Monthly Archives: February 2009

Ski Lagi… Ski Lagi…

Sesuai dengan postingan sebelumnya, sepanjang musim dingin berbagai aktivitas di alam terbuka menjadi agenda rutin. Meskipun tinggal di kota ‘besar’ seperti Oslo, akses ke lokasi ber-ski, aking (sledging), ice skating, ice-hockey dan semacamnya bukanlah persoalan dan dapat ditempuh dalam beberapa menit dengan mobil, trem atau kereta.

jalur menuju pegunungan dipadati…arus berangkat …dan arus balik

Di akhir pekan, jalur perjalanan menuju daerah pegunungan biasanya akan dipadati oleh arus berangkat kendaraan (Jumat sore) dan arus balik (Minggu malam) ke/dari kabin keluarga atau ski resort di luar kota. Hal ini mengingatkan pada daerah Puncak di Jawa Barat yang mengalami kemacetan serupa di akhir pekan.Foto: Kabin yang berselimut salju


‘Ski tur’ bisa menempuh jarak pendek antara 5-15 km hingga jarak jauh (lebih dari 20 km) yang memakan waktu satu jam hingga sehari penuh. Continue reading

Belajar Bahasa Itu Harus Sabar! :D

Percakapan berikut terjadi di awal2x saya sedang belajar bahasa Norwegia (Norsk).

Murid Geblek Yang Lagi Belajar (MGYLB): “Tanya dong. Kalimat ‘Jeg vet ikke‘ (baca: ‘yai wet ike’ dengan huruf ‘e’ pada kata ‘ikke’ pepet seperti pada kata ‘kendi’, ‘beli’ atau ‘seri’) itu artinya apa sih?”

Orang Yang Ditanya (OYD):”Artinya saya nggak tahu…” *sambil sibuk baca buku*

MGYLB: “Loh kok nggak tau?… Tanya lagi nih, kurang jelas kali ya… ‘J-e-g… v-e-t… i-k-k-e’ dalam bahasa Norwegia itu terjemahannya apa?…”

OYD: “Saya nggak tau… Kok kamu tanya2x terus sih?!… ” *dengan nada sedikit tinggi dan merasa terganggu*

MGYLB:” Ya jelaslah nanya!… Saya kan nggak tahu… Kamu kan orang asli Norwegia, saya orang asing yang mau belajar bahasa kamu, tapi bukannya didukung kok malah disemprot gitu sih?!… ” *emosi*

OYD: “Kamu sendiri nggak kira2x. Coba bayangkan, ini hampir tengah malam dan saya lagi mencoba rileks baca buku, tiba2x ada orang bolak-balik menanyakan hal yang sama. Sudah dijawab masih juga ditanya…” *dengan nada tinggi*

MGYLB: “Sudah dijawab?… Dijawab dari Hongkong!… Dari tadi saya tanya ‘Jeg vet ikke’ itu artinya apa?… Kamu malah bilang nggak tahu terus… bikin saya merasa dicuekin, dilecehkan, nggak dianggep… Emang enak… Bagaimana sih… nggak ada support buat belajar sama sekali!!!” *berteriak*

OYD (tertawa):”HAHAHAHAHAHA…...”

MGYLB: “Lha, orang lagi marah kok malah diketawain?… Saya serius… amat sangat serius!!!…”

OYD: “Ah, dasar kamu murid geblek!…Sudah dikasih tahu masih juga ngotot. Makanya kalau belajar tuh lihat2x waktu dan kira2x kalau nanya, jangan emosi duluan. Saya bilang nggak tahu karena ‘Jeg vet ikke’ dalam bahasa Norwegia memang artinya ‘Saya tidak tahu’…”

MGYLB: “Oooo… artinya ‘saya tidak tahu’….Pantesss. Maaf ya sudah ngomel2x… Kayaknya saya murid yang lebih galak dari gurunya deh” *cari ikon pentungan*

Moral of the story:

Ingat, sebagai murid itu:

1. Dilarang galak! (kalau diberi palang ‘Awas, Murid Galak!‘ bisa menjadi saingan anjing galak dong, duh nggak banget deh.)

