Menyusuri Lembah Aurlandsdalen (2)

Lanjutan dari: Menyusuri Lembah Aurlandsdalen (1)

Keesokan harinya, sekitar jam 9 pagi saya terbangun. Deru suara angin yang bertiup sepanjang malam dan suara aliran sungai yang mengalir cukup deras tak jauh dari tenda telah membangunkan saya beberapa kali. Namun, dari semua lokasi yang telah disurvey secara singkat, hanya inilah tempat yang paling landai dan aman untuk lokasi bermalam. Tidak banyak pilihan tersedia.


Foto: Tenda yang sudah sebagian dibongkar. Desain khusus dibuat agar tahan hempasan angin dan solid di daerah berbatu.

Usai sarapan pagi dengan roti, mie plus salami dan telur mata sapi, coklat hangat untuk saya dan kopi untuk T, kami pun bersiap2x untuk melanjutkan perjalanan. Jalan setapak untuk naik kembali ke jalur hiking menjadi licin karena air hujan. Kabut pagi masih bergayut di atas lembah, suara burung sesekali terdengar (unidentified singing bird :D), gemericik air masih menemani langkah kaki di tengah pagi hari yang indah dan udara yang menyegarkan ini.

Foto: Dalam perjalanan

Kami memperkirakan bahwa perjalanan menuju titik akhir di Østerbo akan memakan waktu sekitar 6 jam. Entah mengapa barang bawaan di pundak saya terasa lebih berat dari hari kemarin. Tidak ada gunanya mengeluh pada T, meski sempat terbersit niat untuk bermanja2x dan meminta T meringankan beban. Karena barang bawaan T jauh lebih berat, saya pun tidak tega dan mengurungkan niat ini.

Di sela perjalanan, sesi percakapan ini sempat terjadi:

“Wow, you are so strong. I am proud of you!”, ujar T sambil tersenyum
“Becanda apa serius neh ngomongnya?…”, saya mencoba mencari tahu.
“Serius, kok. Kalo sekarang kamu bisa mengangkut ransel seberat ini sambil hiking di tempat begini. Winter besok kita bisa hiking dari kabin ke kabin di gunung, sambil cross-country skiing dan nginep dari satu tempat ke tempat lain selama beberapa hari”, T melanjutkan.
“Ok”, jawab saya dengan singkat sambil tersenyum.
(dalam hati)
“Mati deh gw. Skiing aja masih belum bisa ngerem dengan baik dan benar. Eh… ini mau hiking sambil skiing, bawa ransel 12 kilo, pake acara nginep lagi…” *adegan saat ‘babak belur’ di daerah Beitøstolen saat jatuh dari ski tahun lalu muncul di depan mata*. Glekk…. saya hanya bisa menelan ludah, tanpa bisa berkata2x. Di sisi lain bayangan betapa menyenangkannya meluncur di atas papan ski membuat saya kembali bersemangat🙂

Foto: Aneka flora yang cantik dan unik

Sepanjang jalan, tak henti2xnya kami menikmati pemandangan yang dijumpai. Tumbuhan2x unik, bunga2x cantik, hamparan batu di kanan-kiri, rumah pertanian di seberang lembah yang terlihat kecil di atas bukit, jembatan tua yang sudah rubuh di atas jurang, aliran sungai seperti ular dari atas lembah, membuat kami berdecak kagum. Saat merasa haus, kami dapat langsung meminum air dari aliran sungai2x kecil di sekitar. Air yang bersumber dari mata air di pegunungan, lelehan es (glacier) atau air hujan ini terasa begitu menyegarkan di tenggorokan.

Foto: Titik persimpangan

Kali ini, lebih banyak hikers lain yang dijumpai dibandingkan hari kemarin. Mayoritas aktivitas dilakukan dalam kelompok (antara 5-10 orang). Dari pengamatan singkat, banyak turis asal Jerman yang menikmati wisata alam Norwegia. Jika kemarin, tidak ada satupun wajah Asia atau Afrika yang saya jumpai sepanjang jalan, hari ini saya berpapasan dengan beberapa wajah Asia Timur dan Asia Selatan mulai dari remaja hingga dewasa.

Foto: Rumah pertanian tua

Beberapa rumah di kompleks pertanian tua yang ada memang tertutup untuk umum. Meski demikian, kami sempat melihat2x sedikit ke dalam bangunan2x yang terbuka. Nampak tempat penyimpanan kayu bakar, kompor dan kandang ternak, serta gudang yang berumur ratusan tahun. Semua rumah tadi beratapkan rumput yang sekaligus menjadi insulator untuk menjaga agar panas di dalam bangunan tetap terjaga.

Foto: Kompor tradisional di dalam rumah pertanian tua

Sayangnya, masih ada tangan2x jahil yang merusak keindahan bangunan tua tadi. Saya hanya bisa menyesalkan dan ‘mengutuk’ dalam hati. Rupanya, kesadaran untuk menjaga dan melindungi benda bersejarah di alam terbuka semacam ini masih perlu dikampanyekan.

Foto: Coretan yang tak bertanggung-jawab

Sisa perjalanan hari ini betul2x mengagumkan. Pemandangan terlihat lebih hijau, terbuka dan spektakuler dibandingkan setengah perjalanan pertama kami sebelumnya. Melewati pertemuan antar lembah, kami pun dibawa menyusuri lembah lainnya dengan pemandangan yang memanjakan mata dan hati. Gua2x dan air terjun besar masih kami jumpai di kiri-kanan jalan. Di salah satu gua –berdasarkan keterangan yang ada– digunakan sebagai tempat transit bagi mayat warga yang akan dikuburkan di tempat lain. Sebuah pohon besar tak jauh dari gua (kini tidak ada lagi) dijadikan sebagai tempat berjaga dari gangguan hewan oleh para pengantar.

Foto: Lembah di kawasan Aurlandsdalen yang indah

Salah satu titik disebut sebagai tempat troll –mahluk ‘fairy tale’ paling populer di Norwegia– berhidung besar konon terlihat saat musim dingin tiba. Di tempat lain yang agak tersembunyi dan keluar dari jalur, nampak sebuah kolam kecil yang dikelilingi batu2x besar menjulang ke atas. Suasana yang sepi, dingin dan gelap menimbulkan aura magis dan mistis di sekeliling tempat ini.

berlanjut ke: Menyusuri Lembah Aurlandsdalen (3)

2 thoughts on “Menyusuri Lembah Aurlandsdalen (2)

  1. Pingback: Menyusuri Lembah Aurlandsdalen (3) « My Life, My Search, My Journey

  2. Pingback: Menyusuri Lembah Aurlandsdalen (1) « My Life, My Search, My Journey

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s