How Old Are You?

Berdasarkan pengamatan dan pengalaman pribadi, entah mengapa orang2x berdarah Asia (termasuk saya) sering terlihat lebih muda dari umur sebenarnya. Sering saat orang lain (non-Asian) menanyakan kepada saya: “How old are you?”… Biasanya saya yang kadang2x iseng menjawab balik: “Guess…” sambil tersenyum (baca: tersenyum menyeringai dalam hati dan terkekeh seperti tokoh2x jahat di film :D) dan yakin bahwa tebakan mereka akan salah. Dan…hampir 100% tebakan mereka memang salah!

Note: untuk banyak orang pertanyaan tentang umur adalah hal yang sensitif, namun untuk hal ini saya tidak terlalu ambil pusing (most of the time :D). Rata2x mereka menebak bahwa saya berumur 23,24,25,26,27 that’s all. Namun, jika pembicaraan dimulai dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja barulah mereka menebak umur saya sekitar 30-an tahun (tepatnya 32 tahun lebih 2 bulan)

Terlihat lebih muda dari usia sebenarnya seringkali menjadi masalah khususnya dahulu waktu masih menggunakan kartu ijin praktek pengacara. Di awal2x menerima klien di salah satu NGO perempuan di Jakarta, mayoritas yang datang adalah para ibu korban KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) dengan persoalan yang masih dalam taraf ‘ringan’ hingga luar biasa berat.

Saat melihat penampilan yang kurang meyakinkan dan terlihat seperti mahasiswa yang belum lulus kuliah mereka akan bertanya: “Mbak…mbak?… bener nih mbak pengacara?”…” Umurnya berapa mbak?”… “Sudah lulus kuliah belum?”… “Belum menikah ya?”… Sempat tersirat rasa kesal karena tidak dipercaya dan diragukan, namun saya tidak bisa menyalahkan mereka juga. Setelah intropeksi diri (lebih tepatnya: mematut2x diri di kaca :D), ternyata memang pandangan ibu tadi tak bisa disalahkan sepenuhnya.

Pengalaman tak menyenangkan lain terjadi saat berjalan bersama T yang 4 tahun lebih tua dan bertinggi badan 185 cm lebih. Sementara saya hanya memiliki tinggi badan 160 cm. Awalnya sempat ada rasa risih dan tidak percaya diri. Saat berwisata ke Pulau Lombok tahun 2006 lalu misalnya, pekerja di atas perahu menanyakan apakah saya ‘panggilan’ dari Bali atau Jakarta? Whaatttttttt?….Grrrrrhhh..(mau marah rasanya, namun karena sedang berada di tengah lautan dan si mas membantu nahkoda kapal, maka saya hanya bisa menahan diri sambil mencoba menetralisir suasana hati).

Saat berada di salah satu pulau, ada wisatawan asing (anak muda) yang melihat dengan aneh ke arah kami dan berbisik2x “She is too small for him…” Hhhhh…. (pengen ditabok ya mas…)

Di Oslo, mencari ukuran yang pas buat saya cukup menjadi persoalan meski kini ukuran XS sudah jamak ditemui. Kadang ukuran sepatu atau baju yang pas ditemukan di bagian anak2x yang notabene lebih menguntungkan karena biasanya di bagian ini harga lebih murah dan diskon lebih besaršŸ˜€. Pengalaman unik terjadi saat berbelanja dengan kawan lain, katakanlah Hanna yang jauh lebih besar. Saat saya sibuk mencari ukuran baju paling kecil untuk dewasa, Hanna justru sibuk mencari ukuran baju XL atau XXL. Tak jarang saya hanya bisa gigit jari saat ukuran yang dicari tidak tersediašŸ˜¦

Untuk berkeliling di pusat perbelanjaan di negara Eropa, saya belum cukup pe-de seorang diri memasuki toko, apalagi toko barang2x ber-merk. Memasuki toko2x ini ada rasa ‘dihakimi’ dari penampilan oleh para penjaga toko ketika melewati pintu masuk. Mereka pasti berpikir bahwa saya hanyalah anak kecil atau remaja yang iseng, penasaran bahkan mungkin pengutil potential?… (ini prasangka buruk saya…)

Karenanya, untuk aktivitas belanja dan window shopping… kawan2x lain yang terlihat lebih meyakinkan adalah senjata andalan untuk memasuki tokošŸ˜€. Saat di Den Haag beberapa tahun lalu, Najwa –seorang pelajar dari Ethiopia– sempat menjadi rekan seperjalanan. Namun, ia memiliki hobby yang aneh: yakni menawar tapi tidak pernah membeli, terlepas dari bisa ditawar atau tidaknya barang tadi. Bagi saya, menawar dilakukan jika kita memang memiliki uang dan niat membeli. Sedangkan menurut Najwa, menawar adalah hak konsumen yang harus dinikmati terlepas apakah ia mau membeli atau tidak, dan kebanyakan hanya karena didorong rasa penasaran.

Di setiap toko, Najwa biasanya melihat2x, mengepas baju, bertanya2x tentang produk yang dijual, menawar, minta dicarikan ukuran yang sesuai, model yang diinginkan, warna yang dicari, bahan yang pas dsb…dsb… dengan gaya meyakinkan. Namun pada akhirnya, ia tidak membeli apapun setelah memasuki sekitar 15 toko. Akhirnya karena merasa lelah hati, saya pun nekat bertanya (terjemahan bebas)…

Me: “Najwa, emangnya kamu niat mau beli nggak seh?… Dari tadi kok nanya2x mulu?…”

Najwa: “Nggak tuh. Saya iseng nanya2x. Mayannnn… bisa nyobain baju2x baru. Kalo mau beli baju mah mending di tanah kelahiran saya yang jauh lebih murah. Rugi kalo beli di sini…”

Me (dalam hati):” Hahhhhhh???????”

Mungkin saya terlalu sensitif dan merasa tidak enak dengan penjaga toko yang dengan susah payah, tergopoh2x melayani rekan tadi. Pada akhirnya justru sayalah yang membeli satu-dua baju atau barang untuk mengurangi rasa kecewa si penjaga toko. Sedangkan Najwa hanya tertawa kecil dan heran.

Najwa:” Hehe, kamu kayak kakak perempuan saya ajah. Saya yang sibuk nawar nggak beli apa2x. Eh malahan dia yang nemenin justru membeli barang yang nggak direncanakan”

Me: (dalam hati) “Kapok deh jalan bareng sama neng satu ini. Padahal niat awalnya saya cuma menemani, kok malahan jadi membeli. Bener2x makan hati. Nggak ada rasa bersalah lagi. Pfffff…” Menawar dan pilih2x barang memang hak konsumen, namun tidak berarti konsumen berhak seenak udelnya mengacak2x toko. Meski itu adalah tugas sang penjaga toko, bukan berarti kita bisa ‘bermain2x’ tanpa perasaan (hmmmm, mungkin saya memang terlalu sensitif yah)

Sepertinya saya harus lebih banyak belajar pe-de, tidak terlalu sensitif, bermuka tebal dan tidak mengandalkan orang lain, khususnya saat berada di tempat publik. Pada saat yang bersamaan, saya belajar untuk mengkamufulase umur, agar terlihat lebih tua dan dewasa (…yang ternyata tidak mudah)

7 thoughts on “How Old Are You?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s