Nasib Pasangan Bule: An Inconvenient Truth

Catatan: Tema postingan berikut sudah banyak dibahas di berbagai artikel atau blog lain. Kali ini saya hanya ingin menceritakan kisah serupa berdasarkan pengalaman pribadi.
…bagi perempuan yang berjalan bersama bule…ada beberapa pandangan negatif…

Bagi perempuan Indonesia yang sedang berjalan bersama bule entah dalam status berpacaran atau menikah, ada beberapa pandangan negatif yang kerap diekspresikan secara langsung atau tak langsung –khususnya saat berada di tempat2x wisata di tanah air– yang menganggap bahwa si perempuan adalah:

(1). Cewek matre –> mendekati bule karena alasan ekonomis
(2). Ingin memperbaiki keturunan–> mendekati bule karena alasan fisik
(3). Perempuan ‘nggak bener’–> mendekati bule karena alasan ‘cacat’ moral
(4). Perpaduan ketiga hal di atas

Memang harus diakui, ada segelintir kasus yang mencerminkan dan membenarkan pandangan negatif di atas (karena ulah oknum setitik, rusak image perempuan lain sepasaran gitu kali ya, hehe maksa banget kalimatnya…).

Sebaliknya, banyak pula perempuan lokal yang berpasangan dengan bule adalah mereka yang berpendidikan, memiliki profesi bagus di perusahaan bonafid dan tidak peduli warna kulit pasangan saat jatuh cinta atau dijatuhi cinta (ehm, kalau dibilang seperti saya pasti dikira maksa lagi…:D)

LANJUTTTT…

Β 
Beberapa pengalaman pahit yang saya alami terjadi di Indonesia misalnya:
Sabang, Juni 2005

Dalam salah satu liburan semasa kami bertugas di Aceh, saat di perjalanan dengan kapal cepat dari pelabuhan Ulee-Lheue bersama T dan Oyvind yang juga berasal dari Norwegia:

Petugas Kapal (PK): “Mbak… mbak… enak ya bisa bawa bule. Bayarannya pasti mahal, dua orang lagi…”
Saya: “Mmmm, ‘bawa’ orang… Maksudnya apa, Pak?” *muka bingung*
PK: “Iya, mbak tour guide kan?…” *muka sok yakin*
Saya: “Duh Pak, ini temen saya. Saya bukan tour guide. Nggak semua orang yang bisa Bahasa Inggris dan jalan sama bule adalah tour guide loh…” *sabar…sabar…*
PK: “Ooo, maaf ya mbak, saya nggak tahu”

****************

Lombok, Juli 2006

Di atas kapal penyeberangan dari Bali ke Gili Air bersama T:

Orang Iseng Di Atas Kapal (OIDAK): ” Mbak… Mbak ini ‘bawaan’ dari Bali ya?… Berapa tarifnya?”
Saya Yang Masih Sabar (SYMS) :” Nggak, saya nggak dibawa siapa2x kok. Lagi liburan dari Jakarta”
OIDAK:” Ah, masa… Mbak kayak orang Bali loh…” *sambil terkekeh*
SYMS: “Bener. Mau lihat KTP saya?… Atau kalo mau tanya aja sama Mister ini berapa tarif saya semalem?”… *kalem*
OIDAK: “Ah nggak..mbak, iseng aja kok…”
Saya (dalam hati): “Hhhhh, rese banget nih orang. Giliran ditantangin balik malah takut…”

***************************

Jakarta, Juni 2006

Pengalaman paling ‘mengerikan’ saya alami saat berada di Jakarta dan menaiki bajaj di daerah pusat kota bersama T.

Di atas bajaj yang melaju…

Sopir Bajaj Preman (SBP): ” Mbak..mbak… Nih bule tamunya ya?…Gimana kalo bule ini kita garap dan peres aja.?..”
Saya :” Maksudnya gimana, Bang???…” *berasa ada di cerita2x kriminal*
SBP: “Iya, kita ajak keliling2x, muter2x biar dia bingung. Trus nanti saya bawa ke satu tempat. Terserah mbak mau dapet bagian berapa. Kita bagi rata… Kalo mau, saya ada temen2x buat ngebantuin…”

Saya: (langsung membayangkan golok, clurit dan sejenisnya ada di bawah jok si sopir)

Saya:” Stop bang. Kita turun di sini aja!!!” (tanpa pikir panjang)
SBP: “Kenapa mbak?…”
Saya: “Tas saya ketinggalan di rumah temen tadi” *mencari alasan*

T yang bingung hanya menurut saja saat saya memaksa turun. Barulah beberapa saat kemudian saya jelaskan tawaran ‘konspirasi’ si sopir bajaj preman tadi untuk ‘menggarap’ T.

