Mitos dan Tahayul di Norwegia

Pada awalnya, kesan saya terhadap penduduk asli Norwegia adalah logis dan rasional dalam berpikir, tidak mempercayai hal2x yang mistis, spiritual, magis atau sejenisnya. Sebagai tambahan, meski agama Protestan diakui sebagai agama resmi dan ‘dianut’ oleh 85% populasi yang ada, namun tak jarang agama dilihat sebagai formalitas (dalam tataran publik dan politis) serta menjadi bagian dari tradisi dan budaya masa lalu. Kecuali di daerah2x pedesaan atau pedalaman yang masih menjaga kuat tradisi keagamaan. Mereka yang mengaku atheis atau agnostik bukanlah hal yang aneh atau jarang ditemui.


‘Persentuhan’ pertama dengan tahayul terjadi beberapa tahun lalu saat saya masih belum menetap dan mengunjungi T ketika mengambil jatah cuti 2 minggu dari kantor di Sri Lanka. Dalam sebuah acara santai minum teh bersama anggota keluarga T, sebuah ‘Strawberry Cake’ yang terlhat cantik disajikan, masing2x mendapat giliran untuk mengambil potongan cake. Tibalah giliran saya…

Foto: Marzipan cake, hadiah ulang tahun dari T. Memotong cake di sini bisa menjadi bahan diskusi tentang mitos dan tahayul.

Karena tidak memiliki prasangka apapun, sepotong cake berpindah ke dalam piring kecil di tangan dengan posisi terbalik di salah satu sisi. Tanpa sadar, mata semua orang yang ada di sekeliling meja menatap dengan serius ke arah aktivitas kecil tadi. Hingga beberapa menit kemudian, salah satu dari mereka pun berkomentar (dalam terjemahan bebas):

Komentar (K): “Mmmmm, kamu tahu nggak?…Di sini orang percaya tahayul loh tentang cara meletakkan potongan cake atau pudding di piring…”

Me : “O, ya?…saya nggak tau tuh. Kirain orang sini nggak percaya yang begituan…”

K :” Well, sebenernya sih ada cukup banyak tahayul di sini. Biasanya yang cerita tuh orang2x tua”

Me :” Kalo makan cake begini emang apa sih tahayulnya?…(mulai penasaran)”

K :” Sebenernya, bukan makan cake-nya tapi cara meletakkan potongan cake di piring. Kalo potongannya nggak bisa tegak misalnya jatuh di salah satu sisi, katanya sih bakalan dia–kalo masih single–nggak akan pernah menikah…”

(Saya pun berpikir dan mencoba mengingat. Ooops,… potongan cake di piring tadi jatuh di salah satu sisi…)

Me :”(*berpikir sambil mencari pembelaan diri*) Wah kayaknya itu cuman berlaku buat penduduk asli Norwegia deh, nggak berlaku buat imigran atau pendatang kayak saya, hehe! :D…”


Sejak kejadian di atas, ada beberapa mitos dan tahayul yang saya temui dalam kehidupan sehari2x di sini. Misalnya:

Foto: Midnight Sun (matahari tengah malam). Foto diambil saat matahari baru terbenam sekitar pukul 12 malam.

-Pada pertengahan musim panas, saat matahari mencapai puncak tertinggi dan masih bersinar pada tengah malam (midnight sun). Konon bagi perempuan yang masih single, jika malam itu tidur dengan daun tujuh rupa di bawah bantalnya, maka ia akan bermimpi melihat wajah ‘the future husband’ atau suami masa depannya.

-Pada bagian depan pintu, khususnya di pertanian atau rumah tua berumur ratusan tahun, kadang dijumpai bentuk ladam (sepatu atau tapal kuda) tergantung (lihat foto di bawah). Simbol ini melambangkan ‘luck’ atau keberuntungan. Dalam kartu ucapan selamat atas pernikahan atau perayaan sejenis, gambar ladam juga banyak dijumpai.

Foto: Ladam (tapal kuda), simbol keberuntungan yang diletakkan di atas pintu masuk.

-Saat Natal, para ibu rumah tangga menyiapkan kue2x yang entah mengapa harus terdiri dari 7 (tujuh) macam… Ini juga telah menjadi tradisi yang turun-temurun.

