Monthly Archives: November 2008

Orang Jepang dari Hongkong

Ada satu hal yang sering ditanyakan buat saya setiap kali berada di tempat baru. “Kamu berasal dari mana?” . “Coba tebak…”, biasanya itu jawaban saya sambil senyum2x penuh keyakinan kalau jawaban yang diberikan bakalan salah. Dan…memang kebanyakan salah…

Saat berada di kawasan Eropa, orang mengira saya adalah orang:
1. Filipina
2. Thailand
3. Vietnam
4. Lain2x mulai dari Spanyol sampe Peru (nggak nyambung banget yak)

Nah, posting kali ini adalah tentang pengalaman selama di Sri Lanka,kejadian yang sama selalu berulang… dan hasil tebakan mereka adalah:
1. Orang Jepang
2. Orang Jepang
3. Orang Jepang

Yaolohhh…masak saya yang gosong dan bermata belok begini dibilang orang Jepang?… Jepang dari Hongkong?… (*ngomong dengan diri sendiri*). Percakapan sebagai berikut pernah terjadi (dalam terjemahan sebebas-bebasnya :D):

Bersama anak2x sekolah saat kunjungan lapangan



Orang yang tanya-tanya (OYTT): “Mbak…mbak…aslinya dari mana sih?”
Saya : “Ayo tebakkkk….” *sambil senyum2x sendiri*…(gila dong!…)
OYTT : “Pasti dari JEPANG!” *dengan nada yakin*
Saya : ” JEPANG?…Emang saya kayak orang JEPANG?…” *penasaran*
OYTT : ” Iya!” *mengangguk masih dengan muka yakin*
Saya : ” Nggak kok, saya bukan orang JEPANG!”
OYTT : ” Kalo gitu orang CINA dong!” *dengan nada yakin*
Saya (dalam hati):…”Yaelahhh, nih orang, udah salah pake yakin lagi
Saya : ” Bukan, saya orang INDONESIA”
OYTT : ” INDONESIA?… Mmmmm, oh, MALAYSIA?…”
Saya : ” Bukan MALAYSIA tapi INDONESIA kita tetanggaan
OYTT : ” Ohhh, THAILAND…”
Saya (dalam hati) : “Duh, napa seh, orang kok nggak tau Indonesia?…”
Saya : “Bukan THAILAND, tapi INDONESIA!”
OYTT : “Oyaya, saya tahu… MALAYSIA…MALAYSIA…” *sambil manggut2x*
Saya : “Bukannnn…bukan MALAYSIA, tapi INDONESIA… INDONESIA”
OYTT : ” Ahhh, saya tahu, kamu mau ngerjain saya yah… Kamu pasti orang JEPANG!”
Saya (dalam hati): PRETTTTTT!!!!!!….#¤&/&¤”!!¤&//XXZZZ”#¤…. (bener2x jaka sembung kagak nyambung…)

Keterangan: percakapan serupa sering terjadi bila bertemu penduduk lokal. Ketidaktahuan ini mungkin disebabkan arus informasi yang tidak lancar, wajah orang Indonesia yang tidak familiar, sedikitnya orang Indonesia di Sri Lanka (selama di Batticaloa belum pernah bertemu satupun orang Indonesia dan menurut info, belum pernah ada orang Indonesia ‘berkeliaran’ di sana).

Sementara, LSM dan proyek2x bantuan dari Jepang banyak bertaburan di Sri Lanka, sampai2x ada satu hotel khusus di ibu kota yang penghuninya 90% adalah orang Jepang yang tinggal berbulan2x atau sekedar kunjungan singkat, dari anak muda ABG hingga orang dewasa.

JRENGGGGG….. believe it or not
Awalnya, saya sempat heran saat mendatangi warnet yang dipenuhi anak muda berbahasa Jepang (mirip di Bali), lalu bertemu tamu2x dari Jepang di lobi hotel, melihat orang Jepang menenteng2x seterikaan, sikat dan laundry menuju lift; melihat mereka bercengkerama di restoran, di pusat perbelanjaan, di jalanan…

OMAIGOTTTT….mereka ada di mana-mana…. Tak jarang saya menemui gadis2x muda berpakaian ketat nan seksi, make-up tebal dan tidak mengesankan sedang berada di sebuah negara yang sedang dikoyak perang saudara. Staff lokal saya mengatakan kalau tidak sedikit dari mereka yang menjadi perempuan panggilan sebagai sumber penghasilan, entah benar atau tidaknya saya tidak tahu pasti. Jangan2x ini hanya kebetulan saja karena saya sedang menginap di daerah ‘hotel Jepang’ ini…

Karena keterbatasan kontak dengan orang Indonesia, wajarlah jika bentuk fisik orang dari negara kita tidak dikenal… Saya sempat berpikir, jangan2x mereka mengira semua orang berwajah Asia (selain dari India) adalah orang Jepang… Saya tidak mau melakukan generalisasi, ada juga orang Sri Lanka yang berpendidikan dan mengetahui Indonesia. Namun, bagi masyarakat awam di pedesaan,Indonesia, Malaysia dan Jepang, hampir tidak ada bedanya…

SAYA BUKAN ORANG JEPANNGGGGG!!!!………….

