The Blog Must Go On

Meskipun sebenarnya tidak sempat, kali ini saya nekat menulis postingan di blog karena tidak tega melihat blog yang terlantar sekian lama. Walau bagaimanapun, the blog must go on… Ini adalah salah satu blogosophy saya, hehe maksa bangettt…😀

Selama hampir dua minggu terakhir saya mulai bekerja di sebuah pusat kajian yang ada di bawah University of Oslo. Total seluruh staff kantor berjumlah sekitar 80 orang dari berbagai negara (kebanyakan dari Norwegia). Selain program penelitian, ada pula program kegiatan yang bersifat regional. Saya terlibat dalam tim yang bertanggungjawab untuk laporan penelitian tentang isu sosial di Indonesia yang bekerja sama dengan ahli dari beberapa negara.

Budaya kerja baru
Banyak hal2x menarik yang terkait dengan budaya kerja di Norwegia yang berbeda dengan di Indonesia. Sejak tahap interview misalnya, selain diwawancarai oleh Program Manager, Human Resources Manager, Head of Unit, ada juga perwakilan dari Labor Union (Serikat Pekerja) untuk memastikan bahwa setiap pelamar mendapat perlakuan yang sama (equal treatment) tanpa diskriminasi berdasarkan gender, warna kulit, latar belakang dsb. Selain itu, perwakilan pekerja ini juga sebagai observer (pengamat) agar proses rekruitmen dan interview berlangsung sesuai prosedur. Dari proses ini saya sudah merasa di’wong’kan (dianggap sebagai manusia *terharu*) meski status pada waktu itu masih sebagai pencari kerja dan belum resmi diterima namun perlindungan terhadap hak2x pekerja sudah terasa.

Karena merupakan bagian dari universitas yang dibiayai negara, staff di lembaga ini pun tunduk di bawah hukum yang mengatur tentang pegawai negeri, yang alhasil memiliki birokrasi lumayan panjang. Kalau dibandingkan, masyarakat Indonesia secara umum memang lebih ramah dan terbuka terhadap orang baru, di sini pun demikian, namun tidak semua. Umumnya mereka yang memiliki pengalaman internasional jauh lebih terbuka dari mereka yang berasal dari kota terpencil atau besar di lingkungan masyarakat yang cenderung homogen. Sifat individualis dan independen pun terasa lebih kental di sini. Saat waktu makan siang misalnya, setiap orang memiliki waktu rutin untuk menuju ruang makan bersama tanpa dikomando atau menunggu ajakan kawan lain.

Makan siang yang merepotkan
Terus terang, sebagai anak baru saya masih agak sungkan naik ke lantai atas (ruang makan) sendiri dan menantikan ajakan untuk makan bareng. Kalau sudah begini, saya pun kangen dengan suasana di Indonesia yang ’heboh’ saat makan siang. Ajakan seperti: ”Ke warung Padang yuk!” atau ”Makan Soto Ayam yuk!” atau ”Beli bubur ayam Yuk! dll. Segala sarana dan prasarana pun digunakan untuk makan siang mulai dari jalan kaki, naik angkot, naik mobil teman, hingga titip pada office boy yang kebetulan mengendarai motor lewat warung makan favorit (hiks…hiks… jadi kangen masakan yang tersebut di atas plus Siomay Bandung, Bakwan Malang, Batagor, Es Cendol, Buntil, Botok, Pempek, Pepes Tahu…. nyam…nyam)

Di sini, sejak bangun pagi selain menyiapkan sarapan saya harus menyiapkan bekal makan siang di lunch box. Rekan lokal (baca: orang Norwegia) memiliki ’properti’ masing2x di kulkas kantor seperti keju, roti, salami, ham dll yang tinggal di gunakan seperlunya saat makan siang. Sedangkan saya?…. Berhubung masih belum bisa menyesuaikan diri dengan roti dan roti lagi… harus memasak sejak malam sebelumnya seperti nasi goreng, mie goreng atau lasagna untuk makan siang keesokan harinya. Repot yah… Lalu harus bagaimana?… *garuk2x kepala*…sulit sekali untuk mengubah ‘default setting’ perut yang terbiasa dengan makanan negeri sendiri.

Alhasil, beberapa kali saya memilih untuk tetap makan di dalam ruang kerja yang memang terpisah dari ruang kerja rekan lainnya, terkadang hanya dengan memakan pisang karena tidak sempat memasak, sampai professor yang menjadi kolega ’memergoki’ tumpukan kulit pisang di tempat sampah dalam ruangan kemarin dan bertanya sambil bercanda (terjemahan bebas): ”Heran, siapa yah yang makan pisang banyak banget?…Apa ada gajah nyasar ke sini?… Saya: ”Hehe, kayaknya saya deh yang jadi gajahnya….”


Pffffh…Lega rasanya bisa mengeluarkan unek2x yang ada …dan mengurangi rasa bersalah dari tuduhan penelantaran dan perlakuan semena-mena terhadap blog…🙂

Catatan: Postingan ini dibuat di luar jam kantor, tepatnya saat waktu istirahat makan siang, editing dan tambahan foto dilakukan pada malam hari, juga di luar jam kerja kantor (siap2x membela diri hehe :D)

2 thoughts on “The Blog Must Go On

  1. cipu

    MMM memang kalo urusan ngajak2 makan, beda banget antara indo dan eropa. Kalo ngajakin saya, pasti saya gak nolak deh, hehehe

    Reply
  2. novnov

    ternyata sibuk juga tohh mbak hehehehe, tapi emang bener sesibuk apapun kayaknya harus nyari waktu buat ngeblog ya hehe

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s