My Culture Shock: The Food


Salah satu ujian terberat bagi pendatang di negeri asing adalah …MAKANAN… alias urusan perut.

…’Cobaan’ semakin berat bagi imigran yang berasal dari…Indonesia

‘Cobaan’ semakin berat bagi imigran yang berasal dari negeri kaya ragam makanan lezat seperti Indonesia. Buat saya, untuk soal makanan, Indonesia memiliki aneka rasa dan bumbu yang unik dan nyaris tak ada duanya (mmmm, mungkin hanya mirip2x sedikit dengan beberapa masakan dari sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara). Setelah satu-dua hari di negeri orang, bukan hal aneh jika bayangan Rendang Padang, Sambel Tomat, Ayam Bakar, Ikan Pepes, Lalapan, Rujak Buah berseliweran di atas kepala sambil berkhayal sedang berada di kampung halaman.

Foto: Sorbet rasa Strawberry, Vanilla dan Coklat

Saya sendiri sempat merasa ragu2x untuk menetap di Oslo. Nyaris tidak ada restoran Indonesia di sini (restoran terdekat sudah gulung tikar beberapa tahun lalu), mencari rempah2x bumbu dapur dan sayuran seperti lengkuas, daun serai, kencur, terasi, daun jeruk seorang diri adalah sebuah perjuangan. Setelah sweeping di berbagai toko seperti toko imigran asal Turki, Lebanon, Sri Lanka, Pakistan, Vietnam dan negara lainnya, barulah yang dicari bermunculan satu persatu. Kini berbagai bahan seperti tamarind (asam), daun pandan, daun pisang, nangka, mangga muda hingga durian pun bisa ditemukan. Hasil cuci mata di toko imigran negara lain pun memperkaya khasanah ilmu ‘perdapuran’ saya😀

Foto: Ikan Røye, Labu yang dihaluskan, potongan Scampi (udang besar), dan saus Daun Bawang

‘Cobaan’ juga dialami saat mengikuti acara makan bersama, baik di rumah atau di restoran. Makanan aneh2x dan kombinasi yang tak terpikirkan oleh orang Indonesia pun muncul seperti Sup Tomat dan Alpukat (tidak pernah terpikir bahwa Alpukat bisa menjadi sup) dan Sup Kaldu Ayam yang lebih mirip teh kaldu. Reaksi pertama saya saat mencicipinya adalah:(loh kokkkk… kaldu diminum???…)😀

Foto: Minuman Kaldu Ayam

Foto: Kerang Biru di atas taburan garam laut dan rempah2x

Foto: Asparagus, kecambah, krim susu plus telur ikan.

Gambaran tentang ‘Sup’ di Indonesia yang berisi potongan sayur-mayur serta daging pun berbeda dengan ‘Sup’ di sini. Tak jarang ‘Sup’ yang disajikan hanya berupa cairan atau saus karena bahan utama sup sudah dihaluskan dan dicampur bersama bumbu2x.

Foto: Sup Kerang yang dimakan bersama roti

Foto: Sup Tomat plus Alpukat dan taburan Roti Kering (hmmm, mana Alpukatnya?…)

Contoh makanan2x ‘aneh’ buat saya adalah Sup Bawang (yang hanya terdiri dari Bawang… Iyalahhhh, memangnya ada Sup Bawang rasa Duren?… ); Bubur Bawang Putih (duh, nggak tahan mencium baunya...), dan…. keju.

Foto: Bawang putih dihaluskan, caviar (telur ikan) dan keripik kentang

Salah satu kebiasaan di Norwegia –khususnya di acara makan formal– adalah menyediakan berbagai jenis keju yang dimakan dengan biskuit atau roti khas yang pipih, plus pelengkap seperti buah anggur, paprika dll. Keju yang disajikan di sela2x makanan utama dan penutup ini terdiri dari beragam rasa, warna, asal serta proses pengolahan.

Foto: Keju dari Italia, Perancis, Norwegia, Jerman dan Buah Aprikot

Foto: Ice Cream dan pudding yang disajikan sebelum dessert (makanan penutup)

Tak jarang saya dihadapkan pada situasi dimana tuan rumah mempersilakan para tamu untuk menyantap makanan dan berkata sopan : “Silakan dimakan… Jangan malu2x…“… Reaksi saya adalah: (dalam hati): “Duh, apa yang bisa dimakan ya… huhuhu😦

Foto: Daging domba, krim asam, kentang yang dihaluskan (mashed potatoes) dan tumis sayur

Foto: Telur setengah matang, Ikan Salmon, dan Salad Sayur plus krim susu

Foto: Ikan Salmon dan asparagus

Untunglah di antara makanan aneh bin ajaib yang dijumpai selama ini masih ada beberapa makanan yang agak normal bagi perut saya yang ber-deffault setting Indonesia, yakni aneka Es Krim, Sorbet, Cake dan Pudding (hehe… ini sih deffault setting pencinta dessert sejateh… :D)

Foto: Frozen Lemon Merengue Cake

Foto: Pudding rasa vanilla, Cocoa dan Sorbet Strawberry

Suka atau tidak suka, salah satu cara melepas kerinduan akan makanan tanah air adalah dengan memasak sendiri. Dampak positif bagi mantan anak kos yang tidak pintar memasak seperti saya adalah ‘paksaan’ untuk belajar memasak (lihat post Dinner for 9)

Pilihan yang ada:
(1) Memasak sendiri
(2) Menahan lapar
(3) Dompet megap2x di akhir bulan karena terlalu sering membeli makanan di luar

Oh, teganya… teganya…😦

Acara makan di luar –bahkan bagi pemukim asli– adalah sebuah kemewahan. Sebagai salah satu kota termahal di dunia, acara makan malam untuk 3 orang dengan 4 menu (Pembuka, Utama, makanan antara dan Penutup) di sebuah restoran ‘layak makan’ di kota Oslo bisa mencapai harga 2000 NOK alias 3,2 juta Rupiah (glekkkk… *menelan ludah, menahan nafas dan mencari kalkulator*)

Foto: Risoles ala Brazil yang yummy

Foto: Sambal pelengkap Risoles yang lumayan ‘nendang’ buat perut orang Indonesia

Dan… toko sayur-mayur di kawasan imigran pun menjadi langganan pendatang seperti saya, khususnya toko Vietnam. Sementara restoran2x kecil yang menyediakan makanan Asia, Timur Tengah, Afrika, Latin Amerika dengan harga lebih ‘bersahabat’ pun menjadi selingan di waktu luang, khususnya saat lidah ingin merasakan makanan selain kentang, keju dan roti. Untuk acara makan di restoran yang cihuy, saya masih menunggu traktiran dari suami dan orang2x baik lain di sekeliling saya😀

Disclaimer: Gambar2x di atas adalah hasil bidikan pribadi. Makanan yang ada di dalamnya adalah hasil racikan koki di sejumlah restoran berbeda di Oslo.

26 thoughts on “My Culture Shock: The Food

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s