Monthly Archives: January 2009

Pergi Sebentar…


Teman, saya pamit dulu ya…sebentar saja…

Setelah penolakan yang menyakitkan itu pihak kantor di Oslo dan pihak penyelenggara pelatihan di London pun ‘menghujani’ Kedubes UK di Oslo dengan berbagai telepon, fax dan surat sakti (huehehe…. tolong dunk bahasanya).

Dan…sehari kemudian datang telepon dari pihak kedubes untuk re-apply visa. Tanpa bertele2x, keesokan harinya saya pun ‘dihadiahi’ dengan multiple entry visa selama 6 bulan (mayannn…). Selama seminggu ke depan saya mungkin tidak dapat mengupdate blog atau komentar.

Pamit dulu ya… moga2x tidak mengalami kejadian yang tidak mengenakkan waktu nyaris jadi gelandangan di Kiel. Apalagi sampai tersesat seperti di Oslo tahun lalu atau peristiwa di Roma saat mengembara di tengah malam

Moga2x kali ini tidak ada permintaan titipan aneh2x seperti kejadian dengan staf lokal di Colombo dulu

Misi…yang punya blog pergi dulu ya…

Wish me luck 😀

Salam manis

END OF POST

Jangan Takut untuk Bermimpi

Catatan: Postingan berikut adalah sharing pengalaman pribadi. Semoga bermanfaat 🙂

 

Stockholm-Swedia, Juni 2006

HERE I COME…

…ini adalah… sebuah pijakan penuh makna dalam hidup saya… …

Matahari bersinar dengan terik siang itu di kota Stockholm. Nampak hilir mudik kendaraan di kejauhan, orang berlalu-lalang dengan baju musim panas, sesekali nampak anak kecil berlari atau bermain di taman. Sementara jejeran bangku2x kafe di pinggir jalan dipenuhi mereka yang sedang menikmati sajian sambil bercengkerama dan memanjakan diri menikmati kehangatan sinar matahari. Hmmm,… suasana musim panas yang begitu khas Skandinavia.

Usai memarkir kendaraan bersama T, saya pun menjejakkan kaki melangkah menuju pusat kota dimulai dengan sebuah pijakan… Satu langkah kaki kecil bagi orang lain, namun ini adalah sebuah pijakan penuh makna dan bersejarah dalam hidup saya. Sebuah peristiwa yang sudah dinanti2xkan selama lebih dari 20 tahun lamanya…


This is my full circle…

Lebih dari dua puluh tahun yang lalu, di suatu hari di tahun 1984 saat duduk di kelas 3 SD saya mendapat bingkisan kecil dari Bude yang berprofesi sebagai pemandu wisata. Bagi orang lain, pemberian itu mungkin tidak berarti, namun bagi saya hal itu sangat amat berarti dan telah mempengaruhi jalan hidup selanjutnya yakni:… sebuah buku berjudul ‘STOCKHOLM’, kenang2xan dari seorang turis yang pernah dipandu beliau.

Buku panduan wisata dengan sampul hardcover, foto2x full colour, dalam bahasa Inggris yang saya tak mengerti pada saat itu adalah buku termewah dan terbagus pertama yang pernah saya sentuh langsung. Yah… maklumlah, keadaan ekonomi orang tua yang terbatas membuat acara membeli buku di toko buku seperti Gramedia sebagai sebuah kemewahan. Tak jarang, di akhir pekan atau saat libur panjang, bersama kakak dan seorang sahabat, saya menghabiskan waktu berjam2x di toko buku untuk ‘numpang’ membaca. Berada di sekeliling buku2x yang bagus beraneka warna dan berisi beragam cerita dan pengetahuan adalah sebuah kebahagiaan tersendiri kala itu.

