Somewhere Out There…

Lirik lagu ‘Somewhere Out There’ yang dibawakan oleh Linda Rondstadt dan James Ingram adalah sebuah penggambaran yang pas tentang perjalanan cinta saya dan T. Ibarat gelombang lautan yang diwarnai pasang-surut, tenang, badai serta hempasan angin; pencarian cinta kami adalah sebuah perjalanan yang panjang. Jalan hidup telah membuat kami harus bertemu dengan orang2x yang salah sebelum akhirnya saling menemukan satu sama lain.

Den Haag, Desember 2003

Duduk di depan jendela kamar lagi untuk kesekian kalinya… Entah mengapa, saya menyukai kegiatan ini. Menikmati pemandangan di luar jendela, melihat manusia lain dengan segala kesibukan masing2x, pelajar dengan tumpukan bukunya, kendaraan berlalu-lalang, keluarga kecil yang tertawa bersama sambil membawa kereta bayi, orang tua dan anjingnya, sepeda yang hilir mudik, pasangan yang saling bergandengan tangan dan beragam aktivitas lainnya. Sejenak, ini membuat saya mampu melupakan rasa gundah yang ada di dalam hati.

Beberapa saat kemudian, semilir angin berhembus dari ujung jendela yang sedikit terbuka. Terkadang tiupan angin menerbangkan tirai putih yang tergerai. Sesekali saya harus membenahi ujung tirai tipis yang tertiup angin dengan hati2x agar tidak merusak tanaman bunga warna-warni yang duduk dengan manis didepan jendela. Perlahan namun pasti sinar mentari semakin meredup, siap beristirahat di peraduannya dan memberikan tugas selanjutnya pada Sang Bulan. Hmmmm,… sungguh suasana yang romantis.

Saya hanya menatap langit dengan kosong. Syair lagu ‘Somewhere Out There’ yang baru saja terdengar di radio beberapa menit lalu terasa masih terngiang-ngiang di telinga ini.

Somewhere out there beneath the pale moonlight
Someone’s thinking of me and loving me tonight

Somewhere out there someone’s saying a prayer
That we’ll find one another in that big somewhere out there

And even though I know how very far apart we are
It helps to think we might be wishing on the same bright star

Dan imajinasi pun langsung berkelana. Membayangkan bahwa di suatu tempat, di luar sana ada seseorang yang memikirkan hal sama seperti yang saya pikirkan saat ini. Seseorang yang juga berharap sama seperti yang saya harapkan. Meski mungkin berada di tempat yang terpisah, namun saya percaya di suatu tempat, diluar sana…
ada seseorang yang juga sedang menatap rembulan dan berharap untuk menemukan cinta sejati yang selama ini dicari.

Somewhere Out There

Written by James Horner, Barry Mann, Cynthia Weil

Somewhere out there beneath the pale moonlight
Someone’s thinking of me and loving me tonight

Somewhere out there someone’s saying a prayer
That we’ll find one another in that big somewhere out there

And even though I know how very far apart we are
It helps to think we might be wishing on the same bright star

And when the night wind starts to sing a lonesome lullaby
It helps to think we’re sleeping underneath the same big sky

Somewhere out there if love can see us through
Then we’ll be together somewhere out there
Out where dreams come true

And even though I know how very far apart we are
It helps to think we might be wishing on the same bright star

And when the night wind starts to sing a lonesome lullaby
It helps to think we’re sleeping underneath the same big sky

Somewhere out there if love can see us through
Then we’ll be together somewhere out there
Out where dreams come true

Jakarta, Februari 2005

Pagi ini saya harus segera bersiap berangkat ke Yogya untuk interview kerja dengan sebuah NGO internasional. Waktu keberangkatan pesawat dari Bandara Soekarno Hatta tinggal beberapa jam lagi, entah mengapa ada rasa enggan untuk pergi. Ingin rasanya bermalas-malasan lebih lama di atas tempat tidur. Menit demi menit pun berlalu…

Menatap langit2x kamar dengan mata setengah terbuka, berat rasanya untuk segera bangkit dan bersiap-siap. Hhhh… akan saya batalkan saja interview ini. Yah, termasuk membatalkan rencana berlibur beberapa hari usai interview bersama seorang sahabat yang sudah setuju menemani.

