Dinner for 9

Tadi malam, setelah beberapa kali tertunda acara dinner (makan malam) keluarga pun terlaksana. Menyiapkan dinner buat 9 orang ternyata cukup membuat nervous (maksudnya supaya mendapat kesan positif…) dan membutuhkan persiapan matang. Selama ini untuk urusan masak-memasak saya tidak memiliki sebuah track-record yang bagus.

Di kalangan keluarga di Jakarta selain dikenal agak tomboy, memakai rok setahun sekali dan alergi dengan sepatu berhak tinggi, saya juga lebih memilih untuk kabur daripada harus menyalakan kompor gas. Malu juga saat keponakan yang berumur 5 tahun justru membantu saya (ehm…) menyalakan kompor. Meski fakta tersebut sungguh merendahkan harkat dan martabat😀, namun saya lebih memilih bertugas di daerah konflik daripada harus berurusan dengan kompor gas.

Khusus untuk dunia masak-memasak, ibaratnya merebus air pun pasti berakhir tragis di tangan ini: gosong di atas panci dengan sukses… (hehe…)

Foto: Nasi Uduk Betawi dan Tumis Jamur Kantarel

Satu hal yang tidak saya mengerti adalah pandangan sesama rekan pelajar lainnya saat kost di asrama mahasiswa di Den Haag beberapa tahun lalu bahwa saya tidak memasak. Waktu itu, dapur yang ada harus di-sharing dengan 7 pelajar lain, maka tetangga kamar pun bisa mengintip apa yang kita masak saat berada di dapur.

Mousa, rekan dari Ghana misalnya hobi memasak planteen (bener nggak yah penulisannya, sejenis pisang yang jadi makanan utama di beberapa negara Afrika); Richard dari Kamerun hobi memasak daging cincang dengan saus tomat plus bumbu2x kari yang bercita rasa tajam; pelajar dari Jepang (lupa namanya) hobi memasak mie plus jamur spesial ala Jepang; Indah dan Cut, rekan pelajar asal Indonesia hobi memasak rendang, opor dan sejenisnya; Milka dari Bolivia hobi memasak…hmmmm…memasak apa yah? *mencoba mengingat2x*…wah tidak ingat karena ia memang jarang memasak😀

Foto: Ayam Bakar Bumbu Santan

Saya?…tentunya rajin memasak, misalnya: opor ayam, nasi goreng, rendang dengan bumbu instan ala Indofood yang dibawa dari Jakarta, plus tambahan ide2x baru seperti memasukkan wortel ke dalam rendang; buncis, jagung dan daun singkong ke opor ayam; bayam dan kangkung ke nasi goreng…(heiiiiyyyy….come on…what’s wrong with that?... :D)

Foto: Ikan Salmon Bumbu…nggg….bumbu apa yah? (wah sudah lupa, mohon maaf)

Tak lama kemudian, rumor (bisik2x tetangga) pun beredar bahwa saya tidak bisa memasak dan memiliki teknik memasak yang aneh bin ajaib: jurus tumplek- mbulek-blek-blek… (ini sih nama dari saya…:D). Mulai dari mbakyu Jane dari Kenya, tante Duduzille dan kawan2x Indonesia lain kadang menggoda. Padahal saya hanya enggan mengikuti resep dan aturan baku yang ada dalam resep masakan. Weleh…weleh…dimana penghargaan dan tempat untuk ruang kreativitas dan improvisasi kalau begini, yak?…

Yah sudahlah…yang lalu biarkan berlalu…

Foto: Soto Mie Matraman made in Oslo

Titik balik alias ‘turning point’ yang membuat diri ini sadar akan pentingnya mengikuti resep masakan terjadi tahun 2006 lalu. Saat itu, entah mengapa saya ingin sekali menikmati Apple Pie. Alhasil, karena ingin menyenangkan pasangan (ehm), T pun bersusah payah memasak sendiri di dapur dengan resep Apple Pie yang konon dihapal di luar kepalanya dan merupakan resep keluarga. Selanjutnya T sibuk meracik adonan, mengaduk2x, memasukkan ke dalam cetakan dan ke dalam oven. Dengan harap2x penasaran, saya menunggu.

Dan…saat T menunjukkan hasil masakannya, saya justru terkejut. Selama ini ‘konsep’ Apple Pie dalam benak saya adalah sebuah pastry cantik berisi potongan apel dengan hiasan adonan yang dipotong2x dan dibentuk seperti keranjang itu lohhh… Konsep ini pun berubah melihat Apple Pie buatan T yang buat saya tidak berbentuk, berantakan dan kacau-balau (sorry dear…) Akhirnya, selera makan pun langsung hilang diakhiri dengan sebuah perenungan mendalam untuk menganalisa kejadian itu. Eureka! Kesimpulan dan hikmah yang bisa dipetik adalah: mengikuti resep itu perlu!!!…(lebih baik terlambat sadar daripada tidak sadar2x…:D)

Sejak saat itu, mulailah acara masak-memasak menjadi kegemaran saya. Nikmat rasanya mencicipi masakan sendiri, apalagi jika mendapat pujian setelahnya (hehe…narsisss…) Tentu saja adegan seperti salah takaran, salah campur, salah mengikuti urutan resep, salah memilih bahan pengganti, gosong, terlalu banyak air, kurang air, ikan terlalu lembek, terlalu banyak garam, kurang garam, adonan melekat di wajan saat digoreng, nasi goreng menjadi bubur goreng, daging bagian luar matang namun mentah di dalam (kok bisa yah?…), kecipratan minyak saat menggoreng ikan, terlalu pedas, kurang bumbu, adonan pempek yang sekeras batu, perkedel jagung yang mirip telur dadar dan sebagainya pernah dialami😀

Foto: Gado2x Betawi dan Oseng2x Kentang

Sekarang, menurut T kemampuan memasak saya sudah melewati masa2x ‘parah dan menyedihkan’ (hehe :D), memasuki masa2x ‘bisa dibanggakan’ (cihuyyyy…thanks dear). Untuk acara dinner tadi malam saya memasak Ayam Bakar Bumbu Santan, Nasi Uduk Betawi, Tumis Jamur Kantarel (yang dipetik dalam acara sebelumnya, lihat post Mushroom Hunting) plus Salat Buah yang diletakkan dalam keranjang semangka asli buatan sendiri (suerrrr, kalau belum percaya juga… coba tanya ke guru prakarya di sekolah dulu hayooo…, dulu biarpun terlihat tidak meyakinkan saya sering mendapat nilai 9 lohhh dari nilai maksimum 10… *narsis mode on lagi*)

Foto: Keranjang semangka berisi Fruit Salad

Di akhir acara dinner T’s mom and dad, T’s brothers and couples juga tante Karen memuji masakan yang disajikan, terutama pernak pernik dekorasi dan keranjang semangka yang dibuat dengan susah payah (lumayannnnn…nggak sia2x deh perjuangan belanja semangka 7 kilo dan membedah buah semangka yang kali pertama ini dilakukan)

Posting kali ini adalah dokumentasi sekaligus menjadi saksi bagi keluarga dan kawan2x yang masih memiliki keraguan akan ilmu memasak saya. Gubrakkkk!!!…😀

 

14 thoughts on “Dinner for 9

  1. Pingback: A Beautiful Way to Waste Your Talent… | My Life, My Search, My Journey

  2. arqu3fiq

    Itu buah semangkanya beneran yang bikin mbak Feli? OMG. buah semangka di bedol dalamnya. bagus sekali keranjangnya. Great…
    *two thumb up*🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s