My Sailing Experience Day 5: Tromøya-Grimstad

Lanjutan dari: My Sailing Experience Day 4: Risør-Tromøya

Usai sarapan, sekitar pukul 9.30 pagi ‘Pernille’ mulai meninggalkan ceruk tempat bermalam, melewati sebuah kapal layar ukuran medium berbendera Belanda yang ‘parkir’ tak jauh dari tempat kami. Hembusan angin terasa kencang dan layar pun mulai dipasang. Belum banyak kapal yang nampak di laut lepas.

Foto: Mengangkat jangkar yang perlu ekstra hati2x. Terkadang rumput laut, alga dan ubur2x beracun pun ikut tersangkut.

Dua jam lamanya kami memecah ombak, angin masih bertiup kencang dan mendorong kapal ke arah yang dituju. Langit nampak begitu biru. Di kejauhan terlihat 3 kapal layar lain yang menggunakan full sail. Saat seperti ini kami gunakan untuk menikmati pemandangan dan sesekali mengobrol tentang berbagai hal. Jan bercerita tentang kakek-neneknya yang masih hidup bersama dan mengalami ‘dementia’ (semacam penyakit lupa, jamak ditemui di kalangan manula). Terkadang satu sama lain –sang kakek dan nenek– tidak saling kenal dan saling tuduh sebagai intruder (penyusup) yang masuk ke rumah. Miris juga mendengar kisah ini.

Foto Kapal layar yang melaju bersama hembusan angin

Tengah hari, kami mulai memasuki perairan Grimstad. Layar pun mulai digulung dan motor mulai dihidupkan lagi. Nampak lalu-lalang kapal2x motor kecil di pintu pelabuhan. Sementara di pulau2x sekitar pelabuhan terlihat manusia2x yang sedang menikmati mandi matahari.

Foto: Mandi matahari

Foto: Pintu masuk pelabuhan yang sibuk

Kota yang berpopulasi sekitar 9500 orang ini di luar dugaan tidak sekecil yang kami perkirakan. Nampak jejeran apartemen bertingkat 4-5 yang menjadi resor kala musim panas ataupun menjadi tempat menghabiskan masa pensiun bagi para manula.

Foto: Welcome to Grimstad

Usai melepas jangkar dan merapat di pelabuhan, kami mencharge kembali barang2x elektronik dan baterai kapal. Menurut rencana, waktu yang dihabiskan tidak akan lebih dari 3 jam. Tak jauh dari pintu masuk, Jan membuang sampah dan bertemu dengan seorang anak kecil yang bertelanjang dada. Celana yang dikenakan si anak agak sedikit melorot dengan botol2x di tangan kanan-kirinya. Si anak rupanya kebingungan untuk menemukan tempat membuang botol2x tadi. Jan pun menunjukkan lokasi khusus yang disediakan untuk sampah pecah belah.

Foto: ‘Caught in the act’ alias ‘ketangkep basah’… (weleh…weleh…anak kecil mainannya kok beginian yak, sekaligus 4 botol pula ck…ck..ck… ) Sayang belum sempat dicek apakah itu botol Vodka, Chivas Regal atau Dom Perignon…😀

Kami menikmati makan siang di ‘Cafe Ibsen’ yang terletak persis di depan ‘Ibsen Museum’. Henrik Ibsen (1828-1906)adalah seorang sastrawan paling dikenal kebanggaan Norwegia. Ketenarannya mungkin sama dengan Willian Shakespeare di sini. Untuk lebih lengkap, tulisan tentang Henrik Ibsen akan ditampilkan dalam postingan berbeda.

Foto: Menu makan siang: Tuna Salad dengan porsi raksasa

Menu yang ditampilkan memiliki nama2x unik dengan embel2x karakter cerita drama dan puisi karya Ibsen. Dalam konteks Indonesia, nama menu tersebut mungkin seperti ‘Salad Sitti Nurbaya’;’Sup Datuk Maringgih’; ‘Ikan saus krim Hang Tuah’; ‘Juice Lutung Kasarung’; ‘Nasi Goreng Bandung Bondowoso’; ‘Bakso Si Malin Kundang’ dan sebagainya.

Foto: Ibsen Museum nampak luar

Di dalam museum, nampak karya2x Henrik Ibsen edisi perdana yang tersimpan rapi di balik lemari kaca, ada pula maket kota Grimstad beberapa abad silam, foto2x, barang peninggalan dan perjalanan kisah hidup Ibsen, barang2x dari kapal yang terdampar di sekitar Grimstad ratusan tahun lalu. Di suatu ruangan nampak suasana asli apotek tempat Ibsen yang baru berumur 16 tahun magang selama 3 tahun. Tata cahaya yang remang2x, burung hantu yang diawetkan yang menatap tajam, bau obat serta bahan kimia yang tercium menimbulkan kesan ‘spooky’.

