Turis Kejar Setoran (Part II)

Lanjutan dari: Turis Kejar Setoran (Part I)

Usai kunjungan singkat 4 jam ke the British Museum dan menikmati makan siang di restoran, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Trafalgar Square dengan berjalan kaki. Namun, ada pemandangan yang berbeda sejak melintasi gerbang museum. Sirene mobil dan motor polisi terdengar dan nampak berseliweran silih berganti. Semakin mendekati pusat kota, semakin banyak petugas keamanan bertaburan di hampir semua sudut berikut kendaraan anti huru-hara, mirip saat kondisi Siaga I di pusat kota Jakarta.

Foto: Deretan pertokoan di daerah Soho (kalo yang ini saya cuma numpang lewat loh, iya benerrr...)

 
Foto: Deretan lampion di atas China Town

Insting saya mengatakan bahwa ’sesuatu’ pasti sedang terjadi. Dan benar saja, di tengah lapangan terbuka Trafalgar Square, nampak ribuan demonstran sedang mengikuti aksi solidaritas untuk rakyat Palestina. Jika saja tidak ingat status pribadi yang sedang datang ke London sebagai turis (apalagi turis yang sedang kejar setoran...), ingin rasanya ikut berbaur bersama massa saat itu. Suasana ini membuat saya bernostalgia ke jaman saat masih menjadi mahasiswa di tahun 1998 (jadi berasa tua banget...)

Foto: Demonstrasi di Trafalgar Square

Waktu yang terbatas memaksa kami melanjutkan perjalanan menuju the Parliament Building dengan Big Bennya, melewati the Guards House, Westminter Abbey, Downing Street, the Waterloo Bridge, London Eye, menyusuri sisi sungai Thames yang membelah kota London dan akhirnya sampai di Tate Museum of Modern Art.

Foto: “Pren, balikin buku catetan kuliah gw dong. Masa udah 10 tahun dipinjem nggak balik2x juga… Halo… halo… Whatt???… Kebon Binatang? … Waduh maap… saya salah sambung…”

Foto: ‘Mata’ kota London (the London Eye)

Berdasarkan rekomendasi dari beberapa kawan, saya dan T berniat untuk menikmati makanan di restoran lantai teratas Tate Museum sambil menikmati pemandangan kota dari balik jendela kaca. Setelah menunggu cukup lama, kami beruntung bisa mendapat tempat strategis tepat di sisi jendela.

Foto: Cara untuk bilang ‘Dilarang ngamen!’ yang sangat sopan dan elegan di sekitar museum (terjemahan ngaco: “Iya, kita tau musik itu memang indah, tapi di sini itu bikin brisik loh. Jadi plis deh, jangan coba2x ngamen di sini yak… Kalo tetep nekat ngamen ato berjualan tanpa ijin, siap2x aja kena garuk… Nah loh, emang enak… Teriring salam cinta dari dewan kota” )

Memasuki ruang demi ruang pameran, membuat saya seperti berada di tempat asing. Judul pameran ‘Cubism, Vorticism, Futurism’ pun bukan sesuatu yang biasa didengar di telinga. Kadang terlihat pengunjung yang hanya bisa tertawa kecil sambil geleng2x kepala dengan wajah bingung di hadapan beberapa objek seni instalasi. Jerami2x kering, kabel2x baja, paku, sendok-garpu, piring, besi tua, kabel, panci adalah sebagian material yang dipakai. Sementara komposisi warna dan bentuk yang digunakan pun sangat tidak lazim.

Foto: Salah satu objek pameran yang interaktif: membuat gambar perempuan sejelek2xnya, terinspirasi dari ‘the weeping woman’ dalam lukisan ‘Guernica’ karya Pablo Picasso.

Untunglah di ruangan lain, masih ada karya seni yang lebih mudah dinikmati antara lain lukisan karya Diego Rivera (pelukis favorit T), Henry Matisse, Pablo Picasso, Chagall, Auguste Renoir dsb *menghela nafas lega*

Langit beranjak gelap saat keluar dari museum, kami pun melangkah menyeberangi jembatan. Di kejauhan nampak the London Bridge berdiri dengan gagah. Cahaya lampu kelap-kelip yang jatuh di air membuat suasana semakin cantik. Tak lama kemudian, kami melewati St Paul’s Cathedral dengan kubahnya yang menawan.

