Good Karma

Dalam setiap perjalanan, selalu ada kesan2x khusus yang tertinggal. Kisah, orang2x yang dijumpai, peristiwa yang dialami adalah sumber inspirasi dan pelajaran berharga tentang kehidupan yang tak ternilai. Di akhir perjalanan Menyusuri Lembah Aurlandsdalen (3), ada satu pengalaman yang tak akan pernah saya lupakan.


Saya dan T tiba di Østerbø jam 16.00 pm, cuaca saat itu mendung, dingin ditambah hembusan angin yang sesekali bertiup. Sesuai perkiraan, kami akan menggunakan bus kembali menuju titik awal perjalanan di Vassbygdy, tempat mobil T diparkir.

Usai menikmati wafel dan coklat panas, kami memiliki waktu sekitar 45 menit menanti bus yang akan berhenti di depan Guest House Østerbø jam 17.15. Namun sayang, keberangkatan bus tersebut dibatalkan. Bus terakhir menuju Vassbygdy adalah jam 18.20 pm. Karena tidak mau membuang waktu, diputuskan bahwa kami akan nekat menumpang kendaraan yang lewat alias hitchhiking.

Saya langsung teringat film serial TV berjudul ‘The Hitchhiker’ yang mengisahkan pengalaman tokoh utama saat berkelana dari satu tempat ke tempat lain dengan menumpang kendaraan. Kisah Asterix dan Obelix saat menjadi hitchhikers di Roma juga sempat terbersit. Namun, tak pernah terpikirkan sedikitpun bahwa saya akan menjadi ‘the real hitchhiker’ di Norwegia😀

Segera kami mengambil posisi di pinggir jalan yang memungkinkan kendaraan untuk berhenti. Ransel disusun rapi, memakai jaket waterproof dan aksi pun dimulai. Terus terang, saya masih belum memiliki tingkat percaya diri sebesar T yang untungnya mempunyai ‘tongkrongan’ sebagai orang baik2x😀. Ia cuek saja mengacungkan jempolnya ke mobil yang lewat, tanda hendak menumpang sambil tersenyum.

Saya hanya duduk menjaga ransel beberapa meter dari tempat T berdiri, sambil sibuk berpikir dalam hati, menebak2x dan berharap. Ternyata, kami tidak sedang beruntung. Meski sudah siap mental untuk duduk di atas truk atau bak terbuka, namun tak ada satupun kendaraan bersedia memberi tumpangan, termasuk beberapa pick-up kosong dan kendaraan yang terlihat mempunyai ruang ekstra.

Menarik sekali mengamati respon yang ada. Ada anak muda dengan pick-upnya yang terlihat ingin mengangkut kami tapi bingung dan ragu2x (mungkin kendaraan dinas yah), lalu minta maaf; penumpang kendaraan mewah yang tidak sedetikpun menengok; ada penumpang mercedes yang tersenyum; ada yang melambaikan tangan saja; ada yang menggeleng dari kejauhan; ada yang hanya melongok dari jendela terlihat penasaran; ada yang mengatakan menuju arah berbeda, padahal kami lihat kendaraan itu menuju arah yang kami tuju; ada yang mengatakan bahwa ia sedang terburu2x; ada beberapa supir dan penumpang berwajah Asia tanpa ekspresi hanya melihat kami… dan aneka tingkah-polah lainnya.

Hari pun semakin gelap dan hujan mulai deras. Mampir 1,5 jam sudah kami mencoba tanpa hasil positif. Hingga saat kami mulai merasa lelah dan memutuskan untuk menuju pemberhentian bus terakhir, ada sebuah mobil sedan berhenti beberapa meter dari tempat kami. T segera berlari dan menyebutkan tujuan kami yang ternyata searah.

Seorang pria muda –sebut saja Stefan– berumur 26 tahun, berwajah rupawan bak bintang film (bukan karena dia berhenti loh…) tersenyum dan memperkenalkan diri. Usai memasukkan barang bawaan, T duduk di sebelah Stefan di kursi depan dan saya di belakang. Saat duduk, saya melihat sebuah Alkitab terselip di antara barang2x lain di kursi. “Hmmmm, he is a believer, no wonder…”, pikir saya. Lewat obrolan di dalam mobil, kami mengetahui bahwa Stefan adalah orang Jerman yang sudah 4 tahun terakhir tinggal di Bergen. Ia berbicara bahasa Norwegia dalam aksen dari Bergen dengan sempurna. Bekerja di sebuah perusahaan konstruksi dan sedang berada di kawasan Aurlandsdalen untuk mengunjungi kawan. Stefan adalah seorang pecinta alam yang juga sering bertualang. Pembicaraan selanjutnya diisi dengan berbagai topik mulai dari olahraga hingga pekerjaan. Kurang-lebih satu jam kemudian, kami sampai ke tujuan dan berterima kasih pada si anak muda baik hati itu.

Lega rasanya saat berada di dalam mobil sendiri. Usai menata kembali barang2x kami melanjutkan perjalanan selanjutnya ke Bergen. Dan…seperti sebuah deja vu, kejadian yang sama pun terulang…

Kami melihat seorang perempuan berusia sekitar 35 tahun dan pasangannya berdiri di pinggir jalan mencoba menumpang kendaraan. Hal sama yang baru saja kami alami. Karena pernah merasakan betapa senang dan bersyukurnya saat ada yang bersedia memberi tumpangan di saat membutuhkan, kami pun ingin ‘membalas jasa’ Stefan (yang telah menolong kami) dengan menolong pasangan ini.

Hidup memang aneh. Dalam beberapa menit, kami yang tadi menjadi penumpang, kini menjadi yang ditumpangi. Yang tadinya butuh pertolongan, kini berada di pihak yang bisa menolong. Pasangan tadi melakukan perjalanan yang serupa dengan kami, menyusuri wilayah yang berbeda dan memarkir mobil di tempat lain. Setelah berdiri di jalan selama 3 jam lebih, tak ada satupun kendaraan yang berhenti. Karena itulah mereka sangat berterima kasih saat kami bersedia berhenti memberi tumpangan. Dengan mimik serius mereka berkata: “Terima kasih banyak. Kami sangat menghargai pertolongan kalian. Jika di tengah perjalanan kami nanti ada orang lain yang butuh tumpangan, kami berjanji akan memberikan mereka tumpangan…”

Satu perbuatan baik, berbuah perbuatan baik lainnya…
Kami dulu pernah menolong orang, Stefan kini menolong kami, kami menolong si pasangan, si pasangan entah menolong siapa… Apakah ini yang disebut ‘good karma’?… Entahlah.

How people treat you is their karma;
how you react is yours…

–Wayne Dyer–

Keterangan: Foto2x di atas adalah koleksi pribadi

8 thoughts on “Good Karma

  1. Nengky

    Wah mba aku suka bgt apalgi quate trakhir, apalgi yg satu perbuatan baik, akan berbuah perbuatan baik yg lain….

    Reply
  2. Felicity

    @tere616: wah saya juga berpikir seperti itu mbak. Jadi, harus lebih berhati2x yah dalam bertindak dan mawas diri, karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari.

    Reply
  3. tere616

    Saya selalu percaya dengan karma, juga dengan kehidupan sesudah kita meninggal (prinsip ini cukup aneh bagi saya yang beragama Katolik, Ibu saya saja geleng-geleng kepala).

    Menurut saya pembalasan atas perbuatan baik kita itu terjadi didunia, perbuatan jahat kita pun juga terjadi di dunia.

    Jadi, surga dan neraka bagi saya, adanya ya di dunia ini.

    Nyeleneh ya ?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s