“Kamu harus pergi!!!”… entah dari mana asal suara suara yang tiba2x terdengar. Saya terkejut dan langsung melompat berdiri di sisi tempat tidur. Aneh… suara yang tak dikenal tadi serasa menggelegar dari dalam kamar dan setengah berteriak di gendang telinga ini…membuat jantung langsung berdegup kencang. Suara siapakah gerangan?…. Saya mencubit lengan untuk memastikan bahwa saya tidak sedang bermimpi. Ya,ini bukan mimpi. Dengan masih bertanya-tanya dalam hati dan sedikit gemetar saya membuka pintu kamar menuju ruang makan, sepi.

Biarlah kejadian aneh ini tersimpan dalam hati saja. Tak ada gunanya menceritakan pada orang lain di rumah. Mereka akan menganggap saya mengada2x. Hmmm, entah suara apa atau siapa… yang jelas, saya mungkin memang harus pergi. Dan saya pun pergi…

Oslo, September 2008

Sejak pertemuan kami untuk pertama kalinya di Yogyakarta (lihat:
Cintaku di Bandara Adi Sucipto) kami meyakini inilah jawaban dari penantian dan pencarian selama ini. Jika dibuat sebagai novel, mungkin judulnya adalah ‘Sebuah Perjalanan Mencari Cinta’…🙂

Secara terpisah, sebelumnya kami sempat melanglang buana dari satu tempat ke tempat lain, tinggal di tempat asing yang berbeda, bertemu dengan pasangan2x yang salah, hingga pada akhirnya garis nasib membawa kami untuk bertemu di sebuah ruang tunggu bandara yang sederhana.

Sebelum saling kenal satu sama lain, T sebenarnya pernah datang ke Jakarta pada tahun 2001 lalu saat saya juga sedang bekerja di Jakarta. Selama kunjungan ke Yogyakarta bulan Februari 2005, T yang sedang berlibur juga mengunjungi tempat2x sama yang saya datangi pada waktu nyaris bersamaan. Tetapi kami tidak pernah saling bertemu hingga hari terakhir tiba, sesaat sebelum pesawat membawa kami pulang ke tujuan masing2x.

Dari cerita T saya tahu bahwa sekitar akhir tahun 2003 T yang kala itu menetap di Perancis sedang merasakan kegelisahan yang sama. Saat tanpa sengaja menemukan kembali coretan diary saat memandang bulan, iseng2x saya bertanya pada T sedang ada dimana dan apa yang kira2x ia lakukan atau rasakan di saat yang sama.

Tanpa memahami latar belakang pertanyaan yang diajukan, T menjawab: “Saya mungkin sedang duduk di depan jendela kamar dan memandang bulan…”.

Mendengar jawaban ini saya hanya bisa tertegun sesaat, mencoba mencerna dan berpikir. Mungkinkah di saat yang sama, saat saya sedang duduk memandang bulan dan memanjatkan harapan tentang cinta… T juga melakukan hal yang sama?… Di suatu tempat di luar sana…

And even though I know how very far apart we are
It helps to think we might be wishing on the same bright star

Jalan kehidupan memang seringkali aneh. Banyak hal2x yang tidak bisa dimengerti secara nalar oleh manusia biasa. Apakah ini nasib atau sebuah kebetulan belaka? Entahlah… yang jelas saya percaya bahwa Tuhan memang membuat segala sesuatu indah pada waktu-Nya…

And when the night wind starts to sing a lonesome lullaby
It helps to think we’re sleeping underneath the same big sky

Somewhere out there if love can see us through
Then we’ll be together somewhere out there
Out where dreams come true

Oslo 12 September 2008

Sumber klip lagu: http://www.Youtube.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s