2. Dilarang geblek! (kasian gurunya, kalo ditanya orang: “Ini murid satu geblek banget. Siapa sih gurunya?… Pasti lebih geblek lagi”… Nah loh)

3. Simak kata2x si guru dengan seksama dan jangan bolak-balik menanyakan hal yang sama. Guru juga manusia, punya batas kesabaran (silakan dites kalau tidak percaya…)

4. Perhatikan ‘timing’ atau waktu saat mengajukan pertanyaan. Jangan bertanya saat yang ditanya sedang beristirahat, sibuk di toilet, tengah malam buta atau waktu2x tak lazim lainnya.

5. Teruslah berusaha belajar, jangan mudah menyerah. Ibarat bayi yang sedang belajar berjalan, harus dimulai dari merangkak, belajar berdiri, tertatih2x, berjalan dan berlari…(kecuali jika si bayi adalah bayi ajaib…)

6. Jangan lupa berterima-kasih pada guru yang sudah mengajar, jangan seperti murid yang lupa pada gurunya… (hmmm, pernah inget kata2x serupa dimana yak?… *garuk2x kepala*)

Buat yang penasaran, Si OYD adalah ‘T’, hubby yang aslinya penyabar tapi kadang2x jutek kalau diganggu saat sedang asyik membaca buku

Pro-Kontra tentang Tuhan

Disclaimer: Postingan kali ini adalah postingan serius… (resiko harap ditanggung masing2x ya :D…)

Saat berkunjung ke London, di sebuah kesempatan mata saya tertuju pada bus yang sedang melaju pelan. Kata2x yang tertulis di badan bus menarik mata ini (silakan lihat gambar di atas).

Dalam terjemahan bebas kalimat itu berbunyi: Mungkin Tuhan Itu Tidak Ada, Jadi Sekarang Berhentilah Kuatir dan Nikmati Hidupmu!

Hmmmm, sungguh kalimat yang pendek namun kontroversial. Beberapa hari kemudian, melalui siaran berita radio BBC yang saya dengar minggu lalu, diinformasikan bahwa jumlah mereka yang atheis atau tidak mempercayai Tuhan berbanding positif dengan tingkat kemakmuran suatu daerah. Semakin makmur suatu negara, semakin banyak orang yang tidak mempercayai Tuhan dan sebaliknya.

Saya pribadi bukan orang yang terlalu religius, namun saya akan selalu percaya bahwa Tuhan itu ada sampai ajal menjemput, apapun yang terjadi. Hal inilah yang sering menjadi bahan pertanyaan orang2x atheis yang saya temui. “Mengapa kamu percaya Tuhan?...” dan pertanyaan sejenis mulai dari nada sopan hingga menyudutkan.

Saya pun tak mau menghakimi mereka yang tak percaya Tuhan atau merasa diri paling benar. Who am I to judge?…

Saat iseng bertanya balik, “Bagaimana jika kamu nanti meninggal?… Dengan doa agama mana kamu ingin didoakan?”. Kebanyakan mereka menjawab tak butuh doa…, duh. *speechless*

Ini adalah fakta pahit hidup di kawasan yang kaya secara materi tetapi miskin nilai2x spiritual. Seorang pendeta mahasiswa saat di Den Haag pernah bercerita bahwa banyak gereja2x tutup karena kekurangan umat, sementara di Norwegia beberapa tahun lalu banyak gereja dibakar oleh mereka yang mengaku pemuja setan *berasa seperti di film2x horror*

Sang pendeta pun mengatakan tak jarang saat meninggal, jasad yang ada hanya dimasukan ke dalam peti dan dikubur di tanah, tanpa doa2x. Sementara lainnya, anggota keluarga si wafat seringkali menghubungi sang pendeta minta didoakan ala kadarnya, meski si wafat tak pernah muncul di gereja. Saya sendiri pernah menghadiri pemakaman semacam ini, tak ada kesan khusyuk atau spiritual sama sekali. Agama pun hanya menjadi tempelan atau dekorasi saja. Sedih.

