My Sailing Experience, Day 2: Nevlunghavn-Kragerø

Lanjutan dari: My Sailing Experience Day-1: Stavern – Nevlunghavn

Jam 8.30 pagi, perjalanan kembali dimulai. Sebelum meninggalkan Nevlunghavn, kami melakukan manuver kecil, mengitari pelabuhan. T memegang kemudi kapal dan saya sedang beres2x di dapur saat tiba2x… “Braaakkkk!!!…” terdengar suara keras dari bagian bawah lambung kapal. ”What is that?…” , tanya saya pada T sambil setengah berteriak karena kuatir. “Just a shallow ground…” ujar T dengan kalem.

Selama beberapa kali berlayar dengan ’Pernille’, hal ini adalah kejadian pertama yang saya alami. Rupanya T terlalu asyik memperhatikan kapal2x yang sedang ’parkir’ dengan manis di pelabuhan. Saya sempat berteori dalam hati bahwa bagi insinyur teknik seperti T yang senang bertualang, memperhatikan kapal dan seluk beluknya bisa memberi efek serupa dengan memperhatikan mobil, motor, komputer, perlengkapan elektronik dan sejenisnya (well, no comment *wink-wink*).

T selanjutnya menjelaskan agar saya tidak terlalu kuatir karena kecepatan kapal saat itu rendah dan lambung bawah kapal dilengkapi logam untuk melindungi kapal dari benturan, dan kapal pun terus melaju…

Foto: ‘Gerombolan’ para mobile camper yang menyulap kendaraan mereka menjadi tenda praktis dan serbaguna

Saat berlayar, selain memperhatikan arah di peta, mengamati kedalaman air adalah hal yang tak bisa ditawar. Untuk ‘Pernille’ , kedalaman air yang dianggap aman minimal 1,5 meter. Ngeri juga membayangkan keadaan yang lebih buruk dari ‘insiden kecil’ di pagi hari tadi (jauh2x deh). Meski T terbiasa berlayar dan mempelajari navigasi sejak usia belasan tahun (di waktu luang), namun ia juga manusia biasa yang bisa membuat kesalahan.

Pengalaman paling mencekam saat berlayar bersama T terjadi ketika libur musim panas tahun lalu. Dalam pelayaran dengan kapal yang sama ke arah selatan Norwegia, kami sempat terjebak badai kecil di perairan sekitar Tonsberg. Berada di tengah laut dengan dua layar terkembang di saat angin bertiup kencang memang mengasyikkan dan memicu adrenalin, khususnya saat kapal meluncur deras meliuk mengikuti gelombang dan arah angin. Untuk menghindari hal2x tak diinginkan seperti terlontar ke luar kapal, kami harus memakai harness (kait) di pinggang dan dikaitkan di salah satu sisi kapal. Di tengah angin kencang dan hujan deras kesigapan memainkan layar dan melihat arah angin sangat diperlukan.

Foto: Hytta (kabin)di tepi pantai. Semakin indah pemandangan di sekitar lokasi, semakin mahal harga jualnya.

Jam 1 siang, kapal berhenti sebentar untuk menikmati pemandangan dan makan siang di Stråholmen. Supaya praktis, saya hanya menyiapkan tortellini soup dengan campuran sosis dan tomate puree. Not bad.

Pulau2x kecil di sekitar tempat kami berhenti hanyalah batu2xan yang terkadang ditumbuhi pepohonan kecil, nampak gersang buat saya tetapi didatangi oleh cukup banyak orang. Para pengunjung tiba di pulau2x tadi dengan kapal untuk selanjutnya menikmati mandi matahari atau hanya duduk2x sambil BBQ dan bercengkerama. Berdasarkan petunjuk di buku, beberapa pulau digunakan sebagai area konservasi burung liar.

Saya sempat mencoba upload tulisan tentang pelayaran di hari pertama sebelumnya lewat koneksi internet nirkabel tanpa hasil memuaskan (ya iya lahhh….di tengah laut getooo…loohhhh…)

Foto: Petunjuk penting yang harus selalu diingat saat berlayar dengan sailing boat, berisi info tentang arti tanda2x yang dijumpai di laut.

