Hujan Batu di Negeri Orang

Life is full of choices. Once you choose, you have to life the consequences…

Kalimat di atas selalu saya ingat saat memutuskan untuk pindah meninggalkan tanah air tercinta dan melewati hari2x selanjutnya di tempat baru. Tidak mudah memulai semua dari awal. Meski pernah tinggal di salah satu negara Eropa saat melanjutkan studi beberapa tahun lalu, tinggal di Oslo tetap memberikan ‘efek kejut’ tersendiri (lihat post: Gegar Budaya)

Ibarat seorang bayi yang belajar berjalan. Sedikit demi sedikit saya mencoba untuk bisa merangkak, menegakkan badan, berjalan tertatih2x, hingga akhirnya mampu berjalan di atas kaki sendiri.

“…Kisah yang ada pun penuh warna,mulai dari roman cinta… kejadian lucu… hingga kisah tragis
…”

Saat mengikuti kelas intensif bahasa Norwegia, banyak pendatang lainnya dengan beragam latar belakang menjalani perjuangan yang sama. Kisah yang ada pun penuh warna, mulai dari roman cinta penuh bunga, kejadian lucu, unik dan penuh tawa hingga kisah tragis yang memilukan hati.


Dari beberapa level kursus intensif bahasa yang saya lewati, kebanyakan, peserta adalah perempuan, berusia antara 20-45 tahun. Mayoritas telah tinggal antara 1 bulan hingga 3 tahun karena mengikuti pasangan yang berasal dari Norwegia. Latar belakang profesi dan pendidikan kami pun beragam mulai dari au pair, personal assistant, akuntan, pengacara, wartawan, dokter umum, dokter hewan, arsitek hingga pemain opera profesional. Ada pula satu-dua yang tidak mengecap bangku kuliah atau bekerja di negara asalnya.

Foto: Rekan2x ‘senasib-seperjuangan’ sebagai pendatang, diambil di kelas kursus bahasa Norwegia. Selain sang guru, Berit yang native speaker, selebihnya kami berasal dari negara seperti Jerman, Ethiopia, Inggris, Ukraina, Malaysia, Brazil, Filipina, Hungaria, Islandia, China, Latvia dan Indonesia.

Kendala pertama yang dihadapi para pendatang (baca: imigran) adalah: mencari pekerjaan. Dengan kualifikasi yang tidak kalah jika dibandingkan penduduk asli, kemampuan berbahasa Norsk bisa menjadi penentu diterima atau tidaknya seorang kandidat. Selain itu, konon (saya hanya mendengar dari obrolan atau kisah sesama imigran lainnya dan belum pernah mengalami sendiri), nama belakang pun berpengaruh. Gabriela (bukan nama sebenarnya), seorang perempuan paruh baya asal Filipina bahkan menyarankan saya untuk ganti nama dan memakai embel2x nama pasangan agar terkesan kebarat2xan demi melancarkan urusan pekerjaan (weleh2x…, padahal ganti nama tidak sama dengan ganti baju, yah. Kalau orang Jawa bahkan harus ada acara slametan dengan bubur merah-putih…)

Hmmm, aneh juga jika mempunyai nama kebarat2xan tapi wajah wong ndeso seperti saya. Kata Si Mbah Putri, ini yang namanya tidak matching. Hehe, maaf Mbah…becanda kok😀

Foto: Imigran dari Thailand dalam acara ‘Gay Pride Parade-2008’ di Oslo

Beberapa rekan imigran yang berprofesi sebagai dokter mengalami kendala untuk menggunakan ijazah mereka, Valentina (43 tahun) asal Ukraina misalnya. Setelah 3 tahun tinggal di Oslo, ia harus menerima kenyataan pahit bekerja menjadi petugas kebersihan gedung karena ijazah pendidikan dokter (pediatric) yang ia miliki tidak diakui oleh pemerintah Norwegia. Sementara, Natalia (30 tahun) asal Serbia harus bersekolah lagi selama sekitar 2 tahun untuk memperoleh sertifikasi ijazah apoteker-nya.

Kesulitan ini tidak hanya dialami imigran asal Asia, Afrika atau Eropa Timur saja, karena sesama imigran asal negara Eropa Barat yang termasuk dalam Uni Eropa pun mengalami kendala yang kurang lebih serupa dalam derajat lebih ringan. Julia (31 tahun), rekan asal Italia yang awalnya berprofesi sebagai Interior Designer, harus banting stir menjadi guru bantu di Taman Kanak2x. Hal yang sama terjadi pada Anne (24 tahun) rekan asal Jerman.

Tentu saja, tidak sedikit yang beruntung mendapat pekerjaan yang baik. Khususnya mereka yang belajar di jurusan strategis di sejumlah universitas di Norwegia. Saat belum lulus, tak jarang perusahaan sudah meminta agar mereka mau bekerja dengan perusahaan yang bersangkutan.

And me?… What about me?… Meski harus berjalan tertatih-tatih, saya sedikit beruntung karena bisa menemukan pekerjaan di bidang yang saya minati (penelitian). Upaya menjalin kontak dengan berbagai pihak potensial sebelum pindah pun sudah jauh2x hari dilakukan. Membangun relasi, networking dan social circle adalah pekerjaan rumah yang nyaris tanpa akhir di tempat baru. Untunglah latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja saya di bidang ilmu sosial masih bisa digunakan. Tidak mudah memang, namun itulah konsekuensi atas pilihan yang telah diambil. Lagi pula, hidup adalah perjuangan. Bukan begitu?…

Jika pembaca kebetulan menggunakan jasa taksi di Oslo, bukan mustahil supir taksi (mayoritas adalah imigran asal Pakistan) yang ditumpangi memiliki profesi sebagai dokter atau pengacara di negara asalnya. Mabel, rekan kursus asal Filipina yang menjadi personal assistant (perawat untuk pasangan manula) misalnya, ternyata memiliki dua gelar Bachelor dan satu master di bidang Teknik Kimia dan Pedagogi.

*menghela nafas*

Jadi, pepatah bahwa: ‘Hujan Batu di Negeri Sendiri lebih baik dari Hujan Emas di Negeri Orang’… mungkin bisa dipertanyakan. Karena tidak selamanya hujan emas terjadi di negeri orang. Bisa jadi, jauh2x ke negeri orang justru mengalami banyak hujan batu silih berganti… (tawuran kaleee…*siap2x pake helm sebelum kena timpuk* :D)

C’est la vie.
Inilah kehidupan.
yaya

16 thoughts on “Hujan Batu di Negeri Orang

  1. Felicity

    @anonymous: thanks for visiting😀

    @Silly: emang jeung, di luar negeri sekali dapet uang, kalo ditotal terlihat gede. Tapi, biaya hidup tinggi, pajak tinggi, jauh dari keluarga, perlu adaptasi dengan budaya, bahasa dan cuaca. Kalo mau berhasil memang harus bisa bertahan dari segala hambatan, tantangan dan godaan, bukan begitu? (kayak penataran P4 nggak seh gw… )😀

    @noer: Oooh, begitu…. Pantes , saya suka heran kenapa Macdonald dan KFC di sini dipenuhi para imigran. Makasih buat pencerahannya. Makanan memang tantangan awal paling sulit yang harus dihadapi sebagai pendatang😀

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s