Advertisements

Antara Saya, Tembok, Janda Aisyah dan Edith Piaf

Bagi yang penasaran mungkin bertanya2x, apa yang dua mahluk misterius sedang lakukan dalam foto di atas?… Mencuri mangga tetangga?… Mengintip orang mandi?… atau sudah bosan hidup dan ingin loncat dari atas tangga? (amit2x jangan sampe)

SAYA…

Kalau saya jawab sedang bekerja, pasti tidak percaya… (kejujuran tidak selalu bisa diterima, bukan?)… Saat itu kami (saya dan seorang rekan lokal) sedang mencari data lapangan sebagai peneliti beberapa tahun lalu. Penelitian dilakukan di daerah yang terkena dampak konflik dan tsunami di Banda Aceh, Aceh Utara, Aceh Barat, Aceh Tengah dan Pidie di bawah sebuah organisasi internasional.

JANDA AISYAH

Salah satu narasumber adalah janda Aisyah yang menjadi korban tsunami. Dari cerita beliau, ia terseret arus tsunami selama beberapa kilometer sebelum akhirnya tersangkut di pinggir jembatan. Ngeri rasanya membayangkan kisah saat perempuan berumur sekitar 50 tahun (saya lupa pastinya) ini tergulung dalam pusaran arus air laut bercampur lumpur hitam, barang2x, sampah, hewan dan tubuh manusia lain yang berjuang untuk bertahan hidup.

TEMBOK ITU…

Ibu Aisyah kehilangan suami, anak, rumah dan seluruh harta bendanya. Saat kami temui ia sedang berjualan kacang dan jagung rebus di pantai Ulee Lheue, Banda Aceh dari program bantuan sebuah LSM. Satu hal yang mengejutkan, ibu Aisyah harus naik turun tangga setiap hari untuk mengambil bahan jualan (jagung rebus dan kacang rebus) di sebuah rumah gubuk di belakang tembok sebuah museum budaya di Banda Aceh.

Foto: Kegiatan rutin setiap hari: naik turun tangga dan meloncati tembok dengan tinggi sekitar 2,5 M

Saat mengikuti jejak langkah kegiatan ibu Aisyah, kami ikut menaiki tangga, meloncati tembok yang terus terang tidak mudah untuk dilakukan. Tangga yang reot, licin (terutama setelah hujan) sangat beresiko untuk jatuh terpeleset, terjerembab atau sekedar cedera karena tersangkut kawat duri di atas tembok.

Sulit dibayangkan perjuangan perempuan paruh baya ini saat menaiki dan menuruni tangga dengan panci besar berisi jagung dan kacang rebus. Bahan dagangan ini kemudian dibawa dengan becak atau angkot menuju pantai untuk dijual dengan gerobak keliling. Saat itu ia masih belum memiliki kompor sendiri untuk merebus, selain harga minyak yang tidak terjangkau, harga panci rebus baru pun sulit dijangkau.

Foto: Saya, Janda Aisyah dan Gerobak Dorong

NO REGRET

*Ah, ibu… Pilu rasanya hati ini melihatmu tidur hanya beralaskan koran, seorang diri dan tercerabut dari masa lalu*… Waktu itu, untuk menjamin objektifitas data, peneliti tidak diperbolehkan memberi imbalan berupa uang atau barang. Padahal… sang responden (nara sumber) jelas2x membutuhkan bantuan… Sulit rasanya menutup mata dan hati nurani begitu saja melihat apa yang terjadi.