Satu setengah jam kemudian, kami bersiap2x untuk melanjutkan perjalanan. Saya sedang ada di toilet ketika kemudian terdengan T berteriak ”Please give me the gloves now!…”. Ternyata, T yang sedang mengangkat jangkar kapal menemukan beberapa ubur2x (jellyfish) tersangkut di rantai jangkar. Saya sempat melihat tentakel seperti lendir panjang dari jenis ubur2x yang bisa menimbulkan rasa terbakar jika menyentuh kulit (hiiiyyyy….)

Sebelum melanjutkan pelayaran, kami harus memastikan bahwa semua barang di dalam kapal berada dalam posisi aman. Jika kapal sedang melaju dan oleng karena hempasan gelombang atau angin, selain bisa membahayakan, barang2x yang bertaburan kian kemari bukanlah pemandangan yang enak dilihat.

Foto: Anak2x pemberani di atas motor boat

Meninggalkan perairan sekitar Stråholmen, kami harus melewati bagian perairan yang bisa ’berbahaya’ karena kedalaman yang hanya 50 CM hingga 1 M dengan jarak satu sama lain saling berdekatan. T meminta saya mengamati dari ujung depan kapal dan memberi informasi jika dasar perairan nampak. Setelah beberapa saat, terlihat dasar perairan yang berupa bebatuan kecoklatan, alga di dasar air yang kehijauan di antara siluet air yang terkena cahaya matahari. Duduk di bagian ujung depan kapal yang sedang melaju di tengah laut sempat menimbulkan imajinasi melayang ke film ’Titanic’ saat mas Leo dan mbak Kate beradegan mesra (hmmm…).

Sesekali ketika saya mendapat angle dan obyek pemotretan yang pas, kamera di tangan pun langsung beraksi. Tinggalah T yang sibuk mengingatkan tugas mengamati dasar air tadi. Yah, dasar ndablek (bandel) saya tetap mengambil foto seorang anak yang tanpa kenal takut duduk di depan kapal lain yang sedang meluncur dengan suara motor meraung2x. Alhasil T pun berkata: ” Kamu mau kapalnya nabrak karang atau ngambil foto seehhh….,” T hanya bisa geleng2x kepala sambil sibuk memegang kemudi. Sorry dear…

Foto: Galeri lukisan yang banyak dijumpai di kota2x sepanjang pantai

Jam 6 sore, kami memasuki pelabuhan Kragerø. Dari kejauhan nampak deretan rumah2x berwarna putih yang padat memenuhi bukit batu yang tersebar seperti pulau2x kecil. Akhirnya, kami mendapat tempat untuk ’parkir’ di dalam pelabuhan. Enaknya saat berlabuh di kota yang cukup besar, kami bisa mendapat supply air bersih dan listrik juga kamar mandi bagi pengunjung pelabuhan. Langsung saja semua peralatan yang menggunakan listrik dicharge kembali mulai dari laptop, baterai kapal, kamera hingga HP.

Foto: Deretan tempat tinggal dan resort sepanjang pelabuhan Kragerø

Keluar dari kapal kapal, kami melihat2x pusat kota Kragerø yang tidak terlalu besar namun dipenuhi deretan toko2x dan wisatawan. Hanya satu dua kali saya melihat wajah Asia atau Afrika di kota yang padat ini. Sekilas deretan rumah2x di atas bukit dan tengah kota mengingatkan pada rumah2x di pulau wisata Yunani (namun beda material bangunan). Di sisi2x kota yang terpencil dan tidak banyak dilalui orang nampak rumah2x tua yang mungkin berusia ratusan tahun terbuat dari kayu bercat putih.

Foto: Kolam renang di tepi pantai yang menjadi favorit anak2x dan remaja

Setelah mencoba mencari, akhirnya kami bisa menemukan jalan ke arah puncak bukit yang merupakan jalan setapak kecil di sela2x pagar halaman rumah penduduk. Nampaknya tidak banyak orang yang berminat pergi ke atas puncak berbatu tersebut. Dari atas bukit, nampak pemandangan seluruh pelabuhan yang dipenuhi oleh kapal berbagai bendera, mulai dari Norwegia, Swedia, Denmark, Belanda juga Jerman.

