Menembus Awan

Usai kembali dari acara sailing (lihat my sailing experience day 6: Grimstad-Kristiansand) saya dan T melanjutkan liburan musim panas beberapa bulan lalu dengan memanjat gunung di kawasan Jotunheimen dan perjalanan darat menuju Bergen dengan perlengkapn berkemah di perjalanan.Banyak kota2x kecil yang kami lalui, mulai dari kawasan dataran tinggi bersalju hingga tepian laut.

Foto: Kabut di sepanjang jalan

Secara umum pemandangan alam Norwegia di luar kota sangatlah indah dan memukau, jejeran fjord (perairan yang menjorok ke daratan (inland)) sangat spektakular. Foto2x kali ini adalah cuplikan perjalanan dari Valdres menuju Voss yang melewati jalan di pegunungan yang berliku2x.

Foto: Jalan raya yang dilengkapi jejeran pipa besi melintang agar ternak tidak melintas

Di banyak bagian sepanjang rute yang kami lalui, jalanan yang ada tidak terlalu lebar, hanya satu lajur untuk kendaraan roda empat. Jika ada kendaraan yang datang dari arah berlawanan, masing2x pengemudi harus tahu diri dan melihat situasi, siapa yang paling memungkinkan untuk menepi dan memberi jalan bagi kendaraan lainnya untuk lewat.

Sejak ditemukannya dinamit oleh Alfred Nobel (dipatenkan pada tahun 1867), jalur transportasi darat menjadi lebih mudah dengan adanya tunnel (terowongan) yang menembus gunung berbatu. Norwegia memiliki terowongan terpanjang di dunia (longest road tunnel) yakni Lærdal Tunnel yang memiliki panjang 24,5 km yang menghubungkan daerah Lærdal dan Aurland (lihat menyusuri lembah Aurlandsdalen)

Foto: Terowongan menembus gunung batu

Saat kami melewati rute di pegunungan, waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore, kabut mulai turun dan menghalangi pandangan. Kadang laju kendaraan harus diperlambat saat jarak pandang hanya sekitar 10 meter ke depan.

Sepanjang jalan, nampak salju abadi yang mengisi ceruk di dinding kiri-kanan batu2xan gunung. Karena letak geografis yang berbatasan langsung dengan Kutub Utara, kawasan pegunungan di Norwegia banyak diselimuti salju termasuk di pertengahan musim panas. Uniknya, di daerah pegunungan yang nyaris terisolasi dan dingin sekalipun, masih terlihat sejumlah rumah pertanian yang berdiri tegak di tengah gumpalan kabut putih.

Foto: Rumah pertanian di antara kabut

Tidak banyak kendaraan yang dijumpai sepanjang perjalanan beberapa kilometer itu. Tidak nampak manusia lain di pinggir jalan, termasuk di rumah pertanian yang kami lewati. Jalanan yang sepi, langit yang kelabu, kabut yang turun, barisan pegunungan di kanan-kiri membawa ke dunia ‘atas langit’ yang lain di atas awan.

Foto: Salju abadi di musim panas

Sekitar jam 10 malam terlihat jejeran terang cahaya lampu di balik perbukitan. Lega rasanya setelah akhirnya tiba di tempat tujuan, sebuah kota kecil yang tak kalah indahnya dengan pemandangan di sepanjang perjalanan.

Foto: Arus sungai yang deras dari atas gunung

Sumber:
http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_tunnels_by_length
http://nobelprize.org/alfred_nobel/timeline/index.html

8 thoughts on “Menembus Awan

  1. Pingback: Terjebak Kabut « My Life, My Search, My Journey

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s