Monthly Archives: November 2008

Saya Takut Naik Pesawat Terbang…

Biarpun lumayan sering naik pesawat (jarak pendek, jauh atau sangat jauh), pernah hidup dan bekerja di daerah konflik, bertemu kelompok separatis, dinterogasi dan dibentak2x aparat, nyaris menjadi korban bom bunuh diri, dan pengalaman menguras adrenalin lainnya…. ada satu hal yang paling saya takutkan (ehm, lebih dari menyalakan kompor gas), yakni: NAIK PESAWAT TERBANG!!!…. Jrengggg…

…saya selalu was2x , tiap pesawat mulai take off

Entah mengapa saya selalu was2x tiap pesawat mulai take-off, apalagi jika mengalami turbulensi yang cukup hebat selama beberapa saat. Lebih ngeri lagi jika terbang di musim2x rawan seperti musim hujan atau cuaca mendung dan musim kecelakaan pesawat.

Pengumunan dalam pesawat yang paling saya takuti adalah: “Para penumpang sekalian. Dikarenakan kita sedang terbang dalam keadaan cuaca yang kurang baik… Tolong kencangkan sabuk pengaman anda…bla…bla“, diikuti goncangan silih berganti.

Dalam satu penerbangan (seorang diri) dengan penerbangan yang tiba2x dialihkan ke maskapai lain karena masalah teknis, via rute yang mbulet (berputar2x): Jakarta-Bangkok-Frankfurt-Oslo-Kopenhagen, menuju Lund, Swedia beberapa tahun lalu, saya mendapat tempat duduk tepat di bagian ekor pesawat. Goncangan terasa dua kali lebih kuat (mungkin hanya perasaan saja…). Bisa diduga, bagi saya perjalanan kala itu adalah sebuah siksaan batin nyaris tanpa akhir (jika saja tidak untuk bertemu sang pujaan hati… nggak akan saya bela2xin deh mengarungi separuh bumi dalam sehari..niat benerrr euyyyy…)

Sementara, ketika akan mendarat di bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh beberapa tahun lalu, pesawat yang ditumpangi terhempas angin, naik dan turun dengan tiba2x beberapa kali. Suasana di dalam pesawat sudah panik, bacaan dan doa2x terlontar dari mulut penumpang lain yang membuat jantung berdebar lebih cepat dari biasanya… (mengerikan…)

HMMMMMM……

Rasa kuatir berlipat ganda jika terbang di wilayah Indonesia dengan maskapai lokal, dimusim kecelakaan pesawat (duh, kok kecelakaan ada musimnya???…). Dari pengalaman terbang dengan berbagai maskapai tadi (mulai yang punya nama besar, hingga yang berstatus meragukan) saya tahu bahwa tinggal masalah waktu saja berita pesawat mengalami masalah ini dan itu akan muncul di media.

Suatu saat pesawat yang saya tumpangi memiliki tempat duduk yang sudah bolong2x mirip kursi bus patas di Jakarta, saat pramugari/pramugara ‘berjualan’ di pesawat, tinggal ditambah pedagang asongan maka situasi akan mirip KRL Jakarta-Depok atau Metromini. Kali lain kabel2x di sisi bagian dalam dekat lantai terlihat keluar berseliweran, sementara penumpang yang masih asyik dengan HP-nya terkesan dibiarkan oleh awak kabin meski pesawat sudah mulai take-off… *speechless*

Menaiki maskapai asing juga tidak sepenuhnya memberi jaminan kenyamanan dan keselamatan. Pesawat KLM yang sering saya tumpangi (karena paling ekonomis) misalnya… dunno why…entah mengapa kadang saya merasa bahwa pramugara/pramugari di atas pesawat tidak memberi layanan maksimal: senyum yang kadang terpaksa, keramahan yang langka (mungkin karena saya hanya penumpang di kelas ekonomi yah), makanan yang itu2x saja, pesawat yang kadang terkesan kumuh (maaf… ini hanya pengalaman pribadi, jangan digeneralisir…)