Memang konsep kebebasan beragama pun masih menjadi bahan perdebatan. Kalangan atheis menganggap bebas beragama berarti pula bebas untuk tidak beragama. Keberadaan Tuhan pun masih menjadi pro dan kontra. Agama pun bagaikan pedang bermata dua, bisa menjadi sumber kebaikan dengan nilai2x spiritual yang mengajarkan damai dan cinta kasih, sekaligus disalahgunakan untuk memecah belah, apalagi jika dipolitisir sejumlah kalangan untuk kepentingan tertentu (cape deeeee…)

Buat saya, orang beragama atau tidak bukanlah jaminan bahwa ia memiliki ahlak baik. Hayooo, kira2x mana yang akan masuk surga… antara orang atheis yang berbuat baik, memiliki kepedulian sosial tinggi atau orang yang mengaku beragama namun bertindak angkara-murka?… *mengerutkan dahi*

Pengalaman bertemu banyak survivor tsunami dan konflik mengajarkan saya banyak hal tentang hidup. Banyak dari mereka berkata bahwa satu2xnya yang membuat mereka bertahan adalah iman dan keyakinan pada Yang Maha Kuasa… bahwa Tuhan akan memberi kekuatan. “Kami bisa gila jika tidak ada Tuhan. Kehilangan semua dalam sekejap… Habis semua hanya tinggal nyawa di badan ini…”.

Terenyuh hati saya mendengar jawaban jujur dari mulut mereka. Terima kasih, telah mengajarkan dan mengingatkan saya bahwa hidup hanya sementara, semua hanya titipan Yang Di Atas dan bisa diambil kapan saja.

Satu hal yang pasti, saya belajar bahwa saya butuh Tuhan, sebagai pegangan kala saya terhempas gelombang kehidupan, sebagai penuntun di kala badai, dan sebagai cahaya di tengah kegelapan… kapanpun dan dimanapun.

Turis Kejar Setoran (Part II)

Lanjutan dari: Turis Kejar Setoran (Part I)

Usai kunjungan singkat 4 jam ke the British Museum dan menikmati makan siang di restoran, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Trafalgar Square dengan berjalan kaki. Namun, ada pemandangan yang berbeda sejak melintasi gerbang museum. Sirene mobil dan motor polisi terdengar dan nampak berseliweran silih berganti. Semakin mendekati pusat kota, semakin banyak petugas keamanan bertaburan di hampir semua sudut berikut kendaraan anti huru-hara, mirip saat kondisi Siaga I di pusat kota Jakarta.

Foto: Deretan pertokoan di daerah Soho (kalo yang ini saya cuma numpang lewat loh, iya benerrr...)

 
Foto: Deretan lampion di atas China Town

Insting saya mengatakan bahwa ’sesuatu’ pasti sedang terjadi. Dan benar saja, di tengah lapangan terbuka Trafalgar Square, nampak ribuan demonstran sedang mengikuti aksi solidaritas untuk rakyat Palestina. Jika saja tidak ingat status pribadi yang sedang datang ke London sebagai turis (apalagi turis yang sedang kejar setoran...), ingin rasanya ikut berbaur bersama massa saat itu. Suasana ini membuat saya bernostalgia ke jaman saat masih menjadi mahasiswa di tahun 1998 (jadi berasa tua banget...)

Foto: Demonstrasi di Trafalgar Square

Waktu yang terbatas memaksa kami melanjutkan perjalanan menuju the Parliament Building dengan Big Bennya, melewati the Guards House, Westminter Abbey, Downing Street, the Waterloo Bridge, London Eye, menyusuri sisi sungai Thames yang membelah kota London dan akhirnya sampai di Tate Museum of Modern Art.

Foto: “Pren, balikin buku catetan kuliah gw dong. Masa udah 10 tahun dipinjem nggak balik2x juga… Halo… halo… Whatt???… Kebon Binatang? … Waduh maap… saya salah sambung…”

Foto: ‘Mata’ kota London (the London Eye)

Berdasarkan rekomendasi dari beberapa kawan, saya dan T berniat untuk menikmati makanan di restoran lantai teratas Tate Museum sambil menikmati pemandangan kota dari balik jendela kaca. Setelah menunggu cukup lama, kami beruntung bisa mendapat tempat strategis tepat di sisi jendela.

Foto: Cara untuk bilang ‘Dilarang ngamen!’ yang sangat sopan dan elegan di sekitar museum (terjemahan ngaco: “Iya, kita tau musik itu memang indah, tapi di sini itu bikin brisik loh. Jadi plis deh, jangan coba2x ngamen di sini yak… Kalo tetep nekat ngamen ato berjualan tanpa ijin, siap2x aja kena garuk… Nah loh, emang enak… Teriring salam cinta dari dewan kota” )

Memasuki ruang demi ruang pameran, membuat saya seperti berada di tempat asing. Judul pameran ‘Cubism, Vorticism, Futurism’ pun bukan sesuatu yang biasa didengar di telinga. Kadang terlihat pengunjung yang hanya bisa tertawa kecil sambil geleng2x kepala dengan wajah bingung di hadapan beberapa objek seni instalasi. Jerami2x kering, kabel2x baja, paku, sendok-garpu, piring, besi tua, kabel, panci adalah sebagian material yang dipakai. Sementara komposisi warna dan bentuk yang digunakan pun sangat tidak lazim.

