Sakitnya Ditolak

Sesuai ‘perintah’ dari pimpinan, saya diminta mengikuti pelatihan yang akan diadakan di London pada bulan Januari 2009 mendatang. Semua biaya transport, akomodasi dan lainnya akan ditanggung pihak kantor.

…proses melamar visa… ini tergolong biasa saja … semua terlihat normal …

Meski sebenarnya tidak pernah berniat mendatangi UK (United Kingdom), kesempatan mengikuti pelatihan ini tentu tak ingin disia2xkan. Dan, mulailah ritual tetek- bengek pengurusan visa seperti biasanya.

Diawali dengan proses pendaftaran online yang mewajibkan applicant mengisi data2x pribadi mulai dari data kedua orang tua, data pribadi, penghasilan, pekerjaan dll yang jika ditotal ‘hanya’ tujuh halaman saja. Disusul membuat janji dengan pihak Kedubes UK di Oslo, menyiapkan foto dan kopi dokumen2x seperti passport, slip gaji, dokumen bank, undangan dari penyelenggara dll. Buat saya, proses melamar visa ini tergolong biasa saja, tidak rumit atau njelimet (selain pengisian data2x dan dokumen yang harus disiapkan), tidak ada wawancara berarti seperti cerita2x ‘horror’ para pelamar visa di Kedubes Inggris atau Amerika di Indonesia. Semua terlihat normal.


Minggu lalu saya harus mendatangi kedubes, membayar uang aplikasi sebesar 740 NOK, menyerahkan sidik jari, fotokopi dokumen dan formulir isian. Janji mendatangi kedubes pun dibuat online, saya pilih jam 9.15, janji paling awal (kedubes buka jam 9 pagi). Pada hari yang ditentukan, sudah ada 5 orang lain di antrian saat tiba di depan pintu jam 9 kurang. Bagi saya, mengantri di luar pintu, di tengah dinginnya udara musim dingin di Norwegia adalah sebuah siksaan tersendiri.

Saat pintu dibuka, seorang petugas security perempuan memeriksa pengunjung satu persatu. Selain pemeriksaan tubuh dengan detektor metal dan pemeriksaan tas, semua dokumen yang dibutuhkan harus disiapkan dan ditunjukkan ke petugas security lainnya.

Tak dinyana, pemeriksaan satu orang bisa memakan waktu lebih dari 5 menit. Belum lagi jika pengunjung yang diperiksa lupa membawa dokumen, foto atau uang untuk pembayaran dan harus mengobrak-abrik isi tas untuk menemukan yang dicari.

Setelah semua urusan selesai petugas menyampaikan info bahwa akan ada sms menyatakan apakah aplikasi kita diterima atau ditolak.

Seminggu kemudian, tepatnya hari ini, SMS ‘cinta’ dari pihak kedubes UK di Oslo pun datang menyatakan bahwa permohonan visa saya dengan sukses D-I-T-O-L-A-K…

Perasaan saya?… Biasa saja, tak ada beban karena memang tidak berniat mengunjungi UK (kalau ke Scotlandia mungkin masih ada keinginan, sementara ke Irlandia sudah pernah beberapa tahun lalu).

Namun, sesaat kemudian, ada rasa kesal atas penolakan ini yang lebih menjurus kepada pertanyaan: WHY???…

Beberapa dugaan pun berseliweran di kepala, mungkin slip gaji saya yang baru beberapa bulan masih belum dianggap layak (ya jelaslah, wong pendatang baru menetap dan baru mendapat pekerjaan di sini), mungkin saya dicurigai akan kabur ke UK, menetap dan bekerja di sana secara illegal (ngapain juga lage…), yang paling menyeramkan… mungkinkah saya dianggap sebagai teroris potensial?… (wah, boro2x, naik pesawat saja saya sudah deg2xan)…

Mungkinkah karena passport saya yang dikeluarkan oleh kantor imigrasi Banda Aceh yang notabene daerah pasca-konflik? (yah itukan karena sistem online yang baru, kebetulan waktu perpanjangan passpot memang sedang ada di Aceh)… Atau karena saya pernah bekerja di daerah konflik Sri Lanka?… (yaelah, itu juga sama UN)… Atau karena saya berasal dari Indonesia?… Entahlah… Saya tak mau meng’generalisasi. Yang jelas saya yakin, masih banyak WNI lain yang aplikasi visa ke UK-nya disetujui.

Mungkin saya sedang apes. Tak selamanya kita mendapat yang diinginkan, bukan begitu?…

Dyuhhh, napa seh, saya yang notabene adalah WNI baek2x, cinta damai, rendah hati, tidak sombong, punya NPWP (hehe, nggak ngaruh yak), punya niat baek, mau ikut pelatihan, cuma 5 hari aja nggak boleh masuk ke negara ente?…

Pengalaman ditolak pasti sedikit banyak menimbulkan luka di hati (soundtrack: lagu ‘Hati Yang Luka’ *jaka sembung kagak nyambung* …). Penolakan ini juga membuat track record aplikasi visa saya buruk, apapun alasannya…

Duh, sakitnya ditolak dan dianggap tidak layak…

*cari2x kue natal sisa dan coklat buat dimakan untuk menghibur diri*

14 thoughts on “Sakitnya Ditolak

    1. Felicity Post author

      I feel you… bete banget memang kalau pendapat penolakan…. rasanya mau marah2x….tapi ke siapa ya?…. Moga2x mas/mbak bisa ada kesempatan lain kali ke UK dan visanya di-approve ya…. All the best!

      Reply
  1. Pingback: “Kok kamu gosong sih?…” « My Life, My Search, My Journey

  2. Felicity

    @the writer & ernut: iya mbak kok bisa? pertanyaan yang meluncur dari semua pihak termasuk employer saya di Oslo dan penyelenggara pelatihan di London. Saat ini kita sedang mencoba segala cara untuk mengklarifikasi hal ini ke pihak embassy. Let's see.

    @aftrie: makasih… ayo ke UK bareng, gw maunya kalo tinggal angkat koper ajah deh😀

    @Butet: hehe :D… Segala sesuatu pasti ada permulaannya bukan begitu? *menghibur diri*… Moga2x ini penolakan buat gw yang pertama dan terakhir… aminnn😀

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s