**********************
Dari contoh pengalaman di atas, saat seorang perempuan lokal berjalan bersama laki2x asing (baca: bule). Ada beberapa ‘tuduhan’ profesi terhadap si perempuan yakni:

1. Tour guide
2. Perempuan panggilan (PSK)
3. Perempuan bispak (bisa pakai)

Bagaimana perasaan saya saat dilecehkan?…
Sedih?… Jangan ditanya lagi deh
Marah?… Pastilah
Tersinggung?… Apalagi

Meski demikian, saya selalu berusaha bersikap wajar2x saja meladeni orang2x iseng dan mulut2x usil ini selama belum menyerang secara fisik. Percuma membuang2x energi meladeni mereka (ya nggak seh, pembaca???…).

Dalam hal ini, strategi untuk melabrak langsung hanya akan memperkeruh suasana. Karenanya saya hanya berdoa mohon diberi pintu kesabaran dan mendoakan orang2x usil itu supaya sadar (meski hati sebenernya sudah mendidih menahan emosi… Sabarrr…Sabarrr…).

Moral of the story:

1. Memiliki pasangan bule berarti harus:

a. Siap Mental
b. Tidak emosional
c. Punya hati seluas samudera (sinetron kaleeee… )

Khususnya saat menanggapi celaan, hinaan, ejekan dari mulut2x usil.

2. Jangan berpandangan negatif, menghakimi, berprasangka, ber-sterotip dan sejenisnya terhadap perempuan lokal yang berjalan bersama bule. Bisa jadi si bule adalah rekan kerja, teman, pacar atau suami sah si perempuan.

3. Pandangan bahwa bule ‘lebih’ atau ‘di atas’ penduduk lokal adalah rasa inferior dan mental feodalisme yang perlu diberantas.

Dalam kenyataannya, banyak penduduk Indonesia yang tidak kalah cerdas dan terampil dari si Mr/Ms/Mrs Bule. Tidak sedikit bule yang bekerja secara tidak profesional dan hanya menjadi oportunis belaka. Ras dan warna kulit tidak menentukan tingkat kecerdasan dan nilai dari seseorang.

4. Tidak semua bule yang bisa berlibur ke Indonesia berarti berduit atau kaya-raya. Meski gaji pas2xan, mereka yang niat untuk berlibur biasanya menabung selama beberapa bulan sebelumnya.

Menikah dengan bule tidak lantas membuat si perempuan menjadi ‘Cinderella’ dalam sehari (namanya juga fairy tale gitu lohhhh…Semua serba terlihat indah dan kinclong dari luar. Padahal, si Cinderella barangkali masih harus mencuci baju sendiri plus baju si pangeran, mem-vacuum lantai secara rutin, repot mengurus anak2x karena menggaji baby-sitter sangatlah mahal, memasak setiap hari untuk berhemat, belum lagi kalau ada resesi ekonomi melanda. Who knows?πŸ˜€. Kesimpulan: kisah Cinderella adalah sesat dan menyesatkan.
GUBRAKKK

5. Daripada sibuk mengusili, mengomentari dan mengurusi orang lain lebih baik urusilah diri masing2x lebih dahulu…πŸ˜€

Β 

60 thoughts on “Nasib Pasangan Bule: An Inconvenient Truth

  1. frozen

    aduh saya beruntung banget nih. nggak pernah ngalamin pengalaman negatif sewaktu masih di indo ataupun stl tinggal di negara suami.(bule eropa).
    mungkin karena muka saya yang cakep ??? terus juga bisa dandan dan pakaiannya trendy jadi tambah kinclong gitu…?? …gubrak…..

    mungkin pengalaman negatif yang dialami sama perempuan yang lain itu karena mukanya tampangnya pas-pasan terus juga penampilannya kucel ya ? jadi orang mikirnya langsung negatif : wah nih perempuan jelek amat terus kucel lagi ; jadi langsung deh dikasih nilai minus ama orang lain.

