Antara Saya, Tembok, Janda Aisyah dan Edith Piaf

Bagi yang penasaran mungkin bertanya2x, apa yang dua mahluk misterius sedang lakukan dalam foto di atas?… Mencuri mangga tetangga?… Mengintip orang mandi?… atau sudah bosan hidup dan ingin loncat dari atas tangga? (amit2x jangan sampe)

SAYA…

Kalau saya jawab sedang bekerja, pasti tidak percaya… (kejujuran tidak selalu bisa diterima, bukan?)… Saat itu kami (saya dan seorang rekan lokal) sedang mencari data lapangan sebagai peneliti beberapa tahun lalu. Penelitian dilakukan di daerah yang terkena dampak konflik dan tsunami di Banda Aceh, Aceh Utara, Aceh Barat, Aceh Tengah dan Pidie di bawah sebuah organisasi internasional.

JANDA AISYAH

Salah satu narasumber adalah janda Aisyah yang menjadi korban tsunami. Dari cerita beliau, ia terseret arus tsunami selama beberapa kilometer sebelum akhirnya tersangkut di pinggir jembatan. Ngeri rasanya membayangkan kisah saat perempuan berumur sekitar 50 tahun (saya lupa pastinya) ini tergulung dalam pusaran arus air laut bercampur lumpur hitam, barang2x, sampah, hewan dan tubuh manusia lain yang berjuang untuk bertahan hidup.

TEMBOK ITU…

Ibu Aisyah kehilangan suami, anak, rumah dan seluruh harta bendanya. Saat kami temui ia sedang berjualan kacang dan jagung rebus di pantai Ulee Lheue, Banda Aceh dari program bantuan sebuah LSM. Satu hal yang mengejutkan, ibu Aisyah harus naik turun tangga setiap hari untuk mengambil bahan jualan (jagung rebus dan kacang rebus) di sebuah rumah gubuk di belakang tembok sebuah museum budaya di Banda Aceh.

Foto: Kegiatan rutin setiap hari: naik turun tangga dan meloncati tembok dengan tinggi sekitar 2,5 M

Saat mengikuti jejak langkah kegiatan ibu Aisyah, kami ikut menaiki tangga, meloncati tembok yang terus terang tidak mudah untuk dilakukan. Tangga yang reot, licin (terutama setelah hujan) sangat beresiko untuk jatuh terpeleset, terjerembab atau sekedar cedera karena tersangkut kawat duri di atas tembok.

Sulit dibayangkan perjuangan perempuan paruh baya ini saat menaiki dan menuruni tangga dengan panci besar berisi jagung dan kacang rebus. Bahan dagangan ini kemudian dibawa dengan becak atau angkot menuju pantai untuk dijual dengan gerobak keliling. Saat itu ia masih belum memiliki kompor sendiri untuk merebus, selain harga minyak yang tidak terjangkau, harga panci rebus baru pun sulit dijangkau.

Foto: Saya, Janda Aisyah dan Gerobak Dorong

NO REGRET

*Ah, ibu… Pilu rasanya hati ini melihatmu tidur hanya beralaskan koran, seorang diri dan tercerabut dari masa lalu*… Waktu itu, untuk menjamin objektifitas data, peneliti tidak diperbolehkan memberi imbalan berupa uang atau barang. Padahal… sang responden (nara sumber) jelas2x membutuhkan bantuan… Sulit rasanya menutup mata dan hati nurani begitu saja melihat apa yang terjadi.

Tidak banyak yang bisa kami berikan saat itu karena keterbatasan kemampuan pribadi (maklum anak kos), hanya sebuah alas tidur sederhana, kompor dan alat masak. Dimanapun dirimu saat ini, ibu, saya ucapkan terima kasih atas sebuah perjumpaan yang singkat namun penuh makna…

Saat ditanyakan tentang perasaannya, dengan tatapan mata penuh arti ia hanya menjawab lugas: “Saya tidak menyesali yang telah terjadi…Saya pernah merasakan semua, tawa, air mata, kepedihan, gembira dan derita. Inilah kehidupan”…. *mak nyesssss….dalemmmmm….*

Saya hanya bisa membayangkan semua kebahagiaan, keluarga, keceriaan dan semua kenangan yang pernah ada lewat tatapan matanya yang sendu dan sulit diselami. Ada rasa kagum dan salut dengan ketegaran, ketabahan dan kepasrahan perempuan yang ada di depan saya saat itu.