Saat terbang dengan sejumlah maskapai seperti Singapore Airlines, SAS, Lufthansa dll pelayanan yang diberikan memang lebih baik. Tapi… tetap saja jantung berdebar lebih kencang ketika pesawat sedang take off, bergoncang di tengah penerbangan atau menjelang landing (memang dasar penakut…)

LALU?…

Biasanya, ada beberapa aktivitas yang saya lakukan untuk mengalihkan rasa takut terbang ini, yakni:

1. Mengobrol dengan tetangga tempat duduk. Untuk yang satu ini memang tergantung nasib. Jika beruntung, ada kawan seperjalanan yang asyik diajak ngobrol. Saat bepergian seorang diri, saya berharap agar bisa mendapat tetangga duduk yang supel…syukur2x cowok guanteng yang baik hati dan tidak sombong (namanya juga berharap, pasti yang bagus2x lah… :D).

Untung…T belum mengerti Bahasa Indonesia,…saya bisa menulis apa saja di blog pribadi ini, huehehe :D… *tertawa jahat seperti di film2x*

2. Membaca majalah dengan topik ringan yang tak perlu mengerutkan dahi saat dibaca. Melihat warna-warni dan tampilan majalah yang menarik sudah cukup menyegarkan mata dan hati.

3. Mendengarkan musik di headset atau menonton film. Karena termasuk sensitif dengan bunyi2xan yang tidak jelas, saya memilih untuk mendengarkan alunan musik di headset sepanjang jalan, termasuk saat tidur. Musik klasik adalah salah satu favorit di masa2x tidak menyenangkan ini.

4. Pasrah dan dalam hati menyebut semua doa2x yang saya ingat (kalau bisa, doa semua agama saya sebut deh …)

Karena rasa takut terbang ini, saya membatalkan ajakan seorang profesor untuk kunjungan kerja di beberapa daerah di Indonesia bulan Desember mendatang. Sebuah kesempatan yang menarik… sayang beliau tidak tahu bahwa alasan utama saya menolak adalah alasan yang mungkin sepele namun menganggu buat saya: I AM AFRAID OF FLYING…..

(mohon maaf kalau posting kali ini menjadi ajang curhat)


Dohhh, mengapa perjalanan antar waktu atau antar dimensi seperti di film Star Trek belum tercipta?… seandainya untuk menuju ke satu tempat nggak usah repot2x antri check-in, angkat-turun bagasi, sport jantung saat turbulensi…. Kenapa sih kok saya penakut buat yang satu ini?…

Advertisements

Musim Ski Telah Tiba !… :D

Saat ini, selain dingin yang mulai menusuk tulang di kota Oslo, salju mulai tebal di beberapa tempat di luar kota khususnya di dataran yang lebih tinggi. Artinya: musim bermain ski segera dimulai, horeee!!!… *jingkrak2x*

“…Tidak seperti terlihat di film2x… persiapan sebelum berski ternyata ribet- belibet…”

Pengalaman pertama saya meluncur di atas ski terjadi pada musim dingin tahun 2006 lalu di Norwegia. Tidak seperti yang terlihat di film2x yang sebelumnya ditonton. Persiapan sebelum berski ternyata lumayan ribet-belibet.

Persiapan itu antara lain: pakaian yang dikenakan tubuh, yang langsung bersentuhan dengan kulit harus terbuat dari wol murni, lalu jaket fleece yang juga 100% wool, diikuti jaket wind-proof (kedap angin), celana water-proof (kedap air), pelindung kaki, kaus kaki wool, sepatu ski, syal, penutup kepala, kacamata ski, sarung tangan,bekal makan siang, minuman dan air panas (jika akan berski selama beberapa jam), baju hangat ekstra dll.

Persiapan lengkap di atas mutlak diikuti, jika tidak mau menggigil kedinginan di tengah jalan. Selain itu, papan luncur ski yang akan dipakai harus dicek, diberi wax (lapisan lilin) agar tidak terlalu licin.

Usai mengecek rute yang akan dilalui, barulah teknik ber-ski dipraktekkan. Bagi pemula, berdiri di atas papan ski dengan baik dan benar, tanpa jatuh adalah sebuah prestasi awal. Menjaga keseimbangan juga butuh latihan. Selanjutnya, kombinasi antara keseimbangan, kekuatan kaki dan tangan serta teknik berski wajib selalui diingat.

