Gunung Sibayak, Belerang dan Kelelawar

Dalam kunjungan ke Brastagi, Kabupaten Tanah Karo-Sumatera Utara pada tahun 2005 lalu, saya dan T tak ingin menyia2xkan kesempatan mendaki Gunung Sibayak atau dikenal juga sebagai Gunung Rangkap Sibayak. Dengan ketinggian 2.094 m di atas permukaan laut, gunung aktif tipe B ini telah menjadi kunjungan wisata andalan bahkan sejak jaman penjajahan Belanda.

Foto: Pedagang sayuran segar di pinggir jalan.

Kota Brastagi terletak 7 km sebelah selatan Gunung Sibayak, menjadikannya sebagai kota terdekat dengan gunung berapi ini. Hawa yang sejuk, barisan gunung di kejauhan, lahan pertanian, buah2xan dan sayuran segar menjadi pemandangan khas yang ditemui di banyak sudut. Sekilas, pemandangan yang sama mengingatkan saya pada suasana pegunungan di Jawa Barat.

Foto: Anak kecil dan sebuah lori

Kami memulai titik pendakian dari Desa Semangat Gunung yang memiliki instalasi bangunan PLTP (Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi). Asap mengepul hebat di sekitar area PLTP, bau belerang menyengat dan memenuhi udara di area sekitar bangunan. Seorang staff yang ramah sempat bercakap2x, memberikan informasi serta menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan T yang penasaran. Sejak eksplorasi dimulai pada tahun 1990, Geothermal Sibayak Area telah melakukan pemboran di 9 sumur bor dengan kedalaman bervariasi yang dibagi dalam beberapa kelompok. Sang petugas juga menjelaskan bahwa energi panas bumi dianggap sebagai sumber energi yang bebas polusi pada atmosfir bumi, tidak mengandung radio aktif dan bersih lingkungan.

Foto: Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi di Desa Semangat Gunung

Usai berterima kasih pada si petugas yang ramah, kami melanjutkan perjalanan yang dikelilingi rerumputan dan pepohonan khas daerah pergunungan. Selain melewati kebun2x kecil dan besar dengan tanaman kopi, jeruk, kol, tomat, cabai, daun bawang, kami juga menemui sebuah pohon unik yang jarang ditemui di tempat lain yakni: terong belanda (lihat gambar di bawah). Selama berada di Aceh, memang banyak tersedia jus terong belanda di restoran dan warung makan, namun baru kali inilah saya dan T melihat secara langsung bentuk buah dan pohon tanaman yang konon memiliki khasiat sebagai obat tradisional ini.

Foto: Terong Belanda

Tidak banyak orang lain yang dijumpai sepanjang perjalanan. Usai melewati jalan mendaki yang berkelok2x, seorang bapak tua berjaket tebal terlihat mengangkut sesuatu di keranjang rotan besar di punggungnya. Kami saling tersenyum dan bertegur sapa saat berpapasan. Dari dialog yang terjadi, si bapak mengatakan bahwa ia sedang bekerja mengangkut belerang yang berkilo2x beratnya, bolak-balik dari puncak gunung, setiap hari demi sejumlah rupiah untuk membiayai hidup keluarga.

Foto: Kuliah sepuluh menit gratis tentang belerang dari bapak tua yang kami temui

Kawah gunung Sibayak memang solfatara yang memiliki deposit sulfur (belerang) dan menjadi sumber pemasukan bagi penduduk sekitarnya. Menurut bapak tadi, tidak banyak belerang yang bisa diangkut jika bangun kesiangan, banyak saingan atau tidak enak badan. Ia membuka sebuah kantung plastik dan menunjukkan perolehan belerang yang ada. Dengan wajah serius ia mengatakan bahwa belerang banyak dipakai sebagai obat sakit perut oleh masyarakat lokal dengan cara memakannya langsung. Kata2x bapak ini mengingatkan saya pada cerita seorang kawan SD yang berasal dari daerah timur Indonesia yang meminum sedikit minyak tanah sebagai obat tradisional.

Foto: Barisan pegunungan yang indah

Mendekati puncak gunung, jalur pendakian yang berbatu2x membuat kami harus lebih berhati2x. Bau belerang semakin menyengat terutama saat angin berhembus. Beberapa penunjuk jalan sederhana terlihat cukup jelas, meski tumpukan bebatuan alami yang tersebar bisa mengecoh mata. Di sebuah hamparan daerah berbatu yang terbuka, kami melihat titik2x hitam bergerak seperti jejeran semut berjalan beriringan. Ternyata, itu adalah rombongan anak sekolah yang kembali dari arah puncak dan berpapasan dengan kami yang hendak menuju kawah.