Tidak banyak yang bisa kami berikan saat itu karena keterbatasan kemampuan pribadi (maklum anak kos), hanya sebuah alas tidur sederhana, kompor dan alat masak. Dimanapun dirimu saat ini, ibu, saya ucapkan terima kasih atas sebuah perjumpaan yang singkat namun penuh makna…

Saat ditanyakan tentang perasaannya, dengan tatapan mata penuh arti ia hanya menjawab lugas: “Saya tidak menyesali yang telah terjadi…Saya pernah merasakan semua, tawa, air mata, kepedihan, gembira dan derita. Inilah kehidupan”…. *mak nyesssss….dalemmmmm….*

Saya hanya bisa membayangkan semua kebahagiaan, keluarga, keceriaan dan semua kenangan yang pernah ada lewat tatapan matanya yang sendu dan sulit diselami. Ada rasa kagum dan salut dengan ketegaran, ketabahan dan kepasrahan perempuan yang ada di depan saya saat itu.

EDITH PIAF

Dan… ini mengingatkan saya pada lagu “Non, je ne regrette rien” (1961) atau “No, I regret Nothing” yang dibawakan penyanyi legendaris asal Perancis Edith Piaf. Film tentang riwayat hidupnya ‘La Vie en Rose’ memenangkan piala Oscar untuk artis terbaik tahun 2008 (Marion Cotillard sebagai Edith Piaf).

Meski film ini sudah ditonton beberapa bulan lalu, kisah dan lagu2x yang ada di dalamnya terus ‘menghantui’… apalagi jika saya teringat kisah Janda Aisyah beberapa tahun sebelumnya…

I have learned:

Live your life to the fullest. No regrets.
Make mistakes and learn from them.
Never take anything for granted.
Love with everything you have and never give up.

Lagu “Non, je ne regrette rien” oleh Edith Piaf…

Lyric:
NON, JE NE REGRETTE RIEN

Non, rien de rien
(No, nothing at all)

Non, je ne regrette rien
(No, I don’t regret anything at all)

Ni le bien qu’on m’a fait
(Nor the good that was given me)

ni le mal, Tout חa m’est bien יgal
(Nor the evil. They’re all the same

Non, rien de rien
(No, nothing at all)

Non, je ne regrette rien
(I don’t regret anything at all)

C’est payי, balayי, oubliי
(It’s all paid for, wiped out, and forgotten)

Je me fous du passי
(And I don’t care for what’s gone by)


Avec mes souvenirs
(With my memories)

J’ai allumי le feu
(I’ve lit a fire)

Mes chagrins, mes plaisirs
(My sorrows, my pleasures)

Je n’ai plus besoin d’eux
(I don’t need them anymore)

Balayיs mes amours
(My romances wiped out)

Avec leurs tremolos
(With the tremblings they braught)

Balayיs pour toujours
(Wiped out forever)

Je repars א zיro
(I set out once more from zero)


Non, rien de rien
(No, nothing at all)

Non, je ne regrette rien
(I don’t regret anything at all)

Ni le bien qu’on m’a fait
(Nor the good that was given me)

ni le mal, Tout חa m’est bien יgal
(Nor the evil. They’re all the same)

Non, rien de rien
(No, nothing at all)

Non, je ne regrette rien
(I don’t regret anything at all)

Car ma vie
(Because my life)

Car mes joies
(Because my joys)

Aujourd’hui
(Today)

ַa commence avec toi…
(It all begins with you…)

DAN…

Kelak, bila saatnya tiba ketika saya harus menutup mata untuk selamanya…
Saya tidak ingin ada penyesalan karena telah mencoba melakukan yang terbaik dalam hidup…
Meski harus jatuh-bangun, kejendut, terjerembab dan babak-belur…(emangnya habis tawuran?…*mentung2xin diri sendiri karena ngaco*)
Hidup memang tidak mudah dan penuh perjuangan…(*dengan gaya sok tua* kalo ini serius… iya benerrrr…..)

Catatan: mohon maaf dengan gaya penulisan yang agak aneh. Sebagian dari diri saya ingin serius, sebagian ingin tidak serius (waaaaw, ngeri… ternyata blogging bisa membuat orang memiliki kepribadian ganda)

Sumber:
http://en.wikipedia.org/wiki/Non,_je_ne_regrette_rien”>http://en.wikipedia.org/wiki/Non,_je_ne_regrette_rien
http://www.imdb.com/title/tt0450188/awards
http://en.wikipedia.org/wiki/La_Vie_En_Rose_
www. youtube.com
http://www.songmeanings.net/songs

Jaket 15 Kilo?…

Saat sedang iseng2x melihat foto2x lama, mata saya tertuju pada sebuah foto diri yang terlihat aneh dalam sebuah jaket saat masih berada di Sri Lanka (lihat foto di atas). Setelah Suatu Pagi di Hari Minggu (Sepenggal Cerita dari Sri Lanka-7), episode pengalaman selama di daerah panas ini seperti timbul-tenggelam.