Urutan belajar berski yang saya lalui –berdasarkan pengalaman pribadi dan ilmu dari mereka yang sudah mahir– antara lain: teknik menjaga keseimbangan, teknik meluncur, teknik mendaki (fishbone, berjalan mengikuti bentuk tulang ikan), teknik mengerem, teknik berbelok dan yang tak kalah penting: teknik jatuh!….

Bagi pemula, teknik jatuh penting karena bisa menentukan parah-tidaknya luka yang dialami. Keputusan penting harus diambil dalam waktu singkat. Suatu kejadian dua tahun yang lalu, saat sedang meluncur dengan cepat di jalan menurun, saya tidak bisa menguasai keseimbangan. Pilihan yang ada:

1. Jatuh menabrak pohon (titik benturan tidak jelas)
2. Jatuh menabrak gumpalan salju di sebelah pohon (titik benturan di wajah)
3. Jatuh tengkurap (dada terlebih dulu)
4. Jatuh dengan bokong lebih dulu (terjengkang)

Berdasarkan perhitungan singkat di kepala, saya memilih jatuh menabrak gumpalan salju di muka, karena:

1. Gumpalan salju yang ada adalah salju lunak
2. Kalau jatuh menabrak pohon, tengkurap atau terjengkang, impak atau benturan yang terjadi pasti lebih keras dan menyakitkan.
3. Nggak rela kalau harus jatuh di atas bokong πŸ˜€ (sakit booo…tulang semua seh, hehe)

Foto: Jatuh dengan sukses… πŸ˜€

Kadang, teknik jatuh tidak selamanya bisa dipraktekkan. Saat meluncur dengan cepat dan tidak bisa menjaga keseimbangan, selain harus tetap tenang, kita pun harus pasrah (hehe…kalo jatoh seh jatoh aja deh…, nasebbb…)

Karena masih harus banyak berlatih dan belajar teknik yang baik dan benar. Alhasil pengalaman terjendut2x, babak-belur dan bonyok2x sedikit pernah saya alami (no pain, no gain… you know πŸ˜€)

Foto: Jatuh dengan sukses, lagi… πŸ˜€

Terakhir kali, tahun lalu saat berski di BeitostΓΈlen di trek sepanjang 30 KM, saya terjatuh di sebuah turunan tajam dan mengalami patah kaki. Persoalannya… saat itu kami ada di tengah2x gunung tinggi, dengan salju di sepanjang jalan dan terisolasi. Lalu???… Tenang… ada palang merah yang menyiapkan posko setiap musim berski tiba. Berdasarkan statistik, tahun lalu dari semua posko di seluruh Norwegia, ada ratusan korban yang mengalami kecelakaan beraneka ragam.

Setelah menghubungi posko via HP, sekitar 15 menit kemudian sebuah scooter datang menjemput. Ternyata pengalaman naik scooter ini tak kalah mengasyikkan. Mayannn… Seperti naik motor di atas salju. Seru dan mendebarkan…

Dah dulu ye, aye mau berangkat ke gunung lagi mau maen ski…
Moga2x cuma kejendut, nggak pake patah2xan lagi…
Hepi wiken!

Nehe…Nehe…

Bagi yang pernah melihat film2x India mungkin ingat adegan saat seorang tuan tanah atau tukang pukul jahat (emangnya ada tukang pukul baek2x?… *pertanyaan nggak penting*…) menggoda gadis desa cantik yang sedang berjalan dan menarik2x tangan korbannya, si gadis pun berteriak: “NEHIIII… NEHIIII…!!!” (terjemahan: Tidakkk…. Tidakkk…!!!)

