Amie Pulang…

Note: tulisan kali ini didedikasikan untuk kawanku Amie yang baru saja menyelesaikan studinya dan kembali ke tanah air…

Dear Amie, akhirnya setelah dua tahun jatuh bangun kamu berhasil menyelesaikan semua tugas dengan baik. Beragam perasaan seperti campur-aduk tatkala ikut bersyukur dan bangga karena seorang lagi mahasiswa Indonesia telah lulus dengan baik di sini. Selamat yah😀

Sedih rasanya saat harus datang di malam terakhir tanggal 28 Agustus lalu untuk sebuah perpisahan. Berat rasanya kaki ini melangkah menuju asrama mahasiswa tempatmu menghabiskan hari2x selama ini.

Foto: Sailing trip di Oslofjord

Pertama kali kita berjumpa lewat email saat saya sedang mengalami masa2x homesick yang berat. Setelah beberapa bulan di Oslo, tak ada satupun orang Indonesia yang dijumpai (hmmmm, belum lapor ke kedutaan siyyy…:D). Di masa2x yang ‘menyedihkan’ itu, saya sampai nekat menebak2x sejumlah wajah Asia yang ditemui di toko Vietnam di Brugata dan bertanya: “Are you Indonesian?…” Dan dari banyak tebakan, semua menjawab: “No…”

Foto: Cuci piring terakhir…

Karenanya, saya begitu girang saat mendapat nomor teleponmu dan kita bisa bertemu untuk pertama kalinya dalam acara bersama pelajar lain… Finally… a bunch of Indonesian in Oslo…🙂

Acara malam itu betul2x mengobati kerinduan akan tanah air. Bisa bercakap2x, bercanda, berdiskusi, saling meledek dalam bahasa Indonesia, makan dan tertawa bersama rekan sebangsa di perantauan adalah kesempatan yang berharga untuk mengobati rasa yang ada di dada. Apalagi mengingat jumlah imigran asal negara kita yang hanya sekitar 450 orang tersebar di seluruh Norwegia.

Foto: Perpisahan

Mie, senang rasanya mendengar ocehan dan ceritamu yang seru dan hidup entah lewat telepon atau dalam perjalanan sailing dan car trip ke Valdres waktu itu. Meski awalnya ada rasa kuatir bahwa saya yang introvert tidak bisa ‘nyambung’ dengan dirimu yang ekstrovert (penyandang gelar ‘Miss PR’ gitu lohhh…:D). Ternyata kekuatiran itu tidak terbukti. Saya salut dengan kemampuanmu beradaptasi dengan manusia yang berbeda latar belakang dan karakter (it’s your greatest talent…)

Foto: Dapur yang menjadi saksi bisu kebersamaan

Mendengar perjuanganmu saat nyambi bekerja di beberapa tempat dan lokasi berbeda, bahkan terakhir kali hingga harus pulang tengah malam usai mencuci piring di restauran menggambarkan dirimu yang pantang menyerah, kuat dan bersemangat baja.

Foto: Hall menuju kamar Amie

Entah kamu percaya atau tidak, Mie kadangkala saat jam 12 malam di atas tempat tidur yang hangat, saya membayangkan dirimu sedang berada di atas bus usai pulang kerja. Membelah kesunyian dan dinginnya kota Oslo di malam hari. Mungkin saya sendiri tak akan bisa setangguh kamu…

Foto: Asrama mahasiswa tempat Amie tinggal di malam hari

Saya pun semakin salut padamu ketika dengan nekat dirimu menerima ajakan mendaki gunung di kawasan Jotunheimen yang adalah salah satu gunung tertinggi di sini. Padahal kamu belum pernah mendaki gunung setinggi 2000 meter lebih. Tak ada keluhan, omelan atau penyesalan yang keluar dari mulutmu. Meski saya tahu perjalanan itu tidaklah mudah bagi seorang pemula. Maaf ya Mie, karena kebodohan saya maka kameramu harus rusak😦 Lega rasanya ketika kamu tidak marah dan menganggap itu sebagai konsekuensi yang harus siap diterima saat bertualang di alam bebas…

Foto: Amie ‘Si Anak Hilang’ (ooopsss…maksudnya: Amie ‘Si Petualang’… :D)

Maafkan saya yang sempat ‘memaksa’ Amie secara halus (hmmmm…, halus nggak sehhh Mie?…tapi memang sudah waktunya juga yah…) buat sholat di atas gunung waktu itu. Saya berpikir bahwa kesempatan ini mungkin tak akan terulang lagi. Bersyukur dan mengagumi ciptaan Illahi di alam bebas, di puncak gunung, di sebuah negeri yang asing. Kamu menambahkan bahwa ini membuat rasa semakin dekat pada Sang Pencipta atas keindahan yang ada di depan mata…

Meski kita memiliki keyakinan yang berbeda, melihat dirimu bersembahyang dengan khusyuk menimbulkan getaran rasa syahdu dalam hati. Kesempatan ini tak ingin saya sia-siakan untuk diabadikan. Mie, ini foto2x kamu waktu dengan diam2x saya ambil saat kamu sedang sholat di puncak gunung. What a beautiful sight, girl…

Foto: Amie sholat di atas gunung…

Selamat Amie, dua tahun sudah perjuangan itu kau lewati dengan baik.
Meninggalkan kenangan, suka-duka, tawa dan airmata. Semoga semua itu akan menjadi bekal dan pengalaman berharga yang kelak berguna di kemudian hari.
Selamat berkarya dan berbakti bagi Indonesia yang kau cintai dengan sepenuh hati.

Semoga dirimu bisa mendapatkan apa yang diimpikan lainnya selama ini. Seorang pendamping hidup yang baik dan beriman (ayoooo bagi mas dan abang yang masih jomblo silakan menghubungi Amie yang masih ‘available’ :D) Semoga Amie bisa secepatnya mendapat pekerjaan yang diharapkan (bagi yang membutuhkan ahli lingkungan dan Corporate Social Responsibility… Silakan hubungi Amie lagi :D). Haha, maaf ya Mie. Kok jadi seperti promosi yah…

Teriring salam hangat, ucapan terima kasih atas semua kebersamaan yang pernah ada … juga doa untukmu, kawanku.

I hope that our paths will cross again…


Oslo 9 September 2008


Blognya Amie: http://klem-ami.blogs.friendster.com/mye/

6 thoughts on “Amie Pulang…

  1. Pingback: “Saya bukan siapa-siapa…” « My Life, My Search, My Journey

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s