Godaan Cinta: "Kalau Kamu Mau…"

Bagi yang pernah merasakan jatuh cinta, pasti pernah pula mengalami godaan cinta, baik sebagai pihak penggoda atau yang digoda. Saat menjalani LDR (long distance relationship alias hubungan jarak jauh) Lund/Oslo- Sri Lanka banyak sekali godaan yang saya hadapi.

Batticaloa, Oktober 2006

Diawali dari obrolan ringan antara Dheva, Kirun, Anis (rekan lokal dari Colombo) Matteo (kolega asal Italia) dan saya di beranda rumah sewaan Matteo yang cukup besar menghadap danau. Sebagai perempuan satu2xnya, tidak tahan asap rokok dan tidak minum bir seperti yang lain, saya mencoba menjaga jarak dan sesekali menjauh untuk menghirup udara segar. Setelah rekan lokal kembali ke kamar, tinggalah saya dan Matteo berdua.

Suara bedebam-bedebum meriam terdengar di kejauhan diikuti getaran kaca2x jendela. Percakapan berlangsung berjam2x dimulai dari masalah pekerjaan, hingga masuk ke topik pasangan masing2x. Status Matteo, -berdasarkan pengakuannya- sedang kosong alias available. Sang pacar memilih untuk memutuskan hubungan saat Matteo memilih berkarir di negeri antah-berantah, mengakhiri profesinya sebagai pengacara muda. Saya sendiri berterus terang sudah memiliki pasangan dan tidak berniat mencari yang lain.

Foto: Pasangan muda-mudi yang sedang berdua di balik payung. Pemandangan yang banyak ditemui di kawasa pantai Galle, Sri Lanka bagian selatan. Ada apa di balik payung?…. Gelapppp ahhh…

Entah bagaimana, Matteo kemudian mengungkapkan ‘falsafah’ hidupnya bahwa ia bisa bercinta dengan siapa saja, kapan saja, dimana saja asalkan ada prinsip mau sama mau dan persetujuan bersama. Tak lama kemudian…. meluncurlah kalimat maut tersebut:

“Kalau kamu mau, kita bisa bercinta bersama sekarang… Di kamar saya…”
  

Terkejut dengan pernyataan ‘polos’ Matteo, saya hanya tersenyum dan menolak dengan halus sambil menjelaskan pandangan hidup saya yang jelas berbeda.

Dan…sebelum tidur malam itu di kamar yang tak jauh dari kamar Matteo, tak lupa saya mengecek pintu serta jendela berkali2x, memastikan bahwa semua terkunci rapat…

******************************

“Kalau kamu mau, kamu bisa tidur bersama saya…”

Godaan serupa datang dari Stefan (bukan nama sebenarnya). Situasi kota yang kian genting membuat saya tak punya pilihan selain mengungsi ke tempat yang lebih aman. Jalur HP dan koneksi internet telah terputus selama beberapa minggu, sementara hotel kecil tempat tinggal saya sangat tidak aman. Atas sepengetahuan T yang dengan susah payah bisa dihubungi via wartel, satu2xnya tempat memungkinkan adalah tinggal di rumah sewaan Stefan, tetangga sesama expat terdekat yang sekaligus penanggung-jawab keamanan para staff internasional di kantor.

Hanya ada saya, Stefan dan seorang satpam di rumah berukuran sedang dengan dua kamar tidur itu. Usai makan malam dan ngobrol ngalor-ngidul selama hampir dua jam, kami pun bersiap untuk beristirahat di kamar. Secara bergantian kami memakai kamar mandi untuk membersihkan diri.

Dan, tibalah waktunya untuk basa-basi “good night, sleep well… bla…bla…”. Stefan terkejut ketika saya mengunci kamar tidur yang bersebelahan dengan kamarnya. Ia pun mengetuk pintu dan bertanya:

Stefan: “Kenapa kamu mengunci pintu?…”
Saya: “Kenapa nggak?… Buat jaga2x aja… supaya tidak ada orang yang tak diinginkan masuk”
Stefan:” Orang yang tak diinginkan?… Maksud kamu termasuk saya begitu?”
Saya: “Mmmm, dalam hal ini iya…”

Stefan hanya tersenyum. Saya pun kembali menutup dan mengunci pintu serta merebahkan diri dengan lampu menyala karena tidak berani tidur seorang diri dalam keadaan gelap gulita.