Foto: Karakter Troll yang banyak dijumpai di Norwegia dengan berbagai sifat mulai dari yang baik hati, kocak, pendiam, hingga yang jahat penganggu manusia.

Troll memancing ikan…

Troll menyambut tamu…

Troll dan bunga…

Troll?… No, that’s me, dengan jaket ukuran XXXXXXLLLLLL…:D

Selain itu ada banyak karakter yang mirip seperti legenda rakyat di negara lain dan di Indonesia antara lain: Troll (raksasa), Elf (kurcaci dan peramal masa depan yang muncul dalam banyak kisah rakyat seperti dalam post: Kristin Lavransdatter (1)), tokoh mirip putri duyung, Hudra (peri berambut panjang, mirip kisah…*duh siapa yang tokoh laki2x yang mengintip para peri dari kahyangan sedang mandi di danau lalu mencuri selendangnya, di akhir cerita si laki2x ditinggal karena melanggar janjinya*… maaf saya lupa judul kisahnya, kisah tadi mirip juga dengan cerita ‘Ande-ande Lumut’, Askeladden (anak muda yang cerdas dan baik hati), sampai2x mahluk danau aneh mirip Loch Ness di Skotlandia.

Foto Kapal layar yang melaju bersama hembusan angin

Dalam hal yang terkait dengan laut seperti di dalam kapal (khususnya kapal selam) ada beberapa tahayul seperti tidak boleh bersiul, tidak boleh membawa tas ransel (kurang jelas tas macam apa yang tidak diperbolehkan), tidak boleh membawa payung yang jika dilanggar konon bisa membawa sial.

Tentu saja mitos dan tahayul semacam ini berbeda di tiap tempat dan tidak semua orang Norwegia mengetahui atau mempercayainya.

Foto: The truth is out there…

13 thoughts on “Mitos dan Tahayul di Norwegia

  1. princeofborneo

    Oh langit di Kalteng juga seperti itu kalau malam. Tidak terlalu sering sih, hanya pada detik2 tertentu. Tapi untungnya masyarakat di sini sudah menganggapnya sebagai hal yang biasa. coba kalau dianggap mitos, bisa berabe lagi kan. haha…😀

    Reply
  2. princeofborneo

    Tahayul oh tahayul, waktu masih tinggal di Bogor keluargaku pernah melarangku makan masakan (maaf, tunggir/pantat ayam) dengan alasan pantangan bagi laki-laki yg masih lajang. Takutnya kalau menikah nanti tidak akan dihargai oleh istri. Memangnya apa hubungannya ya antara pantat ayam dengan istri?

    Setelah pindah ke Kalimantan, saya melihat masyarakat setempat percaya tahayul: kuyang (kepala nenek2 yg terbang setiap malam untuk menghisap darah bayi, agar si nenek kembali muda), ngayau (pemotong kepala).

    Bahkan lucunya pernah suatu kali ada komet melintas, disangka kepala adat itu adalah ‘tuju’ (santet yg dikirimkan kepada seseorang oleh seorang penyihir). Maka agar bala yg dikirim tersebut tidak merugikan pihak lain, kepala adat pun mengadakan upacara tolak bala selama 3 hari 3 malam. Semua warga dilarang berkendara bila hendak bepergian, dilarang memakai pakaian yg terang menyala seperti api (merah, kuning), dilarang membuat kegaduhan, dan dilarang menyalakan tungku ataupun bakar-bakaran. Hadeuh, repot deh. Padahal cuma gara2 komet melintas lho…

    Reply
    1. Felicity Post author

      Wah, makasih buat infonya….jadi tahu mengenai tahayul2x di pedalaman…. Terakhir saya ke pedalaman di Sulteng dan bermalam di desa di salah satu daerah pegunungan tiba2x langit menyala2x seperti ada ribuan blitz berkilatan di angkasa…mirip cahaya petir tapi tidak ada suara apa2x selama 1-2 jam…. kata orang tua yang mengerti katanya ada yang mau ‘kenalan’ karena ada orang asing (terutama suami yang terlihat beda) yang datang.

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s