My Sailing Experience Day 4: Risør-Tromøya

Lanjutan dari: My Sailing Experience, Day 3: Kragerø-Risør

The Real Sailing Day

Setelah sekian lama dinanti, akhirnya angin yang ditunggu2x pun datang. Kami bangun jam 6.10 pagi, sarapan sekitar 20 menit dan siap2x melaju dengan layar terkembang. Ada rasa was2x bahwa kami akan mengalami ‘mati angin’ seperti hari sebelumnya, namun prakiraan cuaca yang menyatakan bahwa angin akan bertiup sepanjang rute yang akan dilalui membuat optimis.

Foto: Layar terkembang

Di pagi yang indah ini matahari bersinar dengan cerahnya (langit mulai terang jam 4 pagi), full sail disertai tiupan angin membuat kapal kami melaju dengan kecepatan 6,5knot (kecepatan yang biasa dipakai saat kapal berjalan dengan mesin adalah 5 knot) di antara ketinggian ombak yang mencapai sekitar 1,5 meter. Ombak di wilayah tempat kami berlayar memang lebih tinggi karena berada di lautan terbuka (Skagerrak) yang menyatu dengan North Sea (Laut Utara).

Belum banyak kapal2x lain yang melaut di jam seperti ini. Kapal pertama yang dijumpai adalah sebuah kapal nelayan tua yang penuh dengan muatan dan berbagai pernak-pernik menangkap ikan seperti jala dan pelampung untuk penanda jaring yang ‘ditanam’ di laut.

Foto: Kapal nelayan yang kami jumpai

Tak lama kemudian nampak di kejauhan sekitar enam buah kapal motor kecil. Tidak terlihat kapal layar lain meski situasi saat itu sangat ideal untuk berlayar. Sekitar jam 9.30 pagi, angin bertiup sangat kencang diikuti hempasan air yang datang dari arah depan. Ada sensasi tersendiri si saat seperti ini. Adrenalin pun melaju cepat saat kapal dihempas angin dan gelombang laut.

Foto: Alat bantu navigasi sekaligus penunjuk kemiringan kapal, dalam keadaan sangat ekstrim kemiringan bisa mencapai 30 derajat.

Meski menyenangkan sekaligus menegangkan, T sebagai ‘kepala kapal’ akhirnya memutuskan untuk menggulung sebagian layar untuk mengurangi kecepatan. Kapal bisa oleng seketika jika arah angin tiba2x berubah saat melaju terlalu kencang. Selain itu, kecepatan yang terlalu tinggi membuat kapal sulit dikontrol jika ada kapal motor yang tiba2x lewat atau perairan dangkal yang tidak terdeteksi.

Jam 14.30, di perairan yang lebih tenang di luar Tvedestrand yang dikenal sebagai ‘Kota Buku’ kami pun beristirahat, menikmati makan siang plus berkeliling di pulau sekitar yang tak terlalu luas.

Foto: Menu makan siang: sup sayuran dengan dessert buah mandarin plus peach segar. Yummy!

Usai makan siang, T dan Jan berenang sebentar di air yang suhunya lumayan ‘hangat’, yakni sekitar 17 derajat Celcius. Di kejauhan nampak orang yang hilir mudik, bersantai di atas kapal atau bermain di tepi pantai. Jika diamati, pulau2x di sekitar kami didominasi oleh bebatuan. Panas matahari yang terik adalah berkah tersendiri di musim panas yang betul2x dinikmati di sini dengan berbagai cara, termasuk di atas ‘pulau batu’ tadi.

Foto: Menikmati berkah musim panas: cahaya matahari

Saat ‘Pernille’ meninggalkan lokasi, kami berpapasan dengan kapal2x lain yang datang dan pergi ke arah berlainan. Kali ini nyaris tidak ada angin meski kami memakai double sail. Kapal pun melaju dengan sedikit lambat dibandingkan dengan perjalanan pagi hari sebelumnya. Jan pun mengisi waktu dengan mengambil foto2x pemandangan yang ada di sekitar.

Foto: Aksi Jan saat jadi tukang potret🙂

Jam 16.30 kami pun memasuki Tromøya, sebuah tempat yang indah dan tenang dikelilingi (lagi2x) pulau batu. Di tepian, sesekali nampak rumah dengan desain futuristik yang didominasi jendela2x kaca besar dan bentuk kotak. Sementara rumah tradisional Norwegia umumnya terbuat dari kayu dengan warna kuning tua, merah marun atau putih yang terbuat dari kayu timber.