Foto: St. Paul’s Cathedral yang anggun di malam hari

Sisa malam dilanjutkan dengan (nekat) mencoba mencari tiket pertunjukan ’the Phantom of the Opera’ yang ternyata habis terjual. Percakapan berikut terjadi di depan counter tiket:

Turis Nekat 1 (TN 1) : “Masih ada tiket untuk pertunjukkan malam ini?…”
Penjaga Tiket: ”Ada, empat kursi, tapi semua di belakang pilar… Harganya lebih murah loh…”
TN 1(T): ”Gimana?… Kamu mau duduk di belakang pilar, Feli?…”
TN 2 (saya): ”Ya jelas enggak lah… Kita kan mau NONTON PERTUNJUKAN, bukannya mau MELOTOTIN PILAR… Apalagi NONTON TEMBOK!…”
TN 1 : “ Yup, saya datang untuk NONTON PERTUNJUKAN, males deh NONTON PILAR… Apalagi NONTON TEMBOK!”

TN 2 : *berasa deja-vu dan takjub mendengar kalimat repetisi yang baru saja didengar* (dear T, kamu ini serius apa ngelawak seh? Kok kayak Srimulat…. :D)

Foto: Pengawal berkuda di Istana Buckingham

Dengan lesu, kami mencoba mencari pertunjukkan lain atau film bioskop menarik tanpa hasil di daerah Picadilly dan China Town. Hingga akhirnya memutuskan kembali ke tempat menginap. Tak terasa kami telah mengembara dan berjalan kaki berkeliling kota London mulai dari jam 9.30 pagi hingga hampir jam 12 malam!!!… (pantesss, otak mulai ’hang’ dan nggak nyambung…)

Foto: Balkon utama tempat anggota kerajaan menyapa publik di Buckingham Palace

Waktu yang tersisa pada keesokan harinya dihabiskan dengan mengunjungi Buckingham Palace, St. James Park dan kembali melewati the Parliament Building serta Big-Ben sebelum akhirnya check-out dan mengejar kereta menuju bandara.

Saat menceritakan kisah perjalanan saya ini, seorang teman yang tinggal di London hanya bisa berkata: ”Yaoloooo… gw yang di sini hampir 6 bulan belum pernah keliling2x sampe kayak begitu… Ckckck… dan gw juga nggak tau St.James Park itu ada dimana…” .

Saya hanya bisa mesam-mesem dan berkata dalam hati: ”Yah, harap maklum deh, ini kan turis kalap yang lagi kejar setoran… Jatah kunjungan trayek Oslo-London pp (pulang-pergi) cuma 1 rit gitu loh… *berasa jadi supir metromini*

Foto: The Big Ben

 Sebagai penutup, berikut tips untuk menjadi turis yang sedang kejar setoran berdasarkan pengalaman pribadi:

1.Lakukan riset kecil dan buat daftar lokasi yang ingin dikunjungi; miliki rencana yang realistis serta tidak terlalu ambisius;

2.Siapkan pakaian yang sesuai cuaca, sepatu yang nyaman namun tetap melindungi kaki. Lebih baik memakai sepatu khusus untuk jalan. Jangan memakai sepatu teplek (ber-hak datar). Jika anda tetap nekat, dalam beberapa jam, dijamin kaki akan berteriak kesakitan;

3.Waspada dengan ’tourist traps’ alias perangkap buat turis. Jangan membeli makanan di sekitar lokasi turistik, selain harganya mahal, rasa pun tidak menjadi jaminan;

4.Waspada dengan barang berharga. Yang namanya copet atau kriminal pasti ada di tiap negara, turis adalah sasaran potensial;

5.Jaga asupan cairan yang diserap tubuh. Hindari dehidrasi dan kekeringan. Stamina fisik yang prima adalah syarat utama saat menjadi turis kejar setoran;

6.Ingatlah status anda sebagai turis. Jangan emosional dan terlibat dalam aksi2x berbahaya yang anarkis atau keramaian tidak jelas di negara orang… Ingat! Jangan ikut2xan mencopet saat ada gerombolan copet lewat…😀

7.Know your limit!… Terjemahan ngaco: jangan terlalu kalap kalau jadi turis! Saat otak tak sanggup lagi berpikir jernih dan menunjukkan tanda2x kelainan, sebelum saling gontok2xan dan saling mengasah golok masing2x, hentikan perjalanan dengan segera. Carilah makanan atau tempat peristirahatan terdekat!

Sampai jumpa di kisah petualangan berikutnya!😀
*celingak-celinguk cari Si Bolang, doh mana seh tuh anak…*

 

18 thoughts on “Turis Kejar Setoran (Part II)

  1. Pingback: Turis Kejar Setoran (Part I) « My Life, My Search, My Journey

  2. Felicity

    @Retrira: Gw sebenernya nggak malu2x, tapi takut malu2xin aja, hehe😀

    @Ayik: Iya mbak, lain kali ada liputan khusus tentang toko model beginian deh😀

    @Anas: Makasih buat komentarnya …makasih sudah mampir ya😀

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s