Mushroom Hunting

Istilah ‘mushroom hunting’, ‘mushrooming’, atau ‘mushroom picking’ adalah aktivitas memetik jamur di alam terbuka yang umumnya untuk dikonsumsi. Kegiatan ini cukup populer di kawasan Eropa, khususnya di negara2x Nordic (termasuk Norwegia), Balkan dan Slavik, juga di daerah Barat Laut benua Amerika. Beberapa jenis jamur yang menjadi ‘primadona’ antara lain: Chanterelles, Morels dan Puffbals.

Akhir pekan minggu lalu saya mendapat kesempatan mengikuti kegiatan yang seumur2x belum pernah dilakukan ini: berburu jamur. Acara ‘sopptur’ (mushroom trip) dilakukan di sela2x perayaan ultah ke-60 tante Rachel yang tinggal di sebuah kota kecil di Swedia yang hanya 500 meter dari perbatasan dengan Norwegia. Perjalanan dari Oslo hanya ditempuh dalam waktu 1,5 jam dengan kendaraan pribadi.

Foto: Panen

Persiapan yang harus dilakukan: sepatu boot kedap air, celana trekking, pisau khusus (yang seperti pisau kecil biasa di satu sisi dan kuas untuk membersihkan kotoran yang melekat di sisi lain), keranjang untuk menampung hasil panen. Khusus buat saya –sesuai kebutuhan– yang pasti: camera, topi (untuk melindungi kepala, dari hal2x yang tidak diinginkan), jaket kedap air (penting kalau tiba2x hujan dan perlindungan jika ada ular) dan mobile phone (kalau tiba2x tersesat dan hilang di hutan lalu pegemana, hayoooo?….:D)

Foto: Chanterelles yang tersembunyi di balik rumput dan lumut

Acara ‘sopptur’ diikuti oleh saya, T, tante Rachel dan suaminya, T’s mom and T’s senior. Sebagai pemula, maka T’s mom memberikan ‘kuliah pengantar’ yang berjudul kurang lebih ‘mushroom hunting for beginners’🙂. Isinya: mengenali sasaran, ‘mengeksekusi’ sasaran, mengamati perbedaan jamur beracun dan tidak beracun dan pengolahan jamur usai panen.

Foto: Jamur ‘jari’ yang bisa dimakan

Kegiatan berburu jamur dilakukan secara tahunan, khususnya di musim semi dan musim gugur. Masing2x pemburu jamur memiliki informasi tersendiri tentang dimana menemukan sasaran. Semakin sering berburu dan memahami ‘area mapping’ semakin besarlah kemungkinan mendapatkan hasil buruan. Jamur biasanya akan tumbuh di tempat yang sama dari tahun ke tahun, karenanya tak jarang sesama ‘pemburu jamur’ menyembunyikan lokasi yang mereka ketahui dari sesama ‘mushroom hunters’ lainnya.

Foto: Contoh jamur beracun

Saya hanya menangkap satu hal penting dari penjelasan T’s mom dan selalu diingat bahwa target utama perburuan adalah jamur kantarel (chanterelles). Jamur ini termasuk salah satu jamur mahal di pasaran yang dijual dengan harga sekitar 150 NOK per kilogramnya (sekitar Rp.250.000-Rp.300.000.- per kg). Penjelasan tentang jamur2x lain yang bisa dimakan tidak saya ingat dengan baik karena dalam prakteknya hanya jamur kantarel-lah yang paling mudah dikenali (alasan sesungguhnya seh karena: (1) malas mengingat ;(2) nggak mudeng alias nggak nyambung ;(3) bingung… :D)

Foto: The hunted

Hutan tempat berburu jamur ini terletak sekitar 10 menit dari rumah tante Rachel. Usai memarkir mobil, kami segera menyebar masuk ke dalam hutan dengan keranjang dan peralatan masing2x. Karena sudah sering datang ke lokasi, tante Rachel menjadi guide kami menuju tempat dimana kantarell biasa ditemukan.