…Tak disangka kata pertama dalam bahasa lokal ini sangat manjur. Saat supir taksi menawarkan tumpangan …

Nah, adegan inilah yang membantu saya menebak arti kata ‘NEHE’ dalam bahasa Sinhala yang beberapa kali tertangkap kuping saat pertama kali mendarat di Bandara Sirimavo Bandaranaike-Colombo. Tak disangka, kata pertama dalam bahasa lokal ini sangat manjur. Saat supir taksi menawarkan tumpangan sambil menarik2x tangan, saya hanya berkata: “NEHE…NEHE…”. Saat supir bajaj setengah memaksa untuk memilih bajaj-nya, saya hanya bilang: “NEHE…NEHE…” Mmmmm, kalau ada cowok guanteng mengajak berkenalan?…Jawabannya pasti bukan Nehe…Nehe lagi dong, tapi HEHE…HEHE…kidding! πŸ˜€


Selain mengatakan “Nehe… Nehe…”, sesuai kebiasaan di Indonesia, bahasa tubuh yang dipakai saat berkata tidak, pasti GELENG2x KEPALA (lah iyalahhh… masa sambil jingkrak2x?…). Ternyata… bahasa tubuh tersebut memiliki arti berbeda di Sri Lanka.

Oktober, 2006

Malam pertama di Colombo, saya tinggal di sebuah rumah keluarga yang ditinggali pasangan suami-istri dari etnis Sinhala, bersama anak, cucu, menantu dan dua orang pembantunya. Saya tidak mengerti pertimbangan pihak kantor mencarikan kamar di tempat ini. Seperti layaknya basa-basi orang Indonesia, isteri sang empunya rumah, seorang perempuan paruh baya yang modis, ramah (atau diramah2xkan?, entahlah…) mengajukan beberapa pertanyaan dalam Bahasa Inggris, seperti di bawah ini:

Si Ibu: ” Kamu datang sendiri ke sini yah?”
Saya :”Iya, memang kenapa, Bu?…”
Si Ibu : (GELENG2x KEPALA…)
“Wah berani sekali… Umur kamu berapa?…”
Saya : ” Bla…bla…tahun”
Saat saya menjawab, si ibu lagi2x GELENG2x KEPALA…
Si Ibu: “Masa?…kamu terlihat jauh lebih muda. Dulu kuliah dimana?”
Saya: ” Di bla…bla…, jurusan bla…bla…”
(Sambil bicara saya mengamati respon Si Ibu yang terus GELENG2x KEPALA)

DUHHH, BU…PLISS DEHHH… JANGAN GELENG2x KEPALA MULU. SAYA AJA PEGEL NGELIATNYA… *suara jeritan hati :D*

Si Ibu: “Wah bagus sekali. Kamu kerja dengan organisasi apa?…Pernah kerja dimana?…”
Saya : “Saya pernah kerja di bla…bla… Sekarang gabung dengan bla..bla…”
Si Ibu: (GELENG2x KEPALA). Teutepppp…
Saya (dalam hati): “Ini Si Ibu napa yak? Apa tongkrongan saya terlihat seperti anak kemarin sore, nggak dipercaya?…Dianggap bohong?… Kok geleng2x kepala mulu, sehhhh…”

(akhirnya karena tidak tidak tahan lagi memendam rasa penasaran, saya pun nekat bertanya)

Saya: “Maap ya Bu, jangan tersinggung. Saya cuma mau nanya. Kenapa Ibu selalu geleng2x kepala setiap kali saya bicara dan menjawab pertanyaan?… Apa Ibu tidak percaya semua kata2x saya?”
Si Ibu (agak terkejut dan TIDAK LAGI GELENG2x KEPALA)
“Wah, NEHE… NEHE… Maaf, saya tidak bermaksud apa2x. Kalau di sini orang geleng2x kepala artinya mengiyakan omongan lawan bicara atau menyimak tanda setuju. Bukan sebaliknya…”
Saya: “Ealahhhh… begitu, yak…ternyata. Terima kasih atas penjelasannya, Bu…” *tetep jaim* (dalam hati mentung2xin diri sendiri menyadari kedodolan yang baru saja terjadi)

Dan sejak peristiwa ini, setiap lawan bicara saya geleng2x kepala di tengah ucapan atau pembicaraan saya, ucapan si Ibu tadi selalu terngiang2x, bahwa si lawan bicara sedang mengiyakan, bukan sebaliknya… πŸ˜€

Kembali Ke Blog! :D

Setelah sempat was2x dan kuatir atas godaan si trojan iseng, selama beberapa hari terakhir saya sibuk mengecek kesehatan blog, yang teryata masih baik2x saja (phewwww…. tarik nafas dulu...)