Saat membaca buku berjudul ‘Stockholm’ tadi, saya merasa sangat takjub dan tak henti2xnya berkomentar mengagumi gambar yang ada di dalamnya. Masih teringat dalam benak ini gambar deretan kapal bersandar di pelabuhan, suasana musim panas dengan bunga warna-warni, gambar rumah kayu di atas gunung, gambar salju dan suasana natal serta gambar sepasang anak kecil yang sedang duduk di tepi pelabuhan memandang laut di kejauhan yang menjadi favorit.

Saya hanya bisa berangan2x sedang berada di tempat2x yang ketika itu dilihat di buku tadi sambil bermimpi bahwa suatu saat saya akan menginjakkan kaki di sana. Dari buku itu, sebuah jendela telah terbuka… sebuah mimpi dan sebuah perjalanan baru pun dimulai…

Isi buku tadi terpatri begitu mendalam… dan tanpa rasa bosan saya baca terus dan terus… lagi… dan lagi… Setiap lembaran di dalamnya bagaikan sumber semangat dan inspirasi untuk meraih impian.

Dimulai dari satu buku, buku2x lain pun menjadi santapan. Entah mengapa, sejak kecil selalu ada rasa haus untuk membaca… apa saja. Mulai dari berita headline di surat kabar, hingga iklan baris yang tidak penting, mulai dari cerita di majalah anak hingga pengumuman pemenang sayembara yang tidak jelas, termasuk riwayat hidup tokoh2x besar seperti Margarer Thatcher, Jenderal Douglas Mac Arthur, Bung Hatta, Bung Karno dll. Dari merekalah saya mendapatkan inspirasi untuk menjadi orang yang bermanfaat dan membuat hidup bermakna, sekaligus belajar tentang semangat tidak mudah menyerah dan pantang putus asa. Hingga suatu hari, di majalah ‘Intisari’, dari sebuah kisah tentang Dr. Andi Hakim Nasution, saya mengetahui bahwa ada yang namanya ‘Beasiswa ke Luar Negeri’, bagi mereka yang berprestasi.

Semangat untuk bisa mendapat beasiswa dan bersekolah di luar negeri pun menjadi cita2x yang terus membara di dada. Saat kelas 3 SD, jika ditanya orang: “Apa cita2xmu nanti kelak jika dewasa?”, saya sering bingung menjawab karena jawaban yang ada memang tidak konvensional, saya hanya bisa bilang: “Ingin melanjutkan S2 ke luar negeri…” Tak jarang, ini sering menjadi olok2x beberapa kawan dan bahkan anggota keluarga yang menganggap saya seorang ambisius dan pemimpi.

Setiap menemukan pengumuman atau berita tentang beasiswa yang ada di koran atau majalah, saya pasti langsung menggunting dan menempelnya di dinding kamar tidur. Entah beasiswa ke Jepang, Russia, Belanda, Amerika, Perancis, Australia dll. Semua itu adalah penyemangat dan ‘obat tambah darah’ untuk cita2x bersekolah di luar negeri. Berdasarkan persyaratan2x umum yang saya temukan di pengumuman2x tadi, saya pun ‘merancang’ dan merencanakan CV yang sebaik2xnya mulai dari nilai IPK yang bagus, pengalaman organisasi, prestasi akademis, publikasi, pengalaman kerja yang relevan, kemampuan berbahasa Inggris dll

Dan setelah sekian lama bermimpi, saya pun berhasil mendapatkan beasiswa untuk bersekolah di Eropa tahun 2003 lalu. Meski bagi mereka yang berasal dari golongan yang mampu ekonomis hal ini mungkin dianggap biasa saja, namun bagi saya yang berasal dari keluarga sederhana hal ini adalah sebuah pencapaian tersendiri. Tak pernah terbayangkan bahwa dengan segala keterbatasan yang ada…impian yang terpendam sekian lama itu akan tercapai…

Stockholm, Juni 2006…
Sebuah buku tentang kota ini telah membuka mata saya dan menunjukkan ‘dunia’ di luar sana.

Here I am…
Saya datang…
Setelah lebih dari dua puluh tahun lamanya bermimpi…


This is my full circle

Lesson-learned:
Do your best…
and God will do the rest… 🙂