Tak lama kemudian…
TOK…TOK…TOK…

Stefan: “Kenapa lampu kamar menyala?… Kamu masih belum tidur?”
Saya: “Saya memang selalu tidur dengan lampu menyala. Nggak berani tidur sendiri kalau gelap gulita sejak kecil. Memang kenapa?”
Stefan:” Ah nggak, aneh aja. Jarang2x ada orang tidur dengan lampu menyala kayak kamu”
Saya: “Yah, ada loh orang kayak saya. Ini buktinya, hehe :D”

Entah apakah situasi, kondisi atau kata2x saya yang dianggap mengundang (???) atau memang niat, Stefan pun berkata:

Stefan: “Kalau kamu mau, kamu bisa tidur bersama saya di kamar… You are very welcome…”

Perasaan saya saat itu:
1. Berasa deja-vu dengan pengalaman bersama Matteo.
2. Heran, kenapa godaan serupa selalu dimulai dengan kata “Kalau kamu mau…”
3. Mencoba berintropeksi apakah ada bagian dari penampakan, perkataan atau tindakan saya yang menggoda. Saat itu saya berpakaian lengkap dengan celana training dan baju longgar, jauh dari kesan menggoda.

Dalam hati terlintas percakapan dengan diri sendiri:

Saya: “Hmmm, jika menerima tawaran ini, saya akan bisa tidur nyenyak tanpa rasa was2x… Cuma tidur bareng kan, nggak ngapa2xin ini…”* naif mode on*

TAPIIII… EITTTSSSS…..
‘Cuma’ tidur bareng… dalam pemahaman Stefan mungkin memiliki arti lain dari penangkapan saya. Dua orang dewasa, tanpa pasangan masing2x, tidur bersama dalam satu kamar, di atas tempat tidur yang sama… Kemungkinan2x apa saja yang mungkin terjadi?

1. Tidur sebelah-menyebelah tanpa ‘aktivitas ekstra’
2. Tidur sebelah-menyebelah dengan ‘aktivitas ekstra’ lain. Tebakan saya, mulai dari ngobrol, lalu mulai saling pegang2xan … selanjutnya????… *censored*

Setelah beberapa saat tenggelam dalam dialog dengan diri sendiri…

Saya: “No, thank you. Nggak apa2x saya tidur sendiri. Saya bisa tidur dengan cahaya lilin kalau kamu masih merasa aneh.”

Dan,… malam itu saya pun tidur ditemani dua cahaya lilin. Di tengah malam, kami terbangun mendengar dering telepon rumah. Sebelum mengungsi ke rumah Stefan, saya memberikan nomor telepon landline rumah ini.

T: “Apakah kamu di sana baik2x saja?…”
Saya:” Yes, dear… Semua baik2x saja…”

Mendengar suara T seperti mendapat siraman air di padang pasir. Ada rasa lega di sana saat saya masih bisa menjaga janji dan komitmen cinta pada T. Saya pun belajar bahwa jika kita betul2x mencintai seseorang, maka kita akan selalu berusaha menjaga agar cinta itu agar tetap utuh dan tak ternoda (ehm…:D)

Moral of the story:

1. Membohongi pasangan mungkin bisa dilakukan, tetapi ada dua yang tidak akan pernah bisa dibohongi: diri sendiri dan Tuhan;

2. Daripada dikejar2x rasa bersalah, lebih baik hindari bermain dengan api. Jangan menggoda, digoda, atau tergoda jika sudah mempunyai pasangan;

3. Hati2x dengan kalimat godaan yang diawali dengan kata2x: Kalau kamu mau…”. Jika diiyakan, kalimat maut ini mengimplikasikan ‘consent’ atau persetujuan dari pihak yang menjadi sasaran. Dalam hukum, persetujuan dari korban bisa dijadikan alibi atau pembelaan diri dari si pelaku bahwa kejahatan -khususnya di ranah seksual- dilakukan atas dasar suka sama suka. Ingat, Sex without consent is a crime!;

4. Jangan takut untuk berkata: TIDAK, dan menolak tawaran atau godaan yang bertentangan dengan prinsip hidup kita. Jadilah diri sendiri, dimanapun dan kapanpun;

5. Bagi yang sedang menjalani LDR, menjaga kepercayaan dan cinta perlu perjuangan ekstra. Namun, ada kepuasan tersendiri jika berhasil mengatasi tantangan ini. All the best!😀

31 thoughts on “Godaan Cinta: "Kalau Kamu Mau…"

  1. Yosephine

    Saluuuuttttt……. mantap jeng…..!!! Sebagai orang yang dilahirkan dari budaya timur dan telah tinggal di negeri yang bebas dengan hal-hal seperti itu, kamu tetap gak meninggalkan ketimuranmu (padahal orang timur banyak yang sdh meninggalkan ketimurannya… hmm..)

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s