Kondisi page rank Google: bagus; Kondisi link ke blog: baik2x saja (tidak ada hidden link); Statistik blog: biasa saja, tidak ada perubahan mencurigakan. Pengunjung juga masih banyak yang masuk melalui mesin pencari Google.

Terus terang untuk urusan blogging, saya masih newbie (pendatang baru) yang memulai semua dari NOL besar, harus terjendut-jendut dahulu dan jatuh bangun (dangdut kaleee…)

Saya belajar bahwa modal menjadi blogger itu tidak hanya menulis, tetapi juga pengetahuan akan teknis perbloggingan. Blogging bukanlah sesuatu yang taken for granted (diterima apa adanya), karena sama seperti dunia nyata yang tidak hitam-putih, blogging juga demikian (jadi ngerasa sok tua deh…).

(Terjemahan: mau bilang aja kalo jadi blogger itu jangan naif (kayak saya huhuhu), karena pasti ada pihak2x dan tangan2x jahil yang iseng menganggu ‘keamanan dan ketentraman’ blog)

Belajar dari pengalaman kali ini, saya lebih serius memikirkan kesehatan dan keamanan blog (harus rajin2x check-up, bersih2x dan back-up,neh, moga2x akan selalu dihindarkan dari segala hambatan dan gangguan, aminnn)

Dan sekarang….kembali ke bloggg!!!… πŸ˜€

END OF POST


Serangan Trojan di Blogspot

Sebelumnya saya minta maaf jika belum memposting tulisan baru atau membalas sapaan, komentar dan kunjungan rekan2x.

Buat rekan2x blogger, khususnya pengguna Blogspot, saya hanya ingin menginformasikan ‘serangan’ trojan terhadap blogspot. Pada Malam minggu lalu, sekitar jam 11 malam, tiba2x saja Norman anti virus membaca trojan di semua blog (format blogspot) yang ada di Url Favorites dalam komputer saya, termasuk blog ini.

Setelah bolak-balik menanyakan mbah Google, laporan ‘serangan’ ini dialami banyak blogger lain di berbagai negara dalam waktu bersamaan. Untuk saat ini ada beberapa spekulasi, entah serangan ditujukan di server Blogspot, terkait dengan software interaktif blogspot, atau kemungkinan lain.

Untuk sementara waktu, menunggu info lebih lanjut, saya hanya akan ‘cooling down’. Moga2x masalah ini bisa teratasi segera. Terima kasih πŸ˜€

NB: Berdasarkan info yang saya baca, masalah serangan trojan ini mungkin terkait dengan browser Internet Explorer. Agar lebih aman, saya menggunakan Opera browser untuk browsing blog, seperti saat ini.

Nama trojan ini adalah: JS/Cardst.A

Duhhh, iseng banget sehhh… yang menyebarkan trojan…yang pasti saat ini si oknum pasti sudah disumpahi oleh banyak blogger supaya makan tak enak dan tidur tak nyenyak…dimanapun ia berada

Info tambahan: buat rekan2x blogger, saat meng-approve komentar, sebaiknya mencek ulang link url yang dicantumkan. Meski komentar terlihat ‘normal’ kadang link yang dipakai adalah link spam yang tidak jelas. Jadi… waspadalah. Salam πŸ˜€

END OF POST

Di Sini Ada Hantu?… (Bagian 1)

Pengalaman bekerja di daerah pasca bencana dan konflik membuat saya harus mendatangi lokasi yang penuh cerita ‘berdarah-darah’. Kisah penculikan, penyiksaan, pembunuhan sadis, kesedihan, kehilangan dan semacamnya menjadi bagian dari cerita sehari-hari. Kalau sudah begini, saya hanya mohon pada Yang Di Atas, agar diberi kekuatan dan ketegaran hati…