Jaket di atas adalah jaket anti peluru yang wajib dikenakan semua staff PBB (bukan Pajak Bumi dan Bangunan, atau Pecinta Buah-Buahan loh :D…) saat bekerja di daerah konflik aktif seperti duty station saya di Batticaloa yang adalah wilayah pemberontak macan Tamil. Di tempat ini, penduduk mayoritas adalah etnis Tamil yang beragama Hindu, sebagian kecil memeluk agama Islam dan Kristen.

Mengikuti prosedur keselamatan adalah wajib hukumnya bagi para staff. Jika terjadi kecelakaan atau hal2x tak diinginkan, pihak asuransi tidak akan mengganti jika kesalahan memang ada di pihak staff yang tak mengikuti aturan.

Sesuai judul posting di atas. Kali ini saya ingin membahas tentang jaket anti peluru tadi yang beratnya sungguh amit2x, meski tidak pernah ditimbang secara khusus, buat saya berat jaket itu mencapai antara 10-15 kilogram! (perkiraan kasar dan subjektif).

JADI….Bayangkan… *ayoooo…, bayangkan dengan khidmat :D*

Jika berat badan saya hanya 42,5 kg (pengen gemuk tapi nggak bisa2x, help), dan harus memakai jaket 1/3 berat badan, sementara di lapangan harus lincah bergerak dan gesit dalam bertindak, apalagi jika ada kondisi darurat… Sangat amat sukar sekali bagi orang2x seperti saya yang kecil, mungil (untung tidak tengil, hehe) buat beraktivitas…

SUDAH DICOBA?….

Saya sudah mencoba mengenakan jaket ini beberapa kali, namun tetap merasa keberatan (literally speaking). Kesulitan ini dirasakan juga oleh rekan lokal yang laki2x. Alhasil, kami pun kadang nekat pergi tanpa langsung memakai jaket dengan pintar2x membaca situasi. Yang jelas tindakan ini memang beresiko tinggi dan tidak layak dicontoh. Setiap kali ke lapangan dan ke desa untuk tugas monitoring bantuan, jaket dan helm anti peluru tetap kami bawa di mobil dalam jangkauan tangan bersama handset radio. Jika sewaktu2x terjebak dalam kontak senjata, kami tinggal memakai jaket, menghubungi radio room, dan berdoa mohon keselamatan (what else?…).

KOK BERAT SEKALEEE?…

Karena penasaran dengan berat ini, saya pernah iseng2x membongkar isi jaket yang ternyata terdiri dari dua lempengan plat baja (bagian depan dan belakang) dengan tebal yang rrruar… biasa (mengingatkan saya pada lempeng bagian bawah seterika besi jadoel). Pantas saja…

SUDAH PROTES?…

Pernah juga saya ‘protes’ dengan isu berat jaket ini pada Security Officer asal Russia yang baik hati dan tidak sombong (and kinda cool, ehm), tapi dia hanya bilang “Kamu harus pakai! T.I.T.I.K. Jangan berjudi dengan nasib!” Sempat terpikir dalam hati “gimana kalo Russian roulette?”* …kidding 😀

Yaya, my 15 kg bulletproof vest…
It’s not a fashion at all.

Mitos dan Tahayul di Norwegia

Pada awalnya, kesan saya terhadap penduduk asli Norwegia adalah logis dan rasional dalam berpikir, tidak mempercayai hal2x yang mistis, spiritual, magis atau sejenisnya. Sebagai tambahan, meski agama Protestan diakui sebagai agama resmi dan ‘dianut’ oleh 85% populasi yang ada, namun tak jarang agama dilihat sebagai formalitas (dalam tataran publik dan politis) serta menjadi bagian dari tradisi dan budaya masa lalu. Kecuali di daerah2x pedesaan atau pedalaman yang masih menjaga kuat tradisi keagamaan. Mereka yang mengaku atheis atau agnostik bukanlah hal yang aneh atau jarang ditemui.


‘Persentuhan’ pertama dengan tahayul terjadi beberapa tahun lalu saat saya masih belum menetap dan mengunjungi T ketika mengambil jatah cuti 2 minggu dari kantor di Sri Lanka. Dalam sebuah acara santai minum teh bersama anggota keluarga T, sebuah ‘Strawberry Cake’ yang terlhat cantik disajikan, masing2x mendapat giliran untuk mengambil potongan cake. Tibalah giliran saya…

Foto: Marzipan cake, hadiah ulang tahun dari T. Memotong cake di sini bisa menjadi bahan diskusi tentang mitos dan tahayul.