Foto: Salah satu objek pameran yang interaktif: membuat gambar perempuan sejelek2xnya, terinspirasi dari ‘the weeping woman’ dalam lukisan ‘Guernica’ karya Pablo Picasso.

Untunglah di ruangan lain, masih ada karya seni yang lebih mudah dinikmati antara lain lukisan karya Diego Rivera (pelukis favorit T), Henry Matisse, Pablo Picasso, Chagall, Auguste Renoir dsb *menghela nafas lega*

Langit beranjak gelap saat keluar dari museum, kami pun melangkah menyeberangi jembatan. Di kejauhan nampak the London Bridge berdiri dengan gagah. Cahaya lampu kelap-kelip yang jatuh di air membuat suasana semakin cantik. Tak lama kemudian, kami melewati St Paul’s Cathedral dengan kubahnya yang menawan.

Foto: St. Paul’s Cathedral yang anggun di malam hari

Sisa malam dilanjutkan dengan (nekat) mencoba mencari tiket pertunjukan ’the Phantom of the Opera’ yang ternyata habis terjual. Percakapan berikut terjadi di depan counter tiket:

Turis Nekat 1 (TN 1) : “Masih ada tiket untuk pertunjukkan malam ini?…”
Penjaga Tiket: ”Ada, empat kursi, tapi semua di belakang pilar… Harganya lebih murah loh…”
TN 1(T): ”Gimana?… Kamu mau duduk di belakang pilar, Feli?…”
TN 2 (saya): ”Ya jelas enggak lah… Kita kan mau NONTON PERTUNJUKAN, bukannya mau MELOTOTIN PILAR… Apalagi NONTON TEMBOK!…”
TN 1 : “ Yup, saya datang untuk NONTON PERTUNJUKAN, males deh NONTON PILAR… Apalagi NONTON TEMBOK!”

TN 2 : *berasa deja-vu dan takjub mendengar kalimat repetisi yang baru saja didengar* (dear T, kamu ini serius apa ngelawak seh? Kok kayak Srimulat…. :D)

Foto: Pengawal berkuda di Istana Buckingham

Dengan lesu, kami mencoba mencari pertunjukkan lain atau film bioskop menarik tanpa hasil di daerah Picadilly dan China Town. Hingga akhirnya memutuskan kembali ke tempat menginap. Tak terasa kami telah mengembara dan berjalan kaki berkeliling kota London mulai dari jam 9.30 pagi hingga hampir jam 12 malam!!!… (pantesss, otak mulai ’hang’ dan nggak nyambung…)

Foto: Balkon utama tempat anggota kerajaan menyapa publik di Buckingham Palace

Waktu yang tersisa pada keesokan harinya dihabiskan dengan mengunjungi Buckingham Palace, St. James Park dan kembali melewati the Parliament Building serta Big-Ben sebelum akhirnya check-out dan mengejar kereta menuju bandara.

Saat menceritakan kisah perjalanan saya ini, seorang teman yang tinggal di London hanya bisa berkata: ”Yaoloooo… gw yang di sini hampir 6 bulan belum pernah keliling2x sampe kayak begitu… Ckckck… dan gw juga nggak tau St.James Park itu ada dimana…” .