…hotel kecil yang saya tempati dikelilingi oleh rawa2x di bagian belakang, sementara pohon2x besar…

SIAPA YANG MENANGIS?
Saat bertugas di daerah Timur Sri Lanka, di tempat tinggal kedua usai harus mengungsi (lihat post: Mengungsi lagi- Sepenggal cerita dari Sri Lanka- part 6, hotel kecil yang saya tempati dikelilingi oleh rawa2x di bagian belakang, lapangan terbuka di bagian depan dan samping kiri, sementara pohon2x besar dan rimbun berada di sisi kanan (lihat foto di atas)


Tak jarang saya menjadi satu2xnya tamu di bangunan hotel bertingkat tiga tersebut. Sementara bapak tua penjaga pintu bertugas (yang lebih sering tertidur) di palang masuk, berjarak puluhan meter dari kamar saya di lantai 2. Otomatis, saya terisolasi dari dunia luar. Daerah tempat hotel berdiri diterjang ombak tsunami hingga lantai satu dan banyak mayat2x ditemukan di dalam hotel atau di rawa2x belakang hotel, tepat di bawah jendela kamar saya.

Awalnya, mengetahui resiko yang akan dihadapi, saya hanya bisa menguatkan diri dan menjauhkan pikiran dari hal2x negatif (…the power of positive thinking, you know...). Saat gelap mulai merayap… siksaan batin pun dimulai… Tidak ada TV, tidak ada radio, tidak ada teman untuk diajak bicara (hubungan telepon sering diputus mulai dari satu minggu hingga berbulan2x saat operasi militer dilakukan pasukan pemerintah), tidak ada tetangga kamar untuk diajak kongkow2x…

Memasuki jam 12 malam, suara hening bercampur gonggongan anjing, kadang lolongan panjang seperti di cerita2X horor dan suara daun2x kering terinjak binatang lewat menciptakan kesan tersendiri. Saya hanya berharap agar tidak melihat atau bertemu yang aneh2x (amit2x jangan sampe kejadian…)

Hingga satu malam…
Sekitar jam 2 malam, diawali dengan suara lolongan anjing di kejauhan. Sayup2x telinga saya menangkap suara tangisan…datang dari arah rawa2x di belakang kamar… Seperti biasa, saya hanya menutup muka dan telinga dengan bantal, mencoba menghindari yang tidak2x… (baca: self denial technique… hasil ciptaan sendiri *ngaco*))

Foto: Rawa2x di belakang hotel. Dinding lantai dua dalam foto adalah bagian dari kamar saya.

Namun, hingga sekitar 30 menit lebih suara tangisan masih terdengar… Seperti suara anak kecil (laki2x) menangis…. Yang terdengar kian jelas. Saya pun hanya bisa berbicara pada diri sendiri: ” Dear God, napa seh saya yang penakut gini musti ngalamin yang aneh2x… Biasa aja dong…” Sambil berharap dan ‘menghibur diri’: “Yah, ini kan bukan Indonesia, ‘mereka yang tak terlihat’ pasti nggak ngerti bahasa saya dan membatalkan niat buat iseng karena ‘hambatan komunikasi’ bahasa“… Hingga: “Tapi…, kalo ‘mereka’ bisa cas-cis-cus Bahasa Inggris gimana?…WAAKKKKKSSSS… GAWATTTSSS……”

Suara tangisan kembali terdengar. Saya hanya mencoba tidur, yang memang sesekali tertidur, lalu terbangun, dan tertidur lagi… Tangisan itu berlangsung (berdasarkan perkiraan), antara jam 1 hingga jam 3 pagi. Malam2x berikutnya kejadian sama berulang beberapa kali… Kadang suaranya mirip suara perempuan… Seperti biasa, saya hanya berdoa mohon kekuatan dan perlindungan, sambil tetap (memaksa diri) tertidur. Sebagai tambahan: dalam kamar saya ada 2 tempat tidur, satu selalu kosong namun… saya merasa seperti ada ‘sesuatu’ di sana.