Foto: Di tempat inilah, Henrik Ibsen pernah menjadi Asisten Apoteker antara tahun 1847-1850. Tata ruang dan barang2x yang ditampilkan nampak seperti suasana aslinya.

Museum ini dibuka pada tahun 1916 dan menjadi museum tertua di Norwegia yang didedikasikan untuk Henrik Ibsen dua museum lain di Skien dan Årbiens menggambarkan periode kehidupan yang berbeda. Lokasi di Grimstad menjadi penting karena di sinilah Ibsen mulai menulis serta mempublikasikan karya2xnya yang pertama dan mulai dikenal secara luas. Usai menikmati museum, kami langsung kembali menuju pelabuhan dan siap2x melanjutkan perjalanan kembali.

Foto: ‘Pernille’ bersandar di pelabuhan dan kanal untuk charging listrik dengan kabel yang berseliweran.

Jam 5 sore kami bersandar di dekat sebuah pulau kecil di luar kota Grimstad. Lagi2x banyak terlihat mereka yang sedang menikmati matahari di pulau2x batu yang tersebar. Suara mesin motor boat yang berseliweran masih terdengar sesekali di kejauhan yang menggema terbawa angin. T memasang hammock dan membaca koran sebelum berenang. Sementara Jan sedang siap2x untuk meloncat ke air saat menyadari ada beberapa ubur2x beracun berkeliaran di sekitar kapal. Alhasil saya pun bertugas untuk mengamati ‘peredaran’ mahluk tadi dan memberi tahu posisi terakhir yang aman untuk berenang di air.

Foto: Situasi yang sangat tidak ‘sopan’🙂. Jan sibuk membantu di dapur, sedangkan T asyik membaca koran…

Jam 20.00 makan malam disiapkan. Jan dengan tekun mengikuti ‘petunjuk’ yang saya berikan berdasarkan pegangan dalam buku primbon (eh,mmmm…buku resep masakan :D) yang menjadi panduan. Dengan sigap Jan memasukkan corriander, cumin, daun sereh, kunyit, daun kari ke dalam nasi yang sudang dicampur dengan santan kelapa. Untuk Ikan Bumbu Bali, saya harus menggunakan ulekan yang sudah disiapkan. Jan yang penasaran ingin mencoba justru membuat saya tertawa dengan jurus menguleknya yang destruktif, tak terfokus dan aneh bin ajaib, hehe😀 (sorry Jan…, thanks for helping me, anyway)

Foto: Telur Balado, Nasi Kari plus Ikan Salmon Bumbu Bali

Satu setengah jam kemudian malan malam pun siap disajikan. Entah karena lapar atau memang rasanya yang betul2x lezat, kami semua melahap habis makanan yang ada di depan mata dan di dalam panci🙂

Usai makan malam, Jan dan T mencuci piring dan membersihkan dapur. Saya?…sibuk menikmati keindahan suasana senja hari sambil mensyukuri ‘berkah’ kala dua pria sekaligus berada di dapur dan sibuk mengerjakan pekerjaan domestik yang ‘konon’ jadi tanggung jawab perempuan. Yeahhh!…😀

Foto: Nuansa warna senja yang indah dan menyejukkan hati

Langit senja hari nampak bagaikan sebuah kanvas putih raksasa dengan guratan warna2x violet, biru muda, merah jambu, ungu dan broken white silih berganti. Indah sekali. Burung camar pun nampak sesekali mengepakkan sayapnya terbang kian kemari. Sementara beberapa motor boat mulai meninggalkan pulau2x kecil yang disinggahi kala malam semakin beranjak…

Grimstad, 27 July 2008

Bersambung ke:
My Sailing Experience Day 6: Grimstad-Kristiansand

4 thoughts on “My Sailing Experience Day 5: Tromøya-Grimstad

  1. Pingback: My Sailing Experience Day 4: Risør-Tromøya « My Life, My Search, My Journey

  2. Pingback: My Sailing Experience Day 6: Grimstad-Kristiansand (Tamat) « My Life, My Search, My Journey

  3. Otto_13

    Whuaaa…..

    Jadi pengen blogging-photo nich…

    Ugh…, terlalu banyak keinginan dech Otto ini..

    BTW…, Otto selalu kesulitan merangkai cerita dan photo…, jadi sering-sering gak nyambung antara cerita dan phot…

    Punya mbak ini…, top-markotop dech…, gud-marsogud…, bisa jadi bahan acuan.

    Indah ya ciptaan Tuhan itu…., kok ya banyak yang tega merusaknya….

    Makasih mbak…, pencerahan di pagi hari nich….

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s