Saya hanya bisa mesam-mesem dan berkata dalam hati: ”Yah, harap maklum deh, ini kan turis kalap yang lagi kejar setoran… Jatah kunjungan trayek Oslo-London pp (pulang-pergi) cuma 1 rit gitu loh… *berasa jadi supir metromini*

Foto: The Big Ben

 Sebagai penutup, berikut tips untuk menjadi turis yang sedang kejar setoran berdasarkan pengalaman pribadi:

1.Lakukan riset kecil dan buat daftar lokasi yang ingin dikunjungi; miliki rencana yang realistis serta tidak terlalu ambisius;

2.Siapkan pakaian yang sesuai cuaca, sepatu yang nyaman namun tetap melindungi kaki. Lebih baik memakai sepatu khusus untuk jalan. Jangan memakai sepatu teplek (ber-hak datar). Jika anda tetap nekat, dalam beberapa jam, dijamin kaki akan berteriak kesakitan;

3.Waspada dengan ’tourist traps’ alias perangkap buat turis. Jangan membeli makanan di sekitar lokasi turistik, selain harganya mahal, rasa pun tidak menjadi jaminan;

4.Waspada dengan barang berharga. Yang namanya copet atau kriminal pasti ada di tiap negara, turis adalah sasaran potensial;

5.Jaga asupan cairan yang diserap tubuh. Hindari dehidrasi dan kekeringan. Stamina fisik yang prima adalah syarat utama saat menjadi turis kejar setoran;

6.Ingatlah status anda sebagai turis. Jangan emosional dan terlibat dalam aksi2x berbahaya yang anarkis atau keramaian tidak jelas di negara orang… Ingat! Jangan ikut2xan mencopet saat ada gerombolan copet lewat… 😀

7.Know your limit!… Terjemahan ngaco: jangan terlalu kalap kalau jadi turis! Saat otak tak sanggup lagi berpikir jernih dan menunjukkan tanda2x kelainan, sebelum saling gontok2xan dan saling mengasah golok masing2x, hentikan perjalanan dengan segera. Carilah makanan atau tempat peristirahatan terdekat!

Sampai jumpa di kisah petualangan berikutnya! 😀
*celingak-celinguk cari Si Bolang, doh mana seh tuh anak…*

 

Turis Kejar Setoran (Part I)

Kunjungan ke London kali ini dilakukan dalam rangka mengikuti pelatihan di salah satu college di pusat kota. Peserta pelatihan adalah mahasiswa program master di Department of War Studies di kampus tersebut. Saya datang sebagai pengamat mewakili lembaga di Oslo yang akan melaksanakan pelatihan serupa.

Kesan pertama tentang London jauh dari bayangan saya sebelumnya…

Kesan pertama tentang kota London jauh dari bayangan saya sebelumnya yang sempat ‘menuduh’ tempat ini sebagai kota metropolis yang angkuh dan dingin. Ternyata, orang2x yang saya jumpai di jalan pada umumnya ramah, selalu bersedia menolong saat ditanya dan memiliki atmosfer yang tidak seganas apa yang ada dalam film2x detektif atau kriminal yang terekam dalam otak ini(kayaknya saya salah satu korban trauma film ‘Jack the Ripper’ neh).

Foto: Mumi jaman Mesir Kuno di the British Museum

Secara umum, peserta dan pengamat pelatihan hampir 100% berasal atau tinggal di UK, berusia awal 20-an hingga pertengahan 30-an, lumayan memperhatikan penampilan dan modis (penduduk di Oslo lewat deh…). Berdasarkan pengamatan, bagi yang masih jomblo, ajang ini lumayan potensial untuk flirting atau cuci-mata (nggak ngaruh buat saya seh, hmmm… sayang sudah ada hubby, hehe *dilempar T pake stik ice-hockey*

Usai pelatihan, barulah saya memiliki waktu 1,5 hari untuk menjadi turis. Waktu yang terbatas membuat saya dan T (yang menyusul ke London belakangan) harus betul2x bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Target pertama: The British Museum.

Foto: Hmmm, pernah lihat dimana yak?…

Sesuai kesepakatan, pada dua jam pertama kami akan mendatangi sayap peninggalan Mesir Kuno, Yunani Kuno dan Romawi Kuno (pilihan saya banget gitu loh…) Sedangkan dua jam selanjutnya adalah pilihan T, yakni kebudayaan Persia Kuno, Persepolis, Iran Kuno, serta Maya-Inca-Aztec, Mexico, Chili (T bangettt… nggak jauh2x dari Latin America… Tapi, napa justru berjodoh dengan orang Indonesia yang ada di ujung benua lain yak…, salah baca peta tuh, mas 😀)

Terus-terang, saya sangat terpukau dan tak henti2xnya berdecak kagum sambil menghela nafas menyaksikan benda bersejarah yang dipamerkan. Artefak barang2x kuno berasal lebih dari 2000 tahun SM (artinya sudah berumur lebih dari 4000 tahun!!!…) masih terawat dengan baik. Berada di tempat ini seakan membawa saya kembali ke masa lalu, mengingatkan kembali pada gambar2x serta kisah2x yang ada dalam buku pelajaran sejarah di sekolah. Petikan Hukum Hammurabi, ikon dari masa Mesopotamia, Babylonia, Assyria, Nebukadnezar, kisah tentang dewa Ra, Isis, Ishtar, Anubis, Mumi… semua terpampang di depan mata secara langsung.

