berlangsung nampak sepanjang kegiatan berlangsung.

Foto: Reaksi penonton yang beraneka ragam 🙂

Di antara wajah2x ceria dan tawa, tentu saja tetap terlihat raut waspada dan sedikit tegang. Membangun kepercayaan seusai konflik memang tidak mudah.

Meski lebih dari 3 tahun sudah saya menginjakkan kaki di tanah rencong untuk kali pertama dan menyusuri jejak2x pelosoknya yang penuh warna, kenangan akan Aceh akan selalu terpatri dalam ingatan. Semoga kedamaian tetap terjaga di bumi serambi Mekah ini.