Monthly Archives: February 2010

Jangan Anggap Rendah Ibu Rumah Tangga!

“……agak gimanaa gitu ma seseorang yang berseloroh ma gw.. “sayang yaahh.. padahal kamu pinter dari dulu, kuliah sampe selesai, punya gelar.. ternyata tetep di rumah aja.. brarti buat ortumu kamu adalah investasi yang gagal *gubraaakzzz.. @%#%@$^#%… hanya bisa senyum kecut scara dia adalah orang yg mesti gw hormati*…”

Kata2x di atas adalah kutipan status FB seorang kawan yang saya baca kemarin. Entah mengapa perasaan saya langsung campur aduk antara marah karena perlakuan yang diterima kawan tadi, gusar karena ia hanyalah satu dari sekian banyak ibu rumah tangga yang mengalami ‘pelecehan’ semacam ini dan kesal karena pandangan yang banyak dianut di masyarakat yang kian hedonis.

Setelah postingan sebelumnya membahas tentang ‘cost-benefit analysis’ memiliki anak…. mendengar suara hati kawan di atas saya jadi kembali berpikir. Apa betul anak dianggap ‘investasi’ masa depan oleh orang tua? Kalau memang iya apa wujud ‘balik modal’ di mata orang tua? Apa ‘balik modal’ tadi ditujukan hanya untuk orang tua atau termasuk anggota keluarga yang lain?…

Tidak adil jika saya menggeneralisasi bahwa semua orang tua memiliki karakter yang sama… Jujur saja, orang tua juga manusia. Ada yang matre dan juteknya setengah mati ada yang sederhana dan rendah hati, ada yang suka pamer ada yang lebih suka diam dan tidak berkoar2x tentang harta, prestasi atau kelebihan yang dimilikinya, terutama yang menyangkut si anak. Continue reading

Teliti Sebelum Pergi

…Kejadian berikut terjadi sudah cukup lama tapi masih tetap lekat dalam ingatan… 😀

Suatu pagi, saat baru saja tiba di kantor, Prof. C datang dengan tergopoh2x ke ruangan saya. Beberapa saat kemudian beliau langsung memberikan laporan peristiwa yang baru saja dialaminya:

Feli, kamu tahu nggak apa yang saya alami kemarin?”…, dengan mimik wajah serius. 😯
Prof C mengambil bangku kosong di pojok ruangan, duduk di hadapan saya dan lanjut bercerita dengan semangat 45.

Nggak, saya nggak tahuTell me” , jawab saya dengan kalem sambil menebak2x. 🙄 🙄 🙄 🙄

Kamu tahu kan, saya berencana untuk travel ke Indonesia dan pengen apply visa sejak dari Oslo sini supaya nggak perlu antri apply visa on arrival di bandara di Indonesia nanti

Iya kemarin kamu bilang mau apply visa di Kedubes Indonesia di Oslo. Gimana? Semua baik2x saja kan?”

Itu persoalannya. Jadi, kemarin saya sudah menyiapkan semua dokumen, foto, mengisi formulir dan mencatat alamat kedubes Indonesia yang saya cek di internet. Lalu, ada yang aneh… Saat saya harus membayar untuk multiple entry visa  1 tahun, diinternet tercatat harus membayar hampir 2500 NOK…. Mahal banget… Nggak biasa2xnya…”, ujar Prof C sambil bersemangat.

2500 NOK?… Mahal banget… hampir sepuluh kali lipat biaya yang harus dibayar sebelumnya ya...”, saya langsung merasa was2x jangan2x Prof. C telah menjadi korban pungli tak bertanggung-jawab.

👿 😡 👿 👿 😡 👿 Continue reading

Punya Anak Itu Mahal Ya……

Saat menemani kawan –pasangan dari Nepal– yang sedang menantikan anak pertama mereka mencari pernak-pernik perlengkapan bayi, saya baru menyadari betapa mahalnya memiliki anak, khususnya di Norwegia dimana biaya hidup sehari2x sudah sangat tinggi. Harga2x yang terpasang di kereta dorong bayi, tempat tidur, baju, mainan serta lainnya, jika ditotal bisa mencapai nilai ribuan NOK (Norwegian Kronor). Didorong oleh rasa penasaran, saya mencoba mencari tahu tentang ‘cost-benefit analysis’ memiliki anak.

