My Sailing Experience Day 6: Grimstad-Kristiansand (Tamat)

Lanjutan dari: My Sailing Experience Day 5: Tromøya-Grimstad

The Last Day

Di pagi hari yang tenang ini, matahari bersinar dengan terik, sementara langit dan laut terlihat begitu biru. Jam 7.30 pagi T sudah berteriak2x membangunkan “Let’s swim!…Let’s swim!!!…” Karena masih mengantuk saya menolak ajakan ini dan ‘merelakan’ Jan bersama T membuat sedikit ‘kegaduhan’ di luar kapal saat berenang.

Foto: Langit dan laut yang biru dan tenang

Sekitar satu jam kemudian kami pun menikmati sarapan pagi, menu kali ini adalah bacon, telur mata sapi dan sosis plus roti. Meski sudah lumayan beradaptasi dengan makanan yang aneh2x (lihat post: Gegar Budaya), namun khusus untuk roti perut saya masih mengalami kesulitan. Mungkin ‘default setting’ perut ini perlu dimodifikasi dahulu agar bisa menerima makanan seperti roti.

Foto: Sarapan pagi dengan telur mata sapi

Usai sarapan, lagi2x Jan dan T melanjutkan acara berenang. Saya sendiri merasa ngeri untuk terjun ke air karena nampak ubur2x hilir mudik. Tak kurang ada dua,… tiga,… lima,… delapan,… sepuluh ubur2x tak jauh dari kapal! Alhasil, saya bertugas menjadi pengawas ubur2x yang harus mengawasi dan memberi peringatan jika ada binatang yang mendekati Jan dan T. Yang perlu diwaspadai khususnya ubur2x berwarna kecoklatan atau jingga karena tentakelnya yang mencapai 1 meter lebih bisa menimbulkan rasa terbakar di kulit jika tersentuh.

Foto: Ubur2x yang perlu diwaspadai

Di antara sesi renang dan terjun bebas (dengan gaya sebebas-bebasnya), saya memotret Jan yang sedang memotret T yang sedang melompat ke air. Untuk lebih jelasnya, silahkan lihat illustrasi gambar di bawah ini😀

Pelayaran hari terakhir ini dimulai jam 11 siang. Saat beranjak meninggalkan lokasi, terlihat sebuah kapal motor yang berisi sepasang manula, sama seperti kemarin kembali datang ke pulau tak jauh dari ‘Pernille’. Terlihat pula sekitar 15 buah kapal lain di sekitar, hari yang sibuk.

Foto: Jenis2x layar dalam buku panduan

Kapal memakai kemudi ‘auto-pilot’ dengan kecepatan hanya 3,88 knot. Kami berencana menuju Lillesund, namun rencana berubah menjadi Kristiansand (seperti rencana awal). Dengan kecepatan ini, perjalanan akan memakan waktu selama 3 jam berlayar. Di tengah jalan kami sempat sedikit berkompetisi dengan satu kapal layar yang juga menuju arah yang sama. Jan sempat mengintai aktivitas di kapal kompetitor dengan teropong (serius sekaleee…)

Foto: Kapal layar berbendera Denmark yang memukau

Perhatian kami terpecah ketika ada kapal layar lain berbendera Denmark datang dari arah berbeda. Nampak layar yang berkibar dan kapal yang meliuk tertiup angin, indah sekali… Serentak saya dan Jan sibuk mengambil foto2x kapal yang baru saja lewat tadi.

Foto: T memanjat tiang kapal

Jam dua siang, saya menyiapkan makan siang dibantu Jan. Menu kali ini adalah Oseng2x Sayur ala Phillipina yang tak jauh beda dengan tumis sayur di Indonesia, lagi2x dengan roti, hiks😦

Dan di siang hari itu kami mengalami hal yang paling dikuatirkan saat berlayar: mati angin. Nyaris tak ada angin bertiup. Kecepatan kapal hanya 1,5 knot. Karena mengejar waktu untuk tiba di Kristiansand sebelum malam tiba, T memutuskan untuk memasang layar yang berbeda. Konfigurasi tali-temali ternyata mesti diubah dan T harus naik ke atas tiang kapal untuk memperbaiki simpul2x yang ada. Meski ‘hanya’ 5 meter saja, melihat T beraksi sempat membuat saya ngeri, takut jika tiang tiba2x patah (trus pegemana bisa balik ke Oslo nantinya?…jalan kaki? secara kita ada di tengah laut getooo?…:D)

Foto: Kapal penumpang ‘Color Line’ dengan rute Oslo-Kristiansand pp

Akhirnya, layar baru (tipe ‘spinnaker’) berhasil dipasang dan kecepatan kapal mulai bertambah. Jam 17.00 kami mulai memasuki perairan Kristiansand yang sangat sibuk. Terlihat kapal2x besar, sedang dan kecil hilir mudik. Salah satunya adalah ‘Color Magic’, yang berada di bawah perusahaan induk sama dengan kapal yang kami tumpangi saat nyaris jadi bonek di Kiel, Jerman (lihat post Nyaris Terlantar di Negeri Orang)

Foto: Peta navigasi yang berisi rambu2x, kedalaman air, lokasi yang harus diwaspadai, arah masuk kapal ke pelabuhan dsb.

Seperti biasa usai dilewati atau melewati kapal berbadan besar, maka hempasan gelombang besar akan datang mengikuti. Benar saja, beberapa menit kemudian gelombang pun datang dan membuat kami terangkat mengikuti gerakan air.

Foto: Deretan kapal yang bersandar di pelabuhan Kristiansand

Di kejauhan nampak kota Kristiansand yang adalah kota terbesar kelima di Norwegia dengan populasi sekitar 63,400 jiwa. Kota ini dikenal dengan upaya sukses mereka membersihkan laut yang terpolusi dengan sistem pembuangan sampah yang lebih baik untuk limbah industri serta sistem penyaringan pollutant sebelum berakhir di laut.

Sayang tak banyak waktu yang bisa dihabiskan lagi untuk menikmati kota dengan pelabuhan paling dekat ke Denmark ini. Usai melepas sauh, kami bertemu dengan Hans (T’s little brother) yang akan melanjutkan pelayaran ke tempat lain. Selanjutnya saya, T dan Jan kembali ke Oslo dengan mobil yang dipakai Hans dari Oslo.

Hari mulai gelap dan pelabuhan mulai nampak sepi. Kami pun beranjak meninggalkan kota yang sekaligus mengakhiri pelayaran dengan banyak warna serta momen2x yang indah ini. Pengalaman berharga yang membuat saya kian mengagumi dan mensyukuri kebesaran Illahi…

Kristiansand, 28 July 2008

8 thoughts on “My Sailing Experience Day 6: Grimstad-Kristiansand (Tamat)

  1. Pingback: Menembus Awan « My Life, My Search, My Journey

    1. Felicity Post author

      Iya…sepertinya nyaman….tapi kalo kelamaan bisa bosen juga kali ya….karena terlalu kecil….

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s