EDITH PIAF

Dan… ini mengingatkan saya pada lagu “Non, je ne regrette rien” (1961) atau “No, I regret Nothing” yang dibawakan penyanyi legendaris asal Perancis Edith Piaf. Film tentang riwayat hidupnya ‘La Vie en Rose’ memenangkan piala Oscar untuk artis terbaik tahun 2008 (Marion Cotillard sebagai Edith Piaf).

Meski film ini sudah ditonton beberapa bulan lalu, kisah dan lagu2x yang ada di dalamnya terus ‘menghantui’… apalagi jika saya teringat kisah Janda Aisyah beberapa tahun sebelumnya…

I have learned:

Live your life to the fullest. No regrets.
Make mistakes and learn from them.
Never take anything for granted.
Love with everything you have and never give up.

Lagu “Non, je ne regrette rien” oleh Edith Piaf…

Lyric:
NON, JE NE REGRETTE RIEN

Non, rien de rien
(No, nothing at all)

Non, je ne regrette rien
(No, I don’t regret anything at all)

Ni le bien qu’on m’a fait
(Nor the good that was given me)

ni le mal, Tout חa m’est bien יgal
(Nor the evil. They’re all the same

Non, rien de rien
(No, nothing at all)

Non, je ne regrette rien
(I don’t regret anything at all)

C’est payי, balayי, oubliי
(It’s all paid for, wiped out, and forgotten)

Je me fous du passי
(And I don’t care for what’s gone by)


Avec mes souvenirs
(With my memories)

J’ai allumי le feu
(I’ve lit a fire)

Mes chagrins, mes plaisirs
(My sorrows, my pleasures)

Je n’ai plus besoin d’eux
(I don’t need them anymore)

Balayיs mes amours
(My romances wiped out)

Avec leurs tremolos
(With the tremblings they braught)

Balayיs pour toujours
(Wiped out forever)

Je repars א zיro
(I set out once more from zero)


Non, rien de rien
(No, nothing at all)

Non, je ne regrette rien
(I don’t regret anything at all)

Ni le bien qu’on m’a fait
(Nor the good that was given me)

ni le mal, Tout חa m’est bien יgal
(Nor the evil. They’re all the same)

Non, rien de rien
(No, nothing at all)

Non, je ne regrette rien
(I don’t regret anything at all)

Car ma vie
(Because my life)

Car mes joies
(Because my joys)

Aujourd’hui
(Today)

ַa commence avec toi…
(It all begins with you…)

DAN…

Kelak, bila saatnya tiba ketika saya harus menutup mata untuk selamanya…
Saya tidak ingin ada penyesalan karena telah mencoba melakukan yang terbaik dalam hidup…
Meski harus jatuh-bangun, kejendut, terjerembab dan babak-belur…(emangnya habis tawuran?…*mentung2xin diri sendiri karena ngaco*)
Hidup memang tidak mudah dan penuh perjuangan…(*dengan gaya sok tua* kalo ini serius… iya benerrrr…..)

Catatan: mohon maaf dengan gaya penulisan yang agak aneh. Sebagian dari diri saya ingin serius, sebagian ingin tidak serius (waaaaw, ngeri… ternyata blogging bisa membuat orang memiliki kepribadian ganda)

Sumber:
http://en.wikipedia.org/wiki/Non,_je_ne_regrette_rien”>http://en.wikipedia.org/wiki/Non,_je_ne_regrette_rien
http://www.imdb.com/title/tt0450188/awards
http://en.wikipedia.org/wiki/La_Vie_En_Rose_
www. youtube.com
http://www.songmeanings.net/songs

10 thoughts on “Antara Saya, Tembok, Janda Aisyah dan Edith Piaf

    1. Felicity Post author

      Yup, waktu bertemu ibu Aisyah dan melihat perjuangan hidupnya saya juga mau nangis…. padahal saya ketemu beliau dalam rangka pekerjaan (penelitian)…jadinya ya menangis dalam hati saja supaya tidak ketahuan yang lain.

      Reply
  1. juliach

    Begitulah hidup…tak ada yang perlu disesali…bak tentara krocok maju terus!!!!!
    Akupun sekarang begitu…kagak perlu pikir-pikir panjang…malah nanti ketakutan ngeri tak jadi maju-maju…

    Reply
  2. Felicity

    @caroline: iya mbak mengharukan banget… Tiap ketemu beliau dan pengungsi lain, kayaknya hati saya dikoyak2x sedih dan pilu banget gitu. Semoga Tuhan senantiasa menjaga dan menerangi jalan mereka, aminnn.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s