Yah sudahlah… asal tidak macam2x atau menganggu saja… Beruntung masa tinggal saya di tempat ini segera berakhir (dengan paksa)…(lihat post: Mengungsi Lagi- Sepenggal Cerita Dari Sri Lanka part 6
Berlanjut ke:Di sini ada hantu? – part 2

 

Di Sini Ada Hantu?… (Bagian 2)

Lanjutan dari: Di Sini Ada Hantu?… (Bagian 1)

Keterangan Foto: Berdiskusi dengan pengungsi yang menengok lahan di desa setelah 5 tahun ditelantarkan. Saya menjadi satu2x perempuan di antara para lelaki (baru nyadar belakangan…, hehe :D)

CELANA JEANS TERSAYANG HARUS DIBUANG
Saat berkunjung ke salah satu desa di pedalaman Aceh, saya dan ketua tim (sebut saja Steven dari Australia) mendatangi lokasi yang sejak 5 tahun tidak pernah didatangi manusia. Penduduk mengungsi ke tempat lain mencari perlindungan. Alhasil, bangunan musholla yang rubuh, jembatan yang hancur, rumah2x yang ditelantarkan, bangunan yang dibakar saat konflik berdiri dikelilingi rimbunan pohon dan ilalang yang tinggi.

Dari penduduk desa tetangga, kami mendengar banyak cerita mengenaskan dan sulit dipercaya yang terjadi… (*censored*). Di salah satu bagian desa, saya dan Steven ingin melihat bangunan yang terbakar. Untuk menuju lokasi, kami harus melewati sebuah jalan setapak, di antara rimbunnya pohon dan semak belukar seperti terlihat dalam foto di atas

Beberapa penduduk lokal yang kami temui, termasuk supir menolak untuk ikut mendatangi lokasi, entah mengapa. Hanya saya, Steven dan seorang penunjuk jalan yang pergi. Rimbunan ilalang menutupi jalan yang kami lalui. Setelah beberapa ratus meter, kami tiba di lokasi, melakukan observasi dan kembali ke mobil. Dari cerita penduduk, saat konflik sedang panas2xnya, banyak mayat ditemukan di lokasi yang kami lewati dalam kondisi tidak utuh. SEEERRRRRR…Saya langsung merinding saat membayangkan kejadian yang pernah ada. Ilalang dan pepohonan menjadi saksi bisu duka dan kepedihan di sana. Suara tangisan dan teriakan sebelum ajal menjemput para korban yang malang seakan ‘direkam’ oleh alam.

Tidak ada kejadian aneh di hari2x selanjutnya. Namun tiba2x saja saya mengalami alergi hebat yang tak pernah dialami seperti biduran, merah dan gatal di kaki. Awalnya saya tidak ambil pusing. Lama kelamaan, setelah obat anti alergi dan sabun anti-septik tidak mempan, saya mulai berpikir, mengapa alergi selalu muncul setiap kali saya mengenakan celana jeans yang sama yang saya kenakan saat mendatangi lokasi di desa terpencil tadi. Meski celana sudah dicuci dan diseterika berulang-ulang selama beberapa kali. Hal ini berlangsung hingga beberapa bulan… (lama betul yah)

Atas saran seorang rekan lokal yang memiliki ‘pengetahuan’ tentang hal2x semacam ini, saya harus membuang celana jeans tadi sebagai ‘tumbal’ untuk ‘buang sial’ (duh kok bisa seh, kenapa harus celana?…).

Dalam bahasa paranormal mungkin bisa dibilang kalau daerah ini ‘tidak bersih’. Berat rasanya, karena ini adalah celana kesayangan, yang pas di badan dan nyaman dipakai. Namun, karena tidak tahan lagi dengan alergi aneh yang ‘hinggap’ di celana jeans itu, saya pun merelakannya. Yah, celana kesayangan pun harus berakhir tragis di tong sampah (selamat tinggal celana jeans-ku tersayang…) Dan alergi aneh tadi pun tidak pernah muncul lagi.

DI SINI ADA HANTU?
Nah, selama berada di Norwegia…saya pikir akan terbebas dari hal2x dan hil2x aneh2x seperti pengalaman sebelumnya. TAPIIIIII…. saya keliru…………..