Informasi yang saya dapat dari sejumlah sumber tertulis maupun interview seadanya dengan sejumlah orang tua cukup mengejutkan. Menurut buku ‘The Baby Owner’s Manual: Operating Instructions, Trouble-shooting Tips, and Advice on First Year Maintenance’ … (judulnya lucu ya… 😀 yang ditulis oleh Louis Borgenicht dan Joe Borgenicht, secara ringkasnya,  memiliki bayi yang baru lahir misalnya, pada tahun pertama dibutuhkan:


Continue reading

My Sporty Valentine’s Day

V alentine’s Day ala kami and the gank… (surprise..surprise…:D) tahun ini dihabiskan di puncak gunung. Niat awal perjalanan sebenarnya hanya untuk menghabiskan akhir pekan dengan berski bukan untuk merayakan valentine, yang buat kami tak jauh beda dengan hari2x biasa lainnya. Hmmm, candlelight dinner, coklat dan bunga tidak sempat mampir di sini, hehe… 🙂

Foto: Persiapan sebelum ski, mengoleskan lapisan wax (lilin) agar papan ski tidak terlalu licin. Jenis wax yang dipakai tergantung dari temperatur di luar.

Jika ditotal, kami menempuh rute setidaknya 25 KM di hari pertama dan 15 KM di hari kedua ski trip. Persiapan dimulai dengan makan pagi yang cukup untuk energi sepanjang perjalanan serta menyiapkan bekal makan siang, minuman hangat dan snack. Tak lupa, persiapan pakaian hangat, mulai dari wool underwear (atasan dan bawahan), kaus kaki wool, penutup kepala, scarf, jaket fleece, jaket windproof dan waterproof, sepatu khusus untuk berski, celana waterproof dan windproof (tergantung temperatur), sarung tangan, gamas (pelindung agar salju tidak masuk ke kaki, khususnya saat jatuh ke salju). Continue reading

One Fine Day

Bagi mereka yang tinggal di Norwegia, matahari adalah sesuatu yang sangat jarang ditemui di musim dingin, karenanya langit yang biru dan cahaya matahari yang bersinar tak akan disia2xkan. Biasanya tempat2x untuk aktivitas ski, skating, aking (sledging) dll akan dipadati oleh mereka yang ingin menikmati hari yang indah ini.

Seringkali dijumpai pemandangan unik saat berski, khususnya saat melihat interaksi para orang tua yang membawa anak2x mereka. Beberapa kali saya harus ‘bersaing’ dengan balita yang kecil dan mungil di jalur ski. Hmmm….jangan salah, biarpun nampak imut2x, anak2x kecil di sini sudah pandai berski karena banyak dari mereka sudah mulai belajar berjalan di atas papan ski sekitar usia 2 tahun dan di usia 5 tahun mereka sudah sangat mahir.

Foto: Anak yang sedang mogok melanjutkan perjalanan.


Dari pengamatan yang ada, sepertinya kita bisa menebak karakter orang tua saat melihat respon mereka terhadap anak yang tiba2x ngambek, mogok, mengamuk atau menangis saat beraktivitas. Continue reading

Saat Harus Melewati Pos Imigrasi Itu…

Setiap kali hendak mengadakan perjalanan lintas  negara, saya pasti berdebar-debar saat akan melewati pemeriksaan di pos imigrasi. Beberapa teman pernah mengalami pengalaman menyebalkan termasuk saya sendiri.

Pertanyaan standar yang diajukan saat melewati pemeriksaan biasanya:

“Kemana tujuan kamu? Apakah sudah pernah ke sana sebelumnya”

“Berapa lama, dimana dan dengan siapa akan tinggal di tempat tujuan?”

Jika sedang beruntung, petugas hanya mengecek identitas di paspor, melihat dengan teliti halaman visa  dan selanjutnya mengecap stempel, beres. Jika sedang sial, selain pertanyaan standar, pertanyaan yang lebih spesifik juga diajukan seperti:  “Siapa yang mengundang dan membiayai perjalanan?”, “Apakah pernah tinggal sebelumnya di LN? Dimana? Berapa lama? Dalam rangka apa?”, “Apa pekerjaan sebelumnya?”  Termasuk mencek tiket perjalanan, bukti booking hotel, surat sponsor perjalanan dll…dll…

Memasuki wilayah yang tidak biasa seperti Colombo pertanyaan pun menjadi sedikit berbeda pula.

Foto: Patung Sang Buddha yang sedang tertidur di Kataragama-Sri Lanka

Pengalaman menyebalkan pertama saya alami saat kembali ke tanah air usai studi beberapa tahun silam. Continue reading