Foto: Salah satu contoh desain rumah yang non-konvensional

T dan Jan menyempatkan diri untuk berkeliling pulau dan bermain bola voli pantai. Sekitar jam 19.00 kami menikmati makan malam dengan menu grilled meat, sambal tomat (tanpa cabai….hiks :(… cabeee deeehhh…), brokoli dan wortel rebus.

Usai makan malam, T membuat special dessert berupa ‘Grilled Banana’. Karena penasaran, saya pun mengamati dengan seksama cara pembuatannya yang agak sedikit ‘barbar’😀. Pertama, pisang utuh yang sudah matang disobek tengahnya dengan tangan, selanjutnya coklat batangan –yang sudah dipotong2x– dimasukkan dengan paksa ke dalam tubuh si pisang yang malang itu. Pisang selanjutnya dipanggang di atas api selama beberapa menit dan siap disajikan. Rasanya?… lumayannn… Mmmmm, lumayan aneh buat saya, hehe😀

Foto: Grilled banana ala T

Selanjutnya Jan dan T mencuci piring, sementara saya sibuk mengamati senja hari yang tenang dan damai serta mengambil beberapa foto. Sayang, tempat kami berada ini adalah sebuah perairan tertutup. Semburat cahaya matahari terbenam pun tersembunyi di balik pulau.

Sisa waktu malam itu kami habiskan dengan berdiskusi dengan berbagai topik mulai dari isu pembangunan, teknik, politik, buku, fotografi sampai cerita horror. Jan menceritakan sebuah kisah yang ia pernah baca di salah satu artikel. Kisah nyata yang terjadi di sebuah lighthouse (mercu suar) yang banyak tersebar di perairan terpencil, jarang didatangi orang dan terisolasi dari dunia luar.

Foto: The lighthouse

Once upon a time…pada suatu malam… di awal musim dingin, ada suara ketukan di pintu mercu siar beberapa kali. Sang petugas mercu suar pun membuka pintu diiringi rasa heran karena tak melihat ada kapal datang apalagi ia sedang tidak menunggu tamu. Saat dibuka, tak ada orang lain yang dijumpai selain jejak2x langkah kaki.

Karena rasa penasaran, keesokan harinya ia pun membuntuti jejak tadi dan menemukan sebuah kapal nelayan yang nampaknya telah beberapa hari atau minggu terdampar di salah satu sisi pulau. Semua penumpang tewas di tengah dinginnya laut utara. Kalau semua penumpang telah tewas sejak lama, lalu siapakah yang mengetuk pintu tadi malam? Tidak ada perkampungan atau rumah penduduk di pulau itu. Hiiiiyyyyy……

Foto: Senja di ceruk kecil yang tenang dan damai

Saya sendiri menceritakan kisah yang ada di salah satu buku karya Gabriel Garcia Marquez, tentang para pelaut naas yang kapalnya karam. Tokoh utama cerita adalah satu2xnya penumpang yang selamat. Sang tokoh bersumpah bahwa seorang kawannya yang sudah tewas selalu datang di waktu2x tertentu dan menemaninya saat terapung di tengah laut. Sang kawan yang tewas dalam seragam dinas putih2x pun datang dengan pakaian yang sama yang dikenakan saat ia tewas; mereka berdialog, bercanda, bercakap dan saling menggoda.

Entah mengapa, ‘kunjungan’ tadi berhenti pada suatu hari. Belakangan, si tokoh yang akhirnya selamat mengetahui bahwa waktu ‘kunjungan’ terakhir itu bertepatan dengan Misa Requiem (misa kematian untuk melepas jenazah bagi orang Katolik) bagi seluruh awak kapal naas –termasuk si tokoh– yang dianggap telah tewas…

Tak terasa sehari penuh sudah kami ‘bermain’ di laut dan menikmati keindahan ciptaan Tuhan. Di sini, di sebuah tepian perairan kecil yang tenang dan damai kami pun menutup hari…

Tromøya, 26 July 2008

Berlanjut ke: My Sailing Experience Day 5: Tromøya-Grimstad

2 thoughts on “My Sailing Experience Day 4: Risør-Tromøya

  1. Pingback: My Sailing Experience, Day 3: Kragerø-Risør « My Life, My Search, My Journey

  2. Otto_13

    Whuahaaaa….
    Cabe deeech……

    Emang bagi kita, rasa pedas cabe adalah surga bagi lidah…, meski kemudian panas dan berkeringat sejagung-jagung, tiada niata dalam hati untuk berhenti menyantapnya…, malah makin gila.., ha..ha…..

    Ech…, makasih ide “pisang belahnya”
    Hendak Otto cuba….
    Coklat batangannya yang manis atau yang masih pahit ya…..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s