Kejadian terakhir adalah hari Selasa dua hari yang lalu. Saat musim dingin seperti sekarang, matahari mulai terbenam jam 4 sore. Jam 17.30, saya masih di ruang kantor seorang diri. Pemandangan di luar jendela nampak gelap gulita karena lampu ruangan lain dimatikan, sepi, tanda tak banyak pekerja lain yang masih berada di sana.

Foto: Ruang tempat saya ‘kerja rodi’ setiap hari…


Tiba2x saja… saya mencium bau aneh…yang entah terbawa hembusan angin dari mana.
Hidung pun mencoba mengenali bau tak biasa ini.

Bau kopi (“Aha, paling2x ada yang bikin kopi pake coffee-maker di ujung gang” pikir saya). Tapi…. kok baunya aneh… bau kopi disusul bau gosong seperti terbakar dan… BAU BANGKAI!!!…

Saya mencoba memastikan penciuman tadi dan hasilnya memang positif, bau kopi, gosong dan bau bangkai!… WHAAAAAA…. Tidak ada orang lain di ruangan kiri-kanan saya… Tidak ada langkah2x kaki terdengar di sekitar… Hanya langkah2x kaki orang mondar-mandir berjalan (mungkin) di lantai atas… Tapi, jam2x segini, lantai atas juga biasanya kosong… lalu langkah kaki siapa dong?…. HUHUHU… 😦

Saya pun teringat bahwa sejak seharian itu bulu kuduk saya merinding tanpa sebab yang jelas. Karena bau aneh tercium semakin kuat dan tidak mau mengalami yang aneh2x, saya segera mengambil syal, jaket, tas dan KABURRRRRR….

Esoknya, saya bertanya pada bos (orang Norwegia yang tahu banyak tentang Indonesia). Saat itu, ia kebetulan mampir ke ruangan untuk ngobrol2x. Dalam terjemahan bebas:

Saya: “Mmmmm, mo nanya neh…di sini pernah ada kejadian aneh2x nggak?”
Boss: “Aneh2x gimana maksud kamu?” (dengan muka heran)
Saya: “Ya, aneh2x…itu loh…kejadian yang melibatkan sesuatu ‘yang tak kelihatan’
Boss: “(mulai ngeh)Ooooo, itu maksudnya… Kayaknya nggak deh. Emang napa?” *dengan wajah penasaran*
Saya: “Kemaren ada kejadian yang saya nggak ngerti, tiba2x aja kok kecium bau kopi, gosong dan bau bangkai di sini…”
Boss: “Wah, ada2x aja… Saya sih nggak pernah mikirin begituan. Tapi dulu pak X… (keterangan: pak X ini, seorang politikus, yang juga mantan dosen saya di FHUI) dia pernah nanyain hal yang sama juga loh…”
Saya: “O ya?” *penasaran*
Boss: “Iya, dia nanya: DI SINI ADA HANTU? gitu deh…”
Saya: “Napa dia nanya begitu yak?…” *tambah penasaran*
Boss: “Nggak tau tuh. Waktu itu dia datang berkunjung ke sini. Tiba2x aja nanya begituan”…
Saya :(berpikir dalam hati)”Wah, jangan2x Pak X bisa ‘melihat’ juga ato beliau juga penakut kayak saya?“…*melongo*

Foto: pemandangan luar, lewat jam 5 sore biasanya sudah gelap gulita.

Bangunan kantor saya berada di seberang bangunan universitas berumur ratusan tahun. Saat Perang Dunia II, beberapa bagian kota juga hancur karena ledakan bom.

Untung sebentar lagi lokasi kantor akan pindah ke tempat baru.
(PHEWWWW, slamet… slamet…)

Meski harus tetap berpikir positif dan rasional, kadang tetap ada hal2x atau peristiwa yang tak bisa dijelaskan dengan nalar terjadi dalam hidup sehari2x. Masih banyak kejadian aneh yang saya alami, namun karena keterbatasan tempat akan dimuat dalam postingan berbeda (tetaplah berpikir positif! *sambil komat-kamit :D*)