Sekolahku

Setelah tulisan terakhir Suatu Pagi di Hari Minggu (Sepenggal Cerita dari Sri Lanka-7) sudah lama saya tidak lagi menulis tentang pengalaman selama bertugas di Batticaloa. Entah mengapa ingatan melayang ke sebuah memori tentang sekolah2x yang hancur karena tsunami di daerah konflik aktif ini.

Sebagai Field Officer, saya dan seorang rekan lokal memiliki agenda awareness raising tentang hak2x anak untuk pelajar di sekolah2x. Sungguh tidak mudah untuk membahasakan bahasa ‘planet’ yang ada di buku teks atau modul panduan ke dalam bahasa sehari2x yang mudah dicerna anak usia sekolah menengah pertama. Apalagi informasi juga harus diterjemahkan lagi ke dalam bahasa setempat: bahasa Tamil. Untunglah, Shiva (bukan nama sebenarnya), rekan lokal saya memiliki kepekaan khusus tentang komunikasi terhadap anak dari pengalamannya menjadi guru selama puluhan tahun.

Foto: Sekolah darurat dari daun kelapa kering di atas pasir

Setelah melalui tahapan birokrasi dan mendapat ijin serta alokasi waktu untuk berbicara di sekolah, mulailah kegiatan dilaksanakan. Hal pertama yang terbersit di benak saya saat memasuki sekolah2x di Batticaloa adalah kesan kemiskinan dan kondisi darurat yang terlihat jelas. Bangunan2x hancur dan fasilitas pendukung yang jauh dari sebuah standar kelayakan sebagai sebuah sekolah. Sebagian besar murid tidak beralas kaki, hanya bersandal jepit dan satu-dua memakai sepatu yang tidak bisa disebut baru lagi.

Foto: Barisan pelajar sebelum memasuki kelas.

Di tengah cuaca yang kering-kerontang, berjalan tanpa alas kaki di atas halaman sekolah dan jalan yang didominasi pasir adalah sebuah tantangan tersendiri. Namun, hal ini –mesti dikeluhkan– tidak menghalangi niat sebagian besar pelajar untuk bersekolah setiap hari.

Foto: Ruang kelas

Hal unik yang dijumpai saat mendatangi sekolah2x tadi adalah baju seragam yang dikenakan para pelajar selalu nampak putih bersih dan baru. Shiva menjelaskan bahwa pemerintah membebaskan setiap murid usia sekolah dari kewajiban membayar SPP, serta adanya pembagian baju seragam gratis bagi pelajar. Hmmmm, pantas saja…

Foto: Ruang kelas pelajaran Bahasa Inggris. Di balik papan, dari sisi lain adalah Ruang kelas pelajaran Matematika.

Selain bertemu para murid, kami juga berdialog dengan guru dan kepala sekolah tentang hambatan yang dijumpai. Masukan dari mereka selanjutnya akan diteruskan ke instansi terkait yang berwenang. Kadangkala –sebagai institusi– pejabat lokal lebih mendengar suara dari organisasi internasional tempat saya dan Shiva bernaung (UN) dibandingkan suara guru sebagai individu dan masyarakat. Hal ini kami sadari sepenuhnya, sebagai ‘jembatan penghubung’ maka kegiatan dialog semacam ini penting untuk mendengar masukan secara langsung.

Foto: ‘Ruang’ kepala sekolah yang terbuka

Di salah satu sekolah, saat hendak berdialog, sang kepala sekolah mengajak kami ke ruangannya. Ketika sampai di suatu teras terbuka, nampak sebuah meja dan tumpukan berkas2x di atasnya. “Silakan duduk, madame. Ini ruangan saya”, kata sang kepsek sambil tertawa miris. Saya hanya bisa tersenyum kecut mendengar gurauan yang sangat tidak lucu ini.

Angin semilir berhembus sepanjang percakapan yang berlangsung hampir satu jam lamanya. Keluhan klasik yang dijumpai adalah: tidak adanya angkutan bus dari kamp pengungsi ke sekolah secara rutin, ancaman penculikan dari pemberontak atau milisi terhadap anak sekolah untuk dijadikan anggotanya, fasilitas yang jauh dari memadai seperti gedung, buku, air untuk MCK sekolah. Satu galon besar bantuan dari sebuah organisasi internasional dengan ‘sukses’ dirampok oleh kelompok tak dikenal di suatu malam gelap gulita. Tak ada yang berani melawan.

Foto: Sekolah calon perawat

Dari perjumpaan2x dan interaksi seperti di atas, banyak pelajaran yang saya dapat. Salah satunya adalah belajar bersyukur kepada Tuhan YME atas kesempatan bersekolah, bantuan dan beasiswa yang selama ini saya dapatkan. Anak2x yang tinggal di daerah yang hancur karena tsunami dan konflik tadi–dengan segala keterbatasan mereka– masih memiliki semangat untuk maju.

Tak banyak kata yang terucap dari mulut saya untuk melukiskan perasaan saat menyaksikan situasi menyedihkan di kamp2x pengungsi dan sekolah yang ambruk. Hanya sebuah doa dan harapan yang terselip agar mereka mendapatkan apa yang dicita2xkan dan sebuah masa depan yang lebih baik.

Foto: Bersama anak2x di kelas usai kegiatan

The world is a classroom… I am one of the students…as always🙂

Oslo, 19 September 2008

9 thoughts on “Sekolahku

  1. Felicity

    @Englin: Hi. Terima kasih sudah mampir yah. Saya hanya orang biasa yang sedang berproses dan belajar. Blog ini adalah catatan dari perjalanan saya secara fisik dan spiritual.

    Hmmm, semoga suatu saat bisa datang ke Kupang, NTT (pengen banget ke Pulau Komodo). Salam kenal kembali😀

    Reply
  2. Felicity

    Oopps, lupa. Khusus untuk foto diri, tentu saja diambil oleh orang lain yang menjadi kawan seperjalanan (sebagian besar oleh T)😀

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s