Foto: Ladang belerang di kawah gunung

Puluhan hingga ratusan pelajar yang memenuhi kawah membuat suasana sedikit riuh. Wajah2x lelah, tawa, canda, senyuman muncul silih berganti tiap kali berpapasan dengan kami. “Good afternoon, Mister!…”, “Mister, where are you coming from?…”, “Take picture, Mister…”, “Mister, do you have money?…” Itulah beberapa sapaan yang meluncur dari mulut mereka terhadap T yang menjawab seperlunya sambil tersenyum.

Foto: Jejeran batu2x kecil ‘kreasi’ pengunjung di kawah gunung

Setelah berhasil mencapai kawah, saya tak ingin menyia2xkan kesempatan untuk mengabadikan pemandangan yang nampak di sekeliling. Hawa hangat, kepulan asap yang membumbung ke atas dan bau belerang tercium kuat. Ada sedikit rasa ngeri jika gunung api yang aktif terakhir kali pada tahun 1600-an ini tiba2x aktif lagi. Di tengah krater, agak ke bawah dari kejauhan terlihat huruf, tulisan atau ‘goresan’ yang dibuat dari susunan batu2x kecil. Entah siapa, atau apa maksud si pembuatnya. Moga2x kreativitas ini tidak berkembang menjadi grafitti yang merusak keindahan alam.

Foto: Asap dengan uap belerang dari perut bumi

Tidak banyak waktu yang kami habiskan di atas kawah. Hari yang beranjak sore dan sedikit mendung membuat kami harus turun kembali secepatnya. T berniat mengambil jalur turun yang berbeda, namun rencana dibatalkan mengingat situasi dan kondisi yang tak memungkinkan. Sekitar 1,5 jam kemudian kami kembali ke titik awal pendakian.

Foto: Di perjalanan

Benar saja, saat tiba di tempat parkir motor sewaan, hujan pun turun dengan deras. Kami berteduh di sebuah warung makan sederhana yang resik di pinggir jalan. Sekitar 45 menit kemudian, hujan mulai reda. Tiba2x T berkata sambil setengah berteriak: “Lihat!… Anak muda itu membawa sesuatu di tangannya. Saya akan menemui mereka!…”. Belum sempat menjawab, T sudah berlari keluar warung dan mengejar si anak muda tadi sambil membawa kamera saya di tangan.

Foto: Pemburu kelelawar (foto diambil oleh T)

Beberapa menit kemudian T kembali dengan senyum ‘kemenangan’. Masih dengan antusias, ia menunjukkan foto yang baru saja diambil (lihat gambar di atas). T mengatakan bahwa si pemburu kelelawar akan menjual hasil buruannya. Sekilas terlihat bekas2x perjuangan berupa cakaran dan goresan di tangan si anak muda itu. Sayang, kendala bahasa membuat T tidak bisa menggali informasi lebih jauh lagi dari dua anak muda yang baru saja ditemuinya. Saya hanya bisa menebak2x bagaimana nasib kelelawar malang tadi? Berakhir sebagai sate kelelawar-kah? atau menu makanan lain?… Entahlah.

Hingga kini setiap kali berkisah tentang perjalanan ke Brastagi, pengalaman saat mendaki Gunung Sibayak, cerita tentang bapak tua pengangkut belerang dan pemburu kelelawar tadi akan selalu ada dan tak pernah terlewatkan sebagai sebuah kenangan.

7 thoughts on “Gunung Sibayak, Belerang dan Kelelawar

  1. mila

    waaah keren… sayang wkt aq ke sibayak, daerah kawah nya lg ditutup soalnya wkt itu ktnya lg bahaya.. malahan sempet ada gempa lmyn kuat malem-malem dan bbrp kali gempa ringan. kyknya sekitar thn 2007-an deh… liat poto nya mba feli jd ngerasa rugi bgt ga sempet naik sampe ke kawah😦

    Reply
  2. adi biring

    sudah 3 kali saya mendaki gng sibayak, kangen bngt dgn alamnya tp apa daya skrg saya jauh di batam………melihat foto-fotonya mengobati rindu pada tanah karo (tempat kelahiran saya),thanks & salam kenal

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s