Menyusuri Lembah Aurlandsdalen (1)

Setelah kembali dari acara sailing (lihat post: My Sailing Experience Day 6: Grimstad-Kristiansand (Tamat)), kami memiliki satu hari istirahat di Oslo sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan car trip dengan rute Oslo-Valdres-Filefjell-Aurdal-Voss-Ulvik-Hardangerfjorden-Bergen-Øygarden-Oslo. Karena terlalu banyak hal2x menarik yang sayang untuk dilewatkan, kali ini saya ingin menyelesaikan sebagian dari ‘pekerjaan rumah’, yakni laporan pandangan mata dari perjalanan ini. Selamat menikmati🙂

Lembah Aurlandsdalen memiliki rute hiking yang dikenal luas karena pemandangannya yang indah dan fantastis. Terletak di wilayah Aurland yang menjadi pintu keluar dari tunnel (terowongan) terpanjang di dunia bernama Lærdalstunnel yang 7km lebih panjang dari tunnel St. Gotthard di Swiss. Jika mengambil rute E16, tunnel sepanjang 24,5 km ini melalui rute Oslo-Bergen antara Lærdal dan Aurland.

Saya dan T tiba di titik awal hiking jam 1 siang. Dari beberapa alternatif rute, kami sengaja memilih rute Vassbygdi-Østerbo karena memiliki pemandangan paling indah. Umumnya, para hikers memulai rute dari puncak lembah di Østerbo menuju ke dataran rendah Vassbygdi. Namun, T memutuskan untuk mulai dari arah berlawanan, yakni jalan menanjak dari Vassbygdi hingga puncak yang berakhir di Østerbo agar ada sedikit tantangan (plisss dehhhh, saya bisa sampe titik akhir saja sudah untung banget, hehe :D)

Foto: Salah satu tanaman unik yang dijumpai sepanjang lembah Aurlandsdalen

Membawa perlengkapan tenda dan stok makanan, kami berencana untuk kemping satu malam di lembah. Cuaca saat itu mendung, awan kelabu, hujan rintik2x serta suara gemericik air sungai tak jauh dari jalan setapak menemani sepanjang jalan. Di beberapa jam pertama, tidak nampak manusia lain yang dijumpai. Jalanan nampak becek karena air hujan, dengan memakai ponco (jas hujan) saya berjalan membelah rimbunan semak2x dan rerumputan tinggi di kiri-kanan jalan.

Foto: Pemandangan yang sering ditemui sepanjang perjalanan: air terjun dan sungai

Semakin jauh berjalan, contour permukaan lembah menjadi berbatu2x besar dan kecil yang kadangkala landai, terjal, mendaki, menurun silih berganti. Di beberapa titik pemberhentian, ada papan keterangan yang menjelaskan situasi sekitar seperti titik tempat terjadinya longsoran batu pada tahun 1905, pertemuan dua buah sungai, bekas lahan pertanian tua dari tahun 1800-an, gua tempat berlindungnya hewan, mata air abadi yang tak membeku saat musim dingin tiba dan sebagainya.

Foto: Bangunan tua di bekas lahan pertanian yang berumur ratusan tahun

Di titik tertentu ada penjelasan tentang sejarah yang pernah terjadi. Misalnya, kapan lahan pertanian ditemukan (tanpa sengaja) oleh pegawai kerajaan, sistem pembayaran pajak, jumlah pajak yang harus dibayar, besarnya lahan dan jumlah hewan serta detil historis lain. Lahan pertama yang kami temui adalah ‘Sinjarheim’ yang nyaris tak terlihat bekasnya lagi karena hancur oleh longsoran batu besar yang terjadi pada tahun 1863. Saya merinding membayangkan batu2x besar menggelinding berjatuhan menimpa rumah pertanian ini yang membunuh 6 orang lebih.