Foto: Kapal2x di pelabuhan Kragerø yang padat dan sesak

Usai melihat2x kota, kami kembali ke kapal pukul 21.30, sebuah kapal motor kecil merapat dan minta ijin untuk parkir paralel dengan kapal kami. Hal ini umum dilakukan jika pelabuhan penuh. Tak jarang kapal2x berukuran kecil dan medium harus parkir paralel hingga tiga kapal bersisian ke arah luar dan saling mengikatkan diri satu sama lain dengan kapal terdekat ke pelabuhan harus ’ikhlas’ menjadi tempat lalu lalang penumpang kapal di sebelahnya.

Foto: Sale musim panas, harga bikini yang ditawarkan setelah diskon tetap lebih mahal dari harga sale barang yang sama di Oslo. Anak2x pun ‘menyerbu’ stand gula2x berbentuk panjang lurus seperti ular warna-warni

Jam 22.30 malam T mengisi kembali tangki air dan membuang sampah, saya pun selesai menyiapkan makan malam. Menu kali ini: ayam goreng, sambal tomat plus lalap ketimun dan daun selada. Tentu saja menu ini sudah dimodifikasi sedemikian rupa mengikuti ’default setting’ perut orang sini seperti sambal tomat tanpa cabai dan kentang sebagai pengganti nasi sebagai pelengkap hidangan.

Foto: Sisi Kragerø yang indah, disela2x rumah timber bercat putih

Berdasarkan kesepakatan tak tertulis, T akan mencuci piring usai makan jika saya yang memasak dan menyiapkan makanan, sebaliknya saya yang mencuci piring jika T memasak dan menyiapkan hidangan. Mungkin ini adalah ’equal gender distribution of labour ala Norwegia’.

Bukan hal yang aneh melihat pria Norwegia memasak, bersih2x rumah atau mencuci piring. Setidaknya ini kebiasaan yang saya lihat di keluarga besar T. Buat saya pribadi, melihat laki2x di dapur –yang konon (by patriarchal mindset) dianggap sebagai ranah privat perempuan–adalah hal yang sangat ‘seksi’ dan menarik hati. Apalagi saat melihat T dengan baju lengan panjang resminya rela memakai celemek di dapur untuk membantu menyiapkan makan malam. Hmmmm, what a beautiful sight…

Jadi –buat yang merasa laki2x neh– memasak, bersih2x dan membantu perempuan di dapur atau pekerjaan domestik bukanlah hal yang ‘memalukan’ atau merendahkan martabat. Sebaliknya, tak sedikit perempuan justeru salut melihat pria yang maskulin sekaligus tak canggung menunjukkan sisi ‘lain’ tersebut. Memang tidak semua orang bisa menerima pemikiran seperti ini–baik perempuan maupun laki2x. Mitos2x tentang seksualitas yang keliru berasarkan pembagian ‘jenis kelamin’ sosial telah diwariskan dari generasi ke generasi dan dilembagakan dengan berbagai sistem kemasyarakatan yang ada. Namun, tidak ada hal yang mustahil untuk kesetaraan dan keadilan jender (yup, I am a dreamer :D)

Foto: Kota Kragerø dari puncak bukit di senja hari

Sebelum tidur, tak lupa T men-charge baterai untuk mesin kapal dan saya membaca buku ’Lonely Planet’ tentang Kragerø. Di buku ini disebutkan bahwa populasi Kragerø adalah 5300 jiwa. Kota kecil ini pernah menjadi tempat retreat bagi Edward Munch (pelukis Norwegia paling populer). Sebuah patung Munch berdiri di lokasi tempat sang artis melukis pemandangan matahari di musim dingin yang ada di atas perairan Kragerø.

Foto: Pelabuhan di malam hari dengan perairan yang merefleksikan cahaya lampu nan romantis

Kragerø, 12.05 AM

Berlanjut ke: My Sailing Experience, Day 3: Kragerø-Risør

3 thoughts on “My Sailing Experience, Day 2: Nevlunghavn-Kragerø

  1. Pingback: My Sailing Experience Day-1: Stavern – Nevlunghavn « My Life, My Search, My Journey

  2. Pingback: My Sailing Experience, Day 3: Kragerø-Risør « My Life, My Search, My Journey

  3. Otto_13

    cabe lagiii….., ach…, cabe lagiiii…
    cabenya liwat azah…, enggak mampir…
    ha..ha…..
    salut dech ama mbak…, photo-photonya bikin ngiler abiiieeezzz…….

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s