Foto: ‘The Rosetta Stone’, salah satu benda bersejarah yang menjadi ‘selebriti’ di museum. Bagi yang penasaran, silakan dicek lagi buku sejarah masing2x… 😀

Selain itu, barang2x sehari2x seperti sisir, tali kekang hewan, mainan anak, alat musik, surat (yang berupa bongkahan batu besar), perhiasan, alat makan-minum dsb juga dipamerkan. Melihat keindahan dan betapa detilnya hasil karya yang dibuat ribuan tahun lampau membuat saya kagum akan daya seni serta kreativitas penduduk yang hidup di masa tersebut.

Foto: Kotak kosmetik (hmmm, ternyata para perempuan tempoe doeloe juga suka dandan…)

Foto: Boneka dari terakota (dohhh, kalo kena getok di kepala mayan deh…minimal benjol2x dikitlah 😀)

Foto: Tiga patung granit patung King Sesostris III, Dinasti ke 12, sekitar 1850 SM dari Deir el-Bahri

Di sayap Romawi dan Yunani Kuno, nampak patung2x pualam yang menggambarkan dewa-dewi, senjata para gladiator, perhiasan, barang sehari2x, kerajinan tangan dsb. Di salah satu sisi, terpajang deretan koin asli bergambar Julius Cesar, Mark Anthony dan Cleopatra yang legendaris. Anehnya, wajah Cleopatra dalam koin tidak secantik seperti yang selama ini digembar-gemborkan (maap tante Cleo, bukan saya sirik loh, ini pendapat subjektif aja kok, mmmm… pernah sih ada orang bilang begitu juga… jangan marah ya… Pisss… Give me five, tan…)

Ada beberapa kemungkinan menurut hasil karangan saya pribadi yang sungguh ngaco dan tidak layak dipercaya:
(1) Wajah dalam koin bukan wajah Cleopatra asli;
(2) Si pembuat koin tidak menganut aliran melukis Realisme;
(3) Mesin cetak koin kurang bekerja maksimal, daya presisi dan akurasi rendah;
(4) Kisah kecantikan Cleopatra hanya gosip belaka (yaelahhh,… jangankan sejarah ribuan tahun yang lalu, sejarah masa kini aja banyak yang dibelokkan dan dimanipulasi kok, belok kanan-kiri, miring dikit, dipoles, ditambah, dikurangi, bungkusssss…)

Kesimpulan: Cek dan Ricek memang diperlukan untuk uji kebenaran suatu kabar berita… hehe infotainment kaleee…

Foto: Koin asli bergambar Cleopatra dari jaman 32 SM (ayo, coba lihat baik2x gambar tante Cleopatra…)

Foto: Tempat duduk bayi peninggalan jaman Romawi Kuno… (batu semua bok… tuh, bayi yang jadi modelnya aja sampe nangis… *sambil elus2x bokong*)

Tak terasa 4 jam lamanya telah berlalu, waktu yang terlalu sedikit bagi kami untuk menelusuri museum yang memiliki koleksi luar biasa ini. Dengan berat hati, saya dan T meninggalkan the British Museum sambil berjanji dan berharap agar suatu saat bisa datang kembali…

Foto: Kubah The British Museum yang artistik

Agenda selanjutnya adalah mendatangi sasaran lain yakni: Buckingham Palace, Tate Museum of Modern Art, Westminter Abbey, St. Paul’s Cathedral, St. James Park, the Parliament Building (dan ‘the Big Ben’), Soho, Picadilly, Trafalgar Square, London Eye, plus Her Majesty Opera… (weleh2x….bener2x turis kalap… Sikatttt….hajar blehhhh….!!! 😀)

Foto: Tongkrongan turis yang sedang kejar setoran

Wokeh, berlanjut ke Turis Kejar Setoran (Part II)
to be continued…