Jalan masuk ke hutan selebihnya harus ditempuh dengan berjalan kaki melewati pohon2x besar yang rapat menghalangi cahaya matahari. Lantai hutan yang lembab dan berlumut basah seperti rawa2x. Sesaat saya teringat dengan illustrasi di buku2x cerita anak tentang ‘Putri Salju dan 7 kurcaci’ yang hidup di hutan dengan jamur2x bertaburan. Kurang lebih mungkin seperti inilah hutan itu. Lantai rumput bercampur dengan lumut nampak seperti karpet hijau raksasa. Di sela2x ‘karpet’ tadi muncullah tumbuhan unik beraneka bentuk dan warna: the mushrooms.

Foto: The hunters🙂

Ternyata tidak mudah menemukan kantarel. Sepuluh menit pertama, saya begitu gembira menemukan sebuah jamur besar berwarna kecoklatan dan berteriak gembira dengan semangat empat-lima: “Look! I found something!”… T’s mom segera datang ke arah saya dan berkata dalam bahasa Norwegia: “No, that’s not what we’re looking for. That’s poisonous…” Oooopssss… ternyata oh ternyata…

Setelah itu saya menemukan jamur2x lain beraneka bentuk dan warna lainnya seperti putih, coklat, krem, merah, kuning, lonjong, pipih, bulat, oval, besar, kecil, solitaire, bergerombol…Tapi mana kantarel yang dicari?…. Yang ada justru jamur2x aneh bin ajaib yang termasuk jenis jamur beracun serta bisa menimbulkan berbagai efek tak diharapkan mulai dari diare, sakit perut, muntah, halusinasi, gangguan ginjal hingga kematian!….Hiiiiyyyy….

Foto: Ladang perburuan (yang jelas ini bukan tempat yang baik untuk masuk seorang diri dan tersesat, hanya baik untuk mencari ‘wangsit’ hehe :D)

Setelah sekian lama, akhirnya kantarel yang dicari pun muncul. Dari satu lokasi ke lokasi lain terlihat pola tempat yang disukai jenis jamur ini yakni lembab dan agak basah, di bawah batu, di bawah lapisan rumput, lumut atau tanah hutan yang agak dingin dan tak kena sinar matahari. Warna jamur kantarel yang kuning-jingga, serta bentuk tepiannya yang kriwil2x (keriting) serta agak pipih menjadikannya berbeda dari jamur lain. Namun ada jamur serupa yang harus diwaspadai yakni ‘fake chanterelles’.

‘Prinsip kehati-hatian’ yang harus selalu diingat saat berburu jamur adalah: ketika ragu apakah sebuah jamur itu beracun atau tidak maka jangan dipetik. Jadi, petiklah jamur yang yakin akan keamanannya untuk dikonsumsi. Berita tentang korban2x yang jatuh akibat salah petik beberapa kali muncul di media. Di Norwegia salah satu kasus yang cukup heboh menimpa satu keluarga yang mengakibatkan korban meninggal dan lainnya harus kehilangan ginjal akiban keracunan yang dialami.

Foto: Hasil perburuan

Hari itu selama 1 jam berburu, ‘tim pemburu kantarel’ berhasil mengumpulkan sekitar 7kilogram jamur dan sejumlah morel. Mmmmm, lumayannnn…

Tiba di Oslo, kantarel tadi kami masukkan di dalam panci untuk mengeluarkan air yang ada di dalamnya sebelum dimasukkan ke dalam freezer di lemari pendingin untuk diolah sewaktu2x. Pengetahuan tentang jenis2x jamur yang boleh atau tidak boleh dimakan, teknik perburuan dan pengolahannya adalah sesuatu yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya (umumnya dari garis ibu kepada anak perempuannya) di banyak daerah.

Khusus untuk T, karena tiga bersaudara semuanya adalah anak laki2x maka T mewariskan ilmu itu dari sang ibunda. Nampaknya saya harus belajar banyak. Untuk perburuan kali pertama ini, saya justeru lebih sibuk memotret daripada memelototi kantarel. Sorry, I’ll do my best… next time, with or without my camera🙂

4 thoughts on “Mushroom Hunting

  1. Pingback: Tersesat di Hutan | My Life, My Search, My Journey

  2. Pingback: Musim Panen | My Life, My Search, My Journey

  3. Felicity

    Hehe…emangnya balapan…kayak di Koki aja😀. Iya jamur beracun, kalo nggak salah ada di keluarga Amanita something gitu dehhh… Trims udah mampir yeee…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s