Karena tidak memiliki prasangka apapun, sepotong cake berpindah ke dalam piring kecil di tangan dengan posisi terbalik di salah satu sisi. Tanpa sadar, mata semua orang yang ada di sekeliling meja menatap dengan serius ke arah aktivitas kecil tadi. Hingga beberapa menit kemudian, salah satu dari mereka pun berkomentar (dalam terjemahan bebas):

Komentar (K): “Mmmmm, kamu tahu nggak?…Di sini orang percaya tahayul loh tentang cara meletakkan potongan cake atau pudding di piring…”

Me : “O, ya?…saya nggak tau tuh. Kirain orang sini nggak percaya yang begituan…”

K :” Well, sebenernya sih ada cukup banyak tahayul di sini. Biasanya yang cerita tuh orang2x tua”

Me :” Kalo makan cake begini emang apa sih tahayulnya?…(mulai penasaran)”

K :” Sebenernya, bukan makan cake-nya tapi cara meletakkan potongan cake di piring. Kalo potongannya nggak bisa tegak misalnya jatuh di salah satu sisi, katanya sih bakalan dia–kalo masih single–nggak akan pernah menikah…”

(Saya pun berpikir dan mencoba mengingat. Ooops,… potongan cake di piring tadi jatuh di salah satu sisi…)

Me :”(*berpikir sambil mencari pembelaan diri*) Wah kayaknya itu cuman berlaku buat penduduk asli Norwegia deh, nggak berlaku buat imigran atau pendatang kayak saya, hehe! :D…”


Sejak kejadian di atas, ada beberapa mitos dan tahayul yang saya temui dalam kehidupan sehari2x di sini. Misalnya:

Foto: Midnight Sun (matahari tengah malam). Foto diambil saat matahari baru terbenam sekitar pukul 12 malam.

-Pada pertengahan musim panas, saat matahari mencapai puncak tertinggi dan masih bersinar pada tengah malam (midnight sun). Konon bagi perempuan yang masih single, jika malam itu tidur dengan daun tujuh rupa di bawah bantalnya, maka ia akan bermimpi melihat wajah ‘the future husband’ atau suami masa depannya.

-Pada bagian depan pintu, khususnya di pertanian atau rumah tua berumur ratusan tahun, kadang dijumpai bentuk ladam (sepatu atau tapal kuda) tergantung (lihat foto di bawah). Simbol ini melambangkan ‘luck’ atau keberuntungan. Dalam kartu ucapan selamat atas pernikahan atau perayaan sejenis, gambar ladam juga banyak dijumpai.

Foto: Ladam (tapal kuda), simbol keberuntungan yang diletakkan di atas pintu masuk.

-Saat Natal, para ibu rumah tangga menyiapkan kue2x yang entah mengapa harus terdiri dari 7 (tujuh) macam… Ini juga telah menjadi tradisi yang turun-temurun.

Foto: Karakter Troll yang banyak dijumpai di Norwegia dengan berbagai sifat mulai dari yang baik hati, kocak, pendiam, hingga yang jahat penganggu manusia.

Troll memancing ikan…

Troll menyambut tamu…

Troll dan bunga…

Troll?… No, that’s me, dengan jaket ukuran XXXXXXLLLLLL…:D

Selain itu ada banyak karakter yang mirip seperti legenda rakyat di negara lain dan di Indonesia antara lain: Troll (raksasa), Elf (kurcaci dan peramal masa depan yang muncul dalam banyak kisah rakyat seperti dalam post: Kristin Lavransdatter (1)), tokoh mirip putri duyung, Hudra (peri berambut panjang, mirip kisah…*duh siapa yang tokoh laki2x yang mengintip para peri dari kahyangan sedang mandi di danau lalu mencuri selendangnya, di akhir cerita si laki2x ditinggal karena melanggar janjinya*… maaf saya lupa judul kisahnya, kisah tadi mirip juga dengan cerita ‘Ande-ande Lumut’, Askeladden (anak muda yang cerdas dan baik hati), sampai2x mahluk danau aneh mirip Loch Ness di Skotlandia.

Foto Kapal layar yang melaju bersama hembusan angin

Dalam hal yang terkait dengan laut seperti di dalam kapal (khususnya kapal selam) ada beberapa tahayul seperti tidak boleh bersiul, tidak boleh membawa tas ransel (kurang jelas tas macam apa yang tidak diperbolehkan), tidak boleh membawa payung yang jika dilanggar konon bisa membawa sial.

Tentu saja mitos dan tahayul semacam ini berbeda di tiap tempat dan tidak semua orang Norwegia mengetahui atau mempercayainya.

Foto: The truth is out there…