    mungkin ada baiknya buat perempuan yang berpartner bule lebih bisa bergaya dan modis trendy agar orang lain lebih bisa memberikan nilai plus. walaupun misalnya si perempuan tampangnya nggak cakep tapi kalo bisa dandan dan berpenampilan modis kan jadi enak dipandang buat diri sendiri,buat partner serta buang orang lain. setelah itu akan otomatis orang lain akan berpikir ulang untuk melontarkan perkataan negatif.

    begitu loh……

    Reply
    1. Felicity Post author

      Mbak/Mas Frozen….. whatever your real name is….. (meski menyebut punya ‘suami’ bule saya nggak tahu mbak ini perempuan atau transgender, who knows?)

      Beruntung banget ya karena mbak/mas ngga pernah mengalami hal2x negatif yang disebutkan dalam postingan di atas.

      Yup, meski ada kata2x ‘do not judge a book by its cover’, tetep aja penampilan kita akan selalu jadi bahan penilaian orang lain. Selain penampilan mungkin perilaku dan attitude juga berpengaruh.

      Tapi, jangan salah…. ada juga loh mereka yang meski sudah berpenampilan rapi, sopan dan kalem2x saja tetap mengalami hal2x tadi. Mereka yang berpenampilan cantik dan kinclong pun tetap ada yang dipandang sebagai perempuan murahan atau gold digger.

      Intinya, mau dimanapun akan tetap ada orang2x bermulit usil dan berpandangan picik. Dan sayangnya kebanyakan yang bermulut usil itu adalah mereka yang berasal dari Indonesia juga.

      Bersyukurlah karena mbak/mas dikaruniai wajah cantik dan ganteng, moga2x nggak jadi takabur ya. Jangan juga merendahkan yang lain yang tidak secantik, sekinclong atau sehebat mbak/mas.

      NB: Tolong sebut Indonesia dengan nama lengkap, INDONESIA…. bukan Indo, tunjukanlah rasa hormat pada negeri sendiri dengan membiasakan pengucapan nama INDONESIA yang benar, nggak sulit kan?

      Reply
  2. mitsuko

    Menurut saya mereka bisa bicara tidak baik karena dari cara berpakaian pula ada yg salah…jika bisa berpakaian sopan selama ini saya tidk pernah dihina atau dicemooh barang kali wajah saya juga oriental ga indonesia jadi yakin mereka berfikir saya org chines yg berhubungan sm bule itu hal lumrah ga ada yang terlihat anehπŸ™‚

    Reply
    1. Felicity Post author

      Sepertinya memang begitu….meski ngga selalu…πŸ™‚ Kalau sudah mindset kadang sulit mungkin diubahnya. Memang tergantung lokasi dan setting juga.

      Reply
  3. zahratulnajwa

    salam kenal,, menikah dengan wna memang harus siap lahir batin, sy pernah di tanya sama wali murid.”Bu gimana rasanya menikah dengan bule? Beda ga dengan lelaki indonesia?” Saya jawab tidak tidak tahu ya bunda, soalnya sy belum pernah menikah dengan lelaki indonesia.πŸ˜€

    Reply
  4. saysfirlyzbi

    Wkwkwk… Tante ku nikah sama Pria Perancis, pas aku lagi jalan sama suami tante ku di daerah Bogor, ada yang ngomong di pinggir jalan ‘Dasar cewek B*spak, di G*lir sama bule mau aja’. Tapi untungnya ini kuping udah biasa aja…

    Ada yang lebih kejam, aku pernah naik angkot sama satu guru (bule) , itu sepanjang jalan (kbetulan dia duduk di pinggir pintu) anak-anak SMA neriakin ‘BULE GILA’ , ‘BULE MISKIN’ dan banyak kata-kata kasar yang sebenernya gak pantes di ucapin….

    Hiks, inti-nya sedih banget kalo banyak warga negara kita yang rasis, katanya INDONESIA ITU PENUH WARNA, tapi ada bule lewat langsung di teriakin

    Reply
    1. Felicity Post author

      Saya sudah kebal kalau urusan beginian nih. Ilmu cuek itu sering ngebantu banget menghadapi situasi semacam iniπŸ™‚

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s