Foto: Buah strawberry hutan yang banyak dijumpai

T bercerita bahwa penduduk lokal konon pernah melihat beruang berkeliaran di daerah ini beberapa tahun silam. Namun, laporan resmi pemerintah menyatakan bahwa tidak pernah sekalipun ada beruang ditemukan di daerah ini. Entah versi mana yang benar, saya hanya berharap bahwa perjalanan kami akan lancar2x saja, meski tetap ada rasa was2x jika tiba2x ada beruang loncat dari semak2x atau menghadang jalan kami (memang dasar penakut…)

Foto: Mendaki gunung, melewati lembah, menyusuri sungai (…Si Bolang wannabe :D)

Akhirnya setelah sekitar 3 jam berjalan terdengar suara manusia lain samar2x di kejauhan. Tak lama kemudian, nampak tiga orang pria berumur sekitar 50-60 tahun terengah2x sambil berjalan dengan tongkat kayu dan baju yang dicopot dan disampirkan di pundak karena gerah. Dari dialog singkat yang terjadi, kami mengetahui bahwa mereka memulai perjalanan dari titik berlawanan di Østerbo sejak jam 7 pagi. Setelah mereka, kami berpapasan dengan pasangan muda, pasangan orang tua dan anjingnya, keluarga dengan anak remaja, kelompok kecil hingga besar (2-10 orang) yang berbicara dengan bahasa Inggris, Norsk, Swedish, German, Perancis dan bahasa lain yang kami tak tahu.

Tanpa terasa hampir lima jam sudah kami berjalan. Hawa dingin mulai menyergap. Kadang hujan berhenti sesaat dan mentari muncul sedikit di balik awan. Namun semakin mendekati pertemuan antar dua lembah dan memasuki dataran terbuka angin bertiup lebih kencang dari biasanya. Di sebuah tempat landai, tak jauh dari sungai dan sebuah lahan pertanian tua, kami menyiapkan makanan. Kompor gas, matras dan stok makanan pun dikeluarkan dari ransel. Menu kali ini: fiskesuppe (fish soup) yang dibekukan. Hmmm, not bad… (mayannnn :D)

Foto: Kompos gas andalan

Usai makan siang (late lunch), perjalanan dilanjutkan. Agar mengurangi berat, kami berusaha seefektif mungkin menghabiskan makanan berdasarkan perhitungan sebelumnya. Ransel yang saya angkut di pundak berisi stok makanan dan air, T membawa perlengkapan tenda dan alat2x masak. Menurut saya, berat ransel di pundak ini mungkin sekitar 12-15 kilo, menurut T berat ransel tadi hanya 5 kilo saja. Entah siapa yang benar, bagi saya beban di pundak terasa berat sekali, namun tak ada gunanya mengeluh (iya lahhh…, di tengah lembah dan bukit gitu lohhh) The hiking must go on…

Foto: Gua tempat berteduh kala hujan dan badai datang

Beberapa jam kemudian, gelap mulai merayap tanda sang malam akan segera datang. Kami harus segera menemukan tempat untuk berkemah sebelum betul2x gelap. Melewati sebuah gua, hati saya langsung melonjak girang membayangkan tempat potensial untuk berteduh. Sayangnya, gua tersebut dipenuhi sarang laba2x dan kotoran hewan (kok bisa ada hewan nyasar sampai ke sini? *heran*)

Foto: Jalan terjal yang harus dilalui

Akhirnya, usai melewati sebuah jalan terjal kami melihat tempat landai di dataran tepi sungai. Yeah, akhirnya sebuah tempat nyaman untuk menghabiskan malam. Jalan ke arah sungai agak terjal dan licin akibat hujan. Dengan beban di pundak, keseimbangan tubuh harus tetap terjaga agar tidak jatuh terpeleset. Tak lama kemudian tenda segera dipasang dan makan malam disiapkan. Angin bertiup semakin kencang, berdengung di telinga. Hujan semakin deras dan kabut mulai turun…

berlanjut ke: Menyusuri Lembah Aurlandsdalen (2)

2 thoughts on “Menyusuri Lembah Aurlandsdalen (1)

  1. Pingback: Menembus Awan « My Life, My Search, My Journey

  2. Pingback: Menyusuri Lembah Aurlandsdalen (2